
Ada begitu banyak hal yang ingin diperjelas lagi, termasuk hubungan keduanya. Dari sebuah kalung yang menghubungkan mereka berdua, rasa itu muncul dengan sendirinya tanpa satupun pernah terlintas dalam pikiran keduanya, terkhusus bagi Bian itu sendiri. Tertarik, suka atau cinta adalah hal yang sangat ingin Bian dan juga Kinan perjelas lagi. Pada perasaan yang sejatinya sama-sama baru pertama kali mereka rasakan.
"Pak, apa saya boleh menjawabnya sekarang?" Ucap Kinan sedikit ragu melirik ke arah Bian. Ia mencoba membuka obrolan ditengah keheningan yang menghampiri dirinya bersama Bian.
Namun, tiba-tiba suasana menjadi hening kembali, karena Bian tak langsung menjawab pertanyaan darinya.
"Kalau kamu mau menolaknya, aku akan menganggap tidak pernah mendengar jawabanya." Ujar Bian kemudian, dengan ekspresi serius sambil terus fokus menyetir mobilnya.
Kinan yang berada disampingnya merasa bingung, karena jawaban dari Bian membuatnya tak bisa berkata-kata lagi. Ia seolah terkunci akan perkataan Bian.
"Saya... ti.."
"Kita sudah sampai."
Ucapan Kinan tertahan setelah Bian memberhentikan mobilnya disebuah rumah makan tradisional . "Ayo turun." Ucapnya lagi mengajak Kinan untuk turun dari mobil.
Kinan sempat ragu, namun ia ikut turun setelah Bian membukakan pintu untuknya. Dengan langkah pelan dan sedikit rasa tak nyaman, ia pun masuk kedalam rumah makan tersebut bersama Bian.
"Aku selalu pengen mencoba makanan khas kota ini, tapi aku benar-benar tidak menyangka akan kesampaian sekarang." Senyum Bian dengan memandang buku menu yang sedang ia pegang.
Kinan tersenyum canggung membalas ucapan Bian. Gestur tubuhnya memperlihatkan rasa tak nyaman ketika makan bersama Bian. Ia juga melihat sekelilingnya yang tampak ramai pengunjung.
"Apa kamu bisa merekomendasikan menu untukku?" Ucapnya yang kemudian menyodrokan buku menu pada Kinan.
Kinan sedikit terkejut karena sempat tak fokus,"Ah, iya baik." Jawabnya yang kemudian mengambil buku menu.
Ekspresi Kinan tak lepas dari pandangan Bian, ia menatap Kinan yang tengah memandangi buku menu yang ia berikan.
"Apa kamu tidak nyaman makan disini?" Ucapnya kemudian.
Kinan menengadahkan kepalanya mendengar ucapan Bian, ia menatap canggung pada Bian yang duduk di depanya.
"Atau kamu merasa tidak nyaman makan denganku disini?" Bian kembali melontarkan kalimat yang cukup sulit untuk Kinan jawab.
Dari ekspresi wajahnya menyiratkan bahwa ia sedikit kebingungan untuk sekedar menjawab pertanyaan Bian.
"Aku harus menjawab apa?
__ADS_1
"Memang benar aku sedikit tidak nyaman, tapi aku kan juga tidak bisa bilang seperti itu di depanya secara langsung?"
"Aku kan gak gigit, jadi santai saja." Senyum Bian mencoba menenangkan Kinan yang terlihat kebingungan. "Kalau kamu merasa gak nyaman juga, anggap saja kamu sedang makan dengan teman kamu sendiri." Lanjutnya yang mencoba mencairkan suasana.
Kinan mengangguk kecil dengan senyumanya yang kikuk, karena tak tahu harus merespon apa pada Bian yang merupakan atasanya sendiri, dan juga seseorang yang barus saja menyatakan perasaannya padanya.
"Aku ingin tidak gugup, tapi aku tidak bisa. Ini benar-benar membuatku tidak nyaman." Batin Kinan dengan perasaan nervousnya.
"Kamu tidak makan?" Tanya Bian ketika melihat Kinan belum menyentuh makananya.
"Ah, iya ini saya mau makan." Meski canggung, Kinan mencoba untuk memakan makanan yang sudah terlanjur dipesan.
"Ini kan makanan yang sudah kamu rekomendasikan, akan aneh kalau kamu tidak makan, kan?" Ujar Bian.
