Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
126. Melepas Kerinduan


__ADS_3

Dalam pelukan, keduanya saling menyembunyikan rasa malu, dan juga rasa berdebar yang sama-sama keduanya rasakan setelah berciuman. Ada perasaan yang membuncah ketika bertemu kembali setelah hubungan yang akhirnya bersemi bersama. Kinan yang malu dihadapan Bian, dengan Bian yang terlalu bersemangat dihadapan Kinan, hingga hampir saja membuatnya melakukan kesalahan dihadapan Kinan.


Ada rasa kikuk saat Bian melepaskan pelukanya dan membuat keduanya saling bertatap muka.


"Bagaimana kabar kamu? Kamu baik-baik saja kan selama aku tidak ada disini?" Tanya Bian yang mencoba merubah suasana.


"Ah, iya saya baik, bagaiman dengan anda?"


Jawaban kikuk dari Kinan membuat suasana di antara keduanya terasa canggung dan tak nyaman, terlebih karena ciuman yang sempat keduanya lakukan bersama. Meski hubungan keduanya yang sebagai seorang kekasih, namun rasa canggung itu masih tetap ada di antara mereka, terutama bagi Kinan, mengingat Bian adalah atasanya sendiri.


"Aku juga baik." Jawab Bian yang juga merasa kikuk di depan Kinan.


Namun, setelah itu suasana kembali canggung di antara mereka, hingga kembali menciptakan suasana yang hening di antara mereka.


"Apa kamu datang kesini untuk membersihkan kamarku?" Bian yang merasakan suasana itu, mencoba mengalihkan pertanyaan lainya untuk merubah suasana.


"Ah, saya hanya ingin mengecek suhu ruangan kamar anda, juga ingin melihat kebersihan kamar milik anda." Jawab Kinan.


"Apa hal ini kamu lakukan setiap hari?" Tanyanya lagi.


"Iya, biasanya saya lakukan setiap pagi atau saat pulang kerja."


"Oh, kalau begitu aku mengganggumu, dong?" Ujar Bian yang merasa menghambat pekerjaan Kinan dengan kedatanganya yang tiba-tiba.


"Ah, tidak kok, pak. Saya hanya sedikit terkejut melihat kedatangan anda, tapi saya senang bisa melihat anda datang." Jawab Kinan dengan malu-malu menatap wajah Bian.


Bian terpaku mendengar jawaban Kinan, namun ia langsung menyunggingkan senyumannya karena merasa senang mendengar ucapan Kinan.


"Baguslah, aku takut kamu tidak nyaman dengan aku yang datang tanpa memberitahumu lebih dulu. Tapi, lain kali jangan membuat ekspresi seperti ini, karena aku bisa salah faham." Ujarnya tersenyum menatap lekat wajah Kinan.

__ADS_1


Sedangkan Kinan sedikit gugup mendengar perkataan yang dilontarkan oleh Bian padanya. Jantungnya berdetak lebih cepat seolah meresponya yang saat ini tengah menahan rasa berdebar.


"Bisakah kamu menemuiku lagi saat jam makan siang nanti, soalnya ada hal yang ingin aku katakan padamu, termasuk soal ucapanku kemarin malam." Ucap Bian.


"Ah, baik. Kalau begitu saya mau kembali pada pekerjaan saya." Balas Kinan yang ingin pamit pergi.


"Sebenarnya aku bisa saja tidak melepaskanmu pergi, tapi pasti yang lainya mencari keberadaanmu, jadi aku harus merelakanmu pergi dari sini." Bian yang enggan ditinggal oleh Kinan, dengan terpaksa merelakan Kinan untuk pergi.


"Pergilah, sampai jumpa lagi saat jam makan siang nanti." Ucapnya lagi pada Kinan yang kali ini akhirnya oergi dari ruangannya.


....


Berjalan perlahan dengan rasa yang masih tak percaya pada kedatangan Bian, Kinan yang telah keluar dari ruangan Bian terus melamunkan kedatanganya, sembari memperbaiki penampilanya di dalam toilet.


"Aku tadi melihatmu keluar dari kamar pak Bian, kenapa kamu datang kesana? Apa ini karena kamu tau kalau beliau sudah kembali?" Shiva, yang juga berada di toilet yang sama dengan Kinan, memberikan komentarnya pada Kinan yang berdiri disampingnya.


