
"Kamu terlambat." Ucap Adel pada Bian yang baru datang sambil memasang wajah sedikit cemberut.
"Sorry, jalan agak macet hari ini." Balas Bian yang lalu memeluk secara bergantian pada Adel dan juga Adnan.
"Wah, apa nih, kado buatku ya." Adel tampak antusias setelah Bian memberikan sebuah hadiah padanya, hingga langsung melupakan Bian yang datang terlambat ke pestanya.
"Iya, ini kado dariku, selamat ulang tahun ya." Balas Bian sekaligus memberi ucapan selamat kepada Adel yang sedang berulang tahun.
"Wah.. senangnya, terimakasih ya." Seru Adel dengan ceria menyambut hadiah dari Bian, hingga langsung memeluk Bian. Ia terlihat begitu antusias menerima kado yang diberikan oleh Bian seolah telah menantikan kadonya sedari tadi.
Bian menyunggingkan senyum tipisnya melihat Adel yang tampak bahagia saat menerima kado darinya.
"Apa sebegitu senangnya kamu menerima kado dariku?" Ucapnya mengomentari reaksi Adel.
"Pastilah, ini kan kado yang diberikan langsung sama kamu." Jawab Adel langsung.
Lagi, Bian hanya tersenyum mendengar jawaban Adel. Tampaknya ia sedikit tak menyangka bahwa Adel akan sebegitu antusiasnya menyambut kado darinya.
"Aku mau menyapa tamu lainya ya, kalian berdua ngobrol dulu aja, nanti aku bakal kesini lagi kalau sudah selesai menyambut tamu lainya." Ujar Adel yang hendak menyapa tamu lainya dan meninggalkan dua sahabatnya untuk saling berbincang.
"Ok." Jawab Bian dan Adnan secara bersamaan.
Bian dan Adnan pun mempersilahkan Adel yang hendak menyapa satu persatu tamunya yang datang ke acara ulang tahunnya hari ini. Dan, meninggalkan sejenak Bian dan Adnan ditengah kerumunan tamu yang datang ke pesta ulang tahunya.
.....
"Udah lama kamu datangnya?" Tanya Bian pada Adnan setelah kepergian Adel.
"Enggak sih, mungkin lima menit sebelum kamu datang kesini." Balas Adnan.
"Terlambat juga dong."
"Enggak lha, aku kan lebih awal darimu."
Setelah obrolan itu, tiba-tiba saja Bian dan Adnan jadi diam, dan tak ada lagi obrolan yang mereka lakukan, hingga menciptakan suasana yang cukup canggung diantara keduanya.
__ADS_1
"Kenapa jadi diam begini sih, bikin canggung aja deh." Celetuk Bian yang mengomentari suasana antara dirinya dan Adnan.
"Iya juga ya, benar-benar diluar kebiasaan kita banget." Balas Adnan yang juga merasakan hal yang sama dengan Bian.
Keduanya pun akhirnya saling lempar senyum dengan kecanggungan yang sempat menghampiri mereka. Karena hal itu, suasana pun kembali mencair, obrolan keduanya pun juga ikut mengalir seperti biasa keduanya lakukan setiap kali bertemu. Tak lagi ada kecanggungan dan bahkan saat ini keduanya saling melempar candaan untuk mencairkan suasana.
"Setelah datang ke acara ini, apa kamu bakal balik lagi ke jogja?" Tanya Adnan disela obrolan.
"Iya, karena sudah tidak ada hal yang ku lakukan lagi disini." Jawa Bian.
"Lalu, bagaimana dengan perkataanmu tempo hari, soal permintaan papamu itu, apa hal itu sudah kamu pikirkan?"
"Soal itu, aku sudah memikirkannya." Balas Bian.
"Jadi, apa keputusanmu? Apa kamu bakal stay di jogja, atau bakal balik lagi kesini?"
Bian hanya tersenyum mendengar pertanyaan Adnan, hingga membuat Adnan bingung menatap ekspresi wajahnya yang lagi tersenyum bahagia.
"Jadi, apa jawabanya? kenapa jadi malah senyum-senyum sendiri, coba? Bikin orang penasaran aja." Ucapnya yang terlihat penasaran dengan Bian yang tak langsung menjawab pertanyaanya.