"Iya." Kikuk Kinan mencoba Memasukkan makanan ke mulutnya.
Ada yang membuat Kinan sedikit kepikiran ketika menyantap makanannya, ia terkejut dengan Bian yang ternyata bisa memakan makanan yang ia pesan. Karena gugup, ia sempat tak menyadari dengan pesanan makanannya, hingga asal memilih makanan yang biasa ia makan dan ketahui.
"Ada yang membuatku penasaran sedari tadi." Bian mencoba bersuara disela makannya.
"Sebenarnya, apa hubungan kamu dengan laki-laki yang sempat kamu temui di depan kosanmu tadi?" Tanya Bian pada Kinan.
Kinan masih mencoba mencari jawaban dari pertanyaan Bian, dengan mengingat kembali hal yang Bian maksud.
"Ah, mas Bayu.."
Kini ia sudah mengingatnya, karena ingatanya hanya terfikirkan oleh Bayu yang sempat ia temui tadi sebelum pergi bersama Bian.
"Apa yang anda maksud itu mas Bayu?" Ucap Kinan mencoba memastikan.
"Benar." Jawab Bian.
"Dia kakak kenalan saya dulu waktu kuliah."
"Aku tau, kamu sudah pernah bilang seperti itu sebelumnya padaku. Tapi, entah kenapa itu masih membuatku belum puas."
Kinan tampak bingung mendengar ucapan Bian, karena apa yang dia katakan tidak tampak aneh.
__ADS_1
"Berapa lama kalian saling kenal?" Tanya Bian lagi.
"Mungkin lebih dari 5 tahun, saya sedikit lupa soal berapa lama kita kenal dan dekat, yang pasti kita saling kenal sejak saya kuliah." Jelas Kinan dengan mencoba mengingat pertemuan pertamanya dsngan Bayu.
"Dari 5 tahun itu, apa saja yang sudah kalian lakukan?"
"Yang saya lakukan?" Kinan tampak bingung mendapat pertanyaan seperti itu.
"Apa selama itu..." Bian tampak ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
Kalian berdua hanya teman! Atau lebih dari sekedar teman?
"Tidak ada, lupakan saja." Bian akhirnya memilih tak mengatakan isi hatinya. Ia meneguk minumanya dengan perasan kesal sendiri.
"Tunggu, berapa perbedaan usiamu dengan dia?" Tanya Bian kemudian yang tiba-tiba teringat sesuatu.
"Saya dan mas Bayu?" Tanya Kinan balik, yang dijawab anggukan kecil oleh Bian.
"Kami berbeda 3 tahun."
"Ternyata kita sama rupanya." Gumam Bian yang entah mengapa jadi sedikit tak suka.
"Kalian berdua terpaut 3 tahun, kalau begitu perbedaan kita berdua sama, karena aku dan kamu juga berbeda 3 tahun. Jadi kapan kamu akan memanggilku kakak lagi?" Ujar Bian dengan ekspresinya yang serius menatap Kinan.
Saat Bian hendak menunggu jawabanya dari Kinan, lain halnya dengan Kinan yang seolah masih terkejut mendengar permintaan Bian yang tiba-tiba itu.
"Kenapa? kamu tidak bisa?"
"It-itu.." Kinan tampak bingung saat hendak menjawabnya, karena permintaan Bian begitu menyulitkan dirinya saat ini.
"Hanya saat kita sedang berdua, tolong panggil aku kakak seperti saat kita pertama kali bertemu." Pinta Bian sedikit berharap.
"Saya.." Kinan sedikit berat ketika hendak menyangkal rasa tak nyamanya.
"Kak Bian, kata yang dulu sangat ringan kamu ucapkan padaku, ternyata sekarang jadi lebih sulit ya buat kamu." Ucap Bian agak sedikit kecewa dengan itu. "Kenapa? Apa sekarang kamu jadi merasa terbebani?"
"Itu kan sudah pasti! Dulu dan sekarang kan beda." Batin Kinan melihat perbedaan ia dan Bian sekarang.
__ADS_1
"Baiklah, aku tidak akan memaksa, aku akan tunggu sampai kamu siap saja." Bian pun tak lagi memaksa Kinan, dan memilih memberikan waktu pada Kinan. "Kalau begitu, ayo pulang." Ucapnya kemudian.