Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
93. Tak Ingin Terpisah


__ADS_3

"Tidak salah kan kalau suka sama sesorang?"


Bian pun mengakhiri kegundahan hatinya. Ia kembali fokus pada pekerjaanya dan seketika rasa lapar yang sempat menyerangnya terasa hilang, karena dirinya yang menjadi tidak nafsu lagi setelah mendapat panggilan dari papanya.


"Sial, aku gak bisa fokus lagi." Umpatnya merasa kesal sendiri.


Tiba-tiba ia berdiri dan keluar sejenak dari kamar miliknya, seolah mencari udara kebebasan setelah suntuknya berkutat dalam pekerjaan yang menumpuk.


Tempat yang ia tuju adalah arena gym hotel. Ada hal yang biasa ia lakukan ketika merasa stres memikirkan sesuatu, yaitu datang ketempat gym untuk berolahraga. Dengan berkeringat terkadang membuat rasa suntuk dan stresnya merasa hilang.


"Setidaknya 15 menit saja, setelah itu aku akan berhenti." Ucapnya pada dirinya sendiri yang ingin berolahraga selama 15 menit dan setelahnya kembali pada pekerjaanya semula.


Padahal perutnya masih kosong karena belum makan sejak siang, namun nampaknya Bian tak mempermasalahkan akan hal itu. Ia tetap melakukan olahraga meskipun sedikit memaksakan diri. Pikiranya menjadi kacau setelah mendapat panggilan dari papanya dan tak berhenti merasa cemas dan kepikiran. Untuk pertama kalinya Bian merasakan perasaan cemas secara berlebihan seperti ini dalam hidupnya.


Meski hubunganya dengan sang papa tak begitu buruk, namun tak bisa dibilang baik juga. Karena bisa dibilang mereka jarang mengobrol saat hanya berdua ataupun sekedar menyapa sekalipun dan hanya berbicara ketika ada urusan penting, itupun tak jauh-jauh dari urusan pekerjaan.


"Aduh, aku rasa sudah cukup deh." Ucapnya menghentikan olahraganya yang dirasa sudah cukup. Ia berbaring sejenak mengatur kembali nafasnya yang masih belum stabil karena olahraga. Dalam arena gym yang kebetulan tak ada siapapun itu, Bian kembali merenung sambil menatap kosong langit-langit di atasnya.


Wajah dan tubuhnya sudah setengah basah karena keringat setelah hampir 15 menit ia membakar kalori dengan berolahraga. Bian kemudian bangkit dari tidurnya setelah mencoba berbaring sejenak setelah capek berolahraga. Ia meninggalkan arena gym dengan hati yang masih belum merasa lega dan malah mendapatkan rasa capek lainnya tanpa bisa merefresh pikirannya.


Berjalan dengan perlahan menuju kembali ke kamarnya setelah melakukan olahraga sebentar, sambil terus memegangi kepalanya yang masih saja merasa suntuk.


"Aku pikir dengan olahraga bakal merasa lega dan tenang." Gumam Bian berjalan ke arah kamarnya.


Ia terhenti ketika melihat seseorang yang tengah berdiri di depan pintu kamarnya. Dari samping tubuhnya terlihat begitu familiar. Ia mendekatkan diri lebih dekat untuk memastikanya, dan sedikit terkejut ketika matanya saling bertemu dengan sosoknya yang sama-sama menoleh ke arahnya.


"Selamat sore pak." Kinan memberikan salamnya pada Bian yang baru datang, meski ekspresinya sedikit terkejut ketika melihat Bian yang datang dari luar.

__ADS_1


Senyum Bian tiba-tiba mengembang ketika melihat Kinan di depanya. Seketika rasa suntuknya menjadi hilang dan terobati.


"Kamu belum pulang?" Tanya Bian kemudian.


"Hari ini saya pulang agak terlambat." Jawab Kinan.


"Oh, gitu."


"..."


Namun, tiba-tiba saja suasana menjadi hening hingga sedikit menimbulkan kecanggungan satu sama lainya.


"Apa anda habis dari luar?" Tanya Kinan memecah keheningan itu ketika tersadar melihat Bian yang kini berada diluar.


"Iya, aku habis melakukan olahraga tadi. Tapi, kenapa kamu bisa ada di depan kamarku? apa kamu ada urusan denganku?" Tanya Bian.


