Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
127. Menjemput Kinan


__ADS_3

Kini, di dalam kamar yang luas dan hanya ada mereka berdua, Bian dan Kinan mengobrol sedikit santai diluar pekerjaan mereka, meski terkadang ada selingan kecil seputar pekerjaan di obrolan keduanya, namun obrolan yang santai itu setidaknya membuat suasana di antara mereka sedikit nyaman dan tak canggung.


Karena hubungan yang masih baru dan belum lama terjalin, rasa canggung dan berdebar terkadang masih menghampiri keduanya, terutama bagi Kinan itu sendiri. Yang masih cukup canggung ketika mengobrol di depan Bian.


"Kamu sudah makan siang belum?" Tanya Bian pada Kinan yang tadi membawakanya makan siang.


"Sebenarnya saya..." Kinan tampak ragu untuk mengatakanya.


"Ternyata belum ya, yasudah kalau begitu kita makan siang bareng saja." Ujar Bian menawarkan dan membuat Kinan sedikit terkejut mendengarnya.


"Eh, itu saya tidak usah pak, tadi saya sudah makan sedikit."


Belum semenit ia bicara untuk menyangkal, perutnya yang lapar berbunyi hingga membuatnya malu di depan Bian, dan Bian yang mendengarnya terlihat menahan tawa kecilnya.


"Perut kamu sepertinya berkata sebaliknya." Ucapnya sembari tersenyum menatap Kinan yang tengah terdiam karena begitu terkejut dan malu, Kinan hanya bisa tersenyum canggung untuk menyembunyikan rasa malunya di depan Bian.


"Sekarang kamu jadi tidak bisa menolak ajakanku untuk makan siang bareng, deh."


Mendengar itu, Kinan tak lagi bisa menolak ajakan Bian dan akhirnya menuruti permintaan Bian yang memintanya untuk makan siang bersama-sama.


"Oh, iya, besok kamu libur, kan?" Tanyanya disela makan.


"Iya." Jawab Kinan.


"Ucapanku kemarin malam masih berlaku lho!" Ujar Bian.


Kinan yang hendak memakan makanan yang diberikan oleh Bian, terdiam dan sedikit bingung dengan yang dimaksud. Ia mencoba mengingat obrolan kemarin malamnya bersama Bian.


"Obrolan soal aku yang ingin menjemputmu." Bian yang sadar Kinan sedikit bingung pada perkataanya, akhirnya membuka suaranya untuk menjelaskan maksudnya.


Kinan yang akhinya ingat, menatap Bian segera dengan ekspresinya yang seolah terpaku dan juga kaget, karena tak menyangka hal itu akan terjadi dengan secepatnya.

__ADS_1


"Jadi, anda datang hari ini karena ingin menjemput saya?" Tanyanya dengan ragu.


"Yap, aku datang kesini karena ingin bertemu denganmu sekaligus ingin menjemputmu."


Hati Kinan merasa berdebar hanya karena kalimat yang dikatakan oleh Bian. dan entah mengapa itu membuatnya merasa senang.


"Sebenarnya kenapa anda ingin menjemput saya? Apa ini karena pekerjaan yang ada dikantor pusat?" Ucap Kinan bertanya maksud tujuan Bian untuk menjemputnya.


"Aku ingin mengajakmu ke rumah orang tuaku." Ujar Bian to the point tanpa basa-basi.


Kinan membulatkan matanya karena terkejut, tubuhnya membeku karena ucapan Bian yang tiba-tiba ingin mengajak ia bertemu keluarganya.


"Bukanya ini yang kamu mau? Kamu kan pernah bilang padaku kalau ingin hubungan yang lebih serius?"


Kinan tertegun karena ucapan Bian, menyadarkan kembali ingatan tentang dirinya yang dulu sempat menolak Bian karena keinginan dan harapannya ini. Membuatnya sekarang tak lagi bisa mengelak dan tak bisa berkutik untuk mencari alasan.


"Aku memang pernah mengatakanya, tapi aku tidak menyangka itu akan datang secepat ini?"


"Bagaimana ini? Aku harus menjawab apa?"


Kinan merasa gelisah dan berkecamuk di dalam hatinya, namun ia mencoba untuk tetap tenang di depan Bian.


"Kamu nggak mau, ya?" Ucap Bian pada Kinan yang masih bungkam dan tak membalas ajakanya. Ada sedikit rasa kecewa pada ekspresinya.


