Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
90. Hanya Ingin Melihatnya


__ADS_3

Dengan jarak yang cukup dekat dan hanya terpisah beberapa langkah, kedua insan yang kini tengah berada dalam suasana yang cukup canggung, kini saling bertemu pandang dari arah samping mereka duduk sekarang. Menciptakan reaksi yang berbeda pada keduanya ketika mata mereka akhirnya saling bertemu satu sama lain.


Bian yang merasa senang ketika melihat Kinan ada disampingnya, sedangkan Kinan yang terlihat bingung melihat Bian berada dikantin dan tengah duduk tepat disebelahnya. Ada sedikit kecanggungan ketika matanya bertemu dengan Bian, yang membuat hatinya tiba-tiba menjadi berdebar tanpa sadar, hingga membuatnya memalingkan wajahnya segera ketika Bian mulai tersenyum mengarah padanya.


"Apa yang beliau lakukan disini?" Batinya.


Kinan mencoba menenangkan jantungnya yang kini berdetak lebih cepat dari biasanya.


"Eh, kok pak Bian bisa ada disini ya?" Bisik Aura pada Ayu dan juga Kinan.


"Aku juga gak tau, kaget banget waktu lihat beliau bisa ada disini, mana canggung banget lagi ini." Timpal Ayu yang juga merasa heran dengan kehadiran Bian dikantin mereka.


Saat Aura dan Ayu, yang merupakan rekan kerjanya tengah berbisik mengenai kehadiran Bian dikantin yang biasa mereka datangi untuk makan, Kinan tampaknya masih terpaku hingga hanya bisa tersenyum canggung menanggapi dua rekan-rekanya yang sedang berbicara. Ekspresinya cukup terkejut, hingga membuatnya sulit untuk fokus ketika melihat Bian yang sejatinya sangat ingin ia hindari hari ini.


"Mbak, ayo ambil makanannya." Ucap Aura pada Kinan yang tengah diam melamun.


"Eh, ooh, iya.." Kinan cukup terkejut mendapat sentuhan dari Aura ketika dirinya tengah terpaku. "Kalau begitu, ayo bareng ngambil makananya." Ucapnya lagi yang kini mulai tersadar dari lamunanya.


Ketiganya berdiri dari tempat duduknya dan menuju ketempat makanan dengan agak canggung, karena Bian dan Dimas yang tengah makan disamping mereka duduk.


"Kenapa makanmu sedikit hari ini?" Ucap Bian pada Dimas begitu Kinan dan dua rekanya pergi mengambil makanan mereka.


"Eh.." Dimas agak bingung ketika mendapat pertanyaan seperti itu dari Bian, ia yang sejatinya hendak memakan makanannya memilih menaruh kembali sendok yang seharusnya masuk kedalam mulutnya itu.


"Ini yang biasa saya makan setiap harinya, kok pak." Jawabnya pada Bian yang ternyata belum menyentuh makananya.


"Oh gitu, yasudah lanjutkan lagi makanmu." Bian pun tak mempermasalahkan lagi. "Kamu kenapa?" Ucap Bian ketika melihat Dimas yang justru melihat ke arahnya dan tak menyentuh makanannya kembali.


"Itu.., apa anda tidak mau memakan makanannya?" Tanya Dimas dengan agak hati-hati.

__ADS_1


"Bentar lagi bakal aku makan, kamu makan saja punyamu. Pelan-pelan, jangan sampai tersedak." Kata Bian dengan tenang sambil tak berhenti menatap ke arah Kinan berada.


Dimas seolah terpaku mendengar kata itu keluar dari mulut Bian, dalam hatinya merasa bahwa Bian sedikit berbeda sikapnya hari ini. Meski bingung, ia tetap menyantap makanannya kembali.


...


Aku tidak pernah seperti ini sebelumnya. Berlari menemuinya seperti ini adalah yang pertama bagiku. Wajahnya selalu menghiasi hati dan perasaanku. Cinta atau apalah itu, aku hanya ingin lebih dekat denganya, karena a*ku merasa tidak ingin jauh darinya.


"Tunggu, bukanya ini agak obsesi namanya*?"


Bian terus berdebat dengan dirinya sendiri dalam hati, karena fikirannya yang selalu terfokus pada Kinan dan pandanganya selalu tertuju pada Kinan, yang tentu saja terus mengganggu dirinya.


