Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
119. Obrolan Yang Hangat


__ADS_3

"Kamu sejak kapan memikirkan soal ini? Soal keinginan kamu yang ingin menikah?" Tanya Gauri penasaran dengan hal itu.


"Ah, belum lama ini kok, ma. Bian hanya merasa mungkin ada baiknya jika hubungan ini harus dibawa ke arah sana suatu hari nanti." Jelas Bian.


"Iya, memang sudah seharusnya begitu, apalagi kamu juga sudah cukup umur untuk menikah. Tapi, apa perempuan yang kamu suka sudah tau soal rencana kamu ini?" Tanyanya lagi.


"Belum, tapi dia juga mengharapkan hal yang sama seperti Bian." Ungkap Bian.


"Oh, ya? Bagus dong kalau begitu, berarti tinggal menentukan waktu yang tepat saja, kan?" Tiba-tiba Gauri merasa bersemangat.


"Iya, tapi Bian juga tidak mau terlalu terburu-buru untuk melalukannya, takut membebani dan membuatnya tidak nyaman, terlebih Bian baru membicarakan soal ini pada kalian, jadi belum sampai memikirkan ke tahap kapan akan dilakukan." Ujar Bian yang tak sampai memikirkan pernikahannya di gelar secepatnya.


"Bukanya kalian saling suka, jadi untuk apa masih memikirkannya lagi? Apalagi katanya kalian sama-sama memiliki pandangan yang sama soal menikah?" Ucap Gauri.


"Iya sih, tapi kan tidak harus buru-buru juga, apalagi ini soal pernikahan yang membutuhkan banyak pertimbangan, dan benar-benar harus dipersiapkan secara matang juga, nanti deh akan ku coba lagi untuk membicarakan hal ini padanya kalau kita bertemu kembali." Jawab Bian.


"Yasudah bicarakan pelan-pelan sama pacarmu, sebelum itu bawa dulu dia kemari biar mama bisa berkenalan sama dia." Gauri pun tak lagi memaksa dan menghormati pendapat sang anak.


"Nanti pasti akan Bian bawa kesini dan kenalkan sama mama dan lainya juga." Balas Bian.


"Seperti apa orangnya? Apakah dia baik sama kamu? Lalu bagaimana awal perkenalan kalian?" Ucap Gauri yang terlihat penasaran dengan kisah asmara anaknya.


"Iya, dia baik, karena itu Bian ingin terus bersamanya." Bian tak bisa menyembunyikan rasa sukanya pada Kinan. "Kalau awal bertemu, mungkin 20 atau 21 tahun yang lalu Bian mengenalnya." Sambung Bian.


"Eh, jadi kamu sudah pernah bertemu dengannya? Kok mama tidak tau soal itu?" Gauri menatap bingung pada Bian dengan ekspresinya yang seolah meminta penjelasan lebih.


"Teman lama yang tidak sengaja Bian kenal, karena itu mama tidak tau soal ini, karena Bian juga sempat melupakannya dan baru ini saja bertemu kembali." Ujar Bian menjelaskan.


"Apa ini, kok kamu tidak pernah cerita soal ini ke mama, apalagi mengatakan soal hubungan kamu sama perempuan yang kamu suka itu, hampir saja mama merasa bersalah sama Adel, karena mengira kamu menyukainya." Ucap Gauri.

__ADS_1


Karena ucapan mamanya itu membuat Bian tersenyum canggung dan menjadi kikuk sendiri karena tak menyangka jika kedekatanya bersama Adel membuat keluarganya salah faham. Tak salah memang, karena dulu dirinya juga sempat menyukai Adel, terlebih karena kedekatanya bersama Adel sejak kecil yang selalu bersama-sama.


"Aku sama Adel cuma berteman, ma. Aku juga menyukainya, tapi tak lebih hanya sebagai teman." Ujar Bian kemudian.


"Oh, begitu, meski agak sayang karena tidak bisa bersama Adel, mama sih tidak bisa memaksa kamu, kan kamu yang jalanin, apalagi perasaan tidak bisa dipaksakan." Kata Gauri, yang tak bisa memaksa perasaan suka sang anak, meski dirinya menyukai Adel dan berharap Adel menjadi menantunya.


"Yang penting hubunganku dengan Adel masih baik-baik saja sampai sekarang, kan?"


