Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
121. Kabar Bahagia atau Kabar Buruk?


__ADS_3

Pagi pun menyambut keduanya, Kinan dan juga Bian beralih pada aktivitas masing-masing. Meninggalkan sejenak obrolan keduanya yang sempat mereka lakukan kemarin malam.


Obrolan yang hangat dan panjang, namun menyisakan rasa penasaran bagi Kinan, karena perkataan Bian yang semalam masih menyisakan pertanyaan besar baginya, meskipun disatu sisi ada rasa bahagia saat mengingat momen obrolan tadi malamnya bersama Bian, karena akhirnya ia bisa mengobrol santai dengan Bian dan juga mendengar suaranya langsung melalui sambungan telfon.


"Mungkin aku mengerti apa berita buruknya." Ucapnya yang tiba-tiba teringat isi pembicaraannya bersama Bian dan hal yang sejak tadi ia fikirkan.


Ekspresinya tiba-tiba menjadi murung dan terdiam, seakan mengerti apa yang hendak Bian katakan padanya perihal kabar yang tidak enak jika ia dengar nanti. Meski hanya menerka-nerka tentang hal yang ingin Bian katakan nanti saat sudah bertemu denganya. Berita baik dan berita buruk yang Bian katakan sebelumnya dalam obrolan, sedikitnya bisa Kinan perkirakan, terutama pada hal berita buruknya.


"Aku hanya tidak bisa memikirkan soal berita baiknya." Ucapnya lagi yang tak memiliki gambaran seputar berita baiknya.


Berita buruk apa yang Kinan kira, hingga ekspresi wajahnya membuat tatapan pasrah dan juga manahan kesedihan saat memikirkannya.


"Aku kan tidak bisa mencegahnya jika hal itu terjadi." Ujarnya yang tak bisa berbuat semaunya dan hanya bisa menerimanya dengan pasrah.


Kinan yang terus bertanya pada hal yang menggangunya, kini mengalihkan fokusnya pada pekerjaanya. Meluoakan sejenak hal yang membuatnya begitu penasaran itu.


....


Jika Kinan masih memikirkan obrolan semalamnya, Bian yang masih berada dirumah keluarganya, kini tengah duduk bersama keluarganya untuk sarapan bersama.


"Hari ini kamu mau ke kantor?" Tanya Gauri membuka obrolan.


"Iya, ma." Jawab Bian kemudian.


"Lalu, kapan rencananya kamu akan balik ke jogja?" Tanya Gauri lagi, sembari mengambilkan beberapa makanan untuk Bian.


"Mungkin setelah acara ulang tahun Adel, soalnya agak tanggung jika Bian harus bolak-balik kesini lagi." Ujar Bian menerima piring pemberian mamanya.


"Oh, iya juga ya, ada acara ulang tahun Adel, mama sampai lupa lho. Kapan ya acaranya?" Gauri agaknya sedikit lupa pada acara ulang tahun Adel dan menanyakan kembali pada Bian.

__ADS_1


"Sabtu depan kalau tidak salah" Jawab Bian terlihat masih mencoba mengingat hari pastinya.


Di saat Bian mengobrol asik bersama mamanya, lain halnya dengan papa dan juga kakeknya yang ikut makan bersama di meja makan, keduanya hanya fokus pada makanannya tanpa ikut dalam obrolan.


"Harusnya kamu balik kesana saja, toh masih ada satu minggu sebelum acaranya, kan?" Ucap Gauri tiba-tiba memberi usul pada Bian.


Bian menatap mamanya dengan ekspresi bingung dan tak mengerti dengan apa yang dimaksudnya.


"Maksud mama?" Tanyanya meminta penjelasan.


"Maksud mama, kamu balik saja ke jogja kalau memang urusan kamu disini sudah selesai."


"Kalau begitu, Bian harus balik kesini lagi dong buat datang ke acara Adel?"


"Bagus dong, kamu kan jadi bisa membawa pacar kamu saat kamu balik kesini lagi, bukanya kamu bilang kalau dia juga ada di jogja, ya?" Pinta Gauri penuh harap.


Bian sedikit terpaku mendengar permintaan mamanya.


"Kakek juga ingin bertemu dengannya" Kali ini kakek Brama ikut memberikan komentarnya setelah dari tadi sempat bersikap cuek pada obrolan menantu dan cucunya.


