Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
101. Ungkapan Bian pada Adnan


__ADS_3

"Aku pamit dulu ya nek, nanti Bian pasti akan mengunjungi nenek lagi." Ujar Bian yang hendak berpamitan pergi pada foto milik sang nenek yang tengah ia tatap begitu lekat.


Setelah berdiri cukup lama di depan foto milik sang nenek, dengan cerita-cerita kecil yang ia katakan di depan foto milik neneknya, entah mengapa membuat perasaan Bian jadi sedikit lega. Raut wajahnya kini terlihat jauh lebih tenang setelah mengadu di depan foto neneknya. Meskipun ia tak mendapatkan balasan dari sang nenek, namun hanya dengan menatap wajahnya saja sudah membuat perasaanya senang. Terlebih ketika melihat foto wajah sang nenek yang sedang tersenyum cerah, membuat hati Bian merasa lebih damai.


"Wah, tau gini aku mengunjungi nenek lebih cepat." Ucapnya yang merasakan perasaan damai setelah berkunjung pada ruangan yang menyimpan banyak kenangan milik neneknya.


"Mungkin lain kali aku harus datang ke makamnya." Ucapnya teringat akan makam milik neneknya yang juga sudah lama tidak ia kunjungi.


Dengan langkahnya yang pelan, Bian meninggalkan rumah masa kecilnya itu dengan perasaan yang sedikit lebih damai dibandingkan dengan saat waktu ia tiba. Meskipun kekhawatiranya menjadi kenyataan, setidaknya ia sudah memberanikan diri untuk berbicara pada papanya.


"Akan aku pikirkan pelan-pelan soal itu nanti." Tutupnya yang akhirnya memilih berjalan meninggalkan rumahnya.


Tak membutuhkan waktu yang lama bagi dirinya yang hendak keluar menghampiri Dimas yang tengah menunggu dirinya.


"Sebelum kembali, kita ke suatu tempat dulu." Bian yang sudah berada diluar, menghampiri Dimas yang masih setia menunggu dirinya.


"Baik." Dimas tanpa penolakan mengiyakan permintaan dari Bian dan mulai menyalakan mobilnya.


Bian masuk kedalam mobil, begitu Dimas membukakan pintu untuk dirinya. Meski sebelum ia berangkat pergi, ia lebih dulu berpamitan pada penjaga rumah keluarganya yang sedang membukakan pintu gerbang untuknya.


"Aku pergi dulu, ya pak. Tolong sampaikan pada keluargaku nanti, kalau aku memilih pulang lebih cepat." Ucap Bian pada pak Kardi.


"Baik, den. Nanti bapak akan sampaikan pada keluarga aden." Pak Kardi membalasnya dengan ramah, lalu tersenyum melepas kepergian Bian.


...


Tidak ada yang istimewa, meski Bian disuruh untuk pulang kerumah, rasa yang tertinggal tetaplah sama. Hampa, sunyi, sepi, hingga suasana yang cukup dingin adalah hal yang biasa ia rasakan dalam keluarganya. Obrolan bersama keluarganya pun bahkan tak sampai satu jam, semua terasa singkat dan terkesan hambar, seolah sia-sia saja ia pulang kerumah.


Meski aku tau akan begini, aku tetap pulang saat disuruh untuk pulang?


Meski tak membenci keluarganya, namun ia juga tak terlalu menyukai keluarganya. Hampir separuh hidupnya atas kehendak keluarganya, dan terkadang itu sangat menyesakkan bagi dirinya. Memiliki keluarga yang perfeksionis memanglah tidak mudah, dan Bian masih mencoba untuk bertahan dan juga memahami akan itu.


Ia kembali termenung begitu pulang dari rumah orang tuanya, meski mencoba untuk bersikap lebih tenang, kekhawatiran akan permasalahan dirinya tetap saja terus menghantui perasaanya.


"Coba turunkan aku di Bar kafe seberang jalan itu, soalnya aku mau ketemu sama temanku disana." Pinta Bian pada Dimas yang lagi menyetir mobil untuknya.

__ADS_1


"Baik." Lagi-lagi hanya jawaban singkat dari Dimas.


"Oh iya, setelah aku turun, kamu pergi saja dan bawa mobilnya, soalnya nanti aku bareng sama temanku."


"Baik, pak." Balas Dimas yang kembali menuruti permintaan Bian.


