
Tidak ada permintaan maaf, maupun itikat baik dari orang-orang yang menyebarkan rumor buruk tentangnya dan pada orang yang ikut bergunjing tentang dirinya.
Meski agak kecewa akan hal tersebut, Kinan tetap fokus pada pekerjaanya dan kembali melakukan tugas seperti biasanya. Karena ia sendiri tak mau berlarut-larut dalam memikirkan hal tersebut, yang sangat mengganggu kehidupan pribadinya.
"Aku benar-benar tidak menyangka, kalau mbak Shiva setidak suka itu sama mbak Kinan." Ucap Aura menghampiri Kinan dan tengah mengajaknya bicara.
Sepertinya Aura begitu menghawatirkan kondisi Kinan setelah mendengar romor yang beredar.
"Benar, aku sendiri tidak menyangka ternyata dia begitu membenciku." Balas Kinan yang juga merasa aneh.
"Mungkin gak sih, kalau dia itu tidak suka sama mbak Kinan karena mbak yang diangkat jadi manager?" Tebak Aura.
"Sepertinya sih gitu." Kata Kinan, setelah terdiam sejenak.
"Benar tuh, dia itu iri sama mbak Kinan makanya melakukan hal licik seperti itu. Sepertinya dia tidak terima deh karena mbak kinan yang diangkat jadi manajernya. Dia kan lulusan luar negeri tuh, sepertinya harga dirinya terluka karena itu." Kata Aura dengan memasang ekspresi kesal.
Kinan hanya diam, dia tak tahu harus jawab seperti apa karena ini benar-benar diluar kendalinya.
"Sudahlah, aku sendiri sudah tidak memperdulikanya." Kata Kinan tak perduli.
Aurapun tak lagi mendebat, dia menghargai pendapat dari Kinan yang tak ingin lagi mempermasalahkan hal tersebut. Meski sebenarnya dia tidak suka melihat Kinan yang menerimanya begitu saja. Padahal rumor yang beredar cukup melukai naman baiknya.
"Mbak Kinan terlalu baik nih jadi orang." Kata Aura pergi meninggalkan Kinan dengan ekspresi cemberut.
Kinan hanya bisa tersenyum melihat muka cemberut dari Aura. Rasa kesal darinya, entah mengapa begitu menghiburnya, seolah terwakilkan.
...
Karena rumor belum juga padam, Bianpun akhirnya turun tangan untuk menyelesaikan masalahnya. Mengingat dirinya ikut terlibat dalam rumor tersebut. Meski sempat cuek, namun ternyata romornya makin melebar dan itu sedikit mengganggu dirinya.
Melalui Dimas ia bisa dengan segera menyelesaikan akar masalahnya. Dalam hal menyelesaikan masalah seperti ini, Dimas benar-benar bisa diandalkan. Bian tak pernah merasa tak puas dengan kinerjanya. Ia begitu beruntung bisa mempunyai anak buah yang bisa diandalkan dan juga bisa dipercaya seperti Dimas.
"Bagaimana? apa sudah kamu bereskan masalah ini?" Tanya Bian pada Dimas.
"Saya sudah melakukan sesuai intruksi anda." Jawab Dimas.
"Siapa yang melakukannya?"
__ADS_1
Dimas memberitahu segalanya pada Bian awal mula rumor beredar dan mengapa bisa menyebar luas.
Mendengar penjelasan dari Dimas, Bian benar-benar kehilangan kata. Setelah datang ke hotel ini, ada saja masalah yang ia hadapi hingga menambah beban baru dipikiranya.
"Aku beruntung punya kamu." Ucap Bian merasa lega ada Dimas disampingnya. "Terimakasih sudah menyelesaikan masalah ini. Pastikan hal seperti ini tidak terjadi lagi." Ucapnya lagi.
"Baik." Jawab Dimas dan iapun pergi dari hadapan Bian.
Kepala Bian benar-benar dibuat pusing dengan masalah seperti ini. Meski bukan sekali dia mendapat sebuah rumor buruk, namun entah mengapa kali ini begitu mengganggunya.
Lusa dia sudah harus kembali untuk memberikan laporan pada kekeknya. Karena itu ia ingin dengan segera menyelesaikan masalah tersebut.
"Aku harus bertemu denganya." Ucapnya.
...
Karena insiden buruk tersebut telah masuk kedalam telinga Bian, selaku pemimpin mereka. Semua staff akhirnya disuruh lembur dan mempertanggung jawabkan kesalahan mereka.