Bian yang hendak menjawab perkataan mamanya, terdiam begitu sang kakek ikut memberikan komentarnya, hingga membuatnya beralih menatap ke arah kakeknya.


"Kenapa mama sama kakek jadi ingin bertemu sama pacar Bian? Memangnya kalian mau apa saat bertemu dengannya?" Ujar Bian menatap ke arah kakek dan mamanya yang tengah menyantap makanan di depan mereka.


"Memangnya kamu mau memperkenalkan dia kapan pada kita? Sudah mengatakan akan menikahinya, masa tidak mau mengenalkan dia ke keluarga?" Ucap kakek sedikit protes.


"Bukan tidak mau memperkenalkan, tapi itu kan terlalu tiba-tiba juga, dan aku juga belum bicara sama dia soal rencana pernikahan kita nanti." Ujar Bian mencoba memberi penjelasan pada kakeknya.


"Temui dia dan jelaskan, setelah itu ajak dia kesini." Setelah mengatakan hal itu, kakek pun bangkit dari duduknya dan mengakhiri sarapannya. Kakek Brama terlihat tak mau mendengar penjelasan lebih dari sang cucu dan hanya ingin segera menemui cucu menantunya tanpa penolakan.

__ADS_1


"Kemarin mama sekarang kakek, apa sebenarnya kalian semua ingin aku segera cepat menikah, begitu?" Heran Bian yang merasa sedikit bingung pada sikap keluarganya.


"Akan bagus jika hal itu benar-benar terjadi secepatnya." Jawab Gauri tersenyum ke arah Bian.


"Soal Bian yang segera menikah?" Ucap Bian mengulangi perkataan mamanya dan langsung mendapat anggukan dari mamanya.


"Padahal kemarin, kan, Bian hanya ingin mengatakan rencana Bian nanti, bukan yang meminta izin untuk segera menikah secepatnya, lagian Bian juga baru beberapa hari jadian dengannya, karena itu masih terlalu dini untuk melakukan pernikahan." Ucap Bian yang masih tak habis fikir.


"Turuti saja kemauan kakekmu, dan bawa pasanganmu kerumah." Bastian yang sedari tadi diam, kini ikut memberikan pendapatnya.


"Papa juga berharap Bian segera menikah?" Bian beralih menatap ke arah papanya dengan tatapan terjejut.


"Kalau kamu mau ya lakukan saja, toh papa nggak masalah soal itu, dan itu malah makin mempermudah buatmu untuk pindah ke kantor pusat, kan?." Jawab Bastian dengan tenang.


Bian tertegun mendengarnya, seakan terpaku pada ucapan papanya. Terlebih pada kekompakan keluarganya yang menginginkan untuk membawa Kinan kerumah dan segera untuk menikahinya. Meski tak ada penolakan dalam keluarganya terhadap Kinan, namun ada rasa tak nyaman dan canggung dari keluarganya yang justru dengan mudahnya memberikan dukungan terhadap hubunganya bersama Kinan.


"Padahal mereka belum pernah bertemu dengan Kinan."


Bian tersenyum senang hanya dengan membayangkan sosok Kinan, terlebih pada sikap keluarganya yang tak merasa keberatan sama sekali terhadap hubunganya bersama Kinan, yang merupakan orang yang ia cintai.


"Kalau aku mengatakan soal ini padanya, kira-kira reaksi apa yang akan dia buat, ya?"


Bian agaknya menantikan rekasi dari Kinan saat mengatakan rencana untuk menikahinya nanti. Padahal dulu dia sempat terkejut ketika mendengar Kinan yang ingin menikah, namun siapa sangka sekarang justru dengan mudah ia ucapkan dalam mulutnya sendiri, seolah telah yakin akan keputusan yang sudah ia fikirkan itu.


"Apa dia bakal mau untuk datang kerumah? Apa justru dia akan merasa tidak nyaman dan terbebani nantinya?"


Memikirkan kembali permintaan keluarganya, Bian sedikit takut jika apa yang diminta oleh keluarganya akan membuat Kinan merasa tidak nyaman padanya.


"Semoga saja dia tidak akan terbebani dengan hal ini." Harap Bian.

__ADS_1


"Oh, iya, apa dia sudah menerima hadiah yang kukirimkan padanya, ya?"


__ADS_2