
Kantung mata hitamnya terlihat jelas di bawah matanya. Sedikit cekung & menghitam akibat bergadang semalaman. Entah mengapa tadi malam membuat Bian tak bisa tidur nyenyak, dan berakhir bergadang hingga pagi.
Saat matahari telah menampakkan dirinya, hal yang ia rasakan pertama ketika bangun dari tidurnya adalah rasa pusing di kepala akibat tak bisa tidur dengan nyenyaknya.
"Sial, kepalaku pusing banget." Umpatnya kesal sembari memegang kepalanya.
Bian terduduk lemas menatap ke arah jendela kamarnya yang sudah mulai terlihat cahaya-cahaya kecil yang masuk pada sela-sela kelambu kamarnya. Cahaya matahari yang mulai memberikan sinarnya di pagi hari.
Dengan setengah tak bersemangat dan tak bertenaga, Bian mulai bangkit dari ranjangnya meski sejatinya ia enggan untuk melakukanya, karena tiba-tiba saja moodnya buruk akibat tak bisa tidur semalaman.
Meski terlihat enggan, tugas yang ada di depan matanya telah menantinya sedari tadi.Beberapa tumpukan laporan dan berkas-berkas yang belum dibaca masih banyak dan telah menunggunya sedari tadi. Meski tak dalam kondisi baik, dia tetap harus menjalankan kewajibanya yang melelahkan itu.
"Aku tidak bertenaga..." Gumamnya lemas sembari berjalan ke arah kamar mandi.
...
Aktivitasnya hanya seputar hotel dan berada selalu di hotel, meski terkadang keluar untuk bertemu klien atau rekan kerja, namun nampaknya tak ada istirahat baginya, bahkan akan semakin sibuk jika menjelang hari-hari spesial, seperti hari liburan atau perayaan keagamaan.
Sebagai orang yang bertugas mengembangkan hotel, hari-hari Bian semakin sibuk bahkan sekedar untuk menjawab telfon dari Adel saja sekarang ia sedikit sulit.
Hari ini, bahkan sudah 3 kali Adel memanggilnya, padahal hari masih pagi.
"Kenapa dia jadi sering menelfonku, ya?" Ucapnya merasa bingung dengan sikap Adel padanya akhir-akhir ini. "Kalau sekhawatir ini, harusnya kemarin terima saja kenapa musti ditunda?" Lanjutnya dengan ekspresi bingung pada ekspresinya.
Menjatuhkan tubuhnya pada kursi yang sedang di dudukinya saat ini, lalu menatap lurus pada langit-langit dengan banyak pikiran. Karena merasa sesak dan sedikit gerah, ia coba longgarkan sedikit dasinya, dan kembali berkutat pada pekerjaan di depanya yang masih dipenuhi banyak kertas-kertas laporan.
"Jam berapa sekarang?" Ucapnya menatap jam ditanganya, yang telah menunjukkan pukul 11 siang.
Masih dalam posisi duduk, Bian mencoba merenggangkan tubuhnya yang sedikit pegal karena duduk terlalu lama. Suara ketukan dari luar membuat Bian mengalihkan pandanganya pada pintu di depanya. Terlihatlah Dimas yang masuk dengan membawa sebuah laporan baru ditanganya.
"Kamu membawa kerjaan baru?" Tanyanya dengan wajah mengernyit tak suka, pada Dimas yang masuk ke dalam dan tengah menghadap di hadapanya.
"Maaf, saya membawa laporan yang harus segera anda tanda tangani sekarang." Kata Dimas menyerahkan laporanya.
__ADS_1
Dengan malas dan tak bersemangat, karena mendapat tugas baru, Bian mau tidak mau akhirnya menerima laporan dari Dimas.
"Oh iya, kemarin kamu bawa laporan soal rumah yang aku minta sebelumnya, kan? batalkan saja, aku tinggal disini saja." Sambung Bian, sambil membaca laporan dari Dimas tadi.
Merasa tak ada sahutan, Bian menatap kembali ke arah Dimas, "Kenapa? apa kamu sudah menemukan rumahnya?" Tanya Bian lagi, yang tak mendengar jawaban Dimas.
"Maaf pak, baik akan segera saya batalkan." Jawab Dimas kemudian yang sebelumnya sempat kaget. Beruntungnya dia belum membuat janji dan hanya sekedar mensurvei saja.
"Baguslah, tapi.. kenapa kamu tidak tinggal di hotel? kamu tinggal dimana sekarang?" Tanyanya lagi sambil nenandatangani laporan.
"Saya kurang nyaman tinggal di hotel, karena itu saya memilih tinggal dirumah kenalan saya."
