
Berjalan dengan perasaan yang ambigu, sejatinya membingungkan bagi keduanya. Mengingat tanpa adanya ikatan yang mengikat dari hubungan keduanya saat ini. Di tambah dengan keraguan-keraguan yang menyelimuti keduanya, hingga menambah beban tersendiri.
Bagi Kinan, ini adalah hal yang diluar bayanganya, terlebih ini adalah hal yang baru pertama kali ia alami. Karenanya ia masih mencoba mencari jawaban akan hal yang membuatnya begitu kalut. Perasaan yang ia rasakan saat ini adalah rasa tak percaya dengan berbagai pertanyaan yang ada pada dirinya sendiri, telebih tentang hal yang bahkan tanpa ia pikirkan sebelumnya.
Tak berbeda dengan Kinan yang hingga kini masih kalut dengan pikiranya sendiri. Hal yang sama juga di rasakan oleh Bian saat ini. Meski ia sudah mengungkapkan rasa ketertarikanya, namun perasaanya kini belum juga merasa lega. Ia terlihat masih belum bisa puas, meski sudah mengungkapkan isi hatinya pada Kinan. Perasaanya seolah masih mengganjal dan tak tenang, hingga beberapa kali membuatnya terus merasa kepikiran.
...
Dengan keduanya terpisah oleh jarak sekarang ini, memaksa keduanya berjauhan untuk sementara dan meninggalkan sejenak kecanggungan yang ada di antara mereka. Meski tak terikat oleh sebuah hubungan apapun, namun karena kejadian yang terjadi di rumah sakit, membuat keduanya kini sama-sama merasakan perasaan yang bergejolak.
Debaran dada yang tak terkontrol akan perasaan yang mulai tersampaikan, kini membuat keduanya berada dalam hubungan yang lebih dekat, namun di satu sisi juga sedikit membingungkan.
"Aku tertarik padamu"
Dengan hanya satu kalimat itu saja, sudah membuat kedua pemilik perasaan merasakan kekalutan hati yang mendalam, baik bagi yang mengucapkannya maupun bagi yang mendengarkannya sendiri. Kalimat yang sejatinya penuh dengan berbagai makna dan arti di dalamnya itulah yang kini ingin diperjelas oleh Kinan dan juga Bian.
"Sepertinya memang harus aku perjelas lagi kalimatku." Ucap Bian dengan penuh pertimbangan yang kuat setelah berfikir cukup lama.
"Bagaimana caranya aku bisa memastikan jawabanya, ya?" Sedangkan Kinan sendiri masih belum bisa memutuskan kegundahan hatinya yang kini masih tampak kalut.
...
Dari jarak yang berseberangan dan jauh, entah mengapa keduanya bisa memiliki pikiran dan kekalutan yang sama. Hati keduanya seolah sudah terkoneksi dengan sendirinya, meski tak diminta maupun janjian sekalipun.
Dalam waktu seminggu keduanya berpisah, dan dalam waktu itu pula perasaan yang mengganggu mereka selama beberapa hari sedikit bisa tercerahkan, meski ada beberapa hal yang tetap perlu keduanya pastikan jawabanya dengan lebih jelas lagi.
"Aku ingin segera bertemu denganya." Kata Bian dengan ekspresi seriusnya menatap lurus pada jendela kamar hotelnya.
Ekspresi wajahnya yang serius dengan menatap lurus pada jendela kamar hotelnya, membuat Bian begitu memikirkan hal yang mengganggunya selama ini, meski pekerjaannya tetap menjadi prioritas baginya. Namun, soal perasaanya sendiri tampaknya juga menjadi bagian terpenting dari hidupnya, mengingat beberapa kali ia merasa kacau akan hal itu.
Setelah menuntaskan perasaan dilemanya terhadap Adel, yang merupakan teman terdekatnya, kini ia masih dilanda perasaan yang sama dengan Kinan, teman gadis kecilnya dulu.
Banyak hal yang ingin ia pastikan, terlebih pada perasaanya sendiri. Karenannya ia tak ingin terus berlarut akan kekalutanya sendiri, dari hal yang ia renungkan selama berada di jepang, banyak hal yang bisa ia temukan, termasuk jawaban akan perasaanya sendiri.
