Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
96. Permulaan Yang Baik


__ADS_3

Kinan diam menunduk karena malu. Ia cukup bingung harus menjawab seperti apa pernyataan dari Bian untuknya itu. Wajahnya merona karena tak kuat menahan debaran dalam hatinya. Ia tetap diam sampai akhir dan tak memberikan suara.


"Aku akan menganggap kamu setuju." Ucap Bian ketika melihat Kinan hanya diam tak bersuara ketika ia meminta untuk mempertimbangkan tentang perasaannya. Kinan yang mendengar hal itu langsung menatap ke arah Bian dengan ekspresinya yang cukup terkejut. Ia yang sedari tadi tertunduk karena malu untuk menjawab, berubah menatap ke arah Bian karena terkejut akan perkataannya.


"Hari ini cukup sampai disini dulu." Ucap Bian memasang wajah tersenyum pada Kinan di depanya, yang kini tengah memasang wajah terkejut melalui bola matanya.


"Aku harus mengatakan sesuatu, tapi kenapa lidahku terasa sulit untuk digerakkan begini." Batin Kinan ketika melihat dirinya yang jadi terdiam akan perkataan Bian dan tak bisa menolak pernyataan Bian padanya soal mempertimbangan perasaan Bian untuknya.


"Kita harus membahas soal laporan yang kamu berikan padaku tadi." Ujar Bian yang kini beralih pada laporan milik Kinan yang belum sempat ia baca semua dan langsung duduk begitu mengatakannya.


Kinan yang perlahan mengikuti Bian untuk kembali pada tempatnya semula, ikut duduk untuk membahas seputar laporan miliknya, meski sejatinya ia masih sedikit mengganjal pada perasaanya yang belum pasti, terlebih akan pernyataan Bian padanya tadi. Dalam kebingungannya, ia mencoba tetap fokus pada pekerjaanya sekarang dan sejenak melupakan rasa tak nyamanya.


Hari yang semakin gelap, karena matahari yang telah tertutup oleh bulan mengiringi keduanya dalam membahas isi laporan. Meski sempat berada dalam situasi yang begitu tak nyaman karena rasa canggung, keduanya tetap bisa kembali fokus pada tujuan awal mereka. Bian dan Kinan memperlihatkan rasa profesional mereka dalam memisahkan urusan pribadi dan pekerjaan.


"Kamu pernah bilang kalau kamu keluar dari panti asuhan sejak usia 18 tahun, kan?" Tanya Bian yang tiba-tiba membahas soal panti asuhan.


"Iya." Jawab Kinan meski awalnya sedikit kebingungan dengan Bian yang tiba-tiba menanyakan soal panti asuhanya dulu.


"Apa yang membuat kamu memilih untuk keluar dari panti asuhan begitu kamu usia 18 tahun?" Tanya Bian lagi.


"Saya hanya ingin meringankan beban dari panti asuhan yang sudah merawat saya dari kecil, karena itu saya memilih keluar begitu usia saya sudah 18 tahun." Jelas Kinan.


"Dari kecil?"


"Iya, dari usia saya masih bayi."


"Apa kamu dititipkan oleh keluargamu?"


"Bukan, lebih tepatnya saya dibuang oleh keluarga yang saya sendiri tidak tau keberadaanya."

__ADS_1


"..."


Bian sejenak tertegun ketika mendengar penjelasan dari Kinan. Ada sedikit rasa bersalah pada dirinya yang bertanya soal itu pada Kinan.


"Maaf, aku tidak tau soal itu." Ucapnya kemudian yang merasa bersalah.


"Saya sudah tidak apa-apa kok, pak. Soalnya ini sudah berlalu juga buat saya." Balas Kinan yang tak merasa tersingung dengan senyum tipis pada bibirnya.


"Hadiah yang aku berikan padamu kemarin, apa kamu pakai sekarang?" Ucap Bian yang mencoba mengalihkan pembicaraan yang sempat membuatnya canggung itu.


Kinan yang bingung mencoba mencerna isi dari perkataan Bian untuknya.


"Kalung yang sempat aku berikan padamu kemarin." Ucap Bian kemudian ketika melihat Kinan yang terlihat kebingungan dengan maksudnya.


"Ah, itu.. maaf, saya tidak memakainya sekarang." Jawab Kinan begitu menyadari maksud Bian.


