
Bian sampai dengan selamat setelah penerbanganya dari jogja. Sekarang dia sudah berada di dalam apartemenya bersama Dimas yang selalu ikut bersamanya. Begitu sampai, dia langsung melemparkan tubuhnya begitu saja diatas sofa miliknya.
"Pak, apa ada hal yang anda butuhkan lagi dari saya?" Tanya Dimas pada Bian yang tengah duduk.
"Tidak ada, kamu boleh pergi." Balas Bian.
"Baik, saya permisi kalau begitu." Kata Dimas, lalu pergi dari hadapan Bian.
Kini tinggal menyisakan seorang dirinya dalam apartemenya yang luas itu. Bian menatap lurus pemandangan di depanya dengan ekspresi kosong. Ia melihat lagi sekeliling, tempat yang sempat ia tinggal selama satu minggu ini.
"Padahal baru seminggu aku tinggal, entah mengapa tempat ini terasa asing, ya?" Ucapnya menatap setiap sudut apartemen miliknya.
Ingatan soal hotel di jogja, tiba-tiba saja terlintas dipikiranya. Tempat yang tinggali dalan seminggu ini ternyata begitu membekas, terbukti dengan dirinya yang tiba-tiba teringat. Bian hanya bisa diam begitu ingatan itu terlintas dipikiranya. Helaan nafas panjangnya mengakhiri kekalutanya, lalu perlahan bangkit dari duduknya, dan berjalan menuju arah kamar.
"Aku capek." Ucapnya begitu sampai di dalam kamar, dan langsung membaringkan tubuhnya begitu saja tanpa mencoba melepas jas ditubuhnya maupun mencopot sepatu yang masih terpasang dikakinya.
...
Ia terlentang di atas ranjangnya, sembari memandang langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong dan penuh pikiran.
"Jadi kakak namanya Bian. Salam kenal, namau Kinan." Ucapnya sembari mengulurkan tangan mungilnya.
"*Kakak tenang saja, nanti akan aku perkenalkan sama anak-anak disini. Tenang saja, mereka semua baik kok, jadi kakak percaya saja sama aku." Ucapnya penuh percaya diri, hingga membuat Bian kecil merasa kagum.
"Baiklah, aku percayakan sama kamu, ya? Balas Bian kecil tak hentinya merasa kagum dengan sikap ceria dari gadis kecil itu*.
Kehangatan, keramahan, dan juga rasa kekeluargaan begitu terasa setiap kali dia berada di tengah-tengah anak panti asuhan. Karenanya, akan sangat sulit untuk melupakan begitu saja kenangan yang indah itu, terutama bagi Bian itu sendiri.
Bian temenung ketika mengingat kembali kenangan masa kecilnya bersama anak-anak panti asuhan dulu, juga kenangannya bersama teman gadis kecilnya dulu, yang tak lain adalah Kinan itu sendiri.
Ia masuk lebih dalam pada kebimbangan hatinya, dan kembali mengingat kenangannya dulu bersama Adel, teman masa kecilnya.
"Del, kamu inget tidak, soal kamu yang selalu bermain sama kucing sampai muka kamu cemong-cemong." Kata Bian kecil dengan semangat.
"Ha! aku kan tidak suka kucing?" Jawab Adel kecil.
"Oh ya? seingatku kamu suka, apa aku salah inget ya?"
"Gimana sih, aku kan alergi sama kucing."
Ingatanya bersama Kinan dan juga Adel, terlintas jelas di dalam pikiran Bian. Mengingat hal itu kembali, ternyata ia baru sadar kalau selama ini sikap dan kebiasaan Adel tidak ada satupun yang mirip dengan teman gadis kecilnya dulu.
__ADS_1
Saat itu, Bian tak begitu perduli maupun merasa janggal, karena ingatan soal teman gadis kecilnya dulu, hanya sepotong-sepotong. Ditambah dengan Adel yang memiliki kalung yang mirip seperti teman gadis kecilnya dulu, membuat Bian tak lagi merasa bertanya-tanya.
Ia tetap bermain seperti biasanya bersama Adel, dan masih menganggap Adel sebagai teman gadis kecilnya di masa lalu, hanya karena sebuah kalung yang tak sengaja ia temukan di dalam kamar miliknya.
Merujuk tentang itu, membuat Bian kerap kali merasa bersalah, karena ingatan buruknya soal itu. Padahal hanya selang bebarapa tahun saja dan dia sudah melupakan kenangannya bersama anak-anak panti asuhan, terutama teman gadis kecilnya dulu.
"Aku merasa bersalah soal ini." Ujarnya, lalu mengakhiri kilasan masa lalunya bersama Kinan dan juga Adel.
Dalam balutan setelan jas yang masih rapi, jam tangan yang masih terpasang ditangan, dengan sepatu yang belum dia lepas dari kakinya, tak lagi dia perdulikan, dan perlahan memejamkan matanya.
......................
Sepertinya bulan hendak menunjukkan jati dirinya. Namun hingga detik ini juga, Bian tak kunjung bangun dari tidurnya. Sepertinya dia sangat kelelahan, mengingat tak juga terbangun setelah lebih dari 3 jam tertidur.
