
"Aduh gimana ini?" Panik Kinan begitu telfon dari Bian terputus.
Kinan tampaknya tak menyangka bahwa Bian akan menelfon dirinya seperti ini, ekspresinya terlihat kaget ketika mengangkat telfon dari Bian. Karena cukup kaget akan hal itu, ia bahkan sempat berbohong pada Bian soal kepulanganya tadi.
"Aku harus pulang secepatnya, nih." Tuturnya, lalu dengan segera keluar dari hotel tempatnya bekerja. Menghampiri motornya dengan cepat, lalu melajukanya kemudian untuk pulang ke kosan miliknya.
Dalam perjalanan pulangnya, ada berbagai pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada dirinya sendiri, perihal kebingunganya, juga rasa keterkejutanya. Saat mengangkat telfon dari Bian, spontan saja ia berbohong agar tak bertemu dengan Bian, karena setelah insiden ciuman antara dirinya dan Bian adalah hal yang sangat ingin ia hindari, karena betapa malu dan canggungnya nanti jika bertemu dengan Bian kembali.
"Tapi, aku kan tidak mungkin terus menghindari beliau? Mengingat kita berada dalam tempat kerja yang sama, dan aku yang sekarang juga ikut membantu urusan hotel bersamanya dan pak Dimas." Batin Kinan.
Ada berbagai pikiran yang sulit Kinan tangkap akan maknanya, terlebih rasa bingungnya terhadap perasaan suka Bian kepadanya. Saat ini, hati dan perasaanya begitu dilema setelah mendengar pengakuan dan ciuman yang dilakukan oleh Bian padanya. Dalam hatinya terus bertanya kenapa harus aku?
Padahal hanya satu bulan mereka dekat kembali setelah telah terpisah dalam waktu yang lama. Namun, siapa sangka hubungan yang semula terlihat biasa saja, menjadi berkembang dengan sendirinya hingga menimbulkan perasaan yang bergejolak dalam dada, yang akhirnya membuat canggung disaat bersamaan.
"Oh, fiuh..." Kinan menatap gerbang depan kosan miliknya yang tak ada tanda-tanda keberadaan Bian, ia lalu memberikan ekspresi lega setelah Bian tidak ada di depan gerbang kosan miliknya.
Padahal selama dalam perjalanan pulangnya, ekspresinya terus merasa tak tenang, karena takut Bian sudah sampai depan kosan miliknya, dengan dirinya yang masih belum pulang juga setelah sebelumnya bilang sudah berada di dalam kosan.
"Fiuh, tadi aku benar-benar takut beliau sudah ada di depan." Kinan tak hentinya merasa lega, karena sedari tadi ia merasa takut melihat keberadaan Bian dalam sekitaran kosan miliknya, yang nantinya akan memperlihatkan kebohonganya pada Bian.
Namun ekspresinya kembali berubah, saat tiba-tiba teringat akan realita yang ada di depanya, yaitu tentang Bian yang hendak menuju kosan miliknya hari ini. " Aduh, aku harus mandi." Ucapnya kemudian yang bergegas masuk kedalam kosan, sesaat setelah memarkirkan motor miliknya.
Kinan seolah sedang dikejar oleh waktu, karena ia yang langsung masuk ke kamar mandi begitu sudah berada dalam kosan miliknya. Karena kebohongan kecilnya tadi, membuatnya berada dalam keadaan yang tak menguntungkan.
Namun, dari luar kosan miliknya, ada sepasang mata yang ternyata memperhatikan gerak-geriknya yang saat tiba dan masuk dalam kosan miliknya. Bian melihat semua sikap yang diperlihatkan oleh Kinan, dari saat dia tiba dalam kosan, hingga dia masuk kedalam kosan miliknya. Dan sejatinya ia sudah mengikuti Kinan sejak keluar dari hotel, karena itu ia jadi tahu bahwa Kinan telah berbohong padanya tadi.
__ADS_1
Ia mengendarai mobilnya dengan pelan saat mengikuti motor milik Kinan dari jarak yang tak jauh dari arah belakang. Tak ada kata yang terucap dari mulutnya meski sudah mengetahui bahwa Kinan terlah berbohong padanya, bahkan ekspresinya hanya terlihat datar dalam menyikapinya. Seolah ia mengerti betul tentang alasan Kinan yang telah mencoba berbohong padanya. Bian sepertinya tak terlalu terganggu akan hal itu, melihat ekspresinya yang terlihat biasa saja.
