Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
47. Bian dan Kalung


__ADS_3

"Selamat pagi." Sapa Kinan pada rekan-rekanya dengan ramah, sesampainya ia di dalam hotel.


"Pagi." Balas lainya.


"Tadi anda datang kok pakai taksi, memangnya motornya masih belum bisa digunakan?" Tanya lainya yang melihat Kinan turun dari taksi.


"Ah, itu benar. kemarin sedikit mogok, jadi aku tinggal lagi deh." Jawab Kinan, tanpa memberitahu bahwa kemarin ditinggal karena diantar pulang oleh Bian.


"Astaga, habis ban motornya bocor sekarang mogok. Sepertinya harus ganti baru tuh." Celetuk lainya setengah menggoda.


Kinan tersenyum kikuk mendengarnya, mengingat motornya yang tidak kenapa-napa. Ia jadi sedikit merasa bersalah pada rekan-rekanya.


Maaf, aku tidak bisa bilang kalau sebenarnya motorku tidak kenapa-napa. Aku juga tidak bisa bilang kalau pak Bian kemarin mengantarku pulang, karena itu aku terpaksa berbohong pada kalian.


Dengan perasaan serba salah pada rekan-rekannya, Kinan mencoba memusatkan pada kesibukannya untuk mengurangi rasa bersalahnya pada mereka.


"Kamu benar-benar tidak merasa beralah ya sama mereka?" Celetuk seseorang yang kini telah berdiri disamping Kinan.


Dengan muka sedikit terkejut mendengarnya, Kinan menoleh pada sang pemilik suara, yaitu Shiva. "Apa maksud kamu?" Tanyanya bingung menatap Shiva.


Shiva mendecak tak percaya, "Entahlah, aku pikir harusnya kamu yang lebih tau dari aku." Sindirnya, lalu pergi begitu saja, meninggalkan kebingungan dan berbagai pertanyaan pada Kinan.


"Sebenarnya maksud dia apa, ya?" Ujar Kinan menatap bingung pada Shiva yang kini menjauh dari hadapanya. "Dia gak akan melakukan hal aneh-aneh lagi, kan?" Lanjutnya merasa sedikit khawatir.


...


Kinan mencoba menghampiri motornya yang sempat ia tinggal beberapa hari di dalam parkiran. Di tengah istirahatnya, ia mencoba meluangkan sedikit waktunya pada jam longgarnya.


Ia mencari keberadaan motornya begitu sampai ditempat parkiran, lalu coba menyalakannya setelah menemukanya. Terlihat menyala dan tak ada masalah pada motornya. Setelah ban motornya yang sempat bocor, bersyukurnya tidak ada kendala lain pada motornya, karena sebelumnya sudah diganti dengan baik oleh Dimas.


"Aku takut ada masalah lagi tadi, makanya aku coba cek. Karena beberapa hari ini aku tinggalkan begitu saja disini, takut tidak menyala atau ada masalah lain gitu." Ucapnya bersyukur melihat motornya masih bisa menyala dengan baik, dan juga tak terjadi masalah apapun yang berarti.


Ia berjalan keluar parkiran untuk kembali ke dalam hotel, namun sebelum itu ia hendak mencari keberadaan seseorang yang juga telah membantunya mengganti ban motornya selain Dimas, yaitu pak Hendra, salah satu security hotel yang beberapa hari lalu tidak bertugas saat hari dia masuk, karena itu Kinan ingin mencarinya untuk mengucapkan terimakasih padanya yang sempat tertunda.

__ADS_1


"Apa yang anda lakukan disini?" Tanya seseorang melihat Kinan tengah menghampiri Hendra, security yang membantu mengganti ban motornya.


Kinan terkejut melihat orang yang dikenalnya,"Ah pak Dimas, saya kesini mencari pak Hendra, ada yang ingin saya katakan pada beliau, soalnya kemarin kan saya belum sempat mengucapkan terimakasih pada beliau setelah membantu membenarkan motor saya." Balasnya membalas sapaan dari Dimas. "Lalu, anda sendiri sedang apa disini?" Tanya Kinan balik.


"Oh, tadi juga ada urusan sedikit sama pak Hendra, tapi sudah selesai, kalau begitu saya permisi duluan ya, soalnya masih ada kerjaan.." Balas Dimas, lalu pamit dari hadapan Kinan. Ia pergi dengan terburu-buru, seperti sedang dikejar sesuatu.


Kinan mengangguk, dan membalas sopan Dimas. Ia hanya bisa menatap kepergian Dimas yang terburu-buru karena sesuatu.


"Sepertinya beliau lagi sibuk." Ucapnnya. Ia lalu beralih mencari sosok yang membantu motornya kemarin. Kinan tampak lega setelah mengatakan apa yang ingin dilakukan sedari kemarin pada pak Hendra, raut wajahnya terlihat jelas penuh kelegaan dan bahagia.


"Tapi, motor anda kan sudah bisa dipakai, kenapa anda meninggalkanya lagi kemarin?" Tanya pak Hendra yang kebetulan melihat motor milik Kinan yang masih terparkir di parkiran.


