Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
72. Menepati Janji


__ADS_3

"Benarkah? Kalau begitu, apa kamu juga mengingat janji yang pernah kamu buat padaku dulu?" Tanya Bian, yang tak mendapat respon dari Kinan.


Sambil memegang kotak kalung yang berisi kalung gembok miliknya dulu, Kinan diam terpaku mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Bian padanya, seolah mengisyaratkan kalau dia benar-benar tidak tahu akan itu.


"Kamu tidak mengingatnya, ya?" Kata Bian melihat ekspresi bingung Kinan. Namun, anehnya dia tak marah dan malah menyunggingkan senyuman kecil ketika menatap wajah Kinan yang terpaku karena ucapannya.


"Itu.. iya, saya tidak mengingatnya. Saya minta maaf." Jawab Kinan dengan nada pelan dan ekspresi serba salah menatap wajah Bian.


"Tidak apa, aku juga dulu sempat lupa. Tapi, karena kamu sekarang akan mengingatnya, jadi kamu harus menepati janjimu padaku." Ujar Bian, yang lagi-lagi membuat Kinan merasa bingung.


"Tapi, sebelum aku memberitahukan apa janji yang pernah kamu buat padaku dulu, hari ini aku mau menepati janjiku dulu." Kata Bian yang kembali mengambil sesuatu dari dalam laci disamping tempat tidurnya. Ia mengambil kotak yang tersisa di dalamnya, lalu mengeluarkannya dari dalam laci, dan berjalan kembali ke arah Kinan begitu ia mendapatkan hal yang dicari.


"Aku pernah bilang kan sama kamu, kalau nanti kita bertemu kembali, aku akan memberikan hadiah?" Ujarnya yang kini berdiri di depan Kinan.


"I-iya." Jawab Kinan menatap canggung wajah Bian yang berdiri di depanya, sambil membawa sesuatu ditanganya.


"Karena itu, hari ini aku mau memberikanya padamu." Lanjutnya lalu mengeluarkan sebuah kalung dari dalam kotak yang ia bawa. Dan terlihatlah sebuah kalung liontin dengan desain yang cantik dan penuh keanggunan di dalamnya, hingga membuat mata Kinan terpana ketika menatapnya.


"Maaf ya, jika membutuhkan waktu yang agak lama." Tuturnya menatap mata Kinan yang kini tengah terpaku akan kalung yang dipegang olehnya.


Bian hanya tersenyum ketika melihat ekspresi yang dibuat oleh Kinan saat ini, dengan tatapan penuh pertanyaan dan terpaku akan kalung yang sedang ia pegang, bahkan ekspresi Kinan yang terlihat kebingungan ketika menatap dirinya begitu menarik perhatianya, hingga tak berhenti menyunggingkan senyumnya.


"Aku tidak tau harus memberi hadiah apa sama kamu, karena itu aku memberikan kalung ini." Ujarnya lalu berjalan selangkah lebih dekat pada Kinan dengan membawa kalung liontinya.

__ADS_1


Kinan menatap gugup pada Bian yang melangkah lebih dekat denganya, bahkan membuatnya sulit menyembunyikan eskspresi canggungnya. Ketika jaraknya begitu dekat dengan Bian, hingga bisa saling merasakan deru nafas masing-masing, membuat Kinan merasa tak nyaman sendiri, dan secara spontan ingin mundur satu langkah dari Bian. Namun, karena langkah Bian yang semakin mendekat kearahnya membuat dirinya tak bisa berkutik dan menjadi terpaku akan itu.


"Pak.." Panggil Kinan yang dibuat terkejut oleh Bian, karena mencoba memasangkan kalung liontin pemberian darinya pada lehernya langsung. Matanya membelalak tak percaya pada tindakan Bian, dan secara spontan menjauhkan tubuhnya.


Bian terlihat terkejut ketika Kinan menghindar dari dirinya yang hendak memasangkan kalung pada lehernya. Ia cukup tersentak dengan yang dilakukanya, hingga tanpa sadar membuatnya terpaku.


"Itu.., maaf. Maksud saya..." Kinan terlihat tak nyaman hingga tanpa sadar menjauhkan tubuhnya dari Bian yang hendak memasangkan kalung pada lehernya.


"Kenapa? Apa kamu tidak menyukai hadiah yang aku berikan?" Ucapnya kemudian yang sempat terdiam.


