Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
67. Kedewasaan


__ADS_3

Setelah melepas kepergian Adnan, baik Bian maupun Adel kembali melangkah ke kamar mereka masing-masing.


"Setiap hari apa kamu selalu ada dikamar aja, nih?" Tanya Adel sembari jalan menuju kamarnya bersama Bian yang menemani disampingnya.


"Iya, karena kan memang kamarku saat ini, selain sebagai kantor juga bisa buat rumah juga." Jawab Bian.


"Pasti boring tuh. Apa kamu di kanada dulu juga sama kaya disini?, Berdiam dikamar seharian dan jarang keluar kemana-mana gitu?"


"Yah begitulah, baik di kanada maupun di jogja, tak ada satupun yang ku kenal. Jadi, aku lebih banyak menghabiskan waktu di kamar atau apartmenku."


"Kamu benar-benar maniak kerja ya? Masa selama 2 tahun di kanada, cuma dirumah aja." Adel merasa tak percaya setelah Bian menjelaskan soal kehidupannya selama di kanada dulu.


"Ya.. kadang keluar sesekali, cuma karena gak banyak yang dikenal disana, jadi malas keluar kalau gak benar-benar penting, karena itu aku jadi lebih banyak menghabiskan waktu dikamar atau apartmenku." Balas Bian.


"Yah, gak seru banget sih kamu. Tau gitu aku samperin aja kamu dulu, atau aku culik saja sekalian, biar kamu gak kerja mulu, dan yang paling terpenting kita bisa main bareng terus." Timpal Adel dengan sedikit candaan.


"Wah, harusnya begitu saja." Balas Bian menimpali candaan Adel dengan senyuman.


"Aku terlalu penurut sih sama orang tua, jadi maaf ya kalau harus nunggu lama buat ketemu lagi." Ucapnya lagi merasa menyesal.


"Udah terlanjur juga, lagian papamu juga terlalu ketat banget sama kamu, hingga kita sulit banget ketemuan waktu itu, dan saat itu, aku juga lagi sibuk-sibuknya setelah lulus kuliah. Kadang aku sendiri tidak tahu dalam 2 tahun terakhir ini apa yang selama ini kita cari sebenarnya?"


"Benar juga, mungkin kita hanya mengelak, dengan mencari alasan sibuk sebagai tamengnya." Timpal Bian yang seolah setuju dengan perkataan Adel.


"Benar, kita hanya mengelak dan menyangkal semuanya, hingga tanpa sadar bahwa kita lah yang sebenarnya saling menyakiti dan menjauhi satu sama lain." Sambung Adel seolah terhanyut dalam penyesalan.


"Kita belum dewasa saat itu, dan mungkin sekarang kita ada di tahap sedang memperbaiki diri, karena akupun berfikir demikian."


"Begitukah? Mungkin kamu benar, dulu aku memang belum dewasa, karena itu aku membiarkanmu menunggu dalam ketidakpastian, bahkan sampai sekarang aku masih melakukannya. Apa aku benar-benar tidak sedewasa itu, ya?." Ucapnya menatap ke arah Bian yang berada disampingnya.


Hingga keheningan melanda keduanya.Ekspresi Bian pun berubah menjadi tegang, setelah mendengar pertanyaan dari Adel, dan entah mengapa ia menjadi gugup ketika Adel membahas lagi soal ungkapan perasaanya dulu. Dalam perjalananya mengantar Adel ke kamarnya, Bian menjadi menghentikan langkahnya karena perkataan itu.

__ADS_1


"Bi," Panggil Adel pada Bian yang masih diam.


"Ah, iya. Maaf, aku tadi tengah memikirkan perkataanmu."


Apa sekarang dia akan meminta ungkapan perasaan dariku lagi? atau malah dia akan menjawab perasaanku?


Bian jadi merasa dilema sendiri ketika pembahasan ini muncul, benar-benar diluar prediksinya, terlebih dia yang sekarang merasa sedikit bimbang akan itu.


"Aku juga belum dewasa kok, kadang aku juga masih membuat keputas yang terburu-buru, kamu tidak salah, Del, jadi jangan merasa khawatir, kan aku sudah bilang tidak apa-apa." Balas Bian yang kini bisa mengontrol ekspresinya kembali.


