
Pukul 11.35 malam.
Kinan yang kini berada di kamar kosanya, tengah menyelesaikan perintah dari Bian sebelumnya. Ia sudah memperbaiki kesalahan laporanya dan segera mengirimkan kembali melalui email dan tak lupa mencetaknya ulang untuk berjaga-jaga.
"Akhirnya selesai, semoga tidak ada masalah lagi." Ucapnya lega menatap layar laptopnya.
"Aku tidak tau berapa lama beliau ada disini, tapi aku harap tidak ada masalah kedepanya selama beliau ada disini." Katanya lagi perihal Bian yang datang ke hotel.
Sejenak Kinan terdiam, ia teringat akan pertanyaan dari Bian tadi, perihal berapa lama ia tinggal disini. Ekspresinya agak bingung dengan pertanyaan yang tiba-tiba seperti itu dari Bian.
"Kenapa beliau bertanya soal itu ya? apa ada alasanya kah? agak aneh aja beliau penasaran soal berapa lama aku tinggal disini." Gumamnya dengan ekspresi bingung.
Karena jam sudah menunjukkan hampir tengah malam, Kinan bergegas untuk tidur setelah berkutat pada layar laptopnya sedari tadi. Matanya mulai lelah dan berat untuk sekedar membuka. Perlahan membaringkan tubuhnya pada kasur dan memulai menutup matanya. Merilekskan sejenak tubuhnya, setelah sedari pagi sibuk di hotel.
__ADS_1
...
Di tempat hotel, Bian masih terjaga dari tidurnya, ia seolah masih beradaptasi dengan lingkungan barunya. Menatap langit kamarnya dengan muka lelah dan beberapa kali menghela nafas panjang.
Ditengah lamunanya, sejenak ia jadi teringat dengan Kinan. Entah kenapa ia bisa teringat denganya, Bianpun tampak bingung dengan hal tersebut.
Obrolan keduanya yang sempat terputus karena dering telfon, membuat Bian masih penasaran, apalagi sosok Kinan itu sendiri yang membuat Bian menaruh perhatian, karena namanya yang tampak familiar untuknya.
"Kinan.. , nama yang sama." Gumamnya.
Hanya karena fakta yang baru ia ketahui, sudah membuat perasaanya kacau dan tidak tenang beberapa hari ini. Padahal hanya kalung sederhana milik gadis kecil yang tak sengaja ia jumpai di panti asuhan, yang bahkan tak pernah ia temui lagi setelah itu.
"Kenapa aku begini ya..?" Gumamnya bingung, lalu bangkit dari tidurnya dan mengambil segelas air minum diatas mejanya.
__ADS_1
Ia duduk di kursi dan mencoba menyalakan layar laptopnya, sebuah pesan masuk begitu ia membuka layar laptopnya. Terlihat disana, sebuah laporan yang dikirimkan oleh Kinan telah masuk.
Bian mencoba membuka dan membaca laporanya, ia tampak takjub dengan Kinan yang bisa memperbaiki laporan tersebut dalam waktu singkat dan bahkan langsung di kirimkan padanya.
Tiba-tiba dia berdiri dan mencari sesuatu, ia mengambil kembali sebuah amplop yang di berikan oleh Dimas tadi.
Dengan hati-hati, Bian mencoba mencari data yang berisi laporan dari Dimas sebelumnya. Laporan tersebut adalah perihal masalah hotel dan laporan soal kinerja para staff dalam 5 tahun kebelakang.
Meski sudah mendapat laporan dari Kinan, namun Bian ingin tetap membuat perbandingan, karena itu ia meminta Dimas menyelidiki semua hal tentang hotel agar bisa ia bandingkan dengan laporan yang dibikin oleh Kinan.
Pada akhirnya, ia kembali berkutat pada pekerjaanya lagi, padahal baru beberapa jam yang lalu ia beristirahat.
"Terlepas dari namanya, aku suka cara kerja dan juga penyelesaiannya." Puji Bian, melihat hasil laporan dari Kinan dan milik Dimas tak ada perbedaan.
__ADS_1
Begitu selesai melihat hasil laporan tersebut. Ia tiba-tiba beralih pada profil Kinan, menatap lekat foto Kinan yang terpampang di layar laptop miliknya yang dikirim oleh Dimas sebelumnya. Matanya terbelak begitu melihat profil tersebut.