Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
64. Kejutan Yang Berhasil


__ADS_3

Dalam lobi hotelnya, Bian celingukan mencari keberadaan Adel yang tiba-tiba saja datang ke hotelnya.


"Bi.." Panggil Adel yang membuat Bian mengalihkan pandanganya yang sempat celingukan mencari keberadaannya.


"Surprise... gimana?, apa kamu terkejut?" Ucap Adel saat Bian datang menghampirinya.


Bian mencoba mengatur nafasnya yang masih tak beraturan, juga ekspresi terkejutnya akan kedatangan Adel ke hotel, "Sangat terkejut, aku sampai tidak yakin, kalau yang di depanku sekarang ini, itu kamu atau bukan." Jawabnya kemudian.


"Hehe, berarti aku berhasil dong buat kejutanya." Adel tampak bahagia mendengarnya.


"Em, tapi kenapa kamu gak bilang ke aku kalau mau datang kesini? Tau gitu kan, aku jadi bisa jemput kamu tadi di bandara."


"Emang aku sengaja gitu, soalnya aku mau bikin surprise ke kamu. Kalau bilang kan, jadi gak seru." Balas Adel tersenyum menatap Bian.


"Oh gitu, kamu berhasil kalau begitu. Karena sudah membuatku terkejut, bahkan sampai lari kesini untuk memastikan kalau itu beneran kamu atau tidak." Ucap Bian yang masih tak percaya akan kedatangan Adel.


"Wah aku jadi senang dengarnya, soalnya rencanaku benar-benar berhasil." Senyum Adel.


"Terus, apa kamu datang kesininya sendirian?" Tanya Bian kemudian.


"Enggak lha, aku datang sama Adnan tadi."


"Ah.." Jawaban yang sudah tertebak, begitulah jika menjelaskan ekspresi yang dibuat oleh Bian saat ini. Namun, disatu sisi tampaknya Bian tersadar, kalau tak melihat keberadaan Adnan meski Adel bilang datang bersamanya.


"Katamu datang sama Adnan, lalu dimana dia?" Tanya Bian mencari keberadaan Adnan.


"Ah.. dia menyuruhku masuk dulu ke hotel, kemungkinannya sih dia masih ada urusan. Soalnya dia datang kesini karena memang lagi ada urusan juga, makanya tadi kita bisa barengan datangnya. Nanti juga dia akan datang kesini kok, tenang saja." Jelas Adel.


Bian terdiam, ia hanya mengangguk kecil, namun seketika saja dia jadi tersadar dengan perhatian orang-orang disekitarnya, pandangan mereka seolah ke arahnya yang tengah mengobrol berdua dengan Adel. Terdengar juga sedikit bisikan-bisikan yang ditujukan padanya dan Adel.


"Oh iya, kita ngobrolnya sambil makan yuk. Kamu belum makan, kan?" Ajak Bian untuk segera menggiring Adel keluar dari perhatian orang-orang di sekitarnya.

__ADS_1


"Aku udah makan sih tadi di pesawat, tapi boleh deh, tiba-tiba saja aku jadi lapar lagi setelah datang kesini." Adel mengiyakan ajakan Bian tanpa keberatan. Keduanya pun berjalan menuju ke arah restaurant, menjauhi beberapa kerumunan yang ada di lobi.


Saat keduanya menjauh, dua staff bagian resepsionis yang berjaga saat ini terlihat membicarakan mereka dengan terbuka, setelah tadi hanya memandang mereka dari jauh dengan penuh rasa penasaran.


"Wah, ternyata beneran kalau mereka saling kenal, ku kira tadi cuma bohongan." Celetuknya melihat kedekatan Bian dengan Adel.


"Iya bener, tapi dia siapa ya? apa dia pacarnya?, tapi perempuan itu bilang hanya teman deketnya.?" Saut lainya yang penasaran akan identitas seorang Adel.


"Kayanya sih memang teman dekatnya, tapi kalau cuma sekedar teman dekatnya agak kurang yakin juga, karena mereka terlihat akrab juga."


"Iya benar, tadi juga mereka saling berpelukan dengan mesra gitu, tapi bisa aja memang cuma teman dekatnya. Tapi, kalau melihat kedekatan mereka, kenapa aku jadi agak iri, ya?"


"Kenapa jadi iri?"


"Sebagai perempuan aku merasa iri lha, karena gak bisa dekat dengan cowok seganteng pak Bian. Perempuan itu beruntung banget sumpah, semoga mereka gak pacaran ya, dan emang beneran teman doang." Jelasnya dengan agak halu.


