
Saat berusaha untuk melupakan wajahnya, ingatan tentang dia akan terus muncul dengan sendirinya, seperti sebuah mantra yang sudah menyihir dirinya. Mantra itu, kini telah menganggu kehidupan dan perasaan pemiliknya.
Mencoba terus berlari dari ingatan akan dirinnya, hingga mencoba memberikan jarak dan sekat, namun lagi-lagi tidak berhasil dilakukan olehnya yang kini terlihat gundah. Meski terus mendorongnya, namun wajah yang hendak dilupakannya itu terus saja muncul dalam pikiranya, bagai sebuah sihir yang telah menyihir pikirannya.
Langkah yang ia lakukan, jalan yang ia lalui dan tempat yang ia singgahi, terus saja berputar wajah laki-laki yang segera ingin ia lupakan itu. Kini, ia dalam pergolakkan hati yang cukup memberatkan hati, pikiran dan juga perasaanya.
"Apa yang harus aku lakukan?"
Kinan cukup dilema dengan kondisi dirinya yang kini dalam suasana hati yang tidak biasa. Sangat tidak biasa hingga membuatnya terus merasa gelisah.
"Sepertinya aku memang gila." Ucapnya mencoba menyadarkan dirinya sendiri yang terus saja kepikiran soal Bian.
Seperti ada bagian yang kosong, hingga begitu terasa kehilangan akan posisinya yang biasa terlihat di depan mata. Ia terus bertanya, dan terus saja bertanya pada dirinya sendiri, tentang perasaan yang terlihat tidak biasa bagi dirinya sendiri.
"Sebenarnya perasaan apa yang ku rasakan ini?" Kinan kembali dalam rasa kebimbangannya akan perasaanya sendiri.
...
Berada di tempat yang berbeda, terlihat Bian yang kini sudah berada dalam apartemen miliknya setelah bertemu dengan sahabatnya, Adnan. Meski sudah menceritakan kegundahan hatinya pada Adnan, namun ia masih saja membuat ekspresi murung dan tak bersemangat.
Berdiri menatap pada jendela apartemennya, dengan tatapan kosong dan pikiran yang menyebar luas dalam kepalanya, Bian seolah terhanyut dalam dunianya sendiri. Dalam hari yang semakin malam dan kesunyian yang menyambut dirinya, ia jadi teringat kembali pada pertemuannya bersama keluarganya lalu. Memikirkan kembali permintaan papanya yang terasa berat ia lakukan, mengingat persaanya pada Kinan, yang hingga kini masih belum ada kejelasan pastinya.
"Padahal aku nggak pernah galau seperti ini." Gumamnya yang masih berdiri menatap keluar jendela apartemennya.
Ingatanya beralih pada pertemuanya bersama Adnan tadi. Obrolan yang ia lakukan dengan sahabatnya setelah lama tidak bertemu, membuatnya merasa bahagia dan sedikit bernostalgia. Kenyamanannya itu akhirnya membuatnya membicarakan kegundahan hati yang sedang ia alami. Pada permintaan papanya yang tiba-tiba menyuruh dirinya balik lagi ke kantor pusat, juga pada kegalauan dirinya dengan perempuan yang ia suka. Ada kelegaan karena sudah mengatakannya pada sahabatnya itu, namun Bian terlihat masih belum puas, seperti ada sesuatu yang tertinggal dari hatinya.
"Kita bicara banyak hal tadi, tapi aku seperti lupa sesuatu?" Fikirnya mencoba mengingat-ingat sesuatu yang dia lupakan.
Pandangannya langsung teralihkan oleh suara ponsel miliknya yang tiba-tiba berdering. Ia mencoba berjalan menghampiri ponsel miliknya yang berada di atas meja. Ada nama Adel yang tertera dalam layar ponsel yang sedang berdering itu. Bian mengambil dan mulai menjawab suara telfonnya.
"Halo."
"Wah kamu jahat banget, ya! Pulang tapi nggak bilang-bilang dulu sama aku." Protes Adel begitu Bian mengangkat telfon darinya, tanpa menjawab dulu sapaan dari Bian.
__ADS_1
Sekarang aku ingat, aku lupa soal bilang ini pada Adnan, untuk jangan bilang dulu pada Adel kalau aku sedang ada dirumah.
Bian mengingat hal yang ia lupakan setelah mendapat telfon dari Adel dan yang bisa ia lakukan saat ini hanya bisa memasang ekspresi wajah menyesal.