"Kamu punya kenalan disini?" Tanya Bian menatap Dimas tak percaya.
"Iya, hanya kenalan yang sudah lama tak bertemu."
Bian mengangguk mengerti, iapun kembali pada laporan di depanya yang harus segera dia tanda tangani. Namun, ketika hendak memakai kembali bulpen yang dipegangnya, tiba-tiba saja bulpen miliknya macet dan tak bisa digunakan.
Mencoba mencari disekelilingnya untuk mencari bulpen yang lain, namun tak kunjung ia temukan.
"Ah, aku mencari bulpen baru, bulpen yang lagi aku gunakan tiba-tiba macet, aku sudah mencari disini kok tidak ada, apa kamu punya?.." Balas Bian memperlihatkan bulpenya yang macet.
"Oh saya punya, pakai milik saya saja." Kata Dimas menyerahkan bulpen miliknya, yang kebetulan ia bawa dan taruh pada saku jas miliknya.
Bian dengan senang hati menerimanya, dan hendak kembali menandatangani laporan tersebut, namun tiba-tiba dia merasa terpesona dengan bulpen milik Dimas, karena desainya yang bagus.
"Bulpenmu bagus juga, pintar juga kamu milihnya." Puji Bian kemudian, pada bulpen berwarna hitam dengan garis-garis emas disampingnya.
"Ah.. itu bukan saya yang memilih, saya hanya dapat dari seseorang." Jawab Dimas agak malu-malu.
Bian tersenyum menatap ekspresi malu-malu dari Dimas. "Apanih? jangan-jangan dari pacarmu lagi? duh, aku jadi merasa bersalah memakainya.." Celetuk Bian setengah menggoda.
"Bukan kok," Sanggah Dimas dengan cepat, "Itu.. sebenarnya saya dapat dari manajer Kinan." Lanjutnya.
__ADS_1
Tuk, sebuah goresan kecil terlihat pada lembar kertas yang tengah ditandatangani oleh Bian. Dia sedikit terkejut setelah nama Kinan keluar dari mulut Dimas.
"Kamu dapat darimana bulpen ini?" Tanyanya memastikan apa yang di dengarnya tadi.
"Dari manajer Kinan." Jawab Dimas.
Bian menutup laporanya dan menyerahkannya pada Dinas yang kebetulan telah selesai dia tanda tangani.
"Kamu dekat ya sama manjer Kinan?" Kata Bian pada Dimas sembari mengembalikkan laporanya, namun menahan bulpenya.
Dimas sedikit terkejut, melihat ekspresi kesal Bian dengan kata yang penuh penekanan. Meski ada sedikit senyuman, namun ia bisa melihat kalau Bian sedang menahan ekspresi kesalnya.
Ekspresi beliau selalu kesal, setiap aku bicara soal manajer? kemarin juga begitu? apa cuma perasaanku ya?..
Dimas hanya bisa membatin heran dengan sikap kesal Bian.
Bukanya beliau beberapa hari yang lalu masih mencari soal manajer itu? kenapa sekarang jadi tiba-tiba merasa kesal ya?..
Dimas mengira bahwa Bian kesal pada Kinan, mengingat setiap kali dia membahas soal Kinana, Bian selalu memasang wajah kesal.
"Tidak, saya hanya beberapa kali pernah bertemu denganya. Bulpen itu saya dapat sebagai hadiah karena sudah mengganti ban motor dan mengantarnya pulang kemarin. Itupun saya terima karena dia bersikukuh, makanya saya terima untuk menghargainya." Jelas Dimas kemudian.
Tak ada jawaban, Bian hanya membolak-balikkan bulpen milik Dimas yang merupakan hadiah dari Kinan.
"Apa kamu masih butuh bulpen ini?" Tanya Bian
"Maaf?," Jawab Dimas sedikit tak faham.
"Maksudku, apa kamu tidak keberatan kalau aku pakai, karena aku lagi kehabisan bulpen sekarang." Sambung Bian.
"Ah iya, saya tidak keberatan. Anda pakai saja, jika memang memerlukan bulpenya." Balas Dimas yang tak bisa menolak permintaan Bian.
Ada sunggingan kecil disudut bibir Bian. "Yasudah, kamu boleh keluar kalau sudah selesai. Apa kamu masih ada perlu denganku?" Ucapnya pada Dimas.
__ADS_1
"Ah tidak pak, kalau begitu saya permisi keluar dulu." Jawab Dimas lalu pamit mundur dari hadapan Bian.
Wajah beliau terlihat senang setelah menerima bulpenya, atau apa aku salah lihat ya?"...