
Begitu sulit untuk mengungangkapkan sebuah perasaan. Karena membutuhkan keberanian dan langkah yang besar untuk meyakinkan diri sendiri. Perasaan takut bertepuk sebelah tangan, takut ditolak sebelum memulai, suasana menjadi canggung satu sama lain, hingga hubungan menjadi jauh adalah hal paling buruk yang bisa saja terjadi.
Bagi Bian yang sudah pernah bertahan dalam waktu yang lama pada satu perasaannya dengan seorang perempuan yang dekat dengannya, membut ia sedikit takut akan terjadi pada dirinya lagi saat ini. Saat itu, ia cukup berharap banyak, namun nyatanya ia tak kunjung mendapatkan jawaban darinya.
Saat ia memilih untuk tetap bertahan terhadap perasaanyan pada perempuan yang ia sukai dengan mencoba untuk memahami keputusanya. Namun, hatinya tetap tak bisa tenang, karena tak adanya jawaban yang pasti untuk dirinya dari perempuan yang ia suka itu. Membuatnya berada dalam situasi yang serba sulit, mengingat hubungan keduanya yang sudah saling kenal dan dekat dari kecil.
Hal yang sama juga Bian rasakan saat ini. Ia cukup gelisah dan tak tenang dengan Kinan yang masih menggantungkan jawaban dari pernyataan sukanya. Yang ia butuhkan saat ini hanyalah kepastian, namun di sisi lain ia tak bisa memaksakan diri dan bersikap egois terhadap wanita yang ia suka.
Perasaan yang tak pernah ia rasakan pada Adel dulu, membuatnya terus penasaran akan Kinan, hingga begitu sulit untuk melepaskannya. Perasaan yang sama-sama tertarik pada keduanya, namun rasa yang dirasakan dalam hati terlihat berbeda antar keduanya.
"Aku memang tertarik padanya, tapi sebenarnya apa arti dari perasaanku ini?" Gumam Bian memikirkan perasaan berdebarnya ketika bersama Kinan.
Ia lalu menatap jam ditanganya, dan terlihat jarum jam telah menunjukkan waktu makan siang.
"Apa sekarang dia lagi makan siang, ya?" Ucapnya yang terus menatap jam di tanganya.
Tiba-tiba dia keluar dari kamarnya dengan langkah cepat, meninggalkan sejenak pekerjaanya yang terlihat masih menumpuk itu.
"Oh, anda mau kemana?" Tanya Dimas ketika tak sengaja berpapasan dengan Bian ketika ia yang hendak menuju ke kamar Bian.
"Aku mau makan siang, kamu sudah makan siang belum?" Tanya Bian balik.
"Be-belum." Jawab Dimas, namun ekspresinya sedikit keheranan dengan Bian yang hendak mencari makan, karena biasanya makan siangnya selalu di antar ke kamarnya langsung.
"Yasudah ayo makan dulu, ikut bersamaku saja." Ajak Bian yang kemudian melangkah terlebih dahulu.
"Eh, ini kan bukan arah restaurant?" Batin Dimas yang sedikit terkejut ketika Bian berputar ke arah yang berbeda.
__ADS_1
Dimas semakin terkejut ketika yang mereka tuju saat ini adalah kantin para karyawan. Meski memasang wajah yang kebingungan, ia bersama Bian tetap masuk ke dalam kantin.
Mungkin bukan hanya Dimas yang merasakan kaget, kekagetan juga dirasakan oleh para karyawan yang tengah menikmati makan siang mereka. Mereka terlihat terkejut ketika melihat atasanya berada di kantin mereka. Suara bisik-bisik terdengar jelas dari mereka, bahkan di saat bersamaan merasa canggung dan tak nyaman makan dihadapan Bian, meski orang yang membuat mereka tak nyaman terlihat cuek dan tak perduli.
"Apa kamu pernah makan disini sebelumnya?" Tanya Bian pada Dimas.
"Pernah pak, saya dua kali makan disini." Jawab Dimas.
"Kalau begitu gimana caranya kita bisa makan?." Tanya Bian yang sedikit bingung saat sudah masuk kedalam, mengingat ini pertama kalinya ia makam di kantin.
