Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
22. Kebetulan kah?


__ADS_3

Pagi hari sebelum jam hotel di buka, Bian sudah turun ke bawah, untuk sedikit berolah raga di taman dekat hotelnya.


Jam masih menunjukkan pukul 5 pagi, dan cuaca masih agak petang. Ia duduk di salah satu bangku taman yang dekat dengan hotelnya, lalu meneguk minuman yang ia bawa. Menatap lurus pemandangan di depanya dengan nafas yang masih tak beraturan karena lari.


Hari ini ia bangun agak awal, meski semalam tidur agak malam. Saat semua karyawan hotel belum datang, ia sudah bangun dan memulai aktifitas olahraga, yang merupakan hal rutin yang ia lakukan setiap pagi.


Di tengah istirahatnya, ia jadi terpikirkan kembali soal kebetulan demi kebetulan yang begitu mencolok dan membingungkanya. Belum lagi perihal hotel yang tengah ia tangani saat ini. Beban yang harus dipikulnya sedikit berat dan penuh dengan tanggung jawab.


Ketika ia tengah di landa kebingungan, netra matanya menangkap seseorang yang tengah masuk ke dalam hotel dengan terburu-buru. Sosoknya dari belakang tampak familiar. Bian pun beranjak dari duduknya dan mencoba masuk kembali ke dalam hotel.


"Kamu sedang apa?"


"Ahh ..." Teriaknya yang agak kaget dengan kehadiran Bian yang tiba-tiba.


Bian jadi ikut terkejut dengan teriakan darinya, yang tak lain adalah Kinan.


"Ah.. itu.. maaf pak, kalau saya mengagetkan anda, itu.. saya sedang mencari barang saya yang ketinggalan." Jelas Kinan dengan mengatur ekspresi dirinya yang masih agak kaget, hingga berbicara dengan terbata.


"Iya gapapa, tapi harusnya aku yang minta maaf karena sudah membuatmu kaget." Balas Bian. "Barang apa yang ketinggalan?" Tanyanya lagi.


"Itu.. buku, saya meninggalkan buku saya kemarin." Jawab Kinan.


"Mau saya bantu cari?" Ucap Bian mencoba menawarkan bantuan.


Kinan tampak terkejut dengan tawaran dari Bian, hingga tak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya.


"Ah.. itu.. tidak usah, terimakasih. Biar saya cari sendiri, maaf sudah membuat kegaduhan di pagi hari." Balas Kinan agak hari-hati.

__ADS_1


"Em.. ok, kalau begitu aku masuk ke kamar dulu." Kata Bian kemudian dan perlahan mulai menjauh dari hadapan Kinan.


"Maaf pak," Ucap Kinan menghentikan langkah Bian.


"Ada apa." Kata Bian menoleh ke arah Kinan.


"Itu.. apa anda mau saya siapkan sarapan? saya bisa membuatkan untuk anda sekarang?"


Bian terdiam, ia menatap sejenak Kinan.


"Boleh, tolong ya, ah.. buatkan kopi juga untukku." Kata Bian kemudian.


"Baik, akan segera saya siapkan." Senyum Kinan.


Bianpun kembali melangkahkan kakinya.


Meski buku yang dia cari belum ia temukan, Kinan dengan segera masuk ke ruang dapur untuk menyiapkan makanan Bian. Meski belum ada yang datang karena masih pagi, Kinan mencoba menyiapkan sendiri makanan untuk Bian.


Tak berlangsung lama ia menyiapkan makanan untuk Bian, karena makanan yang ia siapkan cukup sederhana. Mengingat masih pagi, Kinan tak memasak makanan yang agak berat, jadi dia hanya menyiapkan makanan sehat seperti salad sayur dan sandwich telur beserta kopi yang di pesan oleh Bian tadi.


"Semoga beliau suka sama masakanku." Kata Kinan agak gugup.


Dengan segera ia datang ke kamar Bian, dengan membawa makanan untuknya.


...


Di dalam kamarnya, Bian tengah membasuh tubuhnya yang lengket karena keringat. Di dalam kamar mandi, ia sedikit melamun karena teringat dengan sosok Kinan yang ia lihat tadi.

__ADS_1


"Lagi-lagi aku begini." Gumamnya.


Ingatan soal tadi malam, menghantui Bian, karena tak sengaja membuka profil Kinan di dalam website karyawan hotel. Hal itu membuat Bian dilema dengan semua hal yang penuh dengan kebetulan ini.


Suara ketukan dari luar kamarnya cukup terdengar dari arah kamar mandinya. Ia yang masih belum menyelesaikan mandinya dengan segera keluar dari kamar mandi dengan handuk yang masih menutupi tubuhnya yang basah.


Ceklek, pintu kemudian terbuka.


Mata Kinan agak kaget melihat pemandangan di depanya, yang memperlihatkan penampilan Bian dengan dada sedikit terbuka di sela handuknya dengan kondisi masih setengah basah.


"Maaf pak, saya mau mengantarkan makanan." Ucapnya dengan ekspresi gugup dan canggung.


"Masuk." Balas Bian cuek dan berjalan terlebih dulu ke dalam.


Berbeda dengan Kinan yang tampak canggung dengan hal tersebut, ekspresi Bian tampak biasa dan terkesan cuek.


"Kalau begitu saya permisi." Kata Kinan kemudian dan berniat pergi begitu selesai menaruh makananannya.


"Tunggu.." Cegah Bian.


"Maaf, apa anda masih butuh sesuatu?" Tanya Kinan sembari menatap wajah Bian.


Bian agak ragu untuk menjawab dan melanjutkan kalimatnya.


"Tidak, bukan apa-apa, keluarlah.. terimakasih juga makananya." Ucapnya kemudian.


"Baik." Pamit Kinan dengan ekspresi bingung melihat Bian yang tak jadi bertanya padanya.

__ADS_1


Begitu Kinan keluar, Bian mendengus kesal karena tak berani bertanya padanya.


"Makan sajalah." Katanya kemudian yang tak lagi perduli dan mencoba melahap makanan buatan Kinan. "Emm.. enak."


__ADS_2