Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
60. Hal Tak Terduga


__ADS_3

"Ada yang ingin aku pastikan, agar aku tak merasa bingung lagi."


Setelah perkataan yang dilontarkanya itu, entah mengapa membuat Kinan menjadi gugup dan canggung tanpa sebab.


"Sama saya?" Tanya Kinan bingung pada Bian, dan mencoba tetap tenang meski ekspresinya sendiri sedikit gugup.


Kinan menunggu Bian bicara kembali, namun tiba-tiba saja ia dibuat terkejut dengan Bian yang terus melangkah menghampiri dirinya, dengan mendekatkan tubuhnya semakin dekat dengan posisi berdirinya saat ini. Kinan tentu saja spontan mundur selangkah, merasa tak nyaman sendiri, bahkan untuk menatap Bian is merasa sedikit canggung.


"Saat berdua.."


Belum selesai ia berbicara, namun dering ponsel menghentikan ucapanya. Bian terdiam, karena merasa terhenti untuk mengatakan sesuatu pada Kinan. Ia menghela nafas sedikit kesal dengan timingnya saat ini yang dirasa tak tepat.


"Kalau begitu saya permisi dulu pak" Ucap Kinan kemudian, yang merasa dia harus pergi agar Bian bian bisa mengangkat telfonya.


Namun entah mengapa Bian membiarkan begitu saja ponselnya terus berdering, bahkan saat melihat Kinan yang hendak pergi mendahuluinya, ia justru lebih mmeilih menahan tangan Kinan agar tak pergi, dan menghiraukan dering ponselnya yang terus berbunyi.


Lengan yang dipegang oleh Bian dengan tiba-tiba, tentu saja membuat Kinan kaget. Ia menatap Bian yang masih diam disampingnya. Jarak mereka begitu dekat sekarang, bahkan Bian masih saja memegang tanganya tanpa suara.


"Pak," Panggil Kinan pada Bian yang masih diam melamun disampingnya.


"Tadi aku bilang ada yang harus aku pastikan, kan?" Ucapnya menoleh ke arah samping Kinan.


Namun, lagi-lagi dering ponsel mengganggunya, hingga terpaksa membuat Bian mengangkat telfonya, lalu mencoba melihat layar ponselnya sekilas sebelum mengangkat. Matanya cukup kaget saat nama pada layar ponsel, tertulis dengan nama Adel. Ia semakin dibuat dilema sekarang dengan situasinya saat ini.


Saat menoleh, ia sudah tak menemukan Kinan disampingnya, yang terlihat memilih untuk segera keluar ketika Bian hendak mengangkat ponselnya.


Tangan yang sempat dipegang oleh Bian, agaknya masih cukup mengagetkan bagi Kinan, bahkan ketika ia berjalan keluar, masih terus saja memegang tangan yang sempat dipegang oleh Bian tadi. Sepertinya Kinan masih terkejut dengan situasinya tadi, yang tiba-tiba di datangi oleh Bian, membersihkan perpustakaan bersama Bian, bahkan hingga mengobrol berdua yang sempat menciptakan kecanggungan.


"Sudahlah kita selesaikan tugas yang kemarin saja, dan setelah itu kita pulang. Sebelum itu aku harus mencari pak Dimas, soalnya ada yang ingin aku tanyakan pada beliau soal kerjasama kita." Ucapnya mencoba melupakan kejadian tadi, dan memilih untuk fokus pada pekerjaannya kembali.


...


Disamping itu, Bian yang tertinggal diperpustakaan tampak menyender frustasi di rak buku setelah menyelesaikan telfonya bersama Adel tadi.

__ADS_1


"Sebenarnya aku ini mau apa sih?" Ucapnya frustrasi dengan helaan nafas panjangnya.


Ia mengingat kembali pertemuanya dengan Kinan, bahkan teringat kembali hal yang ingin ia katakan padanya tadi, namu lagi-lagi gagal karena dering ponsel yang terus berbunyi pada ponselnya.


"Padahal ada hal yang harus aku pastikan tadi." Ucapnya mengacu pada Kinan, namun gagal karena dering ponselnya.


Menatap lurus hal di depanya dengan tatapan dingin, Bian berjalan keluar dari perpustakaan dengan perasaan tak enak.


