
"Maaf, pak, kalau saya terlalu lama mengantarkan makanannya." Ucap Kinan begitu kembali dari mengambil makanan untuk Bian.
Bian mencoba tetap tenang meski raut wajahnya sedikit malu, karena bunyi dalam perutnya tadi.
"It's okay, terimakasih ya." Balas Bian dengan kedua tangannya mengambil makanan yang diberikan oleh Kinan untuknya.
"Tapi, kamu hanya membawa makanan untukku saja?" Tanya Bian kemudian yang menyadari makanannya ternyata hanya untuk dirinya.
"Iya." Angguk Kinan dengan agak bingung, karena dirinya memang hanya membawakanya untuk Bian seorang. "Apa ada masalah, pak?" Tanyanya kemudian.
"Gak ada masalah sih, cuman aku kan jadi makan sendiri kalau gini." Jawab Bian yang merasa tidak nyaman hanya dirinya yang makan.
"Saya memang membawakan makanan hanya untuk anda. Jadi anda makan saja tidak apa, kebetulan saya juga hendak keluar kalau laporan yang anda baca tadi selesai anda periksa." Ucap Kinan kemudian.
"Gitu ya, tapi laporanya masih belum ku baca semua, bisakah kamu menunggu sambil aku menyelesaikan makanku?"
"Baik." Jawab Kinan tak bisa membantah.
"Duduklah, apa kamu mau berdiri terus, lagi pula pembicaraan kita akan lama nanti." Kata Bian meminta Kinan untuk duduk.
"Baik.." Dengan ragu, Kinan pun kembali duduk dan menunggu Bian yang hendak memakan makanannya.
Cukup canggung dan tentu saja tak nyaman, terlebih ia hanya diam menunggu Bian tanpa melakukan apapun.
"Apa setelah ini kamu akan pulang?" Tanya Bian memecah kecanggungan.
"Iya." Jawab Kinan tanpa ragu.
"Sebelum itu, bisakah kamu bantu aku sebentar. Sambil menunggu aku menyelesaikan makanku, tolong rapikan kertas-kertas yang ada di depan kamu itu, soalnya terlalu berantakan." Tunjuk Bian pada kertas-kertas yang ada di atas mejanya yang begitu berantakan dan mencoba membuat Kinan agar lebih merasa nyaman selama ia makan.
"Ah, iya." Kinan pun segera merapikan kertas-kertas yang berantakan itu dan menatanya dengan rapi di atas meja, sedangkan Bian sedikit menjauh dari Kinan untuk menyelesaikan makanannya. Bian tak berhenti menatap ke arah Kinan yang tengah fokus merapikan kertas-kertas miliknya yang cukup berantakan itu. Kedua matanya tak bisa berhenti untuk tak menatap ke arah wanita yang telah mencuri hatinya itu.
"Kinan." Panggil Bian dengan nada pelan, pada Kinan yang kini tengah fokus membersihkan kertas-kertas miliknya.
Karena merasa namanya dipanggil, Kinan sejenak terpaku akan panggilan itu, terlebih ia cukup terkejut pada namannya yang tiba-tiba dipanggil oleh Bian. Nada yang diucapkan oleh Bian agaknya cukup membuat Kinan merasa gugup ketika mendengarnya, ia pun menoleh dengan ragu pada Bian yang ada tepat disampingnya.
"Bagaimana menurutmu soal perasaanku padamu?"
__ADS_1
".."
Mata Kinan tiba-tiba jadi terbuka lebar karena cukup terkejut mendengarnya, dadanya pun ikut berdegup kencang tanpa sadar karena ucapan yang dilontarkan oleh Bian padanya, hingga membuatnya terpaku karena ucapannya yang tiba-tiba itu.
"Besok, aku akan kembali ke jakarta dan tidak tau berapa lama akan kembali kesini lagi, karena itu..." Bian menjeda kalimantnya. "Aku ingin mendengar pendapatmu tentangku." Sambungnya kemudian.
Namun, Kinan tetap diam dan tak mengatakan satupun kalimatnya. Sepertinya ia cukup terkejut mendengar pertanyaan itu, hingga kesulitan untuk menjawabnya, bahkan tanganya cukup gemetaran karena terlalu gugup.
"Aku ingin menunggumu yang masih bingung, tapi.. sepertinya aku tidak sesabar itu untuk menunggu jawaban darimu." Ucap Bian, yang kini berjalan ke arah Kinan.
"Satu saja, adakah hal yang membuatmu tertarik padaku?"
"Pak, itu.., saya.."
"Dengan begitu, aku jadi punya alasan untuk kembali kesini lagi."
"..."
