
Kinan menutup mulutnya bersama kedua tanganya ketika mellihat isi kalimat dari novel yang ia baca. Terkejut, terpaku, tidak percaya dan sulit menerima rasanya ketika melihatnya secara langsung. Kalimat yang begitu menusuk hati dan perasaanya, hingga seketika membuat tubuhnya merasa merinding.
"Nggak mungkin.." Kinan berusaha menyangkal pada kalimat yang ia lihat dan baca.
Tiba-tiba tubuhnya bereaksi, karena dadanya bergetar tak seperti biasanya. Mencoba menenanangkan dirinya sendiri, Kinan mengambil kembali buku yang ia lempar tadi. Membacanya lagi kalimat yang bikin dia merasa tak nyaman, karena terlihat begitu realistis terhadap apa yang dia alami sekarang.
"Ini kan hanya cerita, jadi tidak mungkin ini benar." Mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu tidaklah benar dengan menghiraukan kalimat yang ia baca tadi.
Perasaan yang berdebar, selalu teringat dengan sosoknya yang jauh, dan merasakan perasaan aneh karena tidak melihat sosoknya adalah cinta, bukan?
"Cinta? Itu kan nggak mungkin."
Kinan tak percaya apa yang ia rasakan adalah perasaan cinta. Terlebih yang membuatnya begitu keras menyangkal perasaanya sendiri adalah karena sosok Bian itu sendiri, yang merupakan atasannya sendiri.
"Ini pasti salah! benar, itu kan nggak mungkin aku bisa seperti itu sama pak Bian?" Kinan terus menyangkal perasaanya pada Bian yang baru saja ia sadari setelah selama ini terus mencoba untuk mencari jawaban dari apa yang sedang ia galaukan. Setalah berusaha keras untuk menyangkalnya, Kinan pun terduduk lemas, membayangkan kedepannya jika bertemu dengan Bian nanti.
"Lagi pula aku sudah menolaknya. Buat apa aku merasa galau seperti ini." Kembali pada kenyataan, Kinan teringat kembali pada penolakan yang ia lakukan lada Bian sebelumnya.
"Tapi, ini adalah hal yang pertama kali kurasakan." Namun, ketika mengingat kembali tentang dirinya yang merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya, membuatnya kembali jadi galau dan dilema. Senang karena bisa merasakan perasaan yang biasa orang lain rasakan, namun tiba-tiba menjadi sedih ketika merasakan perasaan pada orang yang terlihat sulit untuk ia jangkau.
Perasaanya kembali tersadarkan pada batas antara dirinya dengan Bian. Setelah sebelumnya hanya mengira-ngira akan perasaanya sendiri dan sekarang setelah mengetahui dengan jelas perasaanya pada Bian, tak membuatnya merasa lega, justru semakin dilema.
......................
Mencintai dan dicintai tentu tidaklah sama, perasaan yang dirasakan pun akan sedikit berbeda. Bisa mencintai seseorang adalah suatu kebahagiaan, tapi jika bisa dicintai oleh orang yang kita cintai adalah hal yang lebih dari kata bahagia. Karena saat kita mencintai seseorang, ending akhirnya belum tentu sesuai dengan apa yang kita harapkan, karena mencintai seseorang tidaklah sesederhana kalimatnya yang manis.
Saat mencintai seseorang, yang kita rasakan adalah perasaan berdebar, sambil berharap perasaan orang yang kita cintai itu sama dengan apa yang kita rasakan. Meski berharap, namun kita tak bisa memaksakan jawabannya. Mendebarkan, namun juga terasa begitu menyulitkan, karena mendapatkan hati orang yang kita cintai bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan.
....
Kamu bilang, kamu mencintaiku. Kalau begitu buktikan padaku, biar aku bisa melihat ketulusanmu padaku.
Kata-kata yang ia lihat saat menonton film bersama Adel, terus saja teringat dalam pikiran Bian. Membuatnya terus tak fokus karena memikirkan kalimatnya.
__ADS_1
"Bi, kamu kenapa sih? Dari tadi diam aja?" Tanya Adel ketika melihat Bian belum menyentuh makanan yang ia pesan.