"Dasar, bangun sana. Mimpimu ketinggian banget tau. Hadeh nih orang." Kesal teman disampingnya melihat kehaluan temanya.


"Kamu yakin gak mau makan? Katanya tadi tiba-tiba jadi lapar setelah datang kesini?" Tanya Bian pada Adel yang lebih memilih ke kafe dibanding ke restaurant.


"Iya, aku yakin. Tiba-tiba saja tadi aku jadi gak mood, dan pengen minum kopi sama camilan ringan seperti ini. Di tambah aku lebih suka sama suasana kafe, karena jauh lebih santai menurutku" Jawab Adel yang menyeruput kopinya dengan perasaan senang.


Keduanya pun mengobrol dengan santai di dalam kafe, sambil menyeruput kopi pesanan masing-masing. Suasana santai dan hangat itu nyatanya tak bisa dirasakan oleh Bian, karena meski mencoba tetap tenang, tak dipungkiri dia masih terlalu terkejut dengan kehadiran Adel yang tiba-tiba. Ia bahkan masih agak canggung untuk mengobrol.


"Oh iya, Bi kamu hari ini gak lagi sibuk, kan?"


"Em.. Enggak terlalu sih, kenapa gitu?" Tanya Bian balik.


"Gapapa hanya tanya saja, tapi aku sudah kira sih, soalnya tadi pegawai yang di depan bilang begitu ke aku. Kalau kamu lagi gak ada tugas hari ini."


Pegawai yang di depan? Bagaimana mereka bisa tau? Ah, apa ini karena permintaanku tadi ya?

__ADS_1


"Iya, aku memang tidak terlalu banyak pekerjaan hari ini, tapi bukan berarti gak ada pekerjaan juga sih."


"Sudah tau, memangnya kapan kamu tidak sibuk. Dasar workaholic." Sindir Adel dengan lirikan tajamnya pada Bian.


Bian hanya tersenyum mendengar sindiran dari Adel.


"Oh iya, kamu menginap disini atau gimana?" Tanya Bian.


"Of course, aku akan menginap disini, gak mungkin aku langsung balik ke jakarta. Capek tau." Balas Adel.


"Ah gitu, terus apa kamu sudah dapat kamarnya?"


"Sudah dong, sambil nungguin kamu tadi, aku langsung check in."


"Harusnya kamu bilang saja tadi kalau mau datang, biar aku bisa langsung siapin kamarnya tanpa prosedur hotel." Ujar Bian merasa tak enak.


"Ya jangan dong, meski aku teman kamu, aku tetap gak mau kalau dikasih gratis. Aku harus bayar kan, biar seorang Bian cepat pulangnya." Ucap Adel sedikit menyindir Bian.


Bian terdiam mendengar perkataan dari Adel, ia jadi tak bisa mengontrol ekspresi terkejutnya karena saking speechless nya. Namun, dengan cepat ia mencoba untuk tersenyum dalam merespon perkataanya.


"Kamu bilang sudah dapat kamar kan, yaudah ayo aku antar ke kamar kamu sekarang. Soalnya tadi aku lupa meninggalkan pekerjaanku yang belum selesai, jadi hari ini aku mau menyelesaikanya, karena itu aku gak bisa mengobrol lebih banyak." Kata Bian yang mencoba mencairkan suasana, dan juga ingin berlari dari situasinya saat ini.


"Ok, deh. Meski agak sayang juga kita cuma mengobrol sebentar." Balas Adel dengan mimik cemberut. "Tapi aku juga mau tau dong kamu tinggal di kamar nomor berapa? Siapa tau nanti aku bisa mampir kesana." Ucapnya jadi semangat lagi.


Sambil berjalan menuju ke kamarnya, Bian dan Adel saling berbincang kecil untuk mencairkan suasana mereka. Meski hubungan mereka sangat dekat, karena sudah saling mengenal sejak kecil, namun entah mengapa hari ini jadi terlihat canggung, bahkan seperti ada jarak di antara mereka.


"Nanti aku boleh mampir ke kamar kamu, kan?" Tanya Adel sesampainya dia di depan kamar miliknya.


"Em, mampir saja, sekarang istirahatlah pasti kamu masih capek habis dari pesawat, dan kalau mau butuh sesuatu, nanti telfon saja." Balas Bian.


"Ok, aku masuk dulu ya."

__ADS_1


Saat pintu tertutup, Bian masih berdiri di depan kamar milik Adel dengan ekspresi penuh pikiraan. Sepertinya ia masih kepikiran soal perkataan Adel tadi. Dengan perlahan, ia mulai menjauhkan tubuhnya dari depan kamar milik Adel.


__ADS_2