Kinan yang tengah mencuci tanganya di atas westafel, dibuat terkejut dengan kedatangan Shiva yang mendadak dan juga pertanyaanya yang tiba-tiba itu.


"Mauku, ya? Tentu saja tidak melihat wajahmu lagi disini." Jawab Shiva menatapnya penuh kebencian.


Kinan menatapnya dalam diam, dan ada sedikit rasa sedih saat melihatnya, karena tak menyangka pada kebencian Dhiva yang begitu dalam padanya.


"Padahal aku tidak pernah melakukan hal jahat, tapi, aku baru tau kalau hal itu pun bisa membuat orang membenciku." Ucapnya tersenyum getir.


"Baiklah, benci aku sesukamu, yang penting aku sendiri tidak melakukan kejahatan padamu. Kamu mau melakukan apa juga aku sudah tidak perduli, toh dari awal kamu memang tidak menyukaiku." Ujarnya pada Shiva dan akhirnya memilih pergi.


Shiva mendecak kesal pada kepergian Kinan. Ia menatap tak terima pada sikap acuh Kinan padanya.


"Fine, akan kulakukan apa yang kamu suruh tadi." Ucapnya tersenyum licik dan ikut pergi dari toilet bersama rencana tersembunyinya.

__ADS_1


.....


Tak ada waktu baginya untuk menanggapi kebencian Shiva, karena mau bagaimanapun dia sudah membenci dirinya sejak awal. Kinan memilih momfokuskan dirinya pada pekerjaan yang telah menantinya.


Bukan tak perduli pada perselisihannya dengan Shiva, namun karena memang tak ada waktu baginya untuk memikirkanya, terlebih pikirannya saat ini sudah dipenuhi oleh Bian.


"Ku kira seiring berjalanya waktu dia tak akan merasa marah lagi padaku, namun ternyata memang dari awal dia sudah tak menyukaiku" Ucapnya mengacu pada Shiva yang membencinya.


Tak lagi perduli, Kinan memfokuskan kembali pada pekerjaanya, hingga tanpa sadar waktu telah berlalu begitu saja tanpa ia sadari, dan hampir membuatnya melupakan janji yang telah ia buat sebelumnya bersama Bian.


"Astaga, aku terlalu fokus bekerja sampai lupa sama jam makan siangku." Ucapnya yang bergegas untuk pergi.


Tak pergi ke arah kantin untuk makan bersama rekan-rekan biasanya, Kinan yang membawa baki makanan ditanganya berjalan menuju ke kamar Bian.


Dengan gugup, ia memencet tombol kamar Bian, dan ruangan pun terbuka dengan cepat begitu ia memencetnya seolah Bian telah menunggunya sedari tadi.


"Kamu agak telat, ya, padahal aku sudah menunggumu lho." Ucap Bian berdiri di depan pintu dan menghadap langsung Kinan yang saat ini berdiri di depanya.


"Ah, maaf pak, soalnya tadi ada sedikit kendala di salah satu kamar tamu, jadi tadi saya datang ke kamar tamu tersebut untuk mencoba untuk menyelesaikan masalahnya, untungnya sekarang sudah clear dan tidak ada masalah." Jelas Kinan sedikit menyesal.


"Oh gitu, yasudahlah kalau memang begitu, masuklah, tapi apa yang kamu bawa itu? Apa itu makanan untukku?" Tanya Bian melihat sesuatu yang dibawa oleh Kinan.


"Iya, saya membawakan makan siang untuk anda."


"Wah, ternyata kamu peka ya, padahal aku belum memintanya lho." Senyum Bian mengembang pada perhatian kecil yang dilakukan oleh Kinan untuknya, sedangkan Kinan jadi tersipu malu karena mendengar ucapan Bian.


"Iya, soalnya ini kan memang sudah waktunya jam makan siang, jadi saya membawakanya untuk anda." Balas Kinan sedikit malu-malu.


"Kebetulan aku juga belum makan siang, terimakasih sudah membawakanya untukku" Ujar Bian merasa berterimakasih

__ADS_1


"Yasudah, masuklah dulu, sebaiknya kita bicarakan lagi di dalam" Ujarnya lagi meminta Kinan untuk masuk kedalam kamarnya.


Keduanya pun masuk bersama dan pintu kamar pun tertutup, yang tanpa keduanya sadari ada sepasang mata yang melihat kedekatan keduanya.


__ADS_2