"Oh, ini mau dimakan, kok." Bian yang tersadar dari lamunannya, kembali fokus pada makanan yang di pesannya.
"Kamu bosen ya nemenin aku."
"Eh, kenapa kamu bilang begitu?" Bian langsung menatap ke arah Adel yang duduk di depannya.
"Habisnya kamu nggak semangat dari tadi." Protes Adel dengan sedikut cemberut.
"Ah, enggak kok. Mungkin ini efek dari film tadi. Soalnya aku masih agak shock dengan genrenya." Ujar Bian dengan sedikit kelabakan ketika melihat ekspresi Adel yang terlihat cemberut, meski ia harus sedikit berbohong untuk menenangkan Adel.
"Beneran karena genre film yang kita tonton tadi?"
"Iya, kok. Kamu kan tau sendiri aku jarang nonton film." Ungkap Bian yang tak sepenuhnya berbohong tentang dirinya yang memang jarang menonton film.
"Iya sih, kelihatan banget waktu kamu nonton tadi." Adel yang terbujuk pada penjelasan Bian, tertawa kecil mengingat ekspresi Bian saat nonton film genre romansa.
"Iya, saking kagetnya, membuat tubuhku jadi merinding."
Tiba-tiba Bian terdiam ketika Adel membahas soal perasaannya.
"Memang tidak pernah, kan?"
"Eh." Adel memberikan ekspresi terkejut ketika Bian menjawab kalimatnya.
Adel yang masih kebingungan, hanya bisa menatap Bian yang sedang menyantap makanannya. Sudut hatinya merasa seperti ada sesuatu yang salah.
....
Keduanya berjalan kembali setelah menghabiskan makanan mereka. Kembali pada tujuan awal mereka yang hendak berbelanja kebutuhan acara ulang tahun milik Adel.
"Bi, kita masuk kesana yuk?" Adel menunjuk sebuah toko yang menjual aneka perlengkapan untuk pesta.
__ADS_1
"Kamu masuk aja dulu, nanti aku nyusul. Soalnya aku mau ke toilet sebentar."
"Oh, gitu. Yaudah, tapi jangan lama-lama ya?"
"Ok, tenang aja."
Bian berjalan ke arah yang berbeda dengan Adel. Seperti sedang terburu-buru, ia mempercepat laju kakinya. Sedangkan Adel, memilih masuk kedalam toko dan melihat-lihat isi toko.
"Duh, mumpung disini, aku harus mencari kado buat Adel nanti." Bian yang masih belum mencari kado untuk Adel, memutuskan untuk membelinya sekarang. Karena ia masih tidak tau kapan akan ada waktu lagi.
"Kalung, ya? Tapi, yang mana?" Saat sudah berada dalam toko, ia justru menjadi bingung.
Meski sempat bingung, namun karena ada rekomendasi dari pegawai toko membuat Bian merasa terbantu.
"Terimakasih." Ucapnya yang sudah menemukan kalung yang ia suka. Dan memilih memasukkan kedalam kantong bajunya, agar tak terlihat oleh Adel.
Bian menepati janjinya pada Adel setelah 10 menit ia meninggalkan Adel.
"Kok, lama sih Bi? Hampir aja aku mau nyariin kamu tadi." Adel yang melihat keberadaan Bian terlihat menanyakan kedatangannya yang terlambat.
"Ah, tadi sempat salah jalan." Balas Bian sedikit mencari alasan.
"Hah! kok bisa?" Adel menatap Bian dengan ekspresi bingung.
Duh, sepertinya aku nggak pandai bohong deh.
"Em.., ya kan bisa aja. Lagian aku sudah disini, kan? Oh iya, kamu sudah dapat apa yang kamu butuhkan, belum?" Bian mencoba mengalihkan perhatian agar Adel tak terus bertanya padanya.
"Sudah, tinggal dikirim aja nanti kerumah."
"Oh gitu, sekarang kita mau kemana lagi?"
"Emm.. Kemana ya? Oh, kita ke butik yuk, aku mau lihat gaun yang mau aku pakai nanti di pesta sekalian aku mau coba juga kalau gaunya sudah siap."
__ADS_1
"Ok, ayo jalan sekarang, sebelum semakin macet."