
"Pak Bian." Panggil Kinan yang melihat sosok Bian di depannya. "Ah, selamat sore pak." Sapanya kemudian.
"Apa yang kamu lakukan disini? Tidak pulang?" Tanya Bian yang melihat Kinan masih berada diperpusatakaan.
"Ah, saya ingin membersihkan perpustakaan sejenak, dan hari ini masih ada hal yang harus saya kerjakan, karena kemarin sempat tidak masuk, jadi nanti saya akan sedikit telat pulangnya. " Jawab Kinan.
Tak ada sahutan dari Bian, hingga menciptakan kecanggungan bagi Kinan. Apalagi dengan Bian yang hanya menatapnya dalam diam, menambah kekikukan tersendiri.
"Ah, katanya anda kemarin sempat dirawat di rumah sakit? Apa sekarang anda tidak apa-apa?" Tanya Kinan kemudian, yang mencoba mencairkan kecanggungan.
"Ternyata beritanya sudah menyebar ya?" Ucap Bian sedikit menghela nafas tak percaya, "Aku sudah tidak apa-apa." Sambungnya.
"Ah syukurlah." Lega Kinan.
"Apa kamu menghawatirkan aku?"
Pertanyaan dari Bian, entah mengapa menciptakan suasana canggung bagi mereka. Kinan pun juga jadi tak bisa menjawab pertanyaan dari Bian, karena begitu melihat ekspresi dari Bian yang tengah menatapnya dalam diam, membuatnya merasa kikuk sendiri.
"Ah, itu.. " Jawab Kinan agak ragu dan sedikit canggung menatap Bian. "Iya, soalnya saya sempat kaget melihat anda dirawat di rumah sakit, meski sebelumnya saya melihat anda juga tidak baik-baik saja sih, tapi syukurlah jika anda sudah baikan sekarang." Jawabnya mencoba jujur dengan agak canggung sendiri.
"Kamu mengamatiku rupanya?" Kata Bian dengan penuh pertanyaan menatap Kinan, namun sedikit menggoda.
"Eh bukan, maksud saya itu, kemarin soalnya sangat terlihat jelas kalau anda sedang tidak sehat. Saya benar-benar tidak ada maksud lain kok, pak." Sanggah Kinan dengan cepat mencoba menjelaskan maksudnya.
Entah mengapa Bian tersenyum mendengar sanggahan dari Kinan. "Apa kamu sudah selesai membersihkan perpustakaanya?" Ucapnya kemudian mengalihkan pembicaraan.
"Eh, itu belum, soalnya saya baru saja mau memulainya." Jawab Kinan.
"Kalau begitu biar aku bantu."
Kinan cukup terkejut mendengarnya, "Eh tidak usah, pak. Biar saya saja." Cegat Kinan langsung agar Bian tak ikut membersihkan perpustakaan bersamanya, karena merasa tak enak sendiri.
"Aku lagi bosan, jadi aku ingin membersihkanya saja buat mencari kegiatan, jadi kamu bersihkan saja yang lainnya, biar bagian yang ini aku yang membersihkanya." Kata Bian yang tetap kekeh ikut membersihkan.
"Apa benar ini tidak apa?" Batin Kinan yang merasa serba bingung melihat Bian yang dengan santainya ikut bersamanya untuk membersihkan perpustakaan.
__ADS_1
Ia pun tak lagi mempermasalahkan soal Bian yang ikut membersihkan perpustakaan bersamanya, dan dengan cepat beralih pada ruangan lainya, menjauhi posisinya sekarang yang sedang bersama Bian.
Saat Kinan berjalan ke arah lain, Bian mencoba melirik sekilas kepergian Kinan. Sudut bibirnya memperlihatkan senyum kecilnya, seakan tak bisa menyembunyikan rasa senangnya.
...
Sebelum datang ke perpustakaan, Bian sejatinya sedang berjalan dengan Dimas menuju suatu tempat, namun karena melihat sosok Kinan yang tengah berjalan di depanya, tiba-tiba saja dia merubah haluannya.
"Kamu duluan saja, nanti aku menyusul." Ucapnya pada Dimas.
"Eh, baik pak." Balas Dimas yang sempat merasa kaget mendengar perkataan dari Bian, namun ia tetap melanjutkan perjalanannya dan meninggalkan Bian, yang terlihat hendak menyusul Kinan itu.
Awalnya ia hanya penasaran kemana arah perginya, namun kakinya terus saja mengikuti langkah Kinan yang terlihat mau masuk ke dalam perpusatakaan. Ia diam sebentar di depan pintu sebelum akhirnya ikut masuk ke dalam perpustakaan, mengingat ia sempat ragu untuk melangkah masuk.
