Teman Gadis Kecilku

Teman Gadis Kecilku
88. Ketika Cinta Telah Menghampiri


__ADS_3

Cinta? Bukankah itu jawabannya?..


Apa yang mereka rasakan saat ini adalah perasaan yang mengarah padanya. Kata yang sulit untuk di ungkapkan, fikiran yang selalu tertuju padanya, hingga debaran dada setiap kali memikirkan dan berjumpa denganya adalah hal yang begitu mengganggu keduanya.


Meski rasa itu telah tumbuh pada hati dan perasaan keduanya, nyatanya tak mudah untuk saling memiliki apalagi mengikatnya, hingga harus terus berjuang untuk mendapatkanya. Namun, apakah cinta harus memiliki?


...


Malam telah berganti pagi. Cuaca yang tampak cerah, kondisi lalu lintas yang mulai terlihat padat beraturan, yang di iringi banyaknya aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat telah menyambut pada pagi hari ini. Hal yang sama juga dilakukan oleh Bian dan Kinan hari ini. Tak banyak hal yang berubah meski kemarin sempat merasakan perasaan yang berkecamuk dalam dada, keduanya tetap bekerja seperti biasanya.


Meski bersikap profesional, namun hati tak bisa dipungkiri untuk terus kepikiran, pada jawaban yang masih tertunda, juga pada jawaban yang pasti akan perasaanya sendiri. Bian dan Kinan seolah masih tenggelam dalam pikiranya sendiri.


Perasaan yang dirasakan oleh keduanya cukup kontras, Bian yang sudah yakin akan perasaanya hanya menunggu jawaban dari Kinan, sedangkan Kinan masih menimbang akan perasaanya sendiri pada Bian.


"Kamu kok terus memberiku pekerjaan, sih?" Gerutu Bian ketika Dimas memberinya beberapa berkas yang harus di cek dan ditandatangani.


Tumpukan berkas itu cukup banyak, hingga membuat Bian merasa kesal ketika melihatnya.


''Maaf, tapi ini harus anda periksa dan selesaikan secepatnya, karena kemarin kan sempat tertunda.'' Jawab Dimas cukup tegas, meski mendapat protes dari atasanya itu.


Perkataanya membuat Bian jadi tak bisa berkutik, karena mengingat kemarin dirinya yang sempat meninggalkan pekerjaanya untuk memilih jalan bersama Kinan.


''Apa ini beneran harus di selesaikan hari ini juga?'' Tanya Bian dengan ekspresi penuh harap, ia menghela nafas kesal ketika Dimas menganggukkan kepalanya tanda membenarkan.

__ADS_1


"Sial, kalau begini aku jadi tidak bisa menemuinya!'' Gumamnya kesal.


Meski kesal Bian tetap melakukan pekerjaanya. Di samping itu, Dimas yang merupakan asisten pribadinya sedikit terkejut dengan respon dari Bian hari ini, karena ini adalah kali pertama bagi dirinya melihat Bian menggerutu di depan tumpukan berkas-berkasnya, karena jika itu Bian yang biasanya ia lihat, dia akan mengerjakanya tanpa protes dan mengeluh apalagi meminta pendapatnya.


"Apa ini soal non Adel ya?" Tebak Dimas melihat Bian yang terus tak fokus beberapa hari ini, bahkan selama dirinya berada di jepang beberapa hari yang lalu juga sempat melihat Bian yang terus melamunkan sesuatu. Ia bahkan langsung berlari meninggalkan pekerjaanya, hal yang tak pernah Bian lakukan sebelumnya.


Meski sudah cukup lama mendampingi Bian, nyatanya Dimas tak begitu tahu Bian sepenuhnya, terlebih pada isi hatinya. Meski ia tahu kedekatan Bian dengan Adel, namun Dimas tak begitu tahu perkembangan hubungan di antara keduanya, hingga hanya bisa menebak saja.


Ia hanya bisa menebak soal Adel, meski tak yakin akan itu, karena ingatanya saat di jepang meyakinkan dirinya, mengingat setelah mengangkat telfon dari Adel raut wajah Bian sedikit merengut dan terus menerus menghela nafas panjang.


...


Berada dalam tempat yang berbeda, terlihat Kinan yang juga sibuk dengan pekerjaanya. Meski perasaanya sempat tak tenang, karena takut jika harus berhadapan dengan Bian secara langsung, namun ia masih bisa mengendalikanya dengan sikap profesionalnya, terlebih ia tak bertemu dengan Bian hari ini, hingga waktu sudah mau masuk jam makan siang.


"Maksud kamu apa?" Bingung Kinan.


"Pura-pura bego lagi!" Decak Shiva tak suka.


"Hey, aku memang tidak tahu apa-apa, kan kamu belum bilang yang kamu maksud?, jadi bagaimana aku bisa tau? Lalu apa yang kamu maksud tadi dengan bermain halus?" Kata Kinan mencoba mengkonfrontasi Shiva. Ia mencoba tetap tenang agar tak terpancing oleh sikap Shiva.


"Lihat aja nanti, sampai kapan dirimu bisa bersikap tenang seperti ini!" Ucap Shiva sedikiti mengancam, ia lalu pergi begitu saja setelah mengatakannya, hingga meninggalkan kebingungan pada diri Kinan.


"Ha! Dia ini kenapa lagi, sih?." Kinan agak bingung dengan maksud Shiva, namun ia mencoba menghiraukan perkataan Shiva dan kembali melanjutkan apa yang sedang dilakukanya.

__ADS_1


Tak ada waktu untuk dirinya menanggapi sikap dan perilakunya, karena sejatinya bukan hanya satu kali Shiva bersikap seperti itu padanya. Mengingat Shiva yang