Bian hendak mendekat lebih dekat ke arah Kinan, namun karena tubuhnya yang habis berolahraga membuatnya mengurungkan niatnya.


"Yasudah masuklah dulu." Bian melirik sekilas ke arah Kinan yang kemudian membukakan pintu kamarnya. Keduanya pun masuk kedalam bersama.


"Kamu duduk saja dulu, aku mau.." Bian menghentikan ucapannnya. "Apa kamu bisa menungguku selesai mandi dulu?" ucapnya kemudian.


Kinan cukup terkejut mendengarnya, namun ia tak bisa membantahnya meski cukup canggung dengan perkataan Bian. Mengingat keduanya yang sekarang berada dalam ruangan yang sama.


"Baik." Jawabnya kemudian dengan sedikit canggung.


"Ah, maksudku ini karena tubuhku sedikit lengket dan bau keringat aja, jadi takutnya kamu malah tidak nyaman nanti. Aku juga merasa tidak enak dengan kondisiku sendiri. Jadi, karena itu aku harus segera mandi." Jelas Bian yang merasa sedikit canggung setelah mengatakanya.

__ADS_1


"Sial, kenapa tadi pake bilang seperti itu, sih? Bikin salah faham aja." Umpatnya dalam hati pada dirinya sendiri yang telah melakukan hal yang membuat canggung.


"Ini kamu bisa minum atau baca buku dulu." Ucap Bian mencoba menghilangkan rasa canggungnya setelah kalimat yang ia lontarkan sembari memberikan Kinan minum dan sebuah buku.


Ia pun berjalan ke arah kamar mandi setelah memberikan Kinan minuman dan sebuah buku. Raut wajahnya dengan sekuat tenaga menyembunyikan rasa malunya.


Saat Bian mulai pergi ke arah kamar mandi, Kinan yang tengah duduk menunggu dirinya yang sedang mandi merasa cukup canggung dan tak nyaman karena berada dalam kamar Bian seorang diri. Kalau bukan karena laporanya yang membutuhkan persetujuan dan masukan dari Bian, mungkin saat ini ia bisa meninggalkan laporanya di atas meja dan kemudian pergi keluar kamar.


"Aku canggung" Gumamnya yang kemudian menenggak minuman yang diberikan oleh Bian tadi.


"Eh, ini kan.." Tiba-tiba matanya menangkap sebuah pulpen yang desainya begitu mirip dengan yang ia berikan pada Dimas beberapa saat lalu. Kinan terkejut ketika melihat pulpenya kini berada di atas meja Bian.


"Apa cuma mirip, ya?" Ia pun menaruh kembali pulpenya ditempatnya semula.


Sambil menunggu Bian yang tengah mandi dan menenangkan sejenak hatinya yang merasa tak nyaman dan canggung , ia mulai membaca buku yang sempat diberikan oleh Bian padanya tadi.


"Arti Cinta Sesungguhnya."


Tertulis dengan jelas disana judul buku yang Kinan baca sekarang, hingga membuatnya terpaku sejenak ketika melihat judul bukunya. Ia hanya berani melihat satu halaman sebelum akhirnya kembali menaruh bukunya di atas meja.


"Maaf ya menunggu sedikit lebih lama." Bian keluar dari kamar mandi setelah menyelesaikan mandinya. Ia masih memakai jubah mandinya ketika berjalan ke arah Kinan, hingga membuat Kinan merasa terkejut ketika melihatnya dan membuatnya cukup canggung dan mengalihkan pandanganya segera.


"Ah, aku harus ganti baju dulu. Tunggu ya.." Bian menyadari kesalahanya yang masih menggunakan jubah mandinya dan berlari kembali ke arah kamar mandi setelah mengambil bajunya yang tersimpan dalam lemari bajunya.


"Sial, lagi-lagi aku bikin kesalahan." Malu Bian pada tingkahnya sendiri yang bertindak cukup ceroboh dihadapan Kinan.


Hal yang tak pernah ia lakukan dalam hidupnya selama ini. Bertindak ceroboh dan mengatakan kalimat yang cukup canggung seperti tadi pada seorang perempuan adalah hal yang pertama bagi dirinnya, terutama sikapnya yang jadi merasa canggung dan malu ketika menyadari kecerobohanya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2