Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
42. Kesal Tanpa Sadar


__ADS_3

Cinta? bukankah perasaan itu hadir ketika kita selalu merindukannya meski tak bertemu denganya? Merasa bahagia hanya dengan membayangkanya? dan merasa indah meski hanya memikirkanya? Lalu mengapa selalu ada rasa sakit setiap kali memilikinya?


......................


Dalam ruang kerjanya, dengan beberapa tumpukan berkas-berkas yang sudah menantinya di depan, Bian lagi-lagi terjebak pada pikiran kacaunya. Meski berusaha untuk tetap fokus pada pekerjaanya, lagi-lagi Bian terfikirkan dengan perkataan Dimas.


"Dia bilang, ini hadiah?" Seringai Bian tak percaya menatap bulpen milik Dimas, "Memangnya mereka sedekat itu, untuk bisa saling berbagi hadiah?" Ucapnya mendengus kesal menatap bulpen itu, "Tunggu, kenapa aku jadi kesal, ya?" Ucapnya tersadar.


Bian melempar begitu saja bulpen milik Dimas yang tengah dipegangnya. Mendengus tak percaya pada rasa kesalnya yang tiba-tiba itu.


Saat ia merasa kalut dengan pikirannya, sebuah pesan masuk ke dalam ponsel miliknya. Pesan beruntun dari Adel yang lagi-lagi menanyakan kabar tentangnya dan apa yang dilakukanya hari ini, benar-benar membuat Bian tak habis fikir dengan sikap Adel.


"Sikapnya benar-benar tidak bisa di tebak, ya?" Gumamnya menatap layar ponselnya, dan terfikirkan dengan sikap Adel yang tak seperti biasanya.


Bian menatap lama layar ponselnya, melihat lagi pesan yang dikirim oleh Adel untuknya. Setelah termenung menatap layar ponselnya, Bian mencoba membalas satu pesan dari Adel.


Meletakkan kembali ponselnya di atas meja, dan melanjutkan kembali pekerjaan yang belum selesai. Tumpukkan berkas-berkas di depan dan samping duduknya masih terlihat banyak, yang sepertinya akan membuatnya kembali lembur hari ini.


"Sepertinya bakal lembur lagi hari ini..." Keluhnya menghela nafas melihat tumpukan berkas-berkasnya.


Meski banyak dan sedikit mengeluh tadi, Bian tetap fokus pada pekerjaanya, karena tanggung jawabnya lebih penting dibanding dengan keluh kesahnya. Karena hal seperti ini adalah bagian rutinitas dirinya setiap hari.


...


Tok.. tok.., suara ketukan dua kali dari luar ruangannya sekarang, kembali menghentikan aktivitasnya. Dia hanya menatap lurus ke arah pintunya, tanpa mencoba untuk membuka atau menghampirinya.


"Maaf pak, saya membawakan makanan siang untuk anda." Ucap dari luar oleh seorang staff perempuan yang tengah membawa makanan untuknya.


Mendengar hal tersebut, Bian mencoba menatap jam di tangannya yang telah menunjukkan hampir pukul 1 siang. Tanpa sadar dia hampir melewatkan jam makan siangnya lagi. Karena hal tersebut, Bian dengan segera mempersilahkan staff tersebut masuk ke dalam ruanganya.


"Apa kamu disuruh oleh Dimas untuk membawakan makanan untukku?" Tanya Bian yang masih duduk dikursinya, pada seorang staff hotel yang tengah menaruh makanan pada meja di depanya.


Seolah sudah faham dengan Dimas, dengan pekanya Bian bisa tahu kalau makanan itu dibawa karena di suruh oleh Dimas, karena mengingat dia yang tak memesan apapun sebelumnya.

__ADS_1


"Benar pak. Pak Dimas yang menyuruh saya untuk membawakan makanan untuk anda, karena beliau khawatir anda akan melewatkan jam makan siang lagi." Jelas staff tersebut.


"Begitukah, terimakasih kalau begitu. Tapi.. apa kamu membawa kopi juga?" Tanya Bian mencoba berjalan ke arah meja.


"Ah maaf, saya tidak membawanya. Kalau anda mau, akan segera saya buatkan dan bawa kemari." Ucap staff itu merasa bersalah tak membawa hal yang diinginkan oleh Bian, dan segera menawarkan langsung untuk membuatkan kopi untuknnya.


"Boleh, tolong ya? soalnya kepalaku agak pusing, jadi aku membutuhkanya sekarang." Balas Bian.


"Baik, akan segera saya buatkan dan antar kopinya pada anda." Ucap staff tersebut undur diri dari hadapan Bian.


Ketika hanya seorang diri, Bian menatap makanan yang sudah disiapkan untuknya itu dengan ekpresi datar. Dari ekspresinya seperti enggan untuk memakanya. Meski begitu, dia tetap duduk dan mencoba memakan makanan yang sudah terlanjur disiapkan untuknya itu.


"Sebenarnya aku lagi tidak selera makan." Ucap Bian menatap makanan di depanya. Namun, karena sudah disiapkan untuknya, mau tak mau ia mencoba memakanya. Meski hanya sedikit memakan makanannya, hingga menyisakan cukup banyak karena sedang tak berselera.


