Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
65. Waktu Bersama Teman


__ADS_3

"Apa maksud dari perkataanya tadi, ya? Kenapa jadi tiba-tiba ngomong begitu?" Gumam Bian memikirkan kembali ucapan Adel padanya tadi.


Ia mengecek jam di tanganya, yang ternyata sudah menunjukkan lebih dari pukul 9. Bian kembali pada aktivitas sebelumnya, melihat kembali layar laptop yang sempat ia tinggal dengan keadaan menyala tadi, karena kedatangan Adel ke hotelnya.


Baru mau mulai fokus dengan pekerjaanya kembali, dering ponselnya mengambil alih perhatianya. Terlihat nama yang ia kenal saat melihat ke dalam layar ponselnya yang tengah berdering.


"Halo." Ucapnya pada sang penelfon, saat mengangkat telfonnya.


"Halo juga, aku sekarang ada di lobi hotelmu, nih. Bisa keluar sebentar gak?" Kata Adnan yang menelfonnya.


"Ok, aku akan turun sebentar lagi, tunggu aja disitu." Balas Bian menutup telfonya cepat, lalu bergegas kembali turun ke lobi hotelnya.


Perasaannya ketika tadi dan sekarang turun ke lobi, terlihat begitu besar perbedaanya. Saat mendapat kabar bahwa Adel datang ke hotelnya, Bian langsung keluar begitu saja dari kamarnya, bahkan untuk memastikanya berita itu benar atau tidak, dia bahkan sedikit berlari menuju ke lobi. Namun, saat Adnan menelfonya, tak ada lagi keterkejutan dari dirinya, karena memang sudah diberitahu oleh Adel sebelumnya.


"Hai, gimana kabarnya? Aku gak lagi ganggu, kan?" Sapa Adnan pada Bian yang menghampirinya sembari memeluknya.


Pelukan Bian disambut oleh Bian dengan hangat. keduanya saling memberikan tepukan ringan pada masing-masing punggung mereka, yang seolah mengisyaratkan keakraban mereka. "Kabarku ya begini adanya." Jawab Bian melepaskan pelukanya, lalu memperlihatkan kondisinya yang terlihat baik-baik saja pada Adnan.


Dengan anggukan kecilnya, Adnan terlihat lega melihatnya. "Tumben pakaianmu agak kasual, memangnya lagi gak ada kerjaan?" Tanyanya kemudian, yang sedikit terkejut melihat penampilan agak santai dari Bian saat ini.


"Kerjaan sih ada, cuma lagi tidak ada agenda keluar hari ini, jadi aku coba memakai pakaian yang agak nyaman aja hari ini. Habisnya gak keluar kemana-mana juga, jadi sesekali boleh dong, masa memakai pakaian formal terus, sih." Balas Bian.


"Iya juga sih, tapi agak aneh aja melihatmu berpakaian seperti ini di tengah-tengah lobi hotel begini." Sambung Adnan.


Bian hanya bisa tersenyum simpul menanggapi perkataan Adnan untuknya.


"Tumben ke jogja, ada kerjaan apa gimana?" Tanya Bian.


"Kebetulan emang lagi ada kerjaan disini, tapi untungnya sudah selesai tadi, makanya aku bisa mampir kesini sekarang."


"Oh gitu. Anyway, kita ngobrolnya di kamarku aja, yuk. Soalnya aku agak gak nyaman di lihatin begini." Ucap Bian yang kembali merasa tak nyaman dengan tatapan disekelilingnya.

__ADS_1


Adnan melirik sekilas, dan ternyata ia bisa melihat kalau ada yang sedikit bisik-bisik ketika ia mengobrol dengan Bian, karena hanya dengan melihat ekspresi mereka yang agak canggung ketika bertatapan mata denganya, ia bisa tahu kalau dirinya dan Bian cukup menarik perhatian mereka.


"Yaudah, aku sih gak keberatan." Jawabnya yang mulai pergi dari tempatnya saat ini. "Tapi, sepertinya mereka agak kepo sama kita berdua, ya?." Ujar Adnan sembari berjalan bersama Bian menuju kamarnya.


"Sepertinya gitu."


"Oh iya, aku lupa tanya tadi. Adel sudah datang kesini, kan?"


"Sudah, dia sudah ada di kamarnya sekarang. Mau datang ke kamarnya?"


