
"Maaf, saya ingin mengantarkan sebuah paket." Ucap seseorang dengan membawa sebuah barang ditangannya.
"Paket untuk siapa, ya?" Tanya salah seorang resepsionis.
"Di kotakbya tertulis nama Kinanti Agustine." Jawab kurir pengantar.
"Oh, iya beliau memang bekerja disini. Kalau begitu titipkan saja pada saya, karena beliau sedang tidak ada ditempatnya." Jawab staff resepsionis mencoba mengambil paket milik Kinan.
"Kalau begitu tolong tanda tangan disebelah sini untuk konfirmasi paket telah sampai pada penerima." Ujar kurir pengantar menyodorkan sebuah kertas.
Mendapatkan perintah itu, tentu saja staff yang menerima paketnya mulai menandatanganinya, dan kurir pengantar pun mulai meninggalkan hotel setelah mengantar paket dengan selamat.
"Paket milik siapa ini, punya kamu?" Tanya teman staff tersebut yang baru saja datang dari toilet.
"Bukan, ini punyanya mbak Kinan." Jawab staff tersebut sembari menyoba menyimpan paket milik Kinan.
"Dari siapa paketnya? Kiriman seseorang atau memang mbak Kinan sendiri yang pesan?" Tanya teman staff tersebut sedikit penasaran.
"Aku juga nggak tau, karena tadi cuma menerima saja, tapi yang jelas ini paket milik mbak Kinan." Jawab staff resepsionis yang menerima paket Kinan.
"Kamu nggak coba lihat tulisanya lagi, siapa tau ada nama pengirimnya, gitu? Kalau ada namanya kan, kita jadi bisa langsung memberitahukan pada mbak Kinan tentang paketnya." Ujar teman staff tersebut memberi usul.
"Wah, iya, juga ya. Yaudah deh, aku coba lihat lagi." Balas staff tersebut yang kemudian mengeluarkan kembali paket yang tadi ia simpan.
Melihat kembali nama pengirim dalam paket milik Kinan, namun begitu mereka lihat, memang tidak ada nama pengirimnya, dan hanya tertera tulisan untuk Kinantin Agustine.
"Nggak ada nama pengirimnya, tapi ini dikirim langsung dari jakarta?" Ucap staff tersebut.
"Wah, benar nggak ada nama pengirimnya, tapi, paketnya besar juga ternyata ya, kira-kira apa isinya, ya?" Ujar teman staff tersebut ikut berkomentar dan tampak penasaran pada isi paket milik Kinan.
"Entahlah, aku juga tidak tau. Disini juga nggak ada nama barang yang dikirim."
Dua staff resepsionis itu hanya bisa menebak-nebak pada paket yang dikirim untuk Kinan. Di kotak hanya tertulis nama Kinan, hingga keduanya tidak mengetahui siapa pengirimnya maupun nama barang yang dikirimkan.
Namun, tanpa keduanya ketahui, dari arah berlawanan, ada seseorang yang melihat dengan langsung kurir pengantar yang membawa sebuah paket ke arah mereka, dan orang itu adalah Shiva.
__ADS_1
"Kalian tadi habis menerima suatu barang dari seornag kurir pengantar, kan?" Tanya Shiva yang langsung bertanya pada dua staff tersebut.
Dua staff yang mendapat pertanyaan yang tiba-tiba dari Shiva, hanya saling melirik bingung, karena tak menyangka bahwa Shiva bisa mengetahuinya.
"Iya benar, kami memang menerima sebuah paket dari kurir pengantar, tapi paket itu bukan milik kami." Jawab salah seorang dari mereka.
"Kalau bukan paket kalian, lalu paket milik siapa?" Tanya Shiva.
"Itu milik mbak Kinan." Jawab staff tersebut.
Shiva tampak tertarik begitu mendengar nama Kinan disebut oleh mereka.
"Paket milik Kinan? Apa paketnya?" Tanya Shiva sekali lagi dengan sedikit penasaran.
"Itu.. kami juga kurang tau." Jawab staff tersebut.
"Boleh, aku lihat paketnya?"
Ucapan Shiva yang seperti itu, membuat ragu dua staff yang menyimpan paket milik Kinan, namun, di lain sisi mereka juga sedikit takut untuk menolak permintaan Shiva.
"Apanya yang mau dibuka?" Kinan yang tiba-tiba datang membuat dua staff yang hendak mengeluarkan paket milik Kinan karena permintaan Shiva, jadi mengurungkan niatnya, dan Shiva yang melihat kedatangan Kinan pun langsung pergi begitu saja tanpa mencoba menyapanya, membuat Kinan menatapnya bingung.
