Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
31. Teringat Selalu


__ADS_3

Tiinn.. tiinn..


Suara klakson mobil dari samping arahnya berjalan, membuat Kinan menghentikan langkah kakinya. Ia menoleh ke arah suara tersebut dan mendapati sebuah mobil tengah berhenti tepat disampingnya.


Saat hendak melanjutkan langkahnya, karena tak mengenal mobil tersebut, tiba-tiba seseorang keluar dari dalam mobil dan coba menghampiri Kinan.


"Kinan, kamu baru pulang kerja?" Tanya orang itu, yang ternyata Bayu.


"Mas Bayu." Ucap Kinan terkejut melihat Bayu yang tengah menghampiri dirinya. "Iya saya baru pulang kerja. Mas Bayu sendiri habis dari mana malam-malam begini?" Tanya Kinan balik.


"Aku habis ada urusan sebentar diluar." Balas Bayu. " Tapi kok kamu jalan, sih? mana motormu?" Tanyanya kemudian yang tak melihat motor Kinan.


"Ah.., aku tinggal dihotel."


"Kamu tinggal? kenapa? motor kamu mogok?"


"Enggak kok, hari ini aku pengen jalan aja." Jawab Kinan.


"Padahal lumayan jauh lho ini? kamu yakin mau jalan ke kosanmu?"


"Tadinya aku mau jalan sampe perempatan sana." Tunjuk Kinan kearah tersebut. "Niatnya mau cari taksi, tapi tidak ada taksi yang lewat. Jadi aku jalan lagi deh." Jawabnya lagi.


"Yaudah, aku antar aja, gimana?." Kata Bayu menawarkan.


Kinan sempat ragu untuk menaiki mobil Bayu. Namun, ia akhirnya menerima tawaran dari Bayu karena mengingat hari sudah semakin malam.


Ada kecanggungan begitu masuk di dalam mobil Bayu, dan keheningan menghampiri keduanya saat di dalam.


"Kenapa kamu pulangnya malam begini? apa ada lembur hari ini?" Tanya Bayu memecah keheningan.


"Iya, hari ini aku ada lembur." Jawab Kinan.


"Kamu gapapa, kan?" Tanya Bayu lagi.


"Aku? enggak kok, aku baik-baik saja." Bingung Kinan mendapat pertanyaan itu.


"Oh ya? tapi muka kamu agak pucat, tuh?" Kata Bayu yang merasakan kondisi Kinan.


Mendengar hal itu, Kinan meraba-mera wajahnya, mencoba mengecek kondisinya.

__ADS_1


"Mungkin ini karena kecapean aja." Ucapnya kemudian.


"Kamu tidak lagi ada masalah di tempat kerjamu kan?"


Kinan terdiam, dan menunjukkan ekspresi sedih sambil menatap jendela mobil yang berada disampingnya. Ekspresi sedih dan diamnya tak lepas dari pengamatan Bayu.


Ciiiittt...


Mobil Bayu berhenti tiba-tiba, hingga membuat Kinan kaget.


"Ada apa mas." Tanyanya kemudian pada Bayu yang disampingnya.


"Maaf ya, kalau kamu agak kaget. Tadi tiba-tiba saja ada orang yang menyebrang sembarangan." Jawab Bayu yang merasa tak enak.


Ia mengerem mendadak karena ada seseorang yang tiba-tiba lewat depan mobilnya, ketika ia sedang menoleh ke arah Kinan. Beruntungnya dia bisa dengan cepat melakukanya, dan menghindari sebuah kecelakaan.


"Iya gapapa kok. Tapi, apa yang nyebrang baik-baik saja?" Ucap Kinan khawatir.


"Tuh lihat, dia langsung lari setelah hampir bikin orang kecelakaan." Kata Bayu melihat arah penyebrang dengan muka agak kesal. Kinanpun ikut melihat ke arah pandangan Bayu.


"Bahaya tuh, untung mas Bayu langsung berhenti." Ujar Kinan merasa lega.


"Meski begitu harusnya kan tetap hati-hati." Gumam Kinan merasa sedikit menyayangkan perilaku penyebrang tadi.


Mobilpun kembali berjalan dengan pelan dalam jalanan yang sepi ini. Hari sudah mau berganti, mengingat beberapa menit lagi memasuki tengah malam.


"Kamu baru pulang sekarang, apa besok tidak apa-apa?" Tanya Bayu kembali.


"Iya, tidak apa-apa. Toh sudah biasa juga." Jawab Kinan tak masalah.


"Baguslah." Lega Bayu.


