
Masih memakai jas yang sama seperti saat kedatanganya, Bian menepati janjinya untuk mengantar Kinan untuk pulang. Tidak menggunakan mobil miliknya yang seperti biasanya, namun ia dan Kinan memilih menggunakan taksi untuk pergi bersama dengan Kinan yang harus meninggalkan motor miliknya di dalam hotel.
"Maaf ya, sebenarnya tadi aku mau mengantarmu pulang dengan mobil, tapi kuncinya aku lupa menaruhnya dimana, terlebih aku juga lagi malas menyetir mobil." Ujar Bian yang sedikit merasa bersalah.
"Gapapa kok, pak, saya tidak merasa keberatan. Tapi, harusnya tadi anda tidak usah mengantar saya, karena anda pasti masih capek sekarang." Balas Kinan yang tak keberatan dan sedikit merasa bersalah juga, pada Bian yang harus mengantarkannya pulang hari ini.
"Tidak apa, karena tenagaku sudah terisi penuh sekarang." Ucapnya menoleh ke arah Kinan yang duduk disampingnya. Ia memberikan senyuman manisnya pada Kinan yang sedang menghawatirkan kondisinya yang bahkan belum sempat mengganti pakaian semenjak datang.
Melihat sikap Bian yang seperti ini, lagi-lagi membuat Kinan tersenyum kikuk, karena perlakuan manis yang ditujukan Bian padanya masih terasa canggung bagi dirinya. Mengingat hal ini adalah yang pertama kali bagi dirinya dalam merasakan perlakuan seperti ini.
"Besok pagi kemungkinan aku bakal kembali lagi ke kantor pusat." Ucap Bian diselang perjalanan mereka.
Kinan yang duduk disamping Bian menoleh kembali pada Bian yang duduk disampingnya.
"Besok anda akan langsung berangkat lagi?" Ucap Kinan mencoba mengulang kalimat Bian dengan sedikit meminta kejelasan dari apa yang ia dengar tadi.
"Iya, maaf ya karena aku yang harus langsung balik besok." Ujar Bian yang juga merasa sedikit sayang.
"Tidak apa, kok pak, saya mengerti. Lagi pula anda juga datang kesini dengan tiba-tiba, jadi saya bisa mengerti kalau anda harus langsung pergi lagi." Ujar Kinan yang tak terlihat keberatan dengan hal itu.
"Kenapa kamu tidak mencegahku pergi? Padahal tadi aku sedikit berharap kamu menahanku lho!" Ujar Bian yang sedikit berharap, dan harapannya itu membuat Kinan merasa kikuk dan canggung disaat bersamaan.
"Karena saya tau kalau anda memang sedang sibuk, karena itu saya tidak mencoba untuk mencegah anda untuk pergi. Saya.. juga tidak ingin mengganggu anda yang memang lagi sibuk." Balas Kinan sedikit hati-hati.
"Meski kita harus berpisah begini? Kamu yakin tidak masalah soal itu?" Bian mencoba meminta pendapat dari Kinan atas kepergiannya besok pagi.
"Saya hanya tidak ingin mencampurkan masalah pribadi dengan pekerjaan." Sempat terdiam sebentar, Kinan membalas ucapan Bian dengan menatap wajahnya ragu.
Bian menyunggingkan senyum tipisnya, tak lagi bisa membantah ucapan Kinan dan terlihat menghargai pendapatnya yang memang sedikit ada benarnya.
__ADS_1
"Baiklah, kamu memang benar soal itu. Karena kita memang tidak perlu terlalu terburu-buru begini. Toh, ini baru hari pertama kita jadian, kan?" Ucap Bian kembali memberikan senyum manisnya, pada Kinan yang kini berdiri di depan kosan miliknya.
Setelah perjalanan pulang yang telah menempuh jarak yang lumayan memakan waktu, namun dengan obrolan ringan yang mereka lakukan, membuat suasana lebih hidup hingga tak terasa telah sampai di depan kosan milik Kinan. Keduanya pun kini telah turun dari taksi yang mereka tumpangi dan sekarang tengah berdiri di depan kosan milik Kinan.
Kinan yang sekarang berdiri berhadapan dengan Bian, memberikan ekspresi yang cukup canggung dan sedikit belum terbiasa ketika Bian mengatakan status hubungan mereka yang sekarang telah berubah.
