Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
92. Harus Berpisah Sejenak?


__ADS_3

Hubungan yang berawal dari pertemuan tak sengaja diwaktu kecil dengan sekarang yang kembali bertemu setelah terpisah jarak dan waktu, bukanlah sesuatu hal yang mudah untuk dibayangkan.


Tak ada prediksi akan dipertemukan kembali bahkan tak pernah mengira akan jadi sedekat ini setelahnya. 21 tahun bukanlah waktu yang singkat, namun seolah jarak yang panjang itu tak begitu ada berarti, terutama bagi mereka yang menyimpan memori kenangan dalam hati masing-masing.


"Bukankah harusnya canggung dan merasa tak nyaman? Tapi mengapa? Apa yang membuatnya mendekat?"


"Apa perasaan suka itu memang bisa semudah ini ya untuk dirasakan?"


Dengan kenangan yang cukup singkat itu, ditambah terpisah dengan jarak dan waktu yang sangan panjang, bagaimana bisa perasaan itu bisa tumbuh hanya dengan beberapa kali bertemu?


Kinan agaknya masih belum yakin pada apa yang dirasakan oleh Bian padanya, ia mengira itu hanyalah perasaan sesaatnya. Terlebih ia jadi teringat akan hubungan Bian bersama teman perempuanya yang tak hanya sekedar teman dekat.


"Kenapa aku baru teringat akan itu, ya?" Gumam Kinan.


Saat memikirkan hal itu, entah mengapa dadanya menjadi sakit.


"Sudahlah, hari ini aku tidak mau memikirkan apapun lagi." Tuturnya mengakhiri lamunanya.


Ia menghela nafas panjang, sebelum akhirnya kembali fokus pada pekerjaanya.


Tak salah bila Kinan merasa overthinking terhadap Bian, karena semua hal yang dia lakukan adalah hal yang sangat tiba-tiba dan tak terduga bagi Kinan. Dari sikap dan cara bicaranya yang tiba-tiba berubah sudah membuat Kinan merasa heran, ditambah lagi dengan pernyataan sukanya menambah beban pikiran bagi Kinan itu sendiri.


Meski sempat berdebar dan terus kepikiran karena ikut terbawa perasaan, namun Kinan seolah di sadarkan pada kenyataan di depanya. Terhadap status Bian itu sendiri yang merupakan atasanya, perbedaan status sosial di antara mereka yang cukup kentara, hingga kedekatan Bian dengan teman wanitanya yang dirasa begitu membingungkan bagi dirinya.


Meski tak berharap terlalu banyak terhadap kejelasan hubungan dirinya bersama Bian, Kinan hanya ingin lebih jujur terhadap perasaanya sendiri. Perasaan apa yang ia rasakan saat ini, apa yang terbaik untuk dirinya, terlebih baiknya apa hubungan antara dirinya dan Bian kedepanya. Hanya sebatas atasan dan bawahan, kenalan di masa lalu atau justru lebih dari sekedar itu?


...

__ADS_1


Di samping itu, laki-laki yang telah berhasil mengacaukan isi hati dan pikiran seorang Kinan beberapa hari ini, terlihat masih sibuk pada pekerjaanya. Ia masih menatap layar laptop dan berkas-berkas miliknya yang kini terlihat lebih menipis.


"Jam berapa ini?" Ucap Bian sembari menengok ke arah jam di tanganya yang telah masuk jam 3 sore.


Ia merenggangkan sejenak jari-jarinya yang terlihat kaku, juga pada tubuhnya yang mulai terasa pegal-pegal.


"Aku belum makan seharian ini, pantas aku merasa sedikit lapar." Ucapnya lagi sembari menyentuh perutnya yang telah memberikan sinyal lapar pada dirinya yang sedari tadi sibuk bekerja.


Sebagai orang yang workaholic dan terbiasa duduk berjam-jam ditempat kerjanya, Bian terkadang melewatkan jam makan siangnya, ia bahkan lebih suka menunda dan menahan lapar seolah makan bukanlah prioritas dirinya.


"Tapi, aku lagi malas makan." Ucapnya lagi yang lebih memilih mencari minuman.


Drrt.. Drrt.. Getaran keras terdengar dari arah meja kerjanya. Bian yang berdiri tak jauh dari arah meja kerjanya menoleh ke arah suara tersebut, dan terlihat ponselnya yang terus berbunyi dan bergerak karena suara getaran dari ponsel miliknya.