Bian sedikitnya faham dengan maksud mamanya, karena itu ia ingin menenangkan soal hubunganya dengan Adel yang masih baik-baik saja, meski tak bisa lanjut ke hal yang di inginkannya.


"Iya, karena itu yang paling penting." Gauri membalasnya dengan tersenyum pada Bian.


Obrolan yang cukup panjang bersama mamanya, membuat Bian merasa bahagia, karena akhirnya bisa mengatakan tentang hubunganya bersama Kinan, terlebih ini juga menjadi obrolan panjang yang ia lakukan bersama mamanya setelah sekian lama tak ia lakukan.


Meski masih tak percaya pada respon dari keluarganya yang terlihat tak mempermasalahkan hubungannya dengan Kinan, terlebih soal rencana pernikahannya kedepan, setidaknya sekarang sudah membuatnya cukup lega karena ada lampu hijau yang diperlihatkan oleh keluarganya pada hubungan percintaanya.


Padahal kukira bakal sulit membujuk mereka, terutama papa.


....


"Iya, ma, nanti pasti Bian kabari lagi soal ini." Ujar Bian yang kembali menenangkan mamanya untuk tak terburu-buru mempersiapkannya.


"Mama juga setuju soal rencana Bian yang ingin menikahi perempuan yang Bian suka? Tapi, mama kan belum tau siapa dia, apa mama tidak masalah soal ini?" Bian menatap mamanya untuk meminta responnya.


"Apanya yang masalah, tentu saja mama akan merasa senang, apalagi dia adalah perempuan yang kamu pilih sendiri, tentu mama harus menyambutnya dengan baik, karena mama yakin kamu sudah memilihnya dengan baik." Ucap Gauri tak merasa keberatan dengan latar belakang dari Kinan.


"Syukurlah kalau begitu, Bian jadi senang mendengarnya.Terimakasih, ma." Bian tersenyum terhadap respon positif mamanya.


"Kenapa malah berterimakasih, mama kan hanya ingin melihat anak mama hidup bahagia bersama pasangan yang dia pilih sendiri." Ujar Gauri tersenyum menatap Bian.

__ADS_1


Bian memberikan senyum simpulnya ketika mendengar perkataan tulus yang di ucapkan oleh mamanya untuknya. "Bian juga berharap seperti itu, semoga hal itu terwujud pada Bian." Ucapnya.


"Harus dong, dan mama yakin akan itu." Gauri memberi keyakinan pada sang anak.


Merasa mendapatkan dukungan, Bian tak bisa menyembunyikan rasa senangnya dan tiba-tiba membuatnya jadi kepikiran soal Kinan yamg masih berada di jogja.


Kalau aku bilang soal ini, apa dia akan senang?


....


Seolah merasakan apa yang sedang Bian fikirkan, Kinan yang berada ditempat yang berbeda dengan Bian, merasakan hawa yang tak biasa. Merasa ada yang sedang membicarakannya membuat tubuhnya berekasi tanpa dikira.


"Kenapa aku merasa ada yang sedang membicarakanku, ya?" Ucapnya tak yakin.


"Tapi, tidak ada siapa-siapa disini. Mungkin ini hanya perasaanku saja." Sambungnya yang tak lagi perduli dan kembali melanjutkan aktivitasnya yang hendak tidur.


Belum sampai ia memejamkan mata, dering ponsel miliknya berbunyi dan mengalihkan pandangannya.


"Apa kamu sudah mau tidur?" Ucap seseorang dari sambungan telfon, yang tak lain Bian.


"Sebenarnya iya, tapi saya belum sampai tertidur." Balas Kinan sedikit terkejut dengan Bian yang menelfonnya.


"Begitu ya, maaf ya kalau mengganggu kamu yang mau tidur." Ujar Bian yang sedikit menyesal.


"Tidak apa kok, pak. Saya juga belum tidur." Sanggah Kinan dengan segera.


"Padahal sudah kubilang untuk memanggilku kakak, apa itu masih sulit buat kamu?" Nada Bian terdengar sedikit cemberut.


"Ah, itu maaf, soalnya saya terlanjur terbiasa dengan panggilan itu." Kinan yang menyadari kesalahannya, berusaha memberi penjelasan pada Bian.

__ADS_1


"It's ok, masih banyak waktu sampai kamu terbiasa memanggilku kakak." Balas Bian yang tak lagi mempasalahkan hal itu.


__ADS_2