"Masuklah, sudah malam juga." Pinta Bian, pada Kinan yang ia antar pulang.
"Iya, terimakasih pak, karena sudah mengantar saya pulang hari ini." Balas Kinan dan hendak masuk kedalam kosan miliknya.
"Sebenarnya aku dari tadi sedikit terganggu dengan panggilan itu." Ujar Bian yang menghentikan langkah Kinan yang hendak melangkah masuk kedalam kosan miliknya.
"...."
Tatapan bingung diperlihatkan oleh Kinan ketika kembali menatap ke arah Bian.
"Aku memang atasanmu, tapi kamu tau kalau kita tidak lagi dikantor, kan?" Ucap Bian.
"Karena itu, berhenti bersikap formal padaku, terlebih panggilan yang terlihat kaku itu."
Meski mengerti maksud Bian, namun Kinan masih agak malu dan canggung untuk mengucapkannya secara langsung dan hanya bisa mengangguk kecil.
"Saat kita bertemu kembali, aku ingin mendengar kamu memanggilku kakak seperti dulu lagi, bisa kan?" Pinta Bian yang sedikit berharap.
Kinan menatap canggung Bian yang tengah menatapnya penuh harap.
"Baik, akan saya lakukan." Jawab Kinan kemudian.
"Sekarang juga gapapa lho." Ujar Bian sedikit bercanda dan Kinan yang tiba-tiba jadi gugup karena itu.
__ADS_1
"Kak Bian."
Kali ini Bian dibuat terdiam oleh panggilan yang dilakukan oleh Kinan padanya. Tubuhnya tiba-tiba saja jadi membeku karena panggilan itu.
"Kamu benar-benar selalu membuatku speechless ya?" Ujar Bian yang benar-benar sudah dibuat terpaku oleh sikap Kinan yang selalu mengejutkannya.
"Masuklah, kalau kamu masih ada disini juga, nanti aku benar-benar jadi tidak bisa melepaskanmu pergi." Ucap Bian yang ingin Kinan segera masuk kedalam kosan.
"Saya masuk dulu, pak.., maksudku kak Bian." Pamit Kinan pada Bian yang hampir saja terus menahan Kinan karena panggilan itu.
"Iya, masuklah, aku juga sebentar lagi mau pergi setelah kamu masuk kedalam."
Dan, Kinan pun masuk kedalam kosan miliknya, dengan Bian yang terus menatapnya hingga tak terlihat lagi keberadaanya di depan matanya.
"Bagaimana ini, aku benar-benar bahagia, hingga sulit menahan perasaan ini." Bian menunduk lemas begitu Kinan pergi dari pandanganya. Reaksi yang ia tahan sedari tadi di depan Kinan, kini terlihat tak lagi bisa ia bendung.
......................
Perasaan itu kini telah saling terikat satu sama lain, dengan adanya ikatan itu membuat sang pemilik hati merasa bahagia hingga terus merasakan debaran dada yang tak karuan.
Status hubungan yang kini telah berubah, dengan kisah asmara yang baru saja mereka mulai, adalah salah satu perjalanan bagi hubungan Bian dan Kinan yang saat ini telah memiliki perasaan satu sama lain. Telah terlepas dari keraguan-keraguan yang ada, kini keduanya memilih jujur pada perasaan masing-masing dan memilih untuk menghadapi keraguan dan ketakutan itu bersama-sama.
Dan hari ini, keduanya telah mengikatkan diri pada status yang lebih jelas dengan memilih untuk berpacaran, sebagai langkah awal bagi mereka untuk menjadi lebih dekat lagi kedepannya.
....
"Aku nggak bisa tidur." Kinan terus membolak balikan tubuhnya karena terus kepikiran soal status hubunganya dengan Bian yang saat ini telah berubah menjadi kekasihnya.
Bian yang berada ditempat yang berbeda, mengalami hal yang serupa dengan yang Kinan alami, ia terlihat tak bisa tidur karena terlalu senang dengan perasaanya yang kini terbalaskan.
__ADS_1
"Jadi seperti ini ya rasanya perasaan kita yang akhirnya terbalaskan?" Gumamnya merasa senang sembari memegangi dadanya yang berdetak tak karuan karena perasaan senangnya.