"Kenapa pak Bian bisa keluar dari perpustakaan?" Ucap seseorang melihat Bian keluar dari perpustakaan. "Tunggu, tadi Kinan juga keluar dari sana, apa mereka saling berpapasan di dalam?" Ucapnya sedikit kepo. Shiva tampaknya menaruh curiga pada keduanya. "Kinan juga sering datang ke kamarnya, bahkan bukan sekali ini mereka bertemu, seperti saling kenal saja?" Lanjutnya merasa tak suka pada Kinan, namun tetap melanjutkan jalannya, meski mukanya sedikit kesal karena memikirkan itu.


"Aku benar-benar tidak suka sama dia." Tutupnya.


...


Dalam kamarnya, Bian menopang dagu dengan perasaan serba dilema. "Apa yang harus aku lakukan?" Ucapnya merasa frustrasi. Ia mengingat kembali isi telfonya bersama Adel tadi.


"Bi, coba tebak, aku sedang apa sekarang?"


"Aku tidak tahu?"


"Sedang jalan-jalan?"


"Teng, kamu salah, aku sekarang ada di dalam apartemen kamu."


"Kamu di apartemen aku? Ada urusan apa? Kan aku lagi tidak ada?" Tanya Bian Bingung.


"Ada deh, rahasia."


"Del, ada yang mau aku tanyakan sama kamu?"


"Sama aku? Soal apa?


"Ini soal kamu yang tiba-tiba berubah?"

__ADS_1


"Hah? Aku berubah? Kenapa kamu bisa mikir seperti itu coba?" Tanya Adel tak faham.


"Apa aku salah faham, kalau sepertinya kamu sedang mendekatiku lebih intens?" Ucap Bian kemudian.


Sejenak hening ketika Bian mengatakan pertanyaan itu.


"Hah, apa'an sih? memangnya kita jauhan apa? Yah memang kita lagi jauh sih, tapi aku begini tuh karena khawatir sama kamu. Atau sebenarnya yang kamu maksud itu, soal aku yang jadi sering telfon kamu begitu?"


"Em, seperti bukan kamu yang biasa, jadi aku sempat bingung sama perubahan kamu."


"Begitu saja bingung, harusnya kamu senang dong, aku juga melakukan hal yang sama ke Adnan kok, jadi kamu tidak usah bingung. Tapi, sebenarnya alasan terbesarku itu, agar kalian berdua tidak melupakan keberadaanku."


Bian sedikit terdiam begitu mendengar jawaban dari Adel, "Melupakan keberadaan kamu, kenapa kamu bisa sampai kepikiran soal itu? Sepertinya itu tidak mungkin terjadi." Jawabnya kemudian.


"Mungkin saja, soalnya kan kalian super sibuk, bahkan pernah tak mengabariku dalam beberapa hari, aku kan jadi takut kalau kalian jadi melupakanku."


"Ah, begitu. Maaf ya, tapi hal itu tak akan pernah terjadi, jadi kamu jangan khawatirkan soal itu."


"Jawaban kamu sama seperti Adnan, baikalah kalau kalian sangat meyakinkanku, aku tak akan khawatir lagi." Ujar Adel dengan lega.


...


Bian kembali mengingat tujuanya selama ini, setelah menyelesaikan studinya diluar negeri, hal pertama yang ingin ia lakukam adalah mengajak Adel jalan-jalan, lalu mengungkapkan perasaanya lagi dengan penuh kesiapan yang diminta oleh Adel sebelumnya, namun entah mengapa makin kesini ia menjadi semakin meragukan perasaanya, apalagi semenjak pertemuanya dengan Kinan, yang merupakan teman gadis kecilnya dulu.


"Harusnya aku tak boleh bingung, kan? Namun, sekarang aku malah jadi dilema." Gumamnya mengacu pada perasaannya.


"Haruskah aku coba pastikan padanya sekarang?" Ucapnya mengacu pada Kinan, setelah kesempatan yang lalu mencoba memastikan kembali perasaanya pada Adel, namun ia yang akhirnya tak mendapatkan jawabannya.


"Tapi, bagaimana caranya aku memastikan padanya?" Ucapnya merasa frustrasi sendiri.


......................


Kinan kini sudah dalam perjalanan pulang setelah menyelesaikan tugas yang sempat tertundanya kemarin. Meski sedikit terlambat, karena ada sedikit beberapa kendala tadi, namun ia berhasil menyelesaikan pekerjaanya, yang akhirnya bisa membuatnya pulang. Terlihat waktu telah menunjukkan pukul 10 malam ketika ia hendak pulang.

__ADS_1


"Kamu mau pulang?"


__ADS_2