Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
12. Masih Bertahan


__ADS_3

"Kamu kenapa? kok dari tadi diam aja?" Tanya Adel pada Adnan yang berada di sampingnya.


"Ah.. aku? aku gak kenapa-kenapa kok, memangnya aku kenapa?." Jawab Adnan dengan mencoba tersenyum.


Adel tidak puas dengan jawaban Adnan.


"Kamu sedari tadi diam tau, saat kita pulang dari taman sampai kita makan bareng tadi, kamu tidak banyak bicara dan sekarang pun kamu juga cuma diam." Jelas Adel.


"Ah.. aku gitu ya? aku gak nyadar lho, mungkin karena aku lagi nyetir jadi mau fokus aja." Jawab Adnan.


"Gitu? kamu gak lagi marah atau kesal kan?"


"Kesal? eiy.. ya gak lha, kenapa kamu bisa mikir seperti itu coba?" Adnan mencoba tersenyum.


"Gak tau, habis kamu dari tadi diam jadi aku pikir kamu lagi marah atau apa."


"Oh enggak kok, cuma lagi fokus nyetir aja, dan sedikit terpikir soal kerjaan juga." Kata Adnan sambil tersenyum simpul.


Adel mengangguk mengerti dan tak mendebat lagi.


Ekspresi Adnan tampak ragu ingin bertanya pada Adel, entah apa yang membuatnya begitu berhati-hati seperti itu.


"Ah.. itu.. Del apa kamu.." Tanya Adnan dengan agak hati-hati.


Masih punya perasaan sama Bian?


"Kamu apa? kenapa gak dilanjutin?" Tanya Adel balik menatap Adnan disampingnya.


"Ah.. bukan apa-apa kok, tadi cuma mau bilang kamu hebat." Ucap Adnan asal dan tak melanjutkan kalimat yang ingin dia ucapkan.


"Hah! tiba-tiba bilang hebat? kamu gapapa nih?" Bingung Adel menatap Adnan tak percaya.


"Yah.. kan memang gitu, karena kamu sudah berhasil bikin aku sama Bian dateng ke tempat kenangan itu setelah waktu yang lama."

__ADS_1


"Ah.. soal itu, benar.. aku hebat kan?" Bangga Adel pada diri sendiri.


Adnan mengangguk dan tersenyum mendengarnya.


"Hebat, karena sudah bikin orang super sibuk seperti kalian berdua kumpul lagi." Lanjut Adel.


"Benar, kamu hebat." Puji Adnan.


Itu karena kamu Del, kita berdua seolah susah menolak ajakan dan permintaan darimu - Batin Adnan.


...


Rumah Bian, pukul 9 malam.


Sudah berkumpul keluarga besar Ferdinan di ruang tamu, ada mama, papa, dan juga kakek Bian. Mereka seolah sudah menunggu kedatangan Bian ke rumah hari ini.


Mama Bian menyambutnya hangat dengan memeluk putra semata wayangnya yang telah lama tak pulang. Sedangkan papa dan kakeknya tetap diam ditempat mereka duduk saat ini. Bian yang sudah terbiasa, hanya bisa tersenyum melihat pemandangan dan sikap keluarganya.


"Kamu terlambat." Ucap kakek Brama pada Bian.


"Yasudah masuk ke kamarmu sana." Ucap kakek cuek dan tak mempermasalahkan lagi.


"Baik, tapi saya mau menyapa nenek dulu."


"Em.."


Bian perlahan masuk ke dalam rumah, ia tak lupa menyapa papanya sebelum masuk ke dalam, lalu menuju ke dalam ruangan yang sedikit spesial dan selalu tertutup rapat itu.


Ruangan yang berada dilantai satu dan dekat dengan kamar kakeknya.


"Aku datang nek, apa kabar?" Sapa Bian pada foto nenek yang ada di depanya.


Benar, nenek Bian telah meninggal ketika ia masih SMA, saat itu usia Bian baru 18 tahun.

__ADS_1


Bian begitu menyayangi neneknya, karena itu kepergianya sangat membuatnya terpukul. Karena dirumah yang luas dan besar ini, hanya neneknya lah yang mengerti dirinya. Kepergianya seolah meruntuhkan dunianya.


"Maaf ya Bian baru datang sekarang, nenek tidak marah kan?"


Bian menahan air mata di depan foto neneknya, ia menatap lama foto tersebut.


"Bian sudah besar lho sekarang, umur Bian sudah 28 tahun, jadi.. nenek tidak perlu khawatir lagi karena Bian sudah bisa mandiri sekarang." Ucapnya kemudian.


Ia tertawa kecil mengingat momen bersama neneknya.


"Bian juga sudah gak cengeng lagi lho, tapi jangan suruh Bian menikah ya sekarang. Soalnya Bian masih belum siap." Sambungnya sembari tertawa kecil di depan foto neneknya, seolah sedang berbicara langsung dengan sang nenek. "


Menatap lama foto tersebut, menunduk dengan hormat sebagai balasan atas keterlambatan ia datang mengunjungi neneknya. Setelahnya dengan perlahan meninggalkan ruangan yang penuh dengan kenangan dan rasa kerinduan itu.


"Ah.. sial, aku jadi emosional setelah datang ke kamar nenek." Ucap Bian begitu tiba di dalam kamarnya.


Menatap lurus kamar lamanya, memandangi setiap sudut ruangan yang masih terlihat sama seperti dulu.


Banyak foto masa kecilnya dulu dan foto kenangan bersama Adnan dan Adel yang tersimpan rapi di dalam kamar miliknya.


"Aku merindukanmu kamarku.." Serunya menatap kamarnya, sembari membaringkan tubuhnya diatas kasur. "Aku ngapain ya disini?" Ucapnya lagi yang sudah merasa bosan.


Ia coba bangkit dari kasur karena teringat akan satu hal dan mulai mencarinya dengan segera.


"Tunggu, kotak yang tadi aku bawa dari apartemenku kemana ya? jangan-jangan ketinggalan diruangan nenek lagi?"


"Ah.. ini dia." Seru Bian begitu melihat kotak yang dimaksud dan hendak membukanya, namun terhenti karena merasa janggal. "Kenapa kamu sudah ada disini?" Ucapnya bingung pada kotak itu.


"Ah.. pasti tadi di bawa sama pak Kardi waktu mindahin barangku tadi." Jawabnya kemudian yang mengingat Pak Kardi, penjaga rumah di keluarganya yang tadi membawa semua barang-barangnya ke dalam kamar.


Tak mempermasalahkanya lagi, Bian mencoba membuka pelan kotak kecil itu dan terlihatlah sebuah kalung di dalamnya dengan bandul berbentuk kunci.


"Aku benar-benar masih penasaran dengan kalung ini, makanya aku sengaja bawa kesini dari apartemenku. Haruskah aku cocokkan dengan kalung milik Adel? siapa tau ada petunjuk disana?

__ADS_1


"K? apa sih maksud huruf ini sebenarnya?"


__ADS_2