......................
Entah itu perasaan yang hanya sesaat, atau benar-benar rasa yang terus mengalir dalam dada, sepertinya memang hanya bisa dipastikan oleh sang pemilik hatinya.
Dalam rasa yang terus merasa bimbang ini, ada begitu banyak hal yang terus ingin di perjelas, terutama pada perasaan itu sendiri. Di dalam hotel tempatnya bekerja saat ini, terlihat Kinan yang masih mencoba mendamaikan hatinya yang kalut akan perasaan dilema yang sedang melanda dirinya.
__ADS_1
"Mbak Kinan mau kemana?" Tanya seorang rekanya.
"Ah, aku mau ke perpustakaan sebentar." Jawab Kinan.
"Oh, ok."
Kinan kembali melanjutkan perjalanannya menuju perpustakaan, setelah selesai menjawab pertanyaan dari rekanya yang kebetulan berpapasan denganya.
Dengan langkah yang pelan, ia menuju pada ruangan yang cukup membuatnya merasa senang, dan nyaman setiap kali mendatanginya. Perpustakaan telah menjadi tempat favoritnya selama bekerja di hotel.
"Aku selalu suka setiap kali melihat buku-buku yang di jejer dengan rapi begini." Ucap Kinan begitu sampai dalam perpustakaan.
Ekspresinya berubah menjadi senang begitu masuk ke dalam perpustakaan, bahkan wajahnya tak bisa menyembunyikan rasa gembiranya dengan hanya melihat buku-buku yang berjejer dengan rapi di depanya.
"Apa yang harus aku lakukan, ya? Semua sudah terlihat rapi dan bersih?" Gumamnya merasa bingung setelah masuk ke dalam perpustakaan.
Karena sudah tau hampir semua isi buku yang ada di dalam rak-rak perpustakaan, Kinan jadi merasa bingung sendiri harus membaca buku apa, mengingat dirinya yang sudah hampir membaca semua buku-bukunya.
Namun, matanya terlihat menangkap sebuah judul buku yang begitu menarik perhatianya ketika mencoba menyusuri beberapa rak buku. Ia menghentikan langkahnya di depan rak tersebut, dan mencoba mengambil buku yang telah menarik perhatianya.
Lembaran-lembaran buku yang tengah dipegangnya, ia buka dengan perlahan, dan tak lupa ia baca setiap kalimat yang ia lihat dalam buku tersebut, meski tak semua yang ia baca. Bukunya terlihat begitu menarik, hingga tanpa sadar membuatnya terhanyut dalam isi cerita yang tengah ia baca.
Meski merasakan kekagumanya pada novel yang ia baca, namun ekspresinya justru terlihat tak nyaman setelah membacanya. Seperti telah melihat isi cerita yang tak seharunya ia baca. Dengan segera ia meletakkan kembali buku yang ia pegang pada tempatnya semula, dan memilih beralih pada tempat favorit lainya.
"Ah.." Jeritnya ketika tak sengaja kejatuhan buku di atas kepalanya ketika hendak berjalan.
Kinan memegang kepalanya yang merasakan kesakitan, lalu mengusap-usapnya pelan untuk menghilangkan sedikit rasa sakitnya.Setelahnya ia mencoba mengambil kembali buku yang jatuh menimpa kepalanya itu.
Namun, saat ia mencoba mengambil bukunya, ada tangan lain yang ingin mengambil bukunya. Dengan ekspresi sedikit terkejut, Kinan menengadahkan kepalanya kedepan dan ia dibuat terkejut oleh kehadiran seseorang di depanya, yang tak lain adalah Bian.
Karena merasa terkejut, Kinan bahkan hampir tak bisa menyeimbangkan tubuhnya ketika hendak berdiri, sebelum akhirnya bisa ditangkap oleh Bian.
"Ah, saya minta maaf." Ucap Kinan yang mencoba melepaskan tubuhnya dari tangkapan Bian. Namun, Bian justru semakin mempereratkan tangan yang menahan tubuh Kinan, hingga membuat tubuh keduanya semakin menempel dekat.