Ia menghampiri ponsel miliknya, dan dilihatnya pada layar ponselnya untuk melihat nama penelfon. Kedua matanya menangkap nama sang papa yang tertera di dalam layar ponselnya saat ini.


"Halo, pa." Angkatnya kemudian.


"Bian, besok kamu pulanglah kerumah." Kata papa Bian yang langsung pada intinya tanpa mencoba untuk sekedar basa-basi dengan sang anak.


"Hah? Pulang? Kenapa, apa ada sesuatu dirumah?" Bingung Bian yang tiba-tiba disuruh untuk pulang.


"Nanti saja ceritanya waktu kamu sudah sampai dirumah, papa cuma mau bilang itu saja." Ujar papa Bian.


"Ok, nanti biar aku coba atur ulang jadwalku yang ada disini. Nanti bakal aku kabari lagi." Meski masih agak bingung dengan tujuan papanya yang menyuruhnya untuk pulang, Bian mencoba menyanggupi permintaan dari papanya.


"Yaudah, lanjutkan pekerjaanmu lagi." Ucap papa Bian dan langsung menutup telfonya begitu saja setelah mengatakan kalimatnya.

__ADS_1


Dan tuut.. Suara telfon pun langsung terputus. Sebuah percakapan yang cukup dingin antara Bian dan papanya. Tak ada basa-basi, dan kata hangat yang terucap dari keduanya. Meski begitu hubungan keduanya tetap terjalin dengan baik dan tak ada masalah yang berarti dari keduanya hingga kini.


Bian yang sudah faham betul dengan karakter papanya, terlihat biasa dan tak mempermasalahkan akan hal itu. Karena ia sudah hidup lama bersama dengan keluarganya yang kaku sedari kecil. Meski terkadang ada keinginan darinya mendengar kata-kata hangat dari mulut sang papa.


"Kenapa papa tiba-tiba menyuruh pulang ke rumah, ya?" Pikir Bian begitu telfonya tertutup.


"Ada apa lagi ini?" Ucapnya sembari menghela nafas panjang, seolah merasa dejavu dengan yang pernah di alaminya dulu.


"Padahal aku sudah merasa nyaman disini." Lanjutnya merasa sedikit khawatir dengan papanya yang tiba-tiba menyuruh dirinya kembali ke rumah.


Tiba-tiba Bian teringat dengan Kinan. Ekspresi wajahnya mendadak berubah menjadi sedikit lebih serius. Ia terpikirkan pada Kinan jika apa yang ia khawatirkan nanti bisa benar-benar terjadi.


"Aku harus bilang apa padanya?" Tampaknya Bian sedikit bingung dengan apa yang hendak ia katakan pada Kinan nanti.


"Padahal aku barus aja menyatakan perasaanku padanya?" Bian cukup dilema akan hal itu, meski ia tak mau berandai sesuatu yang ia khawatirkan bisa terjadi nantinya, namun ia tetap memikirkan kemungkinanya. Mengingat ia sedikit trauma pada apa yang ia alami dulu saat diminta pergi ke kanada dulu oleh papanya. Yang membuatnya harus terpisah jarak dan waktu pada kedua sahabatnya, terlebih menjauhkan dirinya pada Adel, orang yang dulu pernah ia suka.


"Kalimatnya sama seperti waktu dia menyuruhku pergi ke kanada." Ucapnya lagi merujuk pada papanya. "Apa kali ini juga akan sama?" Diam Bian sesaat setelah memikirkanya.


"Tidak, untuk kali ini aku tidak akan mengalah lagi seperti waktu itu." Ujarnya penuh keyakinan kuat.


Bian menaruh kembali handfonenya di atas meja dan mencoba memikirkan jawaban apa yang tepat untuk menjelaskan pada papa dan keluarganya nanti jika yang dikhawatirkan itu bakal terjadi nantinya


Ia terduduk lelah di atas kursi sambil beberapa kali menghela nafas panjang.


"Aku harus bertemu dengannya dulu." Ucap Bian merujuk pada Kinan.


Wajar jika Bian merasa dilema, mengingat ia pernah gagal dalam percintaanya dulu, hingga membuatnya sedikit merasa khawatir akan mengalami hal yang sama nanti. Entah mengapa ia jadi lebih serius dengan hubungannya yang sekarang dan seakan yakin dengan pilihanya, terlebih pada perasaanya pada Kinan.

__ADS_1


__ADS_2