"Ah itu.., kemarin.." Kinan ragu untuk kembali melanjutkan kalimatnya.


Aku jawab apa ya?


"Motornya kemarin sedikit tidak bisa dinyalakan, saya juga tidak tau kenapa, karena kemarin sudah terlalu malam juga kalau saya menuntunya, jadi saya tinggal saja." Jawab Kinan kemudian, dengan kikuk ia mencari alasan yang logis.


"Iya, tapi beruntungnya sekarang sudah bisa dinyalakan, setelah saya coba lagi tadi." Jelas Kinan tersenyum canggung pada pak Hendra, karena ia yang lagi-lagi harus berbohong.


"Wah, syukurlah kalau begitu." Pak Hendra ikut senang mendengarnya.


"Iya, saya juga merasa bersyukur. Kalau begitu saya tinggal ya pak, selamat bertugas kembali." Sambungnya pamit masuk kembali ke hotel.


Maaf pak, aku harus berbohong sama anda. Kalau aku jujur, pasti akan menimbulkan berbagai rumor nanti.


...


"Aku gak habis fikir ya sama kamu, bisa-bisanya berbohong begitu." Celetuk Shiva pada Kinan yang masuk ke toilet yang sama denganya.


"Sebenarnya kamu itu ada masalah apa sih sama aku? apa yang membuatmu sedari tadi kesal begini? dan, bagaimana aku bisa tau maksud kamu, kalau kamu sedari tadi hanya berbicara tidak jelas seperti ini.?" Luapan pertanya Kinan pada Shiva yang dirasa cukup menggangunya sedari tadi.


"Apa aku harus bilang soal itu?" Seringainya tak suka, "Kayanya gak perlu aku kasih tau, kamu juga akan tau maksudku deh, iya kan?" Lanjutnya menatap Kinan penuh ejekan.

__ADS_1


Kinan hanya diam menatap Shiva, ekspresinya terlihat tak perduli, dan pasrah pada sindiran Shiva yang dirasa tak penting itu.


"Dasar gak tau malu. Awas kamu ya.." Gumamnya kesal setelah melihat Kinan mengabaikanya dengan masuk ke dalam toilet. Iapun pergi dari sana dengan ekspresi kesal.


...


Tak ada waktu baginya untuk memikirkan masalah Shiva yang kesal padanya, Kinan memilih fokus pada pekerjaanya dengan menyibukan dirinya pada pekerjaanya. Saat ia tengah melakukan tugasnya, ia jadi tersadar bahwa hari ini tak melihat sosok Bian. Ia hanya melihat sosok Dimas tadi, dan tak menemukan sosok Bian hari ini, hingga waktu menjelang petang ini. Dan sayangnya lagi, hari ini ia tidak ada agenda untuk bertemu dengan Bian. Karena itu kesempatan untuk bertemu dengan Bian terlihat tak ada.


"Padahal aku mau mengembalikan kalungnya." Ucapnya sedikit menyayangkan. "Apa aku titipkan pada pak Dimas saja, ya?" Ucapnya tiba-tiba tersadar. "Benar, seperti itu saja." Sambungnya yang memutuskan untuk menitipkan kalungnya pada Dimas.


Namun, hingga pulangnya ia dari kerja, tak kunjung ia temukan sosok Dimas dimatanya. Setelah bertemu pada pos security, ia tak bisa menemukan kembali sosok Dimas.


"Sepertinya hari ini beliau sedang sibuk. Kalau begitu besok saja lha." Ujarnya mulai perlahan pulang, dan kembali membawa kalungnya.


"Kamu mau pulang?" Sapa Bian yang baru tiba dari sebuah perjalanan bersama Dimas.


Kinan nampak terkejut pada kehadiran tiba-tiba Bian dan Dimas, ketika ia yang hendak keluar hotel. Ia sampai terpaku melihatnya.


"Ah, iya pak. Anda habis dari perjalanan keluar?"


"Iya, hari ini ada meeting penting diluar." Jawab Bian. "Aku masuk dulu ke kamar." Ucapnya lagi, lalu mencoba pergi.


"Tunggu pak, itu.. ada yang mau saya sampaikan pada anda." Ucap Kinan mencegat langka Bian.


Bian dan Dimas menghentikan langkahnya, "Kepadaku?" Tanya Bian.


"Iya, itu.. saya mau memberikan soal kalungnya pada anda." Kata Kinan hendak mengeluarkan sesuatu dalam tasnya.


"Besok saja, hari ini aku sedikit capek." Balasnya dan memberikan sedikit gestur pada Dimas untuk segera pergi.


"Tap.., ah iya baiklah. Maaf sudah menghentikan langkah anda." Kinan merasa bingung karena Bian lagi-lagi menolak kalungnya.


"Kenapa beliau terus menolak kalungnya, ya?" Bingung Kinan menatap kepergian Bian.

__ADS_1


__ADS_2