
"Benar, apa kita bisa bicara sebentar."
Dengan membuat ekspresi wajah yang serius ketika berbicara, Bian membuat Kinan bertanya-tanya akan hal tersebut.
"Apa ada masalah ya? sampai beliau memasang wajah serius seperti itu.?" Batin Kinan mengikuti Bian dari belakang menuju ke suatu tempat.
"Maaf pak, apa ada sesuatu tentang hotel yang.. aduh..." Ucap Kinan mencoba bertanya disela perjalananya, namun terhenti ketika Bian berhenti mendadak di depannya, hingga membuatnya tertabrak oleh punggung Bian yang sedang berjalan tepat di depanya. "Ah, maaf pak.." Ucapnya langsung yang tak sengaja menabrak punggungnya, pada Bian yang kini menghadap ke arahnya.
"Kamu gapapa?" Tanya Bian.
"Ah, iya. Saya tidak apa-apa." Balasnya masih memegang wajahnya.
"Hidungmu.." Bian mencoba memegang hidung Kinan yang tampak kemerahan.
"Ah.. gapapa kok pak, saya beneran tidak apa-apa." Dengan segera Kinan mencoba menghindar dengan mundur satu langkah. Ia reflek mundur ketika tangan Bian mencoba meraih wajahnya. "Ah itu.., tadi anda ingin bicara apa dengan saya ya?" Ucapnya canggung, dengan segera mengalihkan pembicaraan.
"Tidak ada." Jawaban Bian, membuat Kinan memberikan ekspresi bingung
"Maaf," Ucapnya bingung meminta penjelasan pada Bian.
Bian hanya diam, dan justru memilih melanjutkan kembali jalannya, tanpa menjawab terlebih dahulu pertanyaan dari Kinan, yang akhirnya membuat Kinan dilanda kebingungan karena hal itu. Dengan menatap punggung Bian yang kini mulai menjauh dari dirinya, Kinan masih terpaku dengan kebingunganya.
"Kenapa diam saja disana?" Kata Bian menoleh pada Kinan yang tak menyusulnya, dan sedikit memberikan gestur untuk segera mengikutinya.
"Eh, aku harus menyusulnya nih? bukanya tadi dia bilang tidak ada yang mau dibicarakan denganku ya?" Bingung Kinan.
"Ah, iya baik." Susulnya kemudian dengan eskpresi penuh tanya. Kinan tak hentinya melirik ke arah Bian yang kini tengah menggiringnya ke suatu tempat.
"Sebenarnya kita mau kemana ya? dari tadi beliau diam saja, aku jadi bingung sendiri."
"Maaf pak, sebenarnya kita mau kemana ya?" Tanya Kinan dengan hati-hati, mencoba memberanikan diri untuk bertanya dalam kecanggungannya pada Bian saat ini.
__ADS_1
"Kita sampai." Seru Bian, memperlihatkan sebuah taman cantik disamping hotelnya.
Dengan sorot lampu taman yang terang menyinari sekitarnya, bintang-bintang yang mulai bermunculan di langit dan bulan yang menyinari ditengahnya, memperlihatkan keindahan pada malam hari ini.
Meski terlihat indah melihat pemandangan itu, ekspresi Kinan lebih tertarik dengan Bian yang mengajaknya kemari, dan tengah menunggunya untuk berbicara padanya.
"Sebenarnya kenapa kita kemari? apa ada sesuatu pada taman ini, pak? atau ada masalah pada tamannya?" Tanya Kinan heran melihat Bian membawanya ke taman, karena Kinan berfikir bahwa Bian akan membicarakan suatu hal yang penting dan serius padanya, karena itu dia mencegatnya pulang tadi.
Namun, ia jadi merasa bingung, karena Bian kini hanya diam termenung menatap pemandangan di depanya. Karena itu ia jadi berfikir bahwa Bian sedang memberitahukan soal masalah taman padanya secara langsung.
"Tidak ada, hanya saja disini lebih enak untuk mengobrol berdua." Jawab Bian.
Mengobrol berdua?
Kinan sedikit terkejut mendengar hal itu, seketika saja membuatnya canggung. "Kalau bukan soal taman, lalu ada urusan apa anda memanggil saya kemari?" Tanyanya lagi dengan ragu, pada Bian yang berdiri disampingnya.
Bian menoleh ke arah Kinan, mentapnya lekat sebelum menjawab pertanyaanya. "Ada yang ingin aku tahu soal kamu." Ucapnya serius.
"Saya?" Kaget Kinan.
"Kalung milik saya?" Kinan mencoba mengartikan maksud dari Bian. "Ah.." Ingatnya pada kalung gembok miliknya yang di kosan.
"Maaf, tapi saya tidak membawanya sekarang." Ungkap Kinan merasa Bian sedang meminta kalung itu padannya sekarang.
