
Ekspresi Bian penuh dengan pertanyaan pada Adnan yang berada di sampingnya.
"Kalung Adel?" Adnan tampak kebingungan.
"Ah.. kalung ini yang kamu maksud? ini kan cuma kalung rantai biasa, aku sengaja pengen pakai aja tadi. Kenapa sih?.." Jelas Adnan menunjukkan kalung miliknya yang ternyata berbentuk hampir sama dengan milik Adel.
Ekspresi Bian tampak tak puas. "Oh.. aku kira tadi kalung punya Adel, karena bentuknya agak mirip." Jawab Bian.
"Oh kalung gembok yang pernah kita liat di kamarnya itu."
"Em.."
"Kenapa kamu jadi tiba-tiba ngomongin soal kalung itu coba?"
"Aku juga gak tau, entah kenapa terlintas saja." Balas Bian yang juga merasa agak bingung dengan dirinya sendiri. "Eh, kamu tau tidak soal panti asuhan cinta kasih?" Lanjutnya lagi.
"Cinta Kasih?" Adnan mencoba mengingat nama yang tampak familiar itu. "Bukanya itu nama panti asuhannya Adel dulu ya.?" Ingatnya kemudian.
"Iya benar, ada sesuatu ..."
"Hey kalian berdua, ngapain sih dari tadi disana aja? kalian datang cuma berdiri aja nih?" Protes Adel melihat kedua temanya yang tak menyusulnya sedari tadi, dan hanya dirinya sendiri yang menikmati momen ini.
__ADS_1
Pembicaraan Bian dan Adnan terpotong dan beralih menatap ke arah Adel yang tengah memperlihatkan ekspresi kesal.
"Ah.. dia marah tuh." Kata Bian pada Adnan, begitu menatap ekspresi wajah Adel.
"Iya dia marah, kesana yuk." Saut Adnan mengajak Bian menghampiri Adel yang sudah hampir meledak.
Bian dan Adnan berlari menuju ke arah Adel dengan terkekeh, melihat ekspresinya seakan sedikit bernostalgia.
"Apa yang lucu, aku lagi kesal nih." Ngambek Adel.
Bian dan Adnan hanya bisa tersenyum menatap ekspresi manyun Adel. Ketiganya terhanyut dalam nostalgia masa lalu, tertawa dan ceria bersama layaknya masa kecil mereka dulu.
...
"Aku sampai lupa waktu saking senangnya kita kumpul bareng lagi, apalagi ditempat kenangan ini." Kata Adel terlihat puas.
"Iya, aku juga merasa senang. Meski banyak yang berubah, tapi masih ada yang tetap bertahan seperti hubungan kita bertiga." Timpal Bian.
"Yup..sekarang kita pulang yuk, sudah mau gelap nih." Ajak Adnan.
Perlahan kaki ketiganya melangkah pergi, memandangi sejenak taman kenangan itu yang akhirnya bisa mereka datangi bersama setelah sekian lama.
__ADS_1
"Gimana kalau kita makan dulu sebelum pulang, kan kita mainya agak lumayan lama tuh, aku agak laper nih." Usul Adel.
"Em.. sorry ya, kayanya aku skip dulu, soalnya aku harus pulang ke rumah hari ini. Kakek dan kedua orang tuaku sudah menungguku. Aku takut mereka marah." Balas Bian agak merasa bersalah.
"Ah.. ok." Nada kekecewaan terlihat dari ekspresi Adel.
"Yaudah sama aku aja, biarin Bian pulang duluan, lagian dia juga belum mampir ke rumahnya setelah pulang dari luar negeri." Adnan mencoba menghibur kekecewaan Adel.
"Yaudahlah, aku sama Adnan aja kalau gitu." Kata Adel tak mendebat.
"Ok, aku pulang duluan ya.." Pamit Bian pada kedua sahabatnya.
"Hati-hati Bi." Ucap Adel lagi.
"Em.. kamu juga, habis makan langsung pulang lho." Canda Bian.
"Ih apa'an sih, aku kan bukan anak kecil lagi."
Bian hanya tersenyum mendengar protes Adel. Disamping mereka, terlihat Adnan yang tampak tak nyaman melihat kedekatan kedua sahabatnya, entah mengapa hatinya sedikit sakit.
"Ayo kita pergi makan.." Ajak Adel, setelah Bian pergi meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1
"Ah.. ok." Jawab Adnan dengan senyum kecilnya.
Dengan cepat ia merubah ekspresinya di depan Adel.