"Aku menghargainya membawakan makanan untukku, tapi yang aku butuhkan sekarang hanya kopi." Ucapnya telah menyelesaikan makannya.


...


"Jawabanya singkat dan sedikit cuek, tidak seperti dirinya." Ucapnya merasa kacau dengan perubahan sikap Bian. "Apa dia masih marah karena aku menolaknya?" Sambungnya.


Adel merasa frustrasi sendiri saat memikirkanya. Dia teringat dengan pertemuanya bersama Adnan beberapa hari yang lalu sesaat setelah Bian pergi. Dia menceritakan semua keluh kesahnya pada Adnan selama Bian pergi.


Tak seperti saat kepergianya ke kanada, entah mengapa kali ini lebih sedih dan menyakitkan, karena Bian yang tak berpamitan padanya sebelum berangkat.


Tak hanya Adel, saat inipun Adnan masih terpikirkan oleh pertemuanya dengan Adel di kafe setelah kepergian cepat Bian ke jogja. Ia masih tak menyangka dengan hal yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya, tak sesuai dengan tebakan juga prediksinya yang menganggap bahwa Adel dan Bian akan segera bersatu sebagai pasangan.


Saat itu, dia meninggalkan mereka berdua untuk memberikan mereka ruang untuk mengobrol lebih dekat, namun ternyata tak mendapat kemajuan juga pada hubungan mereka hingga kini. Membuatnya merasa aneh sendiri.


...


Flashback pertemuan


"Nan, sepertinya Bian marah sama aku deh?" Keluh Adel memasang wajah sedih di depan Adnan.

__ADS_1


"Hah! kenapa kamu bisa beranggapan begitu?" Kata Adnan tak mengerti, karena mengingat kemarin mereka baru saja bertemu dan saling mengungkapkan perasaan.


Keduanya kembali bertemu disebuah kafe dekat kantor Adnan. Meski hatinya masih sedih, karena masih belum bisa menerima hubungan Bian dan Adel, namun Adnan tetap datang saat Adel memanggilnya untuk bertemu.


"Aku belum menjawab perasaanya kemarin, karena itu mungkin dia marah sama aku, makanya hari ini dia pergi begitu saja tanpa bilang-bilang sama aku." Kata Adel merasa sedih.


Perkataan Adel tentu saja membuat Adnan terkejut, karena tak menyangka dengan jawabanya.


"Kamu belum menjawabnya? kenapa?" Tanya Adnan dengan agak penasaran.


Adel diam mendapat pertanyaan tersebut. "Kamu pikir aku bisa menjawabnya, kalau kalian mengatakan hal yang sama seperti ini. Aku kan jadi bingung." Kesal Adel menatap Adnan.


"Ah.." Adnan seperti faham maksud dari Adel. Karena Adel pasti merasa bingung mendapat pengakuan dari kedua teman dekatnya di waktu yang berdekatan itu, "Tapi.. bukanya kamu suka sama Bian?" Ucap Adnan.


"Hah, apasih yang kamu maksud?.."


"Maksudku, bukanya kamu lebih tertarik kepada Bian ya? karena itu kamu menunggunya selama ini? Tapi.. kenapa kamu tak menjawabnya kemarin, saat Bian mengungkapkan perasaanya lagi?.." Ujar Adnan merasa heran.


Adel terdiam, dia tak bisa menjawab pertanyaan Adnan, karena dia juga merasa bingung dengan dirinya sendiri.


"It-itu.. itu karena aku tidak mau kehilangan kalian berdua." Jawabnya kemudian.


Setelah mendengar jawaban Adel, Adnan berfikir bahwa Adel memikirkan dirinya dan Bian, karena itu hingga sekarang dia tak menjawab perasaan pada salah satunya, karena tak mau kehilangan keduanya.


"Aku mengerti, tapi Del, kamu tidak perlu memikirkan perasaanku atau Bian, lakukan sesuai kata hatimu saja, aku tidak keberatan." Kata Adnan, "Kalau kamu suka sama Bianpun, aku tidak masalah. Perasaanku padamu, biar aku yang mengurusnya sendiri, jadi kamu tidak usah merasa khawatir.." Sambungnya lagi mencoba menerima dengan senyuman.


Kilasan tersebut masih terngiang dihati Adel. Setelah Adnan mengatakan hal seperti itu, membuat Adel memikirkan kembali perasaanya pada Bian. Namun, tak lupa dia juga memikirkan Adnan yang selalu berada disampingnya.


"Aku harus bagaimana? Bian atau Adnan? mereka sama-sama berharganya buatku?"


Adel melempar ponselnya begitu saja diatas kursi, mengacak rambutnya frustrasi pada kedua masalahnya. Saat ini, dia bahkan kesulitan untuk menghubungi Bian maupun Adnan. Setelah kepergian Bian, dan pertemuan terakhirnya bersama Adnan beberapa hari lalu, membuat keduanya seperti menjaga jarak denganya, bahkan ia sulit untuk sekedar menghubungi mereka.


"Mereka tidak melupakanku, kan..?"

__ADS_1


__ADS_2