Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
107. Perasaan Itu Semakin Jelas Adanya


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu begitu saja, dan Bian belum juga kembali ke hotel cabang yang ada di jogja. Masih berada di kantor pusat dan belum ada kepastian kapan akan kembali lagi. Meski tak sekali ini melihat Bian yang pergi, namun, Kinan merasa ruang yang ditinggalkan oleh Bian begitu terasa kekosongannya. Kekosongan itu yang telah membuat Kinan merasa aneh pada dirinya sendiri, hingga terus menerus memikirkan jawabannya.


"Kenapa? Merasa kehilangan karena pak Bian tidak ada?" Shiva datang menghampiri Kinan yang kebetulan tengah melamun sendirian.


Kinan yang merasa ada orang berbicara padanya, mencoba berbalik menatap ke arah tersebut dan mendapati Shiva yang tengah menatapnya penuh dengan rasa tidak suka. Sempat merasa bingung karena tatapan dan kehadiranya, namun ia hanya bisa menatapnya dalam diam dan tidak ada keinginan untuk membalas ucapannya. Mencoba meninggalkan Shiva seorang diri, karena sedang tidak ingin meladeninya.


"Wah, sekarang sudah berani mengabaikanku, ya? Apa ini karena pak Bian yang ada dibelakangmu?" Sindir Shiva.


Kinan menghentikan langkah kakinya, dan membalikkan tubuhnya untuk menatap ke arah Shiva yang entah mengapa seperti memancing dirinya.


"Kamu mau bikin rumor apa lagi, sih? Apa tidak cukup dengan teguran kemarin?" Ucap Kinan.


"Toh orangnya sekarang lagi tidak ada. Tapi, bukanya ucapanku ada benarnya, ya? Jadi, aku nggak sepenuhnya bohong dong?"


"Cukup ya Va, aku benar-benar capek meladeni sikap kekanakanmu itu." Kinan mencoba mengabaikan Shiva yang terus memancing amarahnya.


"Kekanakan?" Shiva tertawa tak percaya. "Setidaknya aku bukan dirimu yang jadi simpanan bos sendiri."


Plakk, satu tamparan mendarat dengan kerasa pada pipi kiri milik Shiva.


"Kemarin aku masih mencoba sabar dengan segala cacian dan kebencianmu padaku, tapi sekarang benar-benar sudah kelewatan, tau nggak?" Marah Kinan menatap Shiva yang masih memegang pipinya yang kena tampar.


"Beraninya anak sepertimu menamparku, memangnya kamu pikir kamu siapa, hah!" Shiva yang marah ingin membalas tamparan Kinan, namun tangan Kinan lebih cepat darinya dan menahan tangannya dengan erat.


"Berhenti melakukan hal bodoh, akui saja kekuranganmu, dan jangan mengkambing hitamkan orang lain seperti ini. Sikapmu ini sama saja memperlihatkan betapa buruknya kamu sebagai seorang manusia." Kinan melepas tangan milik Shiva yang ia tahan ketika hendak mendaratkan diri pada pipinya, lalu pergi begitu saja setelah mengucapkan perkataan yang hendak ia katakan pada Shiva.


Kekacauan itu, terlihat oleh para staff hotel. Tak ada di antara mereka yang berani melerai atau mendamaikan keduanya. Mereka hanya melihat dari jauh dan saling berbisik satu sama lain dengan kejadian yang ada di depan mata mereka. Melihat Kinan yang berjalan ke arah mereka, membuat semuanya perlahan membubarkan diri dan kembali pada posisi masing-masing. Meski ada yang masih melirik-lirik ke arah Shiva yang masih terdiam di tempatnya dengan ekspresi menahan amarah dan kekesalan.


....


Dalam ruanganya, Kinan mencoba meneguk air putih untuk menenangkan dirinya yang sempat berseteru dengan Shiva.

__ADS_1


"Kenapa dia masih terus seperti ini padaku?" Kinan menghela nafas panjang pada kebencian Shiva yang ternyata masih berlanjut.


"Memangnya ini atas kemauanku, berada dalam posisi ini? Kan bukan aku yang meminta?" Lagi-lagi Kinan tidak mengerti pada kebencian Shiva yang ditujukan padanya.