Tentu saja hal yang dilakukan oleh Bian membuat Kinan terkejut, terlebih pada kedekatan mereka saat ini.
"Ah, maaf." Bian melepaskanya pelukanya, dengan memberikan senyuman kecil pada Kinan yang menatapnya kebingungan. Ia hanya bisa tersenyum simpul melihat ekspresinya, lalu memilih menaruh kembali buku yang sempat ia pegang tadi.
"Apa kabar?" Ucapnya kemudian pada Kinan setelah meletakkan bukunya.
__ADS_1
"Saya.."
"Apa kamu sakit?" Sikap Bian yang ikut menundukkan wajahnya lebih dekat pada Kinan membuat Kinan terkejut. Karena mengingat wajah mereka yang jadi semakin dekat satu sama lain.
"Ti-tidak, saya baik-baik saja kok, pak." Dengan cepat Kinan memundurkan langkahnya, karena merasa cukup terkejut dengan posisi Bian yang begitu dekat.
"Bagus kalau begitu. Aku pikir kamu sakit tadi." Lega Bian.
"Itu.. Maaf saya tidak tau jika anda sudah kembali dari jepang?" Kata Kinan mencoba menghilangkan rasa canggungnya.
"Tidak apa, karena aku memang sengaja tidak bilang. Tapi, apa yang kamu lakukan disini? Kenapa kamu tidak ada di tempatmu?"
"Ah, itu.. maaf. Sebenarnya karena tadi saya merasa suntuk, jadi saya datang ke perpustakaan, itu juga saya lakukan saat jam istirahat. Ah, ternyata sudah lewat ya jam istirahatnya." Jawab Kinan yang merasa bersalah karena telah lama di perpustakaan.
"Aku tidak sedang memarahimu, yang aku maksud kenapa kamu memilih datang ke perpustakaan?" Kata Bian.
"Karena saya suka tempat ini." Jawab Kinan.
"Begitu ya! Sepertinya aku juga berpikir begitu, karena dari semua tempat yang ada dihotel ini, kenapa aku malah menyarimu disini?"
Kinan cukup terkejut dengan kalimat yang dilontarkan oleh Bian, ia bahkan mencoba mencerna dengan apa yang ia dengar tadi.
"Aku belum mengganti pakaianku, aku juga baru saja sampai dihotel, dan sekarang aku berada disini, didepan kamu sekarang. Apa kamu tau alasan aku melakukannya?" Ucap Bian lagi.
Deg, seketika hati Kinan berdegup dengan kencangnya begitu mendengarnya. Ia bahkan tidak tahu mengapa hatinya tiba-tiba menjadi bergetar karena kalimat itu.
"Itu karena aku mau memastikan perasaanku padamu." Bian kembali mengatakan hal yang ingin ia katakan, meski Kinan masih tetap diam dengan ekspresi terpakunya.
"Pak, itu.." Dengan keraguan Kinan mencoba mengatakan sesuatu pada Bian yang kini berdiri semakin dekat denganya.
"S-saya..." Mata Kinan membelalak ketika wajah Bian yang semakin mendekat ke arahnya. Seketika membuat tubuhnya terpaku dengan apa yang dilakukanya, dan tanpa sadar hanya bisa menatap wajah Bian yang kini semakin dekat dengan wajahnya.
Hatinya berdegup dengan kencang, matanya tak bisa menyembunyikan rasa keterkejutannya, hingga membuat tubuhnya tak bisa ia gerakkan dengan bebas karena terpaku menatap Bian.
"Apa aku boleh melakukanya?" Ucap Bian pada Kinan yang kini menatapnya dengan gugup.
"Kamu boleh mendorong tubuhku kalau mau menolak." Ucap Bian lagi yang kini semakin mendekatkan wajahnya lebih dekat pada wajah Kinan.
"Pa.." Satu kecupan telah mendarat pada bibirnya, ketika ia yang hendak mengatakan sesuatu.
__ADS_1