Setelan jas yang masih terpakai di tubuhnya, jam tangan yang masih menempel di tanganya, lalu sepatu yang masih terpasang di kakinya, agaknya tak begitu mengganggu tidurnya. Begitu nyaman, hingga sulit untuk di bangunkan. Ia tiba-tiba mengulet setelah beberapa saat terdiam seperti orang mati, karena saking nyaman dengan tidurnya.
Dengan mata yang masih setengah sadar, dia mencoba mengatur jiwanya yang belum lengkap, lalu mencoba menoleh ke samping arah tempat tidurnya, dan mendapati hari yang telah berganti malam.
"Wah.. sudah malam." Serunya kemudian yang melihat perubahan waktu lewat jendela kamarnya, dan perlahan mencoba untuk bangkit dari tidurnya.
Bian mencoba menyenderkan tubuhnya pada tepi ranjang dan mengatur kembali jiwa yang masih belum lengkap itu.
"Jam berapa ini." Ucapnya lagi menatap jam ditanganya.
Begitu berdiri, dia merasakan keanehan dalam kakinya. Bianpun mencoba melihat ke bawah dan mendapati sepatunya yang masih terpasang rapi disana.
"Astaga, aku tidur masih menggungakan sepatuku!." Ucapanya merasa konyol, dan kembali tertawa konyol karena juga menyadari bahwa dia masih menggunkan setelan jas dan jam ditanganya.
Dengan segera dia mencoba melepaskan sepatu dikakinya, begitupun dengan jam tangan dan setelan jas yang masih di pakai olehnya. Setelahnya, dia bergegas pergi ke arah kamar mandi.
...
Terangnya sorot lampu di malam hari, mengiringi kepergian Bian pada malam hari ini. Tanpa ditemai oleh Dimas, dia mengendarai mobilnya sendiri di tengah-tengah keramaian jalan yang tak pernah sepi ini.
Entah apa yang membuatnya bersemangat, raut wajahnya terlihat segar dengan ekspresi yang menampakkan kebahagiaan. Bahkan beberapa kali dia bersenandung kecil di dalam mobilnya.
Selang beberapa saat, Bian sampai ditempat tujuan. Tempat pertemuanya dengan seseorang yang sangat ingin ia temui begitu kembali dari jogja. Setelah memarkirkan mobilnya ditempat parkir, Bian dengan segera masuk ke dalam.
Sebuah tempat yang menjadi lokasi pertemuanya bersama dengan orang tersebut, yang tak lain adalah Adelia. Sebuah kafe yang cukup populer dan ternyata dekat dengan tempat tinggalnya.
Namun, ada kekecewaan begitu dia sampai disana, karena gadis itu terlihat tak sendiri. Dia membawa Adnan yang juga sahabatnya, untuk datang bersamanya.
__ADS_1
"Hai, Bi. Aku tidak menyangka lho kalau kamu sudah kembali dari jogja." Ucap Adel menghampiri Bian yang tengah berjalan ke arahnya.
"Ada Adnan juga?" Kata Bian melihat Adnan yang tengah duduk.
"Iya, aku sengaja panggil dia kesini." Jawab Adel sembari menarik Bian untuk duduk.
Raut wajah Bian terlihat muram dan sedikit kecewa mendengarnya.
"Hai, apa kabar?" Sapa Adnan pada Bian yang sudah duduk.
Bian membalas sapa dari Adnan, meski ekspresi kecewanya tak bisa dia sembunyikan.
Padahal aku mengajaknya bertemu, karena ada yang mau aku pastikan. - Ucapnya dalam hati merujuk pada Adel yang malah membawa Adnan bersamanya.
"Ada apa, Bi?" Tanya Adel yang melihat Bian diam.
"Oh, gapapa kok. Cuma lagi kepikiran soal pekerjaan saja." Balas Bian memaksa untuk tersenyum.
"Duh, kamu ini. Baru juga ketemu sudah memikirkan kerjaan lagi. Kalian berdua ini sama-sama tidak peka, ya?" Ujar Adel tak suka dengan hal itu.
Baik Adnan dan Bian, hanya bisa tersenyum simpul mendengar protes dari Adel.
"Aku tidak tau kalau ada kafe sebagus ini di dekatku." Kata Bian.
"Gimana kamu bisa tau, kalau kamu sendiri tidak pernah keluar?" Sindir Adel.
"Benar juga, ya.." Kata Bian tak membantah.
"Gimana kamu selama di jogja?" Tanya Adnan kemudian pada Bian, yang kebetulan duduk di depanya.
"Yah.. biasa aja, sama halnya seperti di kanada atau amerika dulu." Jawab Bian tak bersemangat, sembari menyeduh minuman yang sudah dipesan untuknya itu.
Karena pertanyaan itu, ia jadi teringat kembali akan kenangan selama seminggunya di jogja. Ia jadi termenung memikirkanya.
"Bi.." Panggil Adel pada Bian yang tengah melamun.
"Ada apa?" Jawabnya yang tersadar dari lamunan.
"Kamu kenapa sih? Dari tadi di panggil gak dengar-dengar juga. Sejak datang sampai sekarang, kamu sering diam dan melamun seperti ini. Apa ada hal yang sedang kamu pikirkan? atau lagi ada masalah?."
Bian terdiam, dan agak ragu-ragu untuk mengatakanya.
__ADS_1
"Ada.." Ucapnya kemudian dengan menatap kedua sahabatnya.