"Menurutmu apa itu cinta?"


"Uhuk.., ehem.." Dimas yang mendapat pertanyaan tiba-tiba seperti itu menjadi tersedak.


"Terimakasih." Dimas menerima minuman yang diberikan oleh Bian padanya dan langsung meminumnya segera.


"Gimana? Sudah enakan?" Tanya Bian setelah Dimas menyelesaikan minumannya.


"Iya." Balas Dimas sambil mengangguk dan mencoba mengatur dirinya yang sempat terkejut.


"Kalau begitu jawab pertanyaan yang kutanyakan tadi. Menurutmu cinta itu seperti apa?." Sambil menyilangkan kedua tanganya di depan dadanya, Bian mencoba mendengar jawabanya dari Dimas.


"Kenapa pak Bian tiba-tiba bertanya seperti ini, ya?"


Dimas sedikit kesulitan untuk menjawab pertanyaan dari Bian, karena mengingat dirinya pun tak tahu arti dari cinta yang sebenarnya.


"It-itu saya sendiri agak kurang yakin akan itu." Jawab Dimas kemudian agak ragu.

__ADS_1


Bian terdiam sejenak, tiba-tiba ia menjadi terbayang perasaanya yang selalu terusik setiap kali memikirkan Kinan. "Kalau selalu terbayang wajah dari perempuan yang sama setiap harinya, apa menurutmu itu normal?" Ucap Bian meminta pendapatnya pada Dimas.


Terbayang wajah dari perempuan yang sama? Apa maksudnya ini soal non Adel, ya?


Belum sempat Dimas menjawab perkataan dari Bian, rombongan Kinan bersama dua rekan kerjanya telah sampai dengan membawa makanan mereka masing-masing. Mereka bertiga duduk dan hendak menyantap makanan yang mereka bawa masing-masing, meski sebenarnya perasaan mereka cukup canggung dan tak nyaman karena berada dekat dengan Bian, yang merupakan atasan mereka sendiri. Dengan perlahan mereka mulai memasukan makannya pada mulut mereka, meski harus menahan rasa tak nyamanya.


"Kamu sudah makan, kan?" Tanya Bian pada Dimas, dan mendapat anggukan dari Dimas. "Kalau begitu ayo pergi sekarang." Lanjut Bian yang mulai bangkit dari duduknya.


"Eh, tapi anda kan belum memakan makanan anda." Ucap Dimas yang merasa cukup terkejut ketika Bian hendak meninggalkan tempat duduknya tanpa menyentuh satupun makanan yang ia bawa.


"Aku sudah kenyang, ayo balik saja. Tapi, kalau kamu belum selesai makannya, kamu selesaikan saja makananmu, biar aku yang duluan pergi." Ucap Bian melirik ke arah Kinan sejenak lalu pergi meninggalkan kantin tanpa menyentuh satupun makanannya.


Dimas tentu saja ikut menyusul Bian yang telah pergi mendahului dirinya. Setelah kepergian dua orang tersebut, helaan nafas kelegaan terpancar dari Aura dan Ayu yang sedari tadi seolah menahan diri karena rasa tak nyamanya.


"Duh, bisa mati aku." Celetuk Aura bernafas lega.


"Benar, hampir aja pencernaan kita terganggu karena tak bisa menelan makanannya." Timpal Ayu yang ikut merasa lega dengan kepergian Bian dan Dimas. Namun, Kinan justru merasa kepikiran karena tak sengaja melihat makanan Bian yang belum ia sentuh sama sekali olehnya.


Bukanya beliau kemari untuk makan, ya? Kenapa beliau malah tak menyentuh makanannya?


...


Di sisi lain, Bian yang kini tengah berjalan berdampingan bersama Dimas sedang menuju kembali ke arah kamarnya. Ia kembali tanpa menyelesaikan makan siangnya, meski begitu ia terlihat sedikit lega, namun juga merasa menyesal disaat bersamaan.


"Aku menemuinya karena ingin melihatnya sebentar, ternyata dia malah tidak nyaman bertemu denganku?" Batin Bian ketika melihat ekspresi tak nyaman yang Kinan perlihatkan padanya tadi.


"Susah juga ya mendapatkan hati wanita!"


"Maaf..?" Dimas tampak bingung dengan perkataan yang dilontarkan oleh Bian.

__ADS_1


__ADS_2