"Lagi bahagia tentang apa? Tentangmu yang akhirnya di izinkan oleh papamu buat stay di jogja?" Tebak Adnan.
"Mirip, tapi bukan soal itu." Ujarnya yang lagi-lagi bersikap ambigu.
Karena jawabanya yang lagi-lagi ambigu, membuat Adnan menghela nafas kesal karena tak langsung diberitahu.
"Ok deh, aku bakal langsung bilang ke kamu, maunya sih aku ingin Adel juga mendengarnya, tapi yaudahlah nanti aku kasih tau sendiri Adelnya." Ujarnya yang mulai bercerita.
Adnan pun mulai mendengarkannya yang mau bercerita.
"Aku tidak tau pastinya kapan, yang jelas aku bakal kembali lagi kesini, karena seperti yang aku bilang ke kamu tempo hari, aku mendapat tugas dari papa untuk kembali ke kantor pusat, dan aku bilang ke papa kalau aku bakal menuruti kemauanya itu." Jelasnya kemudian.
"Wah, serius? Bukanya kamu bilang masih memikirkanya, terlebih ada hal yang buatmu ragu untuk balik kesini?"
Tampaknya Adnan masih tak percaya dengan Bian yang langsung menyetujui keinginan papanya, terlebih ia tau Bian sebelumnya masih sempat ragu untuk menuruti keinginan itu, mengingat orang yang dia suka ada di jogja, hingga sulit baginya untuk meninggalkanya.
__ADS_1
"Mau tidak mau aku harus pindah kesini, karena dengan ini aku bisa menikahinya." Jelas Bian.
"Tunggu, gimana maksudnya? Bukanya kamu dan dia masih belum ada hubungan apa-apa?" Sontak mata Adnan terbelalak mendengar perkataan Bian.
"Oh, sepertinya aku lupa cerita soal ini ke kamu, ya. Soal aku yang sudah resmi menjalin hubungan dengan Kinan." Jawab Bian dengan tenang.
Berbanding terbalik denganya yang masih bisa bersikap tenang, Adnan yang saat ini masih tak percaya dengan apa yang dia dengar, tampaknya masih terlihat begitu terkejut.
"Jadi, kalian berdua sekarang sudah resmi jadian? Dan apa maksudnya tadi dengan kamu yang akan menikah?" Ucap Adnan mencoba memastikan kembali apa yang sudah ia dengar tadi.
"Seperti yang kamu dengar, aku dan dia sudah resmi berhubungan dan aku juga berniat untuk menikah denganya."
Adnan membeku mendengar perkataan Bian. Sampai-sampai membuatnya terpaku karena saking terkejutnya dengan niat Bian yang akan menikah.
"Apa kamu serius mau menikah?" Tanya Adnan kembali menanyakan keseriusan Bian.
"Iya, aku serius."
"Bukanya kamu baru saja mengenalnya? Apa yang membuatmu yakin soal itu?"
"Kalau sudah yakin akan satu hal, terkadang kita tidak perlu banyak berfikir, kan? Begitulah yang aku rasakan padanya."
Melihat ekspresi serius yang diperlihatkan oleh Bian, semakin membuat Adnan kehilangan kata-kata. Adnan nampaknya masih tak percaya dengan apa yang dia dengar langsung dari Bian. Ia pun sampai tak percaya bahwa ini benar-benar nyata, tentang sahabatnya yang tiba-tiba saja bilang akan segera menikah.
"Apa keluargamu sudah tau soal niatmu ini?"
"Justru mereka yang mengusulkan soal ini pertama kalinya, dan aku pun langsung memikirkan kemungkinan itu."
"Lalu bagaimana tanggapan pacarmu? Apa dia mau? Dan, bagaimana keluargamu bisa setuju padahal mereka saja belum bertemu dengan pacarmu?"
"Mereka sudah saling bertemu, dan dia juga setuju soal rencanaku ini."
"Sudah saling bertemu? Kapan? Jangan-jangan.."
"Yap, dia ada disini sekarang, lebih tepatnya dia sudah ada disini sejak kemarin. Aku yang mengajaknya kesini untuk bertemu keluargaku."
__ADS_1
Penjelasan itu semakin membuat Adnan kehilangan kata-kata, karena dengan itu tandanya Bian benar-benar serius.