"Kalian tadi habis membicarakan apa?" Tanya Kinan kemudian pada dua staff tersebut.
"Ah, itu.. tadi kami sedang membicarakan paket milik mbak Kinan." Jawab staff tersebut.
"Paket milikku? Memangnya ada paket yang datang untukku?" Kinan nampak bingung mendengar perkataan mereka, karena tak merasa memesan apapun.
"Iya, mbak, tadi ada kiriman paket buat mbak Kinan, tapi saya nggak tau itu dari siapa." Ujar staff tersebut sembari mengeluarkan paket milik Kinan yang ia simpan tadi.
Kinan menerima paketnya, dan saat ia telah memegang paket ditanganya, tiba-tiba ia teringat sesuatu pada ucapan Bian untuknya semalam, yang mengatakan bahwa nanti akan ada paket untuknya.
"Terimakasih, ya." Ujar Kinan pada dua staff tersebut.
"Iya, mbak, sama-sama." Balas staff tersebut.
__ADS_1
"Tapi, tadi mbak Shiva sebenarnya mau melihat paket milik mbak Kinan, kita berdua tadi sempat ragu untuk memberikan padanya, untung saja mbak Kinan datang kesini." Ujar teman stafg tersebut memberikan komentarnya pada Shiva yang sempat mendatangi mereka dan hendak melihat paket milik Kinan.
Mendengar itu, Kinan menatap arah kepergian Shiva tadi dengan tatapan menyelidik dan juga bingung.
"Oh, begitu ya, pantas dia langsung pergi tadi. It's ok, yang penting sekarang paketnya sudah ada ditanganku. Kalau begitu aku pergi dulu, ya.." Ujar Kinan, yang tak terlalu mempermasalahkan dan pergi meninggalkan dua staff itu dengam membawa paket miliknya.
....
Setelah sedikit menjauh, ia pun mencari tempat yang enak untuk membuka paket miliknya, anehnya ia berjalan menuju arah perpustakaan tempat dimana ia berciuman untuk pertama kalinya bersama Bian, hingga karena momen itulah yang membuatnya sedikit canggung untuk mendatangi tempat itu karena akan membuatnya terbayang pada momen saat itu.
Ia masuk dengan perlahan dan menuju tempat yang menjadi favoritnya itu. Sembari membawa paket yang ia pegang, Kinan sedikit bernostalgia pada kedekatannya bersama Bian, karena di dalam perpustakaan ini, ia akhirnya mengetahui tentang Bian yang ternyata kakak kenalanya di masa lalu, dan semua itu Bianlah yang memulainya pertama kali.
"Benar-benar tidak ada nama pengirimnya." Ucapnya begitu melihat paket miliknya.
Kinan mengeluarkan ponsel miliknya dan mencoba menghubungi seseorang melalui sambungan telfon.
"Apa kamu sudah menerima paketnya?" Ucap Bian begitu menjawab panggilan telfon dari Kinan. Tak butuh lama baginya untuk menjawab telfon dari Kinan, seolah telah menunggu telfonnya sedari tadi.
"Iya, saya baru saja menerimanya." Jawab Kinan.
"Apa kamu sudah membuka paketnya?" Tanya Bian.
"Belum, karena paketnya baru saja aku terima, dan aku juga masih belum yakin soal paketnya, apa benar memang dari kakak." Jawab Kinan.
"Oh, jadi kamu perlu namaku sebagai pengirim? agar kamu lebih yakin kalau paketnya dari aku, gitukah?" Ucap Bian sedikit menggoda.
"Ah, itu..." Kinan agak ragu untuk menjawabnya.
"Aku tau kalau kamu akan terbebani dengan itu, makanya aku tidak melakukanya tadi." Ujar Bian yang memahami kekhwatiran Kinan.
"Terimaksih, kak." Senyum Kinan mengembang begitu mendengar ucaoan Bian.
"Iya, sekarang bukalah paketnya, kalau kamu sudah membukanya, hubungi aku lagi, soalnya aku mau meeting hari ini, jadi tidak bisa lama telfonnya."
"Ah, sya nggak tau soal itu, maaf kalau saya jadi mengganggu anda begini." Ucap Kinan sedikit merasa bersalah.
__ADS_1
"Kamu nggak ganggu, kok, aku justru senang kamu menghubungiku duluan." Ujar Bian tak keberatan dan justru merasa senang dengan mendapatkan telfon dari Kinan.