Selang beberap menit, keduanya sampai didepan kosan Kinan.


"Mas Bayu, terimakasih ya sudah mau mengantarku ke kosan." Ucap Kinan begitu turun dari mobil.


"Iya, santai aja. Kebetulan arah kita sama, jadi sekalian antar kamu kesini." Balas Bayu. "Tapi, bahaya lho kalau kamu jalan sendiri seperti tadi. Lain kali telfon saja aku buat antar kamu pulang." Kata Bayu sedikit khawatir.


"Iya sih, sebenarnya ini juga pertama kalinya saya jalan begini. Karena biasanya saya selalu naik motor. Terimakasih mas, nanti akan kupertimbangkan." Balas Kinan.

__ADS_1


"Yasudah, masuklah ke dalam. Sudah malam juga, kan?" Pinta Bayu.


"Iya, terimakasih sekali lagi. Mas Bayu juga hati-hati ya dijalan." Ucap Kinan, lalu masuk ke dalam kosanya.


Bayu menunggu hingga Kinan masuk ke dalam kosanya, baru ia beranjak pergi. Namun, ekspresinya terlihat menghawatirkan Kinan, mengingat dia yang sebelumnya sempat melihat ekspresi sedih dari Kinan. Meski tau Kinan lagi sedih, tapi ia tak menanyakanya karena takut merasa Kinan tak nyaman denganya.


"Gimana mau bertanya, kalau anaknya saja masih canggung untuk ngobrol denganku." Ucapnya, lalu beranjak pergi dari kosan Kinan.


...


Teng.. teng... teng...


Jam telah menunjukkan tepat pukul 12 malam, begitu Kinan tiba di dalam kosanya. Sesampainya di dalam, Kinan tak langsung masuk ke dalam kamar mandi. Dia mencoba membaringkan sejenak kedua kakinya yang sedikit pegal. Sembari memijat-mijatnya dengan lembut pada kedua kakinya.


"Lagi-lagi, mas Bayu harus melihat ekspresiku yang seperti ini." Ucapnya mengingat kembali pertemuanya dengan Bayu.


Ia agak malu pada Bayu karena setiap kali ditanya kenapa, Kinan tak mau cerita dan memilih memendamnya.


...


Di parkiran hotel, terlihat motor Kinan yang masih berada disana, dan terkunci dengan rapat. Bian melihat jelas Kinan meninggalkan motornya begitu saja, dan memilih berjalan kaki untuk pulang.


Sempat merasa bingung, karena mengingat hari sudah malam dan Kinan justru memilih untuk berjalan kaki. Ia yang sejatinya akan keluar untuk membeli sesuatu, sedikit terhenti dan melihat Kinan yang pulang paling akhir dari rekan-rekanya. Ada niat dihatinya untuk memberi tumpangan. Mengingat arahnya yang sama.


Namun, begitu ia menjalankan mobilnya dan mencoba untuk mendekatinya, tiba-tiba saja ia urungkan ketika melihat sebuah mobil lainya berhenti dan menghampiri Kinan.


Ia melihat jelas obrolan antara Kinan dan Bayu. Meski secara jelas tidak mengenal sosok Bayu.


Minuman bersoda yang ia beli dari luar terlihat sudah berada di atas mejanya bersama makanan ringan yang ia beli di supermarket terdekat.


"Dia ngobrol sama siapa tadi?" Ucapnya mengingat kembali pertemuanya dengan Kinan dan Bayu. "Mereka terlihat akrab." Ucapnya lagi sembari meneguk minuman bersodanya.


"Sialan, ini pasti gara-gara kalung itu." Umpatnya kesal, merasa kacau gara-gara kalung miliknya itu.


Karena kalung dan identitas asli dari teman panti asuhanya dulu, membuat Bian menjadi kacau hari-hari ini. Gadis kecil yang ia cari, ada di depan matanya, namun ia bahkan tak bisa menyapa atau sekedar mengobrol santai denganya.


Posisi keduanya yang merupakan atasan dan bawahan, agaknya membuat mereka berjarak. Apalagi, pertemuan itu telah lama terjadi, bahkan dari keduanya sempat tak mengingat kenangan tersebut. Kalau bukan karena kalung tersebut, mungkin Bian tak akan mengenal Kinan. Karena ingatan soal kalung itu, Bian akhirnya menyadari dan mengingat sosok gadis kecil itu. Meski, hingga kini Kinan tak mengenali dirinya sebagai teman masa kecilnya dulu.


"Haruskah aku bilang padannya?"

__ADS_1


__ADS_2