
"Ada yang membuatku penasaran..?" Bian menjeda kata-katanya, ia ragu untuk melanjutkan kalimatnya. "Apa kamu sudah lama berada disini?" Ucapnya kemudian melirik sedikit ke arah Kinan.
Disini? - Bingung Kinan.
"Oh, saya hampir lebih dari 3 tahun bekerja disini?" Jawab Kinan yang mengira Bian bertanya soal pekerjaanya.
"Maksudku, apa kamu sudah lama tinggal di kota ini?" Lanjut Bian.
"Saya.. "
Drrt.. drrt.., bunyi telfon dari ponsel miliknya menghentikan kata-kata dari Kinan.
Bian menatap arah telfonnya, nama yang familiar terlihat pada layar ponselnya, ia ragu untuk menjawab telfonya dan melirik ke arah Kinan dan Dimas yang kebetulan juga berada disana.
"Kalau begitu saya permisi dulu pak." Pamit Kinan, yang peka dengan melihat situasi Bian.
Bian mengangguk mempersilahkan Kinan keluar, ia lalu mengangkat telfonya, begitu Kinan dan Dimas keluar dari kamarnya.
Bian tersenyum sembari mengangkat telfonnya, nada lembutnya terasa ketika berbicara dengan sang penelfon, yang tak lain adalah Adel.
"Iya, aku sudah sampai di jogja, maaf ya belum sempat memberi kabar." Kata Bian menjawab pertanyaan Adel dari sebrang telfon.
"It's ok Bi, asal kamu sampai dengan selamat, aku sudah senang kok." Balas Adel dari sebrang telfon.
"Oh iya, aku tidak lagi ganggu kamu kan?" Kata Adel lagi.
"Nggak kok, aku juga baru sampai di hotel, dan ini baru selesai makan siang, jadi tidak terlalu sibuk juga."
"Oh.. ok, kalau begitu aku lega dengarnya. Kebetulan aku lagi senggang, jadi pengen tanya kabar soal kamu, makanya aku telfon deh. Yaudah cuma itu aja sih yang mau aku tanyakan, sehat selalu ya disana." Kata Adel mengakhiri obrolanya.
"Ok, kamu juga." Balas Bian dan obrolan keduanya pun berakhir.
Ia meletakkan kembali ponsel miliknya di atas meja, sejenak ia tersadar dengan Kinan yang harus keluar disela pembicaraan mereka karena ada telfon dari Adel. Bian masih penasaran dengan sosoknya.
...
__ADS_1
Di tempat yang berbeda, memperlihatkan Adel yang tengah menatap layar ponselnya dengan perasaan gelisah, setelah panggilan telfonya bersama Bian berakhir. Entah mengapa raut wajahnya tampak tak tenang setelah panggilan telfonnya dengan Bian tadi berakhir.
Hubungan yang masih belum jelas di antara keduanya, nampaknya masih membuat keduanya serba salah.
Baik dari keduanya, belum ada yang mau mengaku tentang perasaan mereka masing-masing, apalagi sejak ungkapan terakhir dari Bian beberapa waktu itu.
"Apa harusnya aku terima saja ya perasaanya saat itu?" Gumam Adel.
Meski selama ia kuliah, Bian selalu menjenguknya di amerika, namun ketika menjelang ia lulus sudah jarang datang karena kesibukanya di kanada, hingga membuat Adel beberapa kali merasa kosong dengan kehadiranya, meski di sampingnya selalu ada Adnan.
Adel jadi mengingat kembali kenanganya bersama Bian selama di amerika.
"Del, aku suka sama kamu." Kata Bian.
Adel nampak terkejut dengan pengakuan itu.
"Kamu mau gak, pacaran sama aku.?" Kata Bian lagi dengan agak gugup.
Adel diam dengan perasaan tak tau harus jawab apa.
"Bi, kamu percaya sama aku kan?" Jawab Adel kemudian dengan tenang menatap Bian yang tengah menanti jawaban darinya.
"Iya." Balas Bian.
"Katakan lagi setelah kamu benar-benar sudah siap, aku akan menunggu untuk itu." Ujar Adel sembari tersenyum pada Bian.
Siap? aku sudah siap tuh sebenarnya.
"Kamu tidak percaya ya sama aku?"
"Bukan tidak percaya, cuma aku masih harus menata hatiku, dan aku juga tidak mau ganggu karir kamu."
"Kamu tidak ganggu kok, justru aku malah bersemangat kalau sama kamu." Ucap Bian.
Adel nampak kesulitan untuk menjawab, melihat betapa gigihnya Bian untuk meyakinkan dia.
__ADS_1
"Apa ini karena aku yang harus ke kanada?" Kata Bian yang tersadar tentang kekhawatiran Adel. "Kamu tau kan, kalau ini permintaan papaku, aku juga sebenarnya tidak mau jauh dari kamu."
"Oh.. bukan kok, apa ya?" Adel mencoba mencari kata yang tepat.
"Aku dan kamu kan lagi fokus mengejar karir masing-masing, jadi gimana kalau semuanya kamu katakan lagi jika nanti sudah siap? bukan hanya untuk kamu, tapi untuk aku juga." Jelas Adel.
"Ah..., baiklah kalau itu yang kamu mau." Jawab Bian mencoba untuk memahami, meski ekspresi wajahnya terlihat kecewa.
...
Di tempat lainya, di dalam ruangan kantornya, Adnan mentap lurus foto dirinya bersama Adel dan Bian.
Setelah dari tempat kenangan bersama kedua sahabatnya beberapa hari yang lalu, entah kenapa Adnan selalu tampak murung. Ia tak bersemangat dan terkesan jadi diam. Ia mengingat kembali kenangannya bersama Adel selama ini.
Kenangan yang membuatnya akhirnya memberanikan diri untuk menyatakan perasaanya pada Adel untuk pertama kalinya, setelah sekian lama memilih untuk memendamnya. Meski ia harus mengingkari janjinya pada Bian dengan mencoba memberanikan diri untuk mengatakan perasaanya yang terpendam selama ini.
"Del, sebenarnya bukan hanya Bian yang suka sama kamu, tapi aku juga.." Ungkap Adnan pada Adel.
Saat itu, mereka tengah menikmati malam valentine bersama di sudut kota. Mendadak suasa menjadi canggung di antara keduanya, setelah ungkapan perasaan dari Adnan yang tiba-tiba.
Karena suasana yang mendukung, membuat Adnan memberanikan diri untuk mengatakan perasaanya pada Adel.
"Maksud kamu apa sih, haha.. bikin canggung aja deh." Tawa Adel dengan kikuk pada suasana canggung itu.
"Kamu masih menunggu Bian?" Tanya Adnan dengan muka serius.
Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Adel, hingga membuat Adnan berfikir bahwa Adel juga menyukai Bian dan masih menunggu kehadiranya.
...
Adnan menghela nafasnya lagi ketika mengingat hal itu, kenangannya bersama Adel saat itu adalah pengakuan pertama dan mungkin yang terakhir baginya.
Selama Bian di kanada, Adnan lah yang selalu bersama Adel, dan meski ia sudah merelakan perasaanya untuk Bian, namun ia tak menampik kalau ingin mencoba mengutarakan perasaanya pada Adel meski itu hanya sekali atau berujung di tolak sekalipun. Perasaanya jadi sedikit khawatir ketika Bian pulang, ada sedikit kecemasan di dalam dirinya.
"Padahal aku sudah janji padanya, kenapa aku jadi ingin serakah ya?"
__ADS_1