Setelah itu pun keduanya sampai pada tempat tujuan yang dimaksud oleh Bian.


"Tidak usah turun, kamu langsung pergi saja begitu aku turun." Bian melarang Dimas yang hendak turun membukakan pintu untuknya.


Dimas yang sudah melepas sealt beltnya, kembali memasangnya begitu Bian masuk kedalam kafe. Seperti yang dikatakan oleh Bian padanya, Dimas pun akhirnya memilih pergi meninggalkan Bian seorang diri.


...


Bian masuk dengan langkah tenang saat memasuki bar kafe. Begitu ia masuk, ada sosok yang begitu familiar tengah menunggu kehadirannya.


"Sorry, aku agak telat." Bian langsung duduk disamping sosok tersebut, yang tak lain adalah sahabatnya sendiri, yaitu Adnan.


"Oh, akhirnya datang juga. It's okay, aku juga baru dateng." Balas Adnan ketika melihat kedatangan Bian.


"Lama nggak tadi nunggunya? Soalnya tadi aku habis dari rumah orang tua dulu."


Bian mengobrol santai bersama sahabat yang telah lama tak ia temui itu, sembari meminum minuman yang mereka pesan.


"Wah, aku gak nyangka bisa lihat kamu lagi." Ucap Adnan ketika tiba-tiba dihubungi oleh Bian sepulangnya dari rumah keluarganya.


"Iya, juga ya! Sorry deh, selama ini agak kurang menghubungimu." Ucap Bian membalas Adnan.


"It's okay, aku tau kamu lagi sibuk sama pekerjaanmu, akupun juga begitu." Adnan tak mempermasalahkan soal Bian yang jarang menghubungi dirinya.


Bian hanya diam dengan ekspresi wajahnya yang terlihat tak bersemangat, sambil memainkan minuman miliknya.


"Ngomong-ngomong, tumben ngajak ketemuanya ditempat begini? Apa kamu lagi ada masalah?" Tanya Adnan yang merasakan perasaan aneh begitu Bian meminta bertemu di dalam bar.


"Bisa dibilang begitu." Bian tiba-tiba menenggak minuman berakohol yang telah ia tuangkan dalam gelas miliknya.

__ADS_1


"Gak biasanya kamu begini? Apa masalahmu seserius itu?" Adnan seolah merasakan perasaan aneh begitu melihat kondisi Bian yang ia lihat secara langsung. Bian yang telah lama tak ia jumpai itu, justru memasang wajah murung di depanya.


"Entahlah.., aku sendiri agak bingung." Jawab Bian yang lagi-lagi memasang wajah murung.


Adnan pun jadi ikut menenggak minuman miliknnya.


"Apa ini soal keluargamu? Kamu bernatem sama papa dan juga kakekmu?"


Adnan faham betuk bagaimana hubungan Bian bersama keluarganya yang tak terlalu akrab.


"Aku disuruh papa buat balik lagi ke kantor pusat."


"Oh, bukanya itu bagus, ya? Kamu kan jadi gak perlu jauh-jauhan lagi sama kita?"


"Justru itu masalahnya."


"Hah! Maksudnya?" Adnan memasang wajah bingung dengan perkataan Bian.


"Aku tidak bisa meninggalkan sesuatu yang berharga."


"Sesuatu yang berharga? Apa? Apa kamu punya sesuatu disana?"


"Ada." Bian hanya memberikan balasan yang cukup singkat, hingga membuat Adnan bertanya-tanya akan maksud darinya.


Adnan lagi-lagi memasang wajah bingung dengan perkataan Bian yang ambigu dan penuh teka-teki itu.


"Bukanya kamu gak terlalu suka disana, ya?"


"Awalnya memang begitu, sebelum aku bertemu dengannya."


"Maksud kamu apa?" Tanya Adnan dengan rasa penasaranya.


"Ada orang yang kusuka disana."


Boom, Adnan yang mendengar penjelasan dari Bian seolah merasa terkejut, hingga sempat terpaku sejenak akan perkataan yang ia dengar dari Bian.

__ADS_1


"Tunggu, kamu bilang apa tadi?" Ucap Adnan mencoba mengkonfirmasi apa yang di dengarnya tadi, sembari menatap wajah Bian yang duduk disampingnya.


"Ada orang yang kusuka, dan orang itu saat ini tinggal di jogja. Karena itu, aku jadi tidak bisa meninggalkan tempat itu."


__ADS_2