
"Ada.." Jawab Bian sembari menatap kedua sahabatnya.
Adel dan Adnan terlihat terkejut ketika mendengarnya langsung. Mereka berdua jadi saling pandang mendengar ucapan Bian.
"Ada?" Kaget Adel. "Apa?" Tanyanya kembali dengan penasaran.
"Kamu penasaran?" Tanya Bian balik.
"Iyalah, siapa tau aku bisa bantu, kan?" Jawab Adel mencoba meyakinkan.
"Serius? aku tidak yakin kamu bisa mendengar ini?" apalagi disini ada Adnan!." Ujar Bian menatap Adel.
Perkataanya yang sedikit ambigu membuat Adel dan Adnan merasa bingung, juga sedikit bertanya-tanya, terlebih bagi Adnan itu sendiri yang merasa tak faham akan ucapan Bian.
"Memang apa hubungannya dengan Adnan yang ada disini?" Tanya Adel penasaran.
"Sebelum aku jawab, aku mau mengembalikan kalung milik kamu yang sempat aku pinjam sebelumnya." Jawab Bian, lalu memberikan kalung milik Adel yang ia bawa sedari tadi.
"Oh, rantainya sudah kamu ganti." Ucapnya menerima kalung miliknya. "Padahal tidak perlu dikembalikan juga gapapa, karena aku juga tidak terlalu butuh lagi." Kata Adel merasa tak tertarik lagi dengan kalungnya.
Jawaban dari Adel membuat Bian terdiam. Ada sedikit rasa kecewa disana, dan ekspresinya seolah memberikan sebuah gambaran.
"Kamu masih simpan kalung itu?" Tanya Adnan yang tertarik dengan kalung gembok yang tengah dipegang oleh Adel.
"Iya, aku masih menyimpanya. Tadinya sudah tidak ingat dan mau aku buang, tiba-tiba saja Bian bilang mau pinjam, jadi.. yah aku coba cari lagi deh." Jawab Adel.
"Aku tidak menyangka kamu bakal pinjam kalung milik Adel?" Kata Adnan sedikit kaget pada Bian. "Apanih? kenapa kamu jadi tertarik dengan kalung itu, coba? Kemarin juga, kamu sempat mengira kalung milikku itu punya Adel.?" Kata Adnan lagi, yang agak penasaran.
"Hah! sampai begitu? kok aku baru tau sih?" Kata Adel agak kaget mendengar perkataan dari Adnan. Ia melihat kembali kalung miliknya yang tampak biasa itu.
"Iya, kemarin waktu di taman, aku kan sempat pakai kalung, dan Bian mengira itu kalung milik kamu." Jelas Adnan lagi.
Bian hanya diam mendengar berbagai pertanyaan dari kedua sahabatnya.
"Sebenarnya, aku juga tidak tau. Soalnya terlintas begitu saja, karena kalungnya unik saja menurutku." Jawab Bian kemudian.
"Unik? kenapa aku malah tidak suka sama kalungnya, ya?" Kata Adel tak setuju.
"Tidak suka?" Bian Sedikit kaget mendengar perkataan itu dari Adel. "Kamu tidak suka sama kalungnya?" Tanyanya lagi memastikan.
"Iya, aku tidak terlalu suka, soalnya desainya sudah agak kuno." Jawab Adel kembali memasukkan kalungnya pada sebuah kotak.
__ADS_1
"Tapi, itu kan peninggalan kamu dari panti asuhan dulu?" Balas Bian.
Adel tiba-tiba terdiam begitu Bian menyinggung soal panti asuhanya dulu.
"Berhenti bahas kalungku, kamu belum jawab lho soal pertanyaanku tadi? kamu lagi ada masalah apa? dan lagi memikirkan apa sampai bikin kamu tidak bersemangat begini?" Kata Adel mengalihkan pembicaraan dengan cepat.
"Tidak ada kok, hanya merasa lelah saja soal pekerjaan." Balas Bian dengan tenang.
Jawaban Bian mendapat tatapan kesal dari Adel yang sedari tadi merasa khawatir denganya.
"Kamu itu ya..., benar-benar nih anak, bisa-bisanya bercanda begini.!" Rutuk Adel merasa kesal.
Bian hanya tersenyum menatap wajah kesal Adel, dan dia hanya bisa pasrah mendapat pukulan kecil dari Adel yang kebetulan duduk disampingnya.
Interaksi keduanya tak lepas dari pandangan Adnan yang duduk diantara mereka. Dia terdiam dan hanya bisa mengalihkan pada minuman yang di depanya.
"Apa masalahmu di jogja sudah selesai?" Tanya Adnan kemudian.
"Belum." Jawab Bian dengan singkat.
"Belum? terus kenapa kamu pulang?" Tanya Adel.
