
"Kamu tidak usah memikirkan perasaan sukaku padamu, itu nanti biar aku yang mengurusnya sendiri, jadi lebih baik kamu jujur saja pada perasaanmu sendiri." Tutur Adnan.
Kalimat yang dikatakan oleh Adnan padanya beberapa hari yang lalu, sepertinya begitu membekas pada ingatan Adel. Karena itu dia seperti hendak ingin memastikan perasaanya sendiri.
"Sayang, jadi kamu pilih siapa nih? Bian atau Adnan?" Tanya Risa pada Adel sepulangnya dari kantor.
"Ih mama kepo deh." Jawab Adel tak perduli dengan pertanyaan mamanya yang setengah menggoda itu. "Eh tapi, maksud mama apa dengan Bian atau Adnan?" Ucap Adel berhenti melangkah, dan menoleh ke arah mamanya.
Risa hanya mengangkat bahu, seolah pura-pura tak faham.
"Mama, kan Adel sudah bilang, kalau itu bukan cerita aku." Ngambek Adel, dan berlalu masuk ke dalam kamarnya.
"Dasar, dia pikir aku tidak tahu apa? Dia tidak pandai berbohong rupanya." Ucap Risa tersenyum lucu melihat sikap malu anaknya.
Risa menatap ke arah kepergian anaknya dengan penuh pertanyaan. "Pasti tidak mudah baginya untuk memilih salah satunya." Ucapya mengarah pada putrinya. "Apalagi keduanya sudah dekat dari dulu, benar-benar tidak kusangka akan begini" Sambungnya, memikirkan hubungan perteman putrinya. "Tapi, bagus juga, itu artinya sebentar lagi aku dapat mantu." Ucapnya senang hanya dengan memikirkanya saja.
...
"Dasar mama, dia benar-benar peka banget ya." Keluh Adel dikamarnya. "Apa harusnya kemarin aku tidak usah bertanya saja sama mama ya?" Cemberut Adel. "Padahal kan, aku sengaja bertanya sama mama karena mama lebih enak di ajak bicara, dibanding sama papa yang suka jahil sama aku." Gerutu Adel dengan sedikit manyun mengingat mamanya yang terus saja menggodanya.
Adel duduk di atas ranjangnya dengan sedikit memikirkan perkataan mamanya " Haruskah aku memilih salah satunya?" Ucapnya.
"Kenapa makin kesini jadi semakin membingungkan ya?, padahal kita berdua baru berkumpul bersama setelah sekian lama." Ucapnya mengacu pada hubungan pertemananya pada Bian dan juga Adnan.
"Padahal tadi pagi aku baru saja senang, kenapa sekarang jadi kusut lagi." Kesalnya dengan membuang nafas kasar. "Ah, entahlah, yang penting tadi hadiahku sudah sampai pada Bian." Ujarnya dengan senang.
Tak lagi memikirkan ucapan mamanya dan berlarut akan pikiran kusutnya, Adel dengan segera masuk ke kamar mandi untuk membasuh badanya yang mulai lengket.
__ADS_1
......................
Di hotel, terlihat Kinan yang tampak sibuk dengan pekerjaanya, namun karena sebuah pesan yang tiba-tiba berbunyi dari ponselnya, membuatnya keluar dari hotel dengan terburu-buru.
"Dia pikir ini hotelnya apa?" Kesal Shiva yang melihat Kinan keluar begitu saja dengan setengah berlari. "Kenapa aku lama-lama makin gak suka sama sikapnya ya?" Ucapnya lagi dengan ekspresi jengkel menatap kepergian Kinan. "Haruskah aku bikin dia kapok?" Sambungnya dengan senyum seringainya.
Entah apa yang dilakukan oleh Shiva, ekspresi mukanya begitu misterius dan hendak merencanakan sesuatu dari ponselnya.
"Entahlah, sepertinya ini akan jadi kartu as buatku nanti. Pasti nanti heboh deh, kalau ini keluar nanti." Ucapnya kembali pada pekerjaanya dan mengurungkan niatnya.
Beralih ke luar hotel, terlihat sosok Kinan yang seolah sedang mencari seseorang, mengingat dirinya yang tampak celingukan.
"Kinan." Sapa seseorang dari arah belakang Kinan.
Kinan menoleh pada orang yang menyapanya, "Mas Bayu, bagaimana kabarnya orang tua mas Bayu sekarang?" Ucap Kinan dengan muka penuh khawatir pada Bayu yang menghampirinya.