Aksi ikut membersihkan perpustakaan yang ia lontarkan secara spontan benar-benar diluar tujuanya, mungkin karena terlalu canggung hingga kata itu keluar dengan sendirinya.
"Apa yang sebenarnya kulakukan disini?" Gumamnya merasa aneh sendiri, namun tetap melanjutkan bersih-bersihnya.
Tak jauh dari arah Bian, Kinan yang serius membersihkan perpustakaan sempat dilanda perasaan tak nyaman, karena harus membersihkan perpustakaan bersama Bian. Ia bahkan beberapa kali melirik ke arah Bian berada saat ini, yang terlihat begitu serius bersih-bersihnya.
Namun dering ponselnya yang tiba-tiba berbunyi dari kantong sakunya, menghentikan sejenak aksi bersih-bersihnya. Mencoba sedikit menjauh dari Bian, agar tak mengganggunya.
"Halo mas Bayu, ada apa ya?" Ucapnya pada sang penelfon, yang merupakan Bayu dengan nada sedikit pelan.
"Kamu masih dihotel atau sudah pulang?" Tanya Bayu dari sebrang telfonya.
"Ah, saya masih ada pekerjaan lainnya sih, jadi sekarang saya masih ada dihotel, memangnya ada apa ya mas?" Tanya Kinan.
"Ah, gak ada apa-apa kok, yasudah kalau kamu masih sibuk, nanti aku telfon lagi. Oh iya, telfon saja kalau mau pulang nanti, biar aku jemput. Kamu hari ini tidak lagi bawa motor kan?"
"Iya, saya tidak membawa motor hari ini."
"Yasudah lanjutkan lagi pekerjaanmu, nanti jangan lupa telfon mas Bayu jika mau pulang." Ucap Bayu yang hendak mematikan telfonya.
"Iya, tapi apa mas Bayu benar-benar tidak ada apa-apa, nih?" Cemas Kinan mencoba memastikan lagi.
__ADS_1
"Enggak kok, yaudah mas tutup ya telfonya."
"Di tutup begitu saja, dasar."
Tuut.. telfon pun terputus, Kinan kembali menaruh ponsel dalam saku kantongnya. Namun, ketika hendak berbalik, ia dikejutkan oleh kehadiran Bian yang tengah berdiri di depanya, yang juga tengah menatapnya. Kinan lalu memegang dadanya yang sempat kaget, mencoba tetap tenang dihadapan Bian.
"Ah maaf pak, tadi saya mengangkat telfon sebentar dari teman saya." Ucapnya kemudian menatap Bian yang tengah diam menatapnya.
Apa aku membuat beliau marah, ya? Beliau tetap diam meski aku sudah menjelaskannya?
Kinan tampak bingung dengan diamnya seorang Bian. "Pak, itu.. maaf." Panggilnya pada Bian yang masih diam.
"Siapa yang menelfonmu tadi?" Tanya Bian kemudian, yang akhirnya berbicara.
"Ah itu, dia teman saya, lebih tepatnya kakak kenalan saya dulu saat kuliah." Jelas Kinan.
"Kakak kenalan?" Gumam Bian yang kembali diam.
Lagi-lagi beliau diam.
"Apa kamu merasa tidak nyaman bersamaku sekarang?"
"Eh.. Maaf?" Kata Kinan tampak bingung dengan maksud dari perkataan Bian.
"Padahal dulu kamu menyuruhku untuk tidak melupakanmu?" Ucap Bian menatap Kinan dengan tatapan lembut.
Ucapan Bian semakin membuat Kinan tak faham, hingga membingungkanya dan sedikit merasa canggung begitu mendengarnya.
"Itu.." Kinan cukup kesulitan untuk menjawabnya.
Aku harus jawab apa ya? Tunggu, kenapa beliau menatapku dengan tatapan seperti itu ya?
Tatapan Bian tampak aneh buat Kinan, karena tatapan yang ia berikan saat ini padanya adalah tatapan yang penuh kelembutan.
"Ah itu, maaf saya harus kembali menyelesaikan tugas yang kemarin sempat tertunda." Ujar Kinan yang hendak pergi dari hadapan Bian, namun Bian mencoba menghalangi jalanya, membuat Kinan menatap bingung dan juga canggung pada Bian.
__ADS_1
"Ada yang ingin aku pastikan, agar aku tak merasa bingung lagi."