"Ah, bukan, saya suka dengan hadiah yang anda berikan, tapi saya rasa ini berlebihan bagi saya." Jawab Kinan yang merasa tak nyaman dengan hadiah yang diberikan oleh Bian padanya.


"Aku hanya menepati janjiku, karena itu aku memberikan ini padamu." Tutur Bian mencoba menjelaskan pada Kinan yang merasa tak enak menerima kalung pemberian darinya.


Bian terdiam mendengar Kinan yang kekeh menolak pemberian kalung darinya. Ia menatap kalung berbandul gembok yang sedang Kinan pegang, dan tiba-tiba mengambilnya dari tangan Kinan.


"Kalung ini biar aku pegang sebentar." Ujarnya mengambil kalung berbandul gembok yang tengah dipegang oleh Kinan dan meletakkan kalung liontin yang sempat ia beli pada tangan Kinan.


Kinan merasa tak nyaman ketika menerimanya. Ia bahkan tak bisa berkata-kata ketika melihat kalung yang tengah dia pegang. Ekspresinya merasakan kebingungan dengan hadiah yang diberikan oleh Bian, karena dia tak pernah membayangkan sebelumnya akan mendapatkan hadiah seperti ini.


"Pak,.." Ucap Kinan menatap Bian dengan ekspresi tak nyaman menerima kalung pemberian darinya, ia bahkan mencoba menolaknya kembali, karena merasa tak enak.


"Karena aku sudah menepati janjiku, jadi sekarang kamu harus menepati janjimu padaku." Ucap Bian tak merespon Kinan yang mencoba protes padanya. "Dan... sebelum itu, izinkan aku memakaikan kalungnya, ya?." Ucapnya lagi mencoba memasangkan kembali kalung pada leher Kinan.

__ADS_1


Saat Bian mengambil kalung liontin dari tanganya, dan bahkan mencoba memakaikan kalungnya pada lehernya, Kinan hanya bisa diam dan menerimanya tanpa penolakan seperti sebelumnya. Ada rasa canggung ketika Bian melingkarkan kalung pada lehernya, hingga tanpa sadar membuat hatinya berdebar. Bahkan ketika tubuh mereka saling berdekatan, Kinan tak berani menatap wajah Bian.


kecanggungan tak hanya menghampiri Kinan, hal itu juga di alami oleh Bian saat ini, yang merasa akward sendiri dengan kondisinya saat ini. Ketika melingkarkan kalung pada leher milik Kinan, ia bahkan sempat terpaku karena merasa canggung dengan hal yamg dilakukanya.


"Selesai," Ujar Bian begitu selesai memasangkan kalungnya pada leher Kinan dengan menahan ekspresi canggungnya menatap wajah Kinan. Ia bahkan sedikit mengalihkan pandanganya, karena merasa sedikit malu untuk menatap.


Suasana di antara mereka tiba-tiba menjadi sunyi dan hening. Keduanya bahkan tak bisa mengatur ekspresi mereka yang canggung.


"Ah, dan ini, aku kembalikan lagi kalungnya." Ucap Bian mengembalikan kembali kalung berbandul gembok yang sempat ia ambil dari Kinan.


"Terimakasih." Balas Kinan menatap Bian ketika menerima kalungnya kembali.


"Sekarang aku sudah menepati janjiku, kan?" Tanya Bian begitu Kinan menerima kalungnya.


"Iya," Jawab Kinan dengan agak canggung.


"Baiklah, sekarang aku menunggu janji yang kamu buat padaku? Apa sekarang kamu sudah mengingatnya?" Tanya Bian mencoba memastikanya kembali.


"Itu.., saya sedikit mengingatnya, tapi.. sepertinya saya akan kesulitan jika ingin memberikan hadiah pada anda, karena saya tidak bisa membelikan hadiah yang mahal buat anda." Ucap Kinan merasa hadiah darinya tak akan cocok dipakai oleh Bian, mengingat Bian yang selalu memakai barang yang bermerek.


Bian tersenyum mendengar jawaban dari Kinan. "Kalau begitu, apa kamu percaya padaku?" Ucapnya kemudian.


"Maaf?" Bingung Kinan dengan ucapan Bian.

__ADS_1


"Aku tak ingin hadiah barang dari Kinan, tapi luangkan waktumu satu hari untukku, bagaimana?"


__ADS_2