"Ah, maaf. Soalnya aku juga baru sampai dirumah, dan belum ada kesempatan bilang sama kamu." Ucap Bian mencoba memberi alasan.
"Hemm.. yaudah deh, aku maafin." Adel yang sempat protes, kini lebih tenang dan tak mempermasalahkan lagi. "Oh iya, berapa lama kamu bakal disini?"
"Aku masih belum tau, soalnya masih ada hal yang harus aku urus disini." Balas Bian.
"Wah, kalau begitu kamu tidak usah kembali dulu saja ke jogja, gimana? soalnya kan aku mau ulang tahun, jadi kamu tidak perlu bolak balik lagi. Lagi pula cuma 1 hari kok acaranya?"
"Entahlah, mungkin nanti akan aku pikirkan dulu."
"Apa nih, kamu nggak lupa sama yang aku bilang untuk datang ke acara ulang tahunku, kan?" Selidik Adel yang sedikit memberikan peringatan pada Bian yang terlihat melupakan acara ulang tahunya.
"Kamu tenang aja, aku tetap bakal datang kok meski nanti sudah kembali ke jogja." Ucap Bian yang kembali menenangkan Adel.
Bian tersenyum mendengar Adel yang tak lagi ngambek dan meragukan dirinya.
"Oh iya, kamu dengar ini dari Adnan, ya? Soal aku yang pulang hari ini?" Tanyanya kemudian.
"Iya, meski sebenarnya tidak sengaja juga.Soalnya tadi aku lagi menelfon Adnan, aku tanya dia dari mana, dan dia bilang habis ketemu sama kamu. Makanya sekarang aku menelfon kamu, deh buat mastiin." Jelas Adel.
"Oh gitu."
Dasar itu anak, nggak bisa banget kalau nggak jujur sama Adel.
Bicara dalam hatinya yang teringat pada Adnan yang membicarakan kepulanganya pada Adel. Sikap yang juga selalu ia lakukan setiap kali berbicara denga Adel. Seolah mendapat sihir kejujuran dari Adel, membuat dirinya maupun Adnan jadi tidak bisa berbicara bohong pada Adel dan mengatakan apapun yang Adel tanyakan. Bian tersenyum simpul begitu mengingat sikap dirinya dan Adnan.
Benar, beginilah perasaan yang dulu aku anggap sebagai rasa suka terhadap lawan jenis.
"Bi, kamu besok sibuk nggak?"
__ADS_1
"Kenapa memangnya?"
"Ayo bantuin aku belanja kebutuhan pesta ulang tahunku nanti?"
"...."
Bian yang biasa mengiyakan ajakan Adel, terlihat ragu ketika hendak menjawabnya.
"Kok diam, bi? Kamu nggak bisa, ya?"
"I-itu.., emm.. oke." Bian yang sempat bingung, mengiyakan ajakan Adel, meski hatinya terasa berat.
"Yeay, beneran, ya?" Adel terlihat cukup senang mendengar jawaban dari Bian.
"Iya."
"Oke deh, sampai ketemu besok, ya? Bye.." Adel pun menutup telfonya.
Bian duduk tak semangat di atas ranjang miliknya begitu telfon dari Adel terputus. Melemparkan segera tubuhnya pada kasur yang tengah ia duduki itu. Ekspresinya kembali murung, dengan pikiran yang masih terus mengganggu dirinya. Terlebih pada janji yang sudah terlanjur ia buat pada Adel.
"Apa tadi harusnya ku tolak saja, ya?"
Helaan nafas panjangnya seolah pengobat dirinya yang tidak bisa menolak ajakan dari Adel tadi.
"Dia lagi apa, ya sekarang?" Kali ini, ia jadi teringat pada Kinan yang berada jauh dari pandanganya.
......................
Katanya, saat orang merasakan jatuh cinta, akan sulit untuk melupakan wajahnya. Bayangan akan orang yang dicinta terus saja mengahantui hati dan perasaan, hingga sulit untuk sekedar memejamkan mata. Dua hati yang sedang di mabuk asmara, tanpa mereka sadari telah saling terikat satu sama lain.
"Aku apa..?" Kinan yang berada dalam kosan mungilnya saat ini dibuat terkejut dengan novel yang ia baca, hingga tanpa sadar melemparkannya begitu saja.
Matanya terbelak, hatinya berdetak kencang hingga tubuhnya yang mulai bergetar.
__ADS_1