Orang yang paling terkena teguran keras adalah Shiva. Setelah mendapat amarah dari Bian, dia benar-benar tak banyak bicara.
"Kenapa kita jadi ikut-ikutan lembur dan dihukum begini sih?" Kesal Aura merasa tak terima.
"Sudahlah, kita kerjakan saja apa yang disuruh biar cepat pulangnya." Saut lainya.
Melihat semua terlihat kesal karena mendapat hukuman dari Bian, membuat Kinan serba salah. Meski bukan dia yang menyebarkan rumor, entah mengapa membuatnya ikut merasa bersalah karena masih ada sangkut pautnya dengan dirinya.
Ia jadi teringat bagaimana Dimas menghampiri dirinya dan juga yang lainya. Ekspresi pertama yang ia buat ketika Dimas mendengar rumor buruknya bersama Bian adalah, rasa kaget dan perasaan menyesal karena harus melibatkan mereka berdua.
Kinan tak bisa menyembunyikan rasa malunya dihadapn Bian dan juga Dimas. Rumor buruk tentangnya yang melibatkan mereka sangat disesali oleh Kinan, mengingat bagaimana selama ini ia sudah berusaha agar tak terjadi masalah selama mereka berkunjung ke hotel.
"Semoga beliau bisa memakluminya dan tidak marah soal ini. Aku agak malu dengan rumor buruk yang tengah beredar." Ucap Kinan merasa bertanggung jawab soal keributan ini.
...
Tok.. tok.. tok.., Suara ketukan dari arah pintu.
"Siapa?"
__ADS_1
"Maaf pak, ini Kinan."
Karena merasa bertanggung jawab akan keributan ini, Kinan mencoba menemui Bian didalam kamarnya. Meski ia tahu ini sangat tidak sopan dan melanggar aturan.
"Kamu ada urusan denganku?" Kata Bian begitu membuka pintu untuknya. Terlihat dari raut wajahnya, Bian seperti menahan kesal dan penuh dengan amarah.
"Maaf, saya kesini hanya ingin mengatakan permintaan maaf pada anda dengan keributan yang terjadi hari ini." Kata Kinan mencoba menjelaskan.
"Kenapa kamu yang meminta maaf?" Ucap Bian menatap Kinan didepanya. Keduanya masih berbicara didepan pintu, karena Bian yang menahanya didepan pintu.
"Itu.. karena saya, anda jadi ikut terlibat dalam masalah ini. Saya benar-benar minta maaf soal ini." Jawab Kinan merasa berasalah.
"Hanya itu?"
"Iya." Jawabnya menatap sungkan wajah Bian.
"Sudahlah, lupakan. Masalah hari ini sudah diselesaikan oleh Dimas dengan baik. Hanya saja, aku berharap hal seperti ini tidak membuat citra hotel jadi buruk kedepanya. Kamu faham soal inikan?" Tekan Bian.
"Baik, saya mengerti. Akan saya ingat." Jawab Kinan.
Suasana menjadi hening seketika, dan membuat Kinan merasa canggung dihadapan Bian. Ia tak tahu harus berkata apa lagi untuk meredam amarahnya.
"Apa kamu masih ada yang ingin dibicarakan denganku?" Tanya Bian melihat Kinan yang terlihat Diam.
"Tidak ada, saya hanya ingin bilang ini saja.Kalau begitu saya permisi." Pamit Kinan.
Bian tak menutup pintunya sampai Kinan tak terlihat lagi dimatanya. Ia diam mematung melihat kearah Kinan berjalan.
Wajahnya pucat? apa harusnya aku tanya apa dia baik-baik saja ya tadi?
Ia masuk begitu saja dan kembali menutup pintunya dengan perasaan menyesal.
...
Dalam perjalanan pulangnya, badan Kinan tampak lemas dan wajahnya terlihat pucat. Meski mencoba untuk kuat, nyatanya dia juga seorang manusia biasa, yang tidak bisa menahan kesedihanya.
"Duh, sepertinya aku tidak ada tenaga buat mengendari motor. Aku tinggal sajalah." Ucapnya lalu memilih berjalan kaki dan meninggalkan motornya diparkiran.
__ADS_1
Ia agak melamun disetiap perjalanan pulangnya. Ingatan soal rumor buruk itu muncul kembali dan seketika membuatnya sedih. Matanya mulai berair, namun ia mencoba menahan sekuat tenanganya agar tak jatuh membasuhi pipinya.
Tiinn.. tiinn..., bunyi klakson mobil menghentikan langkah kakinya.