"Ada hal yang harus aku pastikan sekarang, makanya aku pulang." Jawab Bian sembari menoleh ke arah Adel.
"Iya, soal hati kamu..." Kata Bian tenang sembari menatap Adel.
Ucapanya yang tiba-tiba itu, membuat Adel dan Adnan sedikit terkejut saat mendengarnya. Dan seketika, suasana diantara ketiganya menjadi hening dan sedikit canggung.
Adnan merasa berada disuatu hal yang sulit, dia bahkan sampai terpaku hingga sulit untuk menggerakkan tubuhnya.
Di sisi lain, Adel yang tiba-tiba mendapat pengakuan dari Bian sedikit terkejut dan sering kali merasa tak nyaman, terutama pada Adnan.
"Bi.." Ucapnya kemudian menatap Bian.
Namun, ia tak bisa melanjutkan kata-katanya kembali, apalagi ada Adnan disampingnya. Beberapa kali Adel selalu menggigit bibirnya yang terasa kaku untuk sekedar membuka mulutnya.
Tiba-tiba saja Adnan berdiri dari tempat duduknya. Mencoba memberikan waktu bagi keduanya.
"Aku pergi dulu, ya... Biar kalian bisa mengobrol lebih dalam.." Kata Adnan mencoba mengontrol ekspresinya, lalu pamit pada Bian dan Adel. Ia tersenyum menatap keduanya.
"Nan, kamu kok..."
__ADS_1
"Tenang aja Del, sebenarnya aku juga ada keperluan lain." Kata Adnan menenangkan Adel.
"Kebetulan Bian kan, mau bicara sama kamu. Jadi, aku pergi duluan biar kalian bisa mengobrol dengan santai. Aku pamit ya.." Ucapnya lagi, dan berjalan pergi. Saat melewati belakang punggung Bian, dia menepuk pundaknya untuk menyemangati sahabatnya itu, meski sebenarnya sudut hatinya sedikit sakit. Namun, dia tetap mendukung sahabatnya.
Hanya Adel yang merasa panik setelah ditinggal oleh Adnan. Dia tak berani menatap mata Bian, dan seringkali menyembunyikan rasa canggungnya dengan meminum minuman yang ada di depanya.
"Minum punyaku saja." Kata Bian memberikan minumanya pada Adel, yang terlihat kehabisan minuman.
Adel menerimanya dengan canggung. Entah mengapa, Bian yang ada di hadapanya saat ini terlihat berbeda. Ekspresinya terlihat serius dan penuh dengan kedewasaan, hingga membuat canggung seorang Adelia.
"Bi.." Panggil Adel kemudian, yang mencoba memecah kecanggungan.
"Hem.." Balas Bian singkat dengan nada lembut menatap Adel.
"Soal tadi, apa maksudnya?" Tanya Adel pura-pura tak faham.
"Tadi? yang mana ya?" Tanya Bian balik.
"Bi..." Kata Adel dengan ekspresi menuntut Bian serius.
"Oh yang itu." Ucapnya kemudian. "Aku hanya meminta kejelasan saja, apa tidak boleh?" Balasnya tersenyum menatap Adel.
"Bi, tapi..."
"Kenapa? apa ini karena aku masih belum siap juga?" Tanyanya pada Adel. "Padahal aku sudah menunggu lama buat mengatakan ini lagi." Sambungnya.
Adel tertunduk mendengarnya, ia sedikit bingung harus menjawab apa sekarang, pada Bian yang menatapnya penuh ketegasan dari dirinya.
"Kata kamu masalah yang di jogja belum selesai, apa kamu akan balik lagi kesana?" Tanya Adel.
"Iya, aku akan balik setelah mendapat jawaban dari kamu." Jawab Bian dengan tegas.
Lagi-lagi Adel merasa terkejut dengan keberanian Bian, dan juga ketegasanya. Namun, dia jadi teringat momen ini dulu di amerika. Momen ketika Bian menembaknya, sebelum pergi ke kanada.
"Kapan kamu akan balik dari jogja?"
"Entahlah, mungkin 2 minggu atau paling lama bisa 1 bulan?." Jawab Bian tak yakin. "Yah, sampai hotel benar-benar tidak ada masalah lagi." Lanjutnya.
Adel terdiam, dia agak ragu sebelum melanjutkan kembali ucapanya.
"Bii..sakah, aku menjawabnya sampai kamu pulang?"
__ADS_1
Bian terdiam, lalu mencoba untuk tersenyum ketika mendengarnya. Ia merasa dejavu dengan kenanganya dulu waktu di amerika, lalu menatap ke arah Adel yang tengah duduk di sampingnya. Namun, kali ini dia hanya diam, tak menjawabnya.