Kinan merasa lega setelah mendengarnya, "Syukurlah, aku tadi sempet kaget lho dapat kabar dari Ayu, terus mencoba menghubunginya balik tapi tidak dijawab-jawab juga sama Ayu, jadi tadi aku telfon mas Bayu. Aku senang mendengarnya kalau orang tua mas Bayu sudah tidak apa-apa." Kata Kinan penuh perhatian pada orang tua Bayu.
"Iya kebetulan saja kamu telfon tadi, jadi aku bisa mampir karena arahku tadi cukup dekat dengan hotel tempatmu bekerja." Balas Bayu.
"Dan sebenarnya ada hal yang ingin aku katakan sama kamu juga, karena itu aku mampir kesini dan pengen bertemu sama kamu, meski aku tahu kamu pasti lagi sibuk." Jelas Bayu.
"Sama saya? Ada apa mas? Apa orang tua mas Bayu ngedrop lagi?" Tanya Kinan balik dengan sedikit panik.
"Oh bukan kok, Ibu sama bapak sudah agak baikan. Tapi, sebenarnya masih ada hubunganya dengan mereka sih. Itu.. apa kamu bisa meluangkan waktu untuk ketemu sama mereka sebentar? Soalnya mereka sangat ingin bertemu sama kamu." Ucap Bayu.
Tiba-tiba saja Kinan menangis setelah mendengar permintaan dari Bayu. Tangisanya yang tiba-tiba tentu saja membuat Bayu terkejut. "Kenapa? apa kamu tidak bisa? atau perkataan mas Bayu ada yang salah?" Tanyanya dengan panik melihat Kinan menangis, namun juga mencoba menenangkan Kinan.
__ADS_1
"Bagaimana ini, aku malu sama orang tua mas Bayu karena sudah lama tidak mampir ke rumah." Ucap Kinan yang tak lagi bisa menyembunyikan kesedihanya.
Bayu terdiam, ia sangat tahu bagaimana Kinan begitu menyayangi orang tuanya, karena itu dia jadi sedikit merasa bersalah padanya, karena masih ada sangkut pautnya dengan dirinya, tentang alasan Kinan yang kini tak lagi mampir ke rumah orang tuanya.
"Maafkan mas Bayu ya, kamu pasti sedih tidak bisa bertemu dengan orang tua mas Bayu lagi." Ujar Bayu mencoba menenangkan kesedihan Kinan dengan mengusap air matanya. "Sekarang datang saja kerumah seperti biasanya. Kamu sudah tidak perlu memikirkan soal Intan." Sambung Bayu yang mengacu pada pacarnya.
"Tapi.." Ragu Kinan.
"Seharusnya waktu ditaman kemarin, aku mau bilang soal ini ke kamu, tapi sepertinya kamu lagi ada masalah waktu itu, karena itu aku gak jadi bilang soal ini ke kamu."
"Apa benar tidak apa-apa? Intan tidak akan marah soal ini, kan?" Tanya Kinan mencoba memastikan.
"Iya, datang saja. Soal Intan, kamu tenang saja, nanti biar aku yang urus." Jawab Bayu menjamin akan itu, "Kamu tahu gak, saat ibu sama bapak lagi droup, orang yang mereka cari itu justru kamu, karena itu temui mereka jika sudah tidak sibuk, ya?." Sambungnya lagi.
"Em.. Baiklah, apa sepulang kerja nanti aku bisa mampir kerumah mas Bayu?"
"Boleh, yaudah nanti aku jemput ke kosan kamu ya?"
"Eh, aku bisa kesana sendiri kok." Tolak Kinan yang kini sudah sedikit tenang setelah menangis tadi.
"Tidak apa, biar aku jemput kamu nanti. Yaudah masuk sana, kamu lagi sibuk kan tadi?"
"Mas kok gitu sih, aku kan bilang akan datang kesana sendiri dengan motorku." Cegat Kinan pada Bayu yang hendak pergi.
"Sudah masuk sana, mas juga lagi ada urusan nih." Ucap Bayu yang tak mau mendengar penolakan dari Kinan. "Eits, jangan lupa nanti aku jemput lho. Nanti aku kabarin lagi kalau sampai ke kosan kamu, bye.." Ucapnya lagi dan benar-benar pergi dari hadapan Kinan.
Melihat itu, hanya bisa membuat Kinan menghela nafas panjang. "Dasar mas Bayu." Gumamnya tak lagi bisa menolak.
__ADS_1
Cekrek ... Sebuah flash kamera tampak memotret keduanya.