Awal pagi yang tidak baik dan membuat suasa menjadi lebih mencekam. Terlebih apa yang dilakukan oleh Shiva sudah sangat keterlaluan bagi dirinya.


"Dia terus bikin rumor yang sama. Apa dia benar-benar sebenci itu padaku?" Ucapnya yang lagi-lagi merasa bingung pada kesalahannya pada Shiva, hingga begitu membenci dirinya.


"Padahal dulu dia orang yang membuatku respect, kenapa sekarang...?"


Kriing.. Kring.. Pandanganya kemudian terlalihkan pada dering telfon yang berbunyi. Mencoba mengatur kembali perasaanya dengan menarik nafas dalam-dalam dan melepaskanya perlahan, lalu segera menjawab telfonnya.


"Selamat pagi, hotel Louisya Park dengan Kinan disini, ada yang bisa kami bantu?" Ucapnya menjawab telfon yang berada cukup dekat dengan posisinya saat ini.


"Kinan." Suara lembut ketika memanggil namanya, membuat tubuhnya seketika membeku. Tertegun karena tiba-tiba saja mendengar suara yang tak pernah terbayangkan olehnya


"Apa aku sedang mengganggumu?" Ucap sang penelfon itu dari sebrang telfon.


"Tidak ada, aku sedang tidak butuh apapun. Kamu tau kenapa sekarang aku menelfonmu?" Jawab Bian yang justru bertanya balik pada Kinan.


"Maaf, saya tidak tahu." Kinan yang sempat merasa bingung, akhirnya menjawabnya.


"Itu karena aku merindukanmu."


Deg, hati Kinan merasa di aduk-aduk ketika mendengar perkataan yang Bian katakan dengan tiba-tiba itu. Membuatnya terpaku dan tentu saja terkejut, hingga kesulitan untuk membalas ucapannya.


"Kok diam, kamu tidak lagi mematikan telfonnya, kan?" Ucap Bian ketika tak mendengar suara Kinan.


"Ah, itu.., maaf. Tidak kok pak, saya tidak mematikan telfonnya. Saya masih mendengarkan anda." Jawab Kinan kemudian, meski dengan sedikit gugup.


"Begitu kah? Aku lega mendengarnya." Bian memperlihatkan rasa leganya ketika mendengar jawaban Kinan.

__ADS_1


"Apa kamu tidak merindukanku?" Namun, kalimat yang ia katakan sekali lagi, makin membuat Kinan merasa bingung dan kembali terdiam. Suasana kembali hening di antara keduanya.


"Pak.., itu.."


"Lain kali angkat telfon dariku ya? Tadi aku menelfon ke handfonemu lho, tapi tidak kamu jawab." Bian menyelak ucapan yang hendak Kinan katakan.


"Maaf. Lain kali saya akan mengangkatnya."


"Benar, harus seperti itu. Agar aku bisa mendengar suaramu."


Kinan menggigit bibir bawahnya, matanya berkaca-kaca dengan dadanya yang semakin berdebar lebih kencang karena ucapan Bian.


Bagaimana ini? - Batinya merasa bingung.


"Aku mungkin akan sedikit lama disini, titip hotel ya, jangan lupa laporkan jika ada sesuatu yang terjadi."


Begitu mendengar perkataan Bian, nada kecewa sempat terlintas dari ekspresinya.


"Baik, akan saya ingat dan laporkan pada anda nanti."


"Termasuk jika kamu ada masalah selama aku tidak ada."


"Eh!" Kinan sempat terkejut mendengarnya, karena tiba-tiba saja teringat akan perseteruan dirinya dengan Shiva tadi.


"Ah, iya. Baik." Namun, ia begitu saja menghilangkan pikiran akan Bian yang seolah mengetahui permasalahnya yang baru saja terjadi dengan Shiva. Karena ia merasa itu tidak mungkin terjadi.


"Oh iya, selama aku disini, aku terus memikirkan perkataanmu tempo hari sebelum aku berangkat. Aku memikirkannya terus menerus dan sekarang aku bisa mengatakannya dengan pasti. Apa kamu mau mendengarnya?"


"...."


Kinan semakin kacau, hatinya semakin tidak bisa ia kontrol dengan ekspresinya yang bingung harus menjawab apa pada Bian.

__ADS_1


"Sebelum itu, kita harus pacaran dulu, kan?" Ucap Bian.


__ADS_2