"Ah, bukan itu maksud saya, itu.. sebenarnya saya hanya sedikit terkejut saja. Bukan saya tidak mau bertemu dengan keluarga anda, hanya.. bukankah ini terlalu cepat bagi saya untuk bertemu mereka?" Sanggah Kinan dengan cepat mencoba menghibur Bian yang tampak sedikit kecewa padanya.


"Bukanya kamu ingin hubungan yang serius sama aku?, karena itu aku ingin memperlihatkan keseriusanku padamu dengan mengajakmu bertemu dengan keluarga besarku, dan sebenarnya mereka juga menantikan kehadiranmu." Ujar Bian menjelaskan harapannya.


Mendengar keluarga Bian yang juga ikut menantinya, tentu membuat Kinan terkejut, karena ia tak membayangkan hal itu, terlebih ada rasa khawatir darinya jika nanti jadi benar-benar bertemu keluarga Bian.


"Jadi, kakak sudah menceritakan hubungan ini pada keluarga kakak?" Dengan mata terkejut Kinan tampak tak percaya pada yang di dengarnya tadi.

__ADS_1


"Iya, aku sudah menjelaskan sama mereka soal hubungan kita, dan mereka tak keberatan soal itu, tapi, syarat dari mereka aku harus mengajakmu untuk datang ke rumah."


Penjelasan Bian semakin membuat Kinan tampak aneh karena sedikit tak percaya pada hal yang baru saja ia dengar langsung dari Bian.


"Mereka ingin bertemu denganku? Tapi, kenapa?"


Kinan terus bertanya-tanya pada hal yang mengejutkannya itu, hatinya seketika gugup saat membayangkan bertemu langsung dengan keluarga Bian.


"Apa benar in tidak apa? Apa semua akan baik-baik saja?"


Rasa khawatir dan cemas masih terus membayangi pikiran dan perasaanya, hingga membuat keluh lidah untuk sekedar menanggapi perkataan Bian.


"Kamu nggak usah takut ataupun khawatir saat bertemu dengan keluargaku, karena hal yang kamu takutkan itu tidak akan pernah terjadi." Bian yang peka pada reaksi Kinan yang masih tampak penuh keraguan, mencoba untuk menenangkanya dan juga meyakinkannya.


"Apa kak Bian juga menginginkan Kinan untuk bertemu keluarga kakak?" Kinan yang sedari tadi diam, dengan ragu-ragu mencoba bertanya tentang rencana Bian yang hendak mengajaknya untuk bertemu keluarganya.


"Itu memang salah satu rencanaku, tapi aku tidak berniat untuk melakukanya dalam waktu dekat, karena takutnya kamu merasa tidak nyaman soal ini, apalagi hubungan kita masih cukup baru. Tapi, aku merubah rencanaku karena kamu." Ujar Bian.


"Eh, karena saya? Ah, apa karena keinginan saya waktu itu? Tapi, kan saya hanya bilang ingin mempunyai hubungan yang lebih serius? Bukanya ingin meresmikan secepatnya?" Kinan menatap bingung pada Bian.


"Benar, karena itu juga, tapi yang lebih penting dari itu, karena keinginanku yang ingin melihat dan bertemu kamu setiap hari." Ungkap Bian.


Deg, seketika jantung Kinan langsung berdebar mendengarnya, ia tak bisa menyembunyikan rasa gugupnya karena ucapan yang dilontarkan oleh Bian. Membuat kedua pipinya merona karena rasa malu.


"Bukanya kakak hanya ingin memperkenalkan saya pada keluarga kakak? Itu kan..


"Aku memang benar ingin memperkenalkanmu sama mereka, tapi aku juga ingin mempertegas hubungan kita, karena itu keseriusanku padamu."


Kinan menatap dalam diam Bian yang ada di depanya, ia bisa melihat raut keseriusan yang sedang diperlihatkan oleh Bian padanya. Membuatnya merasa takjub dan juga terharu. Meski rasa tak percaya menghantui pikiranya yang sedikit tak menyangka hubunganya bersama Bian akan terus melangkah jauh dan berjalan terlalu cepat.


"Apa yang harus kulakukan? Bukankah harusnya aku merasa bahagia karenanya?"

__ADS_1


__ADS_2