"I-itu, kita harus mengantri terlebih dahulu." Jelas Dimas sambil menunjuk ke arah makananya.
"Yasudah, ayo mengantri kalau begitu." Ucap Bian cuek dan berjalan ke arah makanan.
"Itu, biar saya ambilkan makanannya buat anda, jadi anda bisa duduk." Kata Dimas mengusulkan.
"Apa anda benar ingin makan disini, pak?" Tanya Dimas saat mengambil makananya bersama Bian.
"Benar dong, terus buat apa aku mengantri seperti ini?" Dengan tenang Bian mengambil beberapa makanan dan ia taruh dalam nampannya
"Kenapa? Apa aku tidak boleh makan disini?" Tengok Bian ke arah Dimas yang jadi diam.
"Ah, bukan. Maksud saya, anda kan tidak pernah makan disini sebelumnya." Jawab Dimas.
"Semua makanan juga sama aja, jadi sekali-kali aku ingin berbaur dengan karyawanku." Ucap Bian dengan tenang.
Meski masih heran dan tak biasa, Dimas tak bisa membantah, ia mengikuti kemauan Bian yang merupakan atasanya. Di samping itu, terlihat Bian tengah celingukan mencari sosok yang sedang di carinya sedari tadi.
__ADS_1
"Kok gak ada, ya? Apa dia gak makan hari ini?" Gumamnya yang tak melihat sosok yang tengah di cari.
Sambil membawa makanan yang sedang ia bawa, Bian tak hentinya mencari orang tersebut di tengah kumpulan orang yang tengah makan dikantin. Bola matanya tiba-tiba menangkap sosok yang tengah ia cari sedari tadi dan terlihat baru masuk bersama dengan dua orang rekannya. Melihat sosoknya yang tengah berjalan membuat Bian menyunggingkan senyumannya.
"Pak." Panggil Dimas pada Bian yang tengah berdiri melamun.
"Kita duduk disebelah sana saja." Ucap Bian merujuk arah duduknya dan berjalan terlebih dahulu, dan langsung di ikuti oleh Dimas yang dibelakangnya tanpa penolakan.
...
Saat Bian dan Dimas hendak duduk bersama dengan makanan yang sedang ia bawa, terdengar bisik-bisik dan pandangan heran tentang dirinya yang hendak makan dikantin mereka. Tampaknya mereka semua masih tak menyangka bahwa Bian akan makan dikantin mereka. Saat semua telah menyadari keberadaan Bian, lainya halnya dengan Kinan dan dua rekanya yang baru masuk ke kantin, mereka terlihat kebingungan dengan apa yang sedang dibicarakan oleh para rekan-rekanya.
"Kok, aku merasa mereka aneh ya hari ini?" Ucap Kinan mengomentari sikap rekan-rekanya.
"Iya, ya. Aku juga merasa aneh lho, gak biasanya mereka bersikap seperti ini." Timpal Aura, rekan Kinan yang ikut merasa heran.
"Eh, sadar gak sih kalau ekspresi wajah mereka itu terlihat canggung dan tak nyaman gitu?" Sambung Ayu, rekan Kinan yang juga merasa aneh.
Saat ketiganya merasa bingung, datang Bian bersama Dimas dengan membawa nampan makananya tengah duduk disamping meja mereka.
Rekan Kinan yang bernama Aura, yang telah menyadari keberadaan Bian cukup dibuat terkejut ketika melihatnya. Ia sedikit terpaku, lalu mencoba memberikan kode pada Kinan yang duduk di depanya dan pada Ayu yang tengah duduk disamping dirinya.
Kinan dan Ayu menoleh ke arah yang dimaksud oleh Aura. Keduanya terkejut begitu melihatnya langsung, terlebih pada Kinan yang duduk tepat disamping Bian dengan jarak mereka yang cukup dekat.
Saat ia menoleh ke arah Bian berada, terlihat Bian yang tengah tersenyum menatap ke arah dirinya
"Kenapa beliau ada disini?" Batin Kinan merasa bingung, namun juga canggung.
__ADS_1