Hening menyelimuti keduanya, dan Kinan yang sedari tadi hanya diam, jadi semakin kebingungan untuk menjawabnya, karena sejatinya ia masih belum mendapatkan jawaban dari perasaannya. Ia lalu memberanikan diri untuk berdiri menatap ke arah Bian yang kini berada dekat denganya.
"Saya.. minta maaf." Meski sedikit ragu saat ingin mengatakannya, namun Kinan akhirnya mengatakan apa yang difikirkannya saat ini dalam hatinya
"..."
"Minta maaf soal apa? Memangnya kamu punya salah denganku?" Ucap Bian kemudian, setelah sejenak diam tak bersuara.
"Itu.., saya.."
"Apa seperti ini pun kamu juga tidak bisa merasakan apapun padaku?" Bian berdiri lebih dekat ke arah Kinan, mencoba membuat Kinan lebih mempertimbangkan perasaanya lagi. Hal itu, tentu saja jadi semakin mebingungkan bagi Kinan, bibirnya jadi terasa berat untuk sekedar mengatakan sesuatu, apalagi terhadap Bian yang kini begitu dekat denganya.
"Kenapa? Kenapa anda seperti ini? Maksudku, kenapa harus saya?" Ucap Kinan menatap bingung pada Bian di depanya dengan perasaan tak nyamanya.
"Iya juga, kenapa ya?" Ujar Bian yang juga tak mengetahui jawabannya.
"......"
Dalam ruangan yang cukup luas itu menambah kesunyian tersendiri dengan kondisi keduanya yang kini hanya saling menatap dalam diam.
__ADS_1
"Maaf, saya harus pulang." Kinan mengalihkan pandanganya kemudian dan hendak meninggalkan Bian, namun tangan Bian berhasil menahan dirinya yang hendak pergi.
Bian menahannya sejenak sebelum akhirnya menarik Kinan dalam pelukanya.
"Pak," Kinan yang kaget mencoba melepaskan dirinya pada pelukan Bian.
"Sebentar saja, tolong izinkan aku memelukmu seperti ini sebentar." Ucap Bian meminta Kinan untuk tak melepaskan pelukanya. Kinan jadi tak bisa menolaknya dan menerimanya begitu saja, meski perasaanya sedikit tak nyaman karena canggung. Debaran dadanya pun ikut bersuara dan memperlihatkan perasanya yang sedang gugup berpelukan dengan Bian.
"Aku tidak tau kenapa aku bisa tertarik dan suka padamu, hanya saja.." Bian melepaskan pelukanya dan beralih memegang kedua lengan Kinan dan kini menatapnya lekat dalam jarak yang cukup dekat.
"Aku hanya suka padamu, begitulah jawabanku." Lanjutnya lagi menatap Kinan.
"Tidak, saya rasa anda tidak menyukai saya." Jawab Kinan.
Bian mengernyitkan dahinya begitu Kinan mengatakan itu. "Apa maksud kamu?" Tanyanya yang merasa bingung.
Kinan melepaskan kedua tangan Bian yang berada pada kedua lenganya. "Anda hanya penasaran, karena saya Kinan yang pernah anda kenal dipanti asuhan dulu." Sambung Kinan menatap Bian.
Bian sedikit terkejut dengan jawaban Kinan, hingga tanpa sadar membuatnya tak bisa berkata-kata.
"Kenapa kamu bisa berfikir seperti itu?" Tanyanya kemudian.
"Karena..., itu yang saya fikirkan selama ini. Anda hanya salah faham terhadap perasaan anda pada saya, hingga berfikir seperti itu pada saya." Balas Kinan menatap canggung pada Bian.
"Kalau aku salah faham, aku tidak akan mencium kamu saat itu."
"..." Kinan jadi terdiam karena jawaban itu.
"Apa kamu bisa mencium orang yamg tidak kamu suka?"
"..."
"Apa perlu aku membuktikan lagi perasaanku padamu?"
"Eh, itu..., saya mengerti, saya faham, karena itu..," Tiba-tiba saja Kinan menjadi gugup sendiri, hingga berbelit ngomongnya.
"Jadi ternyata karena itu, makanya kamu masih belum bisa memberikan jawabanya padaku. Baiklah, tidak apa. Kali ini aku akan mengalah, aku akan menunggu jawabannya lagi sampai kamu benar-benar yakin pada perasaanmu padaku." Senyum Bian yang kini memilih untuk menunggu lebih lama lagi.
__ADS_1
"Besok aku harus pergi, karena itu.., bisakah kamu mempertimbangkan untuk memikirkan jawabannya?"
Kinan menunduk canggung pada Bian di depanya.