"Aku tidak memintanya, hanya ingin memastikan saja. Kalu tidak bawa, yasudah." Bian tak perduli dan kembali menatap lurus pemandangan di depanya, liriknya sekilas bintang yang mulai menampakkan dirinya itu.
Beliau memanggilku kesini hanya untuk menanyakan ini?
"Besok, kalungnya pasti akan saya bawa." Kinan membuka obrolan lagi, pada Bian yang lagi-lagi hanya diam. "Kalau begitu, apa anda masih ada perlu dengan saya lagi?" Tanyanya.
Bian diam tak bersuara, ia menahan hal yang ingin dikatakanya. Dengan keraguan itu, ia akhirnya memberanikan diri untuk kembali menatap Kinan. "Kamu..." Ucapnya kikuk dan menjeda kalimatnya. "Seberapa dekat kamu dengan Dimas?" Lanjutnya menatap Kinan dengan ekspresi serius, namun juga sedikit canggung. Ia bahkan memalingkan wajahnya cepat karena malu menanyakan hal itu.
__ADS_1
"Saya dengan pak Dimas?" Tiba-tiba saja pertanyaan tak terduga itu keluar dari mulut Bian, dan lagi-lagi mengejutkan Kinan. "Saya sih tidak begitu dekat dengan pak Dimas, hanya saja kami memang pernah mengobrol bersama, itupun tidak sering. Saya tadi hanya ingin bilang terimkasih saja sama beliau, tidak ada hal lainya." Jawabnya.
"Begitukah." Bian merasa senang mendengarnya. Bahkan tanpa sadar, menyunggingkan sedikit senyuman pada sudut bibirnya. "Bukanya tadi kalian cukup dekat ya? kalian mengobrol panjang, bahkan saling tertawa tadi." Namun, Bian merasa belum cukup dengan jawaban itu.
"Ah..itu.., saya tidak menyangka kalau ternyata obrolan kami nyambung, jadi tanpa sadar kami mengobrol cukup lama tadi." Jelas Kinan sedikit tersenyum membayangkanya. Ekspresinya itu tak lepas dari pengamatan Bian yang berdiri disampingnya. Tanpa sadar, Bian merasa kesal melihat senyum itu.
Saat itu, entah mengapa Bian memutuskan menghampiri Kinan yang hendak pulang kerja. Ia bahkan mengikutinya sampai ke tempat parkir, namun belum sampai Kinan masuk ia memanggilnya segera, dan ketika hendak mengatakan apa yang ingin ia katakan, tiba-tiba saja ada beberapa karyawan yang tengah menuju tempat parkiran, hingga dengan gugupnya ia memberikan kode pada Kinan untuk segera mengikutinya.
Begitulah hingga akhirnya mereka sampai pada taman dekat hotel yang jaraknya agak lumayan jika berjalan kaki. Bian berjalan lurus tanpa tau tujuan mereka, karena dia sendiri merasa bingung selama perjalanan hingga akhirnya memutuskan datang ke taman saat tak sengaja melihatnya.
"Aku keluar dari kamar, setelah capek berasumsi sendiri. Sekarang sudah disini, apa yang mau aku katakan denganya? Ini benar-benar canggung hingga rasanya ingin buatku lari." Batin Bian, bingung harus berbuat apa pada Kinan yang bersamanya sekarang. Ia bahkan jadi merasa kesal dengan penjelasan Kinan ketika berbicara soal Dimas.
"Pak," Panggil Kinan pelan, membuat Bian tersadar pada lamunanya.
Bian terlonjak kaget begitu Kinan menyentuh lenganya bajunya.
"Maaf, kalau sudah buat anda kaget." Kinan merasa bersalah melihat ekspresi kaget Bian.
"Tidak apa." Balas Bian mengatur kembali ekspresinya.
"Maaf, itu.. apa anda masih ada yang dibicarakan dengan saya? soalnya kalau tidak ada, saya harus pulang." Kata Kinan mengingatkan Bian pada hari yang semakin malam.
"Ah.., aku menahanmu terlalu lama ya? Maaf, baiklah kamu boleh pergi."
"Kalau begitu saya permisi."
"Tunggu, biar aku antar." Tahan Bian dan menawarkan ajakan pulang pada Kinan.
Kinan kaget menatap Bian, hingga tanpa sadar membulatkan matanya. "Itu.. terimakasih atas tawaranya, kebetulan saya membawa motor." Tolak Kinan dengan agak sungkan.
"Tinggal kan saja, hari ini aku ingin mengantarmu pulang." Tukas Bian, hingga membuat Kinan merasa heran dan bingung pada sikap Bian padanya hari ini. "Sudah malam, kan? aku juga ada hal yang ingin aku tuju, jadi sekalian saja." Lanjut Bian perlahan berjalan, dan meminta Kinan untuk segera mengikutinya.
__ADS_1
Dalam perjalananya menuju arah mobil, Kinan tak berhenti termenung. Ia tak tau harus bersikap apa sekarang.
"Aku pulang diantar sama bosku?" Batinya tak percaya.