
17 tahun lalu, di panti asuhan Cinta Kasih.
Terlihat anak-anak tengah menyelesaikan makan malam mereka dan hendak menuju ke kamar masing-masing untuk tidur. Saat itu waktu menunjukkan pukul 8 malam. Sebelumnya mereka membersikan tempat makan mereka masing-masing dan membasuh tangan yang kotor karena makanan. Semua terlihat mandiri tanpa mengeluh. Kebahagian terpancar di wajah polos mereka.
Terdengar canda tawa mengiringi setiap langkah anak-anak panti asuhan menuju ke kamar mereka.
"Hati-hati, jangan lari-lari begitu. Nanti jatuh, aduh." Kata Bu Maria melihat tingkah anak-anak panti yang sangat aktif.
"Bu, kita pamit tidur ya. Terimakasih makananya." Ucap seorang anak menghampiri Bu Maria.
"Iya, pintarnya. Langsung masuk ke kamar lho ya, jangan kelayapan kemana-mana lagi." Balas Bu Maria menepuk lembut puncak kepalanya dan sedikit memberi peringatan pada anak yang bernama Kinan.
"Siap." Ucapnya memberikan salam hormat, lalu berlari menghampiri teman-temanya.
"Dasar anak-anak, disuruh jangan lari susah bener." Seru Bu Maria menghela nafas melihat tingkah anak-anaknya. Namun ekspresinya terlihat tersenyum menatap mereka, ada kebahagiaan tersendiri menatap tingkap polos mereka.
"Lho, Lia kok masih ada disini?" Ucap Bu Maria melihat anak yang bernama Lia, tertinggal dari barisan teman-temanya.
"It.. it.. tu.. " Kata anak itu agak terbata.
"Sudah, ayo masuk ke kamar. Teman-teman kamu sudah kesana tuh," Pinta bu Maria dan mendapat anggukan kecil dari Lia.
Lia berjalan pelan kearah kamar sembari terus menunduk.
"Kapan anak itu bisa lebih percaya diri ya. Ah, sudahlah, nanti juga pasti bisa kalau sudah terbuka hatinya." Gumam bu Maria melihat sosok Lia yang agak pemalu.
...
Fidelia, atau yang biasa di panggil Lia adalah anak yang pemalu. Berbeda dengan anak-anak lain yang ceria, dia termasuk anak yang tak banyak berbicara dan bergaul dengan lainya hingga selalu menyendiri.
__ADS_1
Ia tiba-tiba kembali ke arah dapur begitu melihat bu Maria yang sudah pergi. Dengan agak ragu dia menyelinap masuk dan mencoba mencari sesuatu.
Ia tampak senang begitu mendapatkan apa yang dia mau, dengan segera pergi dan menuju ke suatu tempat. Lalu mencoba menyalakan sebuah lilin begitu ia sampai. Mengatupkan kedua tanganya dan mencoba membuat harapan di depan lilin-lilin yang ia nyalakan.
"Semoga aku bisa mempunyai sebuah keluarga." Ucapnya kemudian dan membuat sebuah harapan di depan lilin-lilin yang menyala itu, ia agak lama berdiri di depan lilin-lilinnya.
Bangkitnya dari sana, membiarkan beberapa lilin yang ia nyalakan untuk terus menyala. Setelah harapan yang ia minta sudah terucap, Lia segera pergi dari tempat tersebut untuk kembali kearah dapur, untuk mengembalikan korek api yang ia pinjam tadi. Setelah itu ia dengan segera pergi dari sana dan kembali masuk ke dalam kamarnya.
...
Meski sudah pernah pergi kesana dan berkali-kali melakukan hal tersebut, namun pada hari itu tampaknya menjadi hari yang buruk bagi gadis berusia 8 tahun itu. Lilin yang ia tinggal dalam keadaan menyala tiba-tiba saja membakar isi dari tempat persembunyianya, karena tak sengaja terjatuh. Tempat yang biasa ia gunakan untuk menyendiri dan juga tempatnya berekspresi itu kini dilahap oleh api. Bangunan yang agak rapuh karena sudah berusia tua dan tak terawat dengan baik itu terbuat dari kayu, dan terletak tak jauh dari arah belakang panti asuhan.