"Nggak lha, tadi cuma nanya aja. Yaudah kalau sudah sampai disini. Soalnya kan tadi datangnya bareng aku, tapi, karena aku masih ada urusan, jadi aku menyuruhnya untuk datang kesini lebih dulu." Jelas Adnan sambil terus berjalan menuju kamar Bian.


"Apa kalian janjian datang kesininya?"


"Nggak sih, kalau aku memang niat mau mampir ke hotelmu, kalau urusanku disini sudah selesai, tapi soal Adel yang juga datang kesini, aku sendiri gak tau."


"Lha, terus bagaimana kalian bisa bareng datangnya?"


"Kamu pasti gak akan percaya, kalau kita ketemu di bandara, semuanya benar-benar serba kebetulan pokoknya. Jam penerbangan kita sama, karena itu kita bisa naik bersama, dan datang bersama juga."


"Lho, kalian datang berdua?" Adel cukup terkejut melihat Bian dan Adnan jalan bersama, ketika ia hendak mengetuk kamar Bian.


"Del, kamu kok ada disini?" Tanya Bian melihat Adel ada di depan kamarnya saat ini.


"Aku mau berkunjung ke kamar kamu, habisnya aku bosen di kamar sendirian." Jawab Adel. "Tapi kok kalian bisa baregan gini, sih?"" Tanyanya kemudian melihat Bian dan Adnan yang datang bersama.


"Kita ketemu di lobi tadi, karena itu kita bisa barengan datangnya." Jawab Adnan.


"Oh, gitu." Angguk Adel, yang merasa faham maksudnya.


"Yaudah, kita masuk ke kamarku saja, gak nyaman juga kalau ngobrol di depan pintu begini." Bian berjalan ke depan kamarnya, untuk membuka pintu kamarnya, lalu mempersilahkan keduanya untuk masuk ke dalam kamarnya setelah pintu terbuka.

__ADS_1


"Wauw, ini beneran kamar kamu? Luas banget." Seru Adel yang tampak mengangumi kamar milik Bian.


"Benar, ini kamarku sekaligus kantor juga, karena itu agak luas." Jawab Bian, yang juga sedang mencari minuman yang ia simpan, untuk diberikan kepada kedua sahabatnya.


"Kalau begini sih nyaman banget. Punyaku tadi biasa aja. Eh bukan, maksudnya juga bagus, tapi gak seluas ini, gitu." Kata Adel yang agak gelagapan, karena sempat salah bicara soal kamarnya.


"Sama aja kok, cuma karena punyaku bisa buat kantor juga, jadi mungkin terlihat luas. Lebih baik, kalian duduk dulu deh, dan minum yang lagi aku siapkan ini." Pinta Bian sembari membawa minuman bersoda untuk keduanya.


"Wow, ada soda juga. Kebiasaan kamu minum soda gak berubah, ya." Ucap Adel, yang kemudian meminum minuman pemberian Bian.


"Dia kan manusia bersoda." Kelakar Adnan, sembari ikut meminum minumanya.


"Yah... gimana, soalnya ini yang paling simple buatku." Jawa Bian tak menyangkal.


"Dimas pasti kerepotan melihat bosnya minum-minuman kaya begini terus." Ledek Adnan.


"Ngomong-ngomong soal Dimas, kok aku gak lihat dia dari tadi sih?" Kata Adel mencari keberadaan Dimas.


"Oh iya, benar juga. Biasanya dia kan selalu ada disampingmu." Timpal Adnan yang juga menyadari.


"Dia lagi cuti, katanya mau ketemu beberapa temanya."


"Oh gitu, tapi emang kamu gak kerepotan kalau Dimas gak ada gini? Dia kan yang mengatur jadwal dan kegiatanmu selama ini?." Tanya Adnan.


"Sedikit sih, tapi karena hari ini gak terlalu repot juga, karena itu aku memberinya izin, lagian dia cuma izin satu hari." Jelas Bian tak mempermasalahkan cuti Dimas, mengingat dia masih bisa menghandle pekerjaanya.


"Aku boleh lihat-lihat kamar kamu, ya? Apa boleh?" Tanya Adel tiba-tiba yang ingin melihat kamar Bian.


"Boleh, lihat aja." Kata Bian tak merasa keberatan.


Saat Bian dan Adnan tengah mengobrol bersama, Adel mencoba melihat ke sekeliling kamar Bian.

__ADS_1


"Ini jadi seperti apartment, bukan seperti hotel." Gumamnya melihat-lihat kamar Bian.


"Eh, apa ini?"


__ADS_2