Ia tahu betul, bahwa Kinan akan mencoba menjauhinya setelah insiden ciuman yang ia lakukan. Karena itu, ia mencoba tak mempermasalahkan kebohongan kecilnya, yang dirasa sangat wajar baginya, mengingat kejadian itu sungguh membuat kecanggungan tersendiri bagi mereka.
"Apa yang akan aku lakukan kalau sudah bertemu dengan dia nanti?" Bian tampaknya merasa bingung begitu tiba di depan kosan milik Kinan.
"Kalimat apa yang akan aku katakan padanya?" Ucapnya lagi dengan perasaan dilema. "Setelah kejadian itu, apa nanti tidak akan canggung saat bertemu?" Lanjutnya dengan berbagai pertanyaan yang ada dalam pikiranya sendiri.
Berada dalam jarak yang tak jauh dari kosan milik Kinan, tampaknya Bian tengah mencoba mempersiapkan dirinya untuk bertemu dengan Kinan. Berulang kali ia mencoba menenangkan dirinya yang kini terlihat tak tenang di dalam mobilnya.
"Ayo masuk saja lha." Ucapnya kemudian yang hendak memajukan mobilnya lebih dekat dengan gerbang kosan milik Kinan. Lajunya terhenti ketika melihat Kinan yang keluar dari kosan miliknya dengan terburu-buru, dan tengah berdiri di depan gerbang dengan ekspresi yang seolah tengah menunggu seseorang.
"Apa dia tau kalau aku ada disini?" Gumam Bian melihat Kinan yang tengah berdiri di depan gerbang kosannya.
"Siapa dia?" Ekspresi Bian tiba-tiba berubah menjadi serius ketika melihat kedekatan Kinan dengan tamu yang ia sambut sekarang.
...
Tamu itu adalah Bayu, kakak kenalan yang begitu Kinan kenal dengan baik selama ini. Bayu mampir sebentar ke kosan milik Kinan, untuk memberikan hadiah yang ia beli ketika habis dalam perjalanan ke luar kota dua hari yang lalu.
"Mas Bayu kan gak perlu repot-repot begini." Ucap Kinan setelah menerima hadiah yang diberikan oleh Bayu untuknya.
"Mas gak merasa repot, ini mas beli sekalian buat Ayu juga." Balas Bayu.
"Ok, Kinan terima kalau begitu. Terimaksih ya mas." Jawab Kinan yang merasa senang mendapat hadiah dari Bayu, dengan memperlihatkan senyumanya pada Bayu.
__ADS_1
Bayu ikut tersenyum ketika melihat senyum Kinan. "Kamu mau kemana kok rapi begini?" Tanyanya yang kemudian tersadar akan penampilan Kinan yang terlihat begitu rapi.
"Eh, itu.. ha..ha.." Kinan tampak gelagapan mendapat pertanyaan dari Bayu. "Gak kemana-mana kok, Kinan kan memang selalu rapi." Jawabnya dengan asal.
Bayu mengernyitkan kedua alisnya, seolah tak puas dengan jawaban dari Kinan.
"Ka.."
"Pak Bian." Ucap Kinan memasang wajah terkejut ketika melihat keberadaan Bian yang tengah berjalan ke arahnya. Ia bahkan membuat Bayu berhenti mengucapkan kalimat yang hendak ia ucapkan, dan mengikuti arah pandang Kinan berada.
Ekspresi Bayu terlihat penuh tanya ketika melihat Bian, sedangkan Kinan sendiri masih terpaku akan kedatangan Bian yang tiba-tiba tanpa pemberitahuan.
"Selamat sore." Sapa Bian begitu sampai di depan Kinan dan Bayu. Ia memberikan senyuman kecilanya pada Kinan yang menatapnya penuh kaget, dan pada Bayu yang menatapnya penuh tanya.
"Dia.. siapa?" Tanya Bayu pada Kinan yang terlihat masih tak bisa mengontrol ekspresi terkejutnya melihat Bian
"Ah, itu.. Beliau.. atasan saya." Kinan menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Bayu padanya, lalu memperkenalkan segera Bian pada Bayu.
"Atasan kamu?" Agaknya Bayu masih tak percaya dengan apa yang dia dengar, hingga mengulang lagi apa yang di ucapkan oleh Kinan.
"Benar, saya atasan dari Kinan. Perkenalkan nama saya Bian." Ucap Bian mengulurkan tanganya pada Bayu yang menatapnya penuh tanya.
Bayu menyambut uluran tangan Bian, meski ekspresinya terlihat tak puas.
"Saya Bayu." Ucapnya kemudian membalas Bian.
__ADS_1