"Aku benar-benar tidak ingin kehilangan hubungan bersama kalian, jadi bisa kamu lupakan hal yang lalu, dan kita sambut hal baru dia antara aku, kamu dan juga Adnan?" Ucap Adel yang kemudian memeluk Bian.


Melupakan?


Bian terpaku, namun kemudian ia mencoba tersenyum menanggapi hal itu.


"Padahal aku tadi sempat merasa khawatir dengan perasaan tak pastiku. Apa sekarang aku jadi merasa sia-sia, ya?" Batinya.


"Oh iya, bulan depan ulang tahunku di rayakan di rumahku, apa nanti kamu akan datang ke rumah?" Kata Adel yang kemudian melepaskan pelukanya.


Dia tak memberiku kesempatan untuk menjawab?


"Ulang tahun, ya? Baiklah, nanti aku akan datang."Jawab Bian tak lagi mempermasalahkan.


"Ok, aku akan tunggu. Jangan lupa datang, lho ya. Aku akan ngambek kalau kamu tidak jadi datang nanti. Hadiahnya juga jangan lupa, lho." Ujar Adel dengan sedikit candaan.


"Ok, siap. Aku gak akan lupa, kok. Hadiahnya juga akan segera aku siapkan mulai sekarang." Balas Bian dengan tersenyum ketika mendengar ancaman dari Adel.


Wah sayang banget, aku sudah lihat hadiahnya, tuh.


Adel tak bisa menyembunyikan rasa senangnya ketika mengingat akan kalung yang ia temukan dikamar milik Bian tadi.

__ADS_1


"Yaudah deh, aku masuk ke kamarku dulu, ya. Kamu lanjut gih kerjanya, tapi nanti malam kita makan bareng, ya? Bisa, kan?" Ujarnya kemudian


"Em.. Bisa kok." Bian setuju dengan ajakan Adel.


"Yeay, aku tunggu nanti malam, bye Bian, selamat bekerja kembali." Lambai Adel yang akhirnya masuk ke dalam kamarnya.


"Bye Adel.." Balas Bian pada pintu yang sudah tertutup. Setelah mengantar Adel, Bian pun kembali ke kamarnya. Terlihat ekspresi yang tampak lelah dari raut wajahnya saat ini, meski ia tak duduk dalam pekerjaanya seharian ini, karena harus menyambut kedua sahabatnya yang datang berkunjung ke hotel miliknya, namun sudah membutnya kepayahan.


......................


Pagi hari, pukul 8 pagi. Terlihat Bian sudah bangun, dan tengah berbicara dengan Dimas di kamarnya.


"Gimana kamu setelah bertemu teman-temanmu kemarin?" Tanya Bian pada Dimas yang kembali dari cutinya.


"Saya merasa senang, terimakasih pak sudah memberi izin sama saya kemarin." Jawab Bian.


"Harusnya kamu habiskan saja waktumu hari ini, apa tidak apa kamu cuma izin satu hari?"


"Ah, iya, itu sudah cukup untuk saya. Saya tidak enak jika terlalu lama. Lagi pula anda hari ini akan pergi dengan non Adel, kan?" Balas Dimas yang sudah mengetahui keberadaan Adel di hotel ini.


"Iya sih, yaudah aku titip hotel sebentar ya hari ini."


"Baik."


"Santai saja, jangan terlalu serius, aku pergi dulu, ya?" Ucap Bian memberi tepukan pelan pada pundak Dimas ketika ia hendak keluar.


"Baik, pak, dan selamat bersenang-senang."


"Ok." Jawab Bian dengan singkat pada ucapan selamat dari Dimas. Ia pun akhirnya keluar dari kamarnya, untuk menjemput Adel di kamarnya.


Karena alasan untuk membuat Adel senang, akhirnya Bian mengiyakan ajakan Adel yang sempat ia lontarkan kemarin malam waktu mereka makan malam bersama. Adel meminta pada Bian untuk menemaninya jalan-jalan mengelilingi jogja, sebelum dia pulang nanti malam.

__ADS_1


"Padahal kan, aku gak begitu tau soal kota ini." Gumam Bian merasa agak canggung juga ketika Adel meminta dirinya untuk menemaninya jalan-jalan di jogja.


__ADS_2