"Kamu ingat soal kalung pasangan yang pernah aku berikan padamu dulu waktu masih kecil?" Ucapnya kemudian yang kembali membahas soal kalung couple yang pernah ia berikan pada Kinan dulu.


"Iya." Jawab Kinan dengan anggukan kecilnya.


"Apa kamu tau kenapa aku memberikan kalung itu padamu?" Tanya Bian menatap Kinan yamg duduk di depanya.


"Hadiah, anda bilang itu hadiah buat saya dulu."


"Benar, itu memang hadiah yang aku berikan padamu dulu. Aku memberikan kalung berbandul gembok padamu dan aku yang memegang bandul kuncinya, agar kedepan kita bisa bertemu kembali dan membuka kalungnya bersama-sama." Ucap Bian yang tiba-tiba mengeluarkan kalung berbandul kunci yang kebetulan sedang ia pakai pada lehernya sekarang.


Kinan yang melihat itu, sedikit terkejut ketika melihat Bian memakai kalung berbandul kunci yang sudah berusia sangat lama itu. Dari ekspresinya terlihat tak percaya pada Bian yang ternyata masih merawat dan menyimpan kalungnya.


"Meski awalnya aku hanya memberikan sebagai kenang-kenangan buatmu yang saat itu begitu sedih ketika aku hendak pergi dari panti asuhan, namun siapa sangka justru karena kalung itulah yang membuatku akhirnya bisa bertemu denganmu lagi seperti ini. Inisial yang kamu sarankan untuk ditulis dalam kalung milikku begitu bermakna dan sangat membantuku mencari keberadaanmu." Sambungnya lagi yang mengingat kembali pada ingatan masa kecilnya dulu.

__ADS_1


"Jadi, karena kalung itu pak Bian akhirnya bisa mengingatku dan mengenalku seperti ini?" Batin Kinan ketika mengingat kembali Bian yang menghampiri dan mengingat tentang dirinya terlebih dahulu sebelum dirinya ingat tentang kakak kenalannya yang sempat ia lupakan sejenak.


"Apa kalung berbandul gembok yang aku kembalikan padamu kemarin, masih kamu simpan dengan baik?" Tanya Bian.


"Iya, saya masih menyimpanya dengan baik kalung pemberian anda, termasuk kalung liontin yang kemarin anda kasih untuk saya." Jawab Kinan.


"Terimakasih ya sudah menyimpanya dengan baik, meski aku sedikit merasa bersalah karena sempat tak mengingatmu, tapi sekarang aku merasa sangat senang." Senyum Bian dengan perasaannya yang sedikit merasa lega bisa mengingat teman gadis kecilnya dulu.


"..."


Kinan lagi-lagi hanya bisa memberikan senyum canggungnya ketika melihat Bian yang tersenyum ke arahnya. Perasaanya dibuat kacau dengan Bian yang terus menunjukkan rasa tertariknya pada dirinya.


"Soal perkataanku tadi, aku serius soal itu. Karena itu, aku sangat berharap kamu bisa mempertimbangkanya dengan baik begitu aku kembali kesini lagi."


"Apa anda akan marah jika saya nanti memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan harapan anda?"


"..."


Keheningan sejenak menyelimuti Bian dan juga Kinan. Kalimat yang dilontarkan oleh Kinan sedikit membuat Bian tertegun. Ia terdiam begitu Kinan mengatakan kalimatnya.


"Kalau begitu, aku tinggal berusaha lebih keras lagi nanti." Jawab Bian kemudian, dengan memberikan senyuman manisnya pada Kinan yang kini terlihat terpaku mendengar jawaban dari Bian.


"Apa yang harus aku lakukan? Beliau terlihat bersungguh-sungguh akan perasaanya?"


Hati Kinan tiba-tiba menjadi berdetak lebih cepat, ekspresinya menegang dan terlihat terpaku akan itu. Pada perasaan Bian padanya yang terlihat serius dan bersungguh-sungguh itu.


"Lalu, jawaban apa yang anda inginkan dari saya?" Tanya Kinan sedikit memberanikan diri.


"Hmm.. apa kamu yakin mau mendengarnya?" Balas Bian pada pernyataan Kinan yang terlihat berani itu.

__ADS_1


__ADS_2