Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
29. Konflik Batin


__ADS_3

Bian, Dimas dan juga Kinan tengah bertemu dengan klien mereka di salah satu rumah makan terdekat. Meski ada sedikit kendala waktu persiapan, karena pertemuan mendadak yang di luar jadwal. Namun, beruntungnya pertemuan diantara mereka berjalan dengan lancar dan membuahkan hasil baik yang di inginkan masing-masing pihak.


Pengalaman Bian selama di luar negeri, cukupnya berpengaruh besar dalam pertemuan kali ini. Kinan yang mengikuti Bian juga sedikit mendapat ilmu baru darinya, meski ini bukan yang pertama kalinya dia bertemu dengan seorang klien.


"Kamu tau cara bernegeosasi rupanya." Ucap Bian pada kemampuan Kinan.


"Ah.. itu, saya hanya tahu sedikit." Jawab Kinan agak malu. "Ini juga karena saya mendapat banyak ilmu dari pak Roy dulu." Jawab Kinan merendah.


"Pak Roy ya?'' Gumam Bian mengingat sosok pak Roy. ''Katanya kalian berdua saling kenal, apa itu benar?'' Tanya Bian disela perjalanan mereka kembali ke hotel setelah pertemuan itu berakhir.


''Benar, kami tidak sengaja mengenal ketika saya masih kuliah dulu. Saya sempat menolong beliau yang pingsan ketika hendak pulang dari kampus. Hubungan kami baik hingga saya lulus dan bertemu kembali di hotel tempat saya bekerja saat ini." Jelas Kinan.


Bian hanya mengangguk mendengar penjelasan dari Kinan. Sekarang ia tahu hubungan keduanya yang sebenarnya, mengingat ia yang sempat mendengar rumor buruk tentang Kinan dan pak Roy dari bisik-bisik staff hotel.


Bian sempat tak menyangka bahwa Kinan mendapat rumor buruk itu. Namun, dari ekspresi Kinan yang ia tangkap. Tatapan yang terpancar dari dirinya adalah rasa hormat, bukan seperti hal yang dirumorkan sebelumnya.


"Kenapa aku jadi ingin tahu soal ini ya?" Batinya kemudian. "Fokus Bian." "Nggak, ini kan hanya sekedar basa-basi biar tidak canggung di dalam mobil." Batinya lagi.


Bian seolah berbicara pada dirinya sendiri dan berkutat pada pergolakan batinya. Padahal ia harus fokus pada tugas yang di berikan oleh kakeknya sekarang. Meski mencoba menyangkal dan tak nenghiraukanya, pikiran itu akan tetap kembali padanya.


Kalung? aku tidak melihat dia menggunakan kalung itu? - Gumamnya dalam hati sedikit melirik ke arah Kinan.


Meski mencoba untuk tak perduli, nyatanya hingga kini dia masih penasaran akan sosok Kinan.


...

__ADS_1


Setelah perjalannya bertemu seorang klien, ketiganya kembali ke hotel saat jam sudah memasuki waktu makan siang.


"Sebelum kembali, kamu bisa tidak siapkan makan siang untukku sekarang. Menunya terserah, dan tolong antar langsung ke kamarku." Pinta Bian pada Kinan, begitu tiba di hotel.


"Baik, akan segera saya siapkan dan antar ke kamar anda." Jawab Kinan.


Bian dan Dimas pun beranjak pergi dari hadapan Kinan. Begitu menjauh, Kinan dengan segera menuju kepada staff yang bertugas mengatur makanan hotel, untuk segera menyiapkan makan siang untuk Bian dan diantar langsung ke kamarnya.


"Aku juga lapar." Gumamnya dan mencoba menuju kantin setelah menyampaikan pesan dari Bian.


Dengan nampan di tanganya, Kinan mencoba mengambil beberapa makanan dan bergegas ke arah meja, untuk menyantap makananya. Namun, ada kejanggalan begitu ia mulai duduk dan memakan makananya. Ia melihat semua mata tengah menatap ke arahnya dan juga sedikit mentertawakanya.


Kinan sempat bingung dan berhenti makan, namun dia memilih untuk tidak perduli dan melanjutkan makannya.


"Sepertinya kalian suka ya membicarakan orang dibelakang?" Ucap Kinan hingga menghentikan percakapan diantara mereka yang tengah bergosip tentang dirinya.


"Kalian boleh tidak suka sama saya, tapi jangan memfitnah apalagi menyebar berita palsu, murahan tau gak?" Kesal Kinan menatap mereka yang tak lagi berkutik di hadapanya.


"Kalau kalian penasaran, harusnya bertanya pada pak Bian dan juga pak Dimas. Jangan berbicara dibelakang seperti ini. Kalau saya dengar sekali lagi, saya akan melaporkan hal ini pada beliau, karena kalian sudah berani berbicara tentangnya dibelakang." Ancam Kinan, yang akhirnya membuat semua orang tak berkutik dan memilih membubarkan diri.


Ada sosok dari jauh yang sedang menatap dirinya dengan tatapan tak suka. Ia pun ikut membubarkan diri, namun langkahnya terlihat dihentikan oleh Kinan.


"Kita perlu bicara." Ucap Kinan menahan lenganya.


"Bicara? harus ya? sepertinya diantara kita tidak ada yang perlu dibicarakan deh?'' Jawab Shiva tak perduli.

__ADS_1


"Aku tau kamu tidak suka sama aku, tapi apa sampai menyebar rumor begini?'' Kata Kinan mencoba tetap tenang.


"Kamu menuduhku?'' Shiva menatap tak terima pada Kinan. ''Kamu ada bukti soal itu? jangan menuduh sembarangan ya!'' Teriaknya.


"Aku dengar semua Va, kamu mau mengelak apa lagi.'' Jawab Kinan merasa tak takut.


Shiva hanya mendengus kesal menatap Kinan, lalu pergi begitu saja dari hadapan Kinan. Melihat hal tersebut, membuat Kinan merasa sedikit tak puas dan helaan nafas panjangnya melepas semua rasa frustrasinya dalam menghadapi Shiva.


"Dia benar-benar menunjukkan rasa tidak sukanya sama aku ya...'' Gumam Kinan tak percaya.


...


Rumor buruk tentang Kinan bersama Bian ternyata sudah masuk ke dalam telinga Bian. Dimas, sekretaris sekaligus asisten pribadinya lah yang memberitahukan hal ini padanya.


"Siapa yang memulai?" Tanya Bian dengan wajah seriusnya.


"Itu.. saya juga kurang tahu siapa yang memulai duluan. Saya mendengarnya ketika menuju ke kantin dan balik dari kantin." Jawab Dimas. "Akan segera saya cari tahu siapa yang memulai." Lanjut Dimas.


"Baiklah, aku percayakan sama kamu ya." Kata Bian.


"Baik." Ucap Dimas, lalu beranjak dari kamar Bian.


Setelah Dimas pergi dari hadapanya, Bian tampak merenung. Dia kepikiran dengan rumor buruk yang tengah menimpanya bersama Kinan.


"Apa mereka ini tidak punya pekerjaan? bisa-bisanya menyebarkan rumor begini." Kesal Bian. "Bagaimana kondisinya, ya?" Ucapnya lagi menghawatirkan Kinan.

__ADS_1


__ADS_2