Membuat malam itu menjadi kacau dan medan panik di antara penghuni panti asuhan. Fidelia, yang menjadi asal mula api itu muncul tiba-tiba saja menjadi panik ketakutan, hingga menjauh dari kerumunan dan melarikan diri karena saking takutnya. Namun, di dalam pelarianya ia hampir saja mati karena berpapasan dengan mobil yang lewat di depanya. Beruntungnya, ia tak mendapat luka dan berakhir baik-baik saja.
......................
"Yang saya dengar, semua anak panti selamat. Sebenarnya memang ada kebakaran, namun dari hasil penyelidikan, kebakaran hanya terjadi dari arah belakang panti, entah mengapa bisa membakar seluruh panti. Soal anak yang hilang, belum ditemukan hingga sekarang, kalau tidak salah namanya Lia."
Bian tak menyangka bisa serumit ini, padahal sebelumnya hanya karena rasa penasarannya dengan sosok Kinan, dan sekedar ingin tahu apa dia anak yang ia kenal dulu.
"Ok, terimakasih. Untuk saat ini, ini dulu. Kamu boleh pergi, nanti aku panggil lagi kalau aku butuh sesuatu." Kata Bian kemudian.
"Baik, saya permisi." Balas Dimas dan pamit dari hadapan Bian.
Meski sudah membolak-balikan isi laporan yang di berikan oleh Dimas, Bian tak menyangka mendapatkan situasi yang merumitkan.
"Lebih rumit dari yang kukira ternyata." Gumamnya. "Padahal aku hanya ingin tahu identitas aslinya, dan ingin membalas janjiku dulu padanya."
Bian menghela nafas panjang seolah tak percaya setelah mendengar situasinya. Kebetulan Ini adalah hari ke 3 dia datang ke jogja, namun selain berkutat soal permasalahan hotel, dia juga jadi menyelidiki perihal teman masa kecilnya dulu karena nama dan sosok Kinan.
__ADS_1
"Fokus Bian, kesampingkan itu dulu." Ujarnya pada dirinya sendiri, agar fokus pada tujuan awalnya ia datang kesini.
...
Dalam kosanya yang mungil, Kinan beristirahat dari padatnya aktivitas dia di dalam hotel. Ia diam mematung di depan cermin, menatap wajahnya kembali yang terlihat tak baik-baik saja.
Meski mencoba melupakan semuanya dengan menyibukkan diri, namun kenangan buruk tadi tak kunjung hilang juga dari pikiranya.
Ia mencoba meraih sesuatu dari atas mejanya, menatap buku harianya yang sempat hilang dan mencoba menuliskan sesuatu disana. Sepertinya ia akan curhat soal hari buruknya tadi di hotel.
"Ah.. aku mau jalan-jalan." Ucapnya kemudian yang memutuskan untuk keluar menghirup udara segar di malam hari.
"Wah.. sudah lama aku tidak jalan-jalan begini. Segarnya..." Ucap Kinan merasa rileks.
Ia berjalan kaki dari tempat kosanya menuju sebuah taman. Taman yang di penuhi para muda-mudi yang tengah menikmati masa romantis mereka. Kinan menatap iri sama mereka yang tampak rileks dan penuh dengan keceriaan.
"Aku iri.." Gumamnya duduk di sebuah rumput dengan sedirian di tengah-tengah orang yang pacaran.
"Hai cewek, sendirian aja nih." Kata seorang laki-laki mendekat ke arah Kinan yang tengah duduk sendirian.
Kinan menoleh ke arah sumber suara, dan mendapati orang tersebut tengah berdiri di sampingnya dan tengah menatapnya.
"Mas Bayu." Ucap Kinan terkejut dengan kehadiran Bayu, lalu bangkit dari duduknya. "Kok mas Bayu bisa ada disini sih?" Tanya Kinan lagi.
"Kamu sendiri kenapa ada disini? kalau aku sih, yah.. jalan-jalan aja." Balas Bayu.
"Sama dong, aku juga lagi jalan-jalan aja."
Kinan akhirnya bisa mengobrol dengan seseorang yang ia kenal dan tak merasa terasingkan lagi di tengah orang-orang pacaran. Keputusanya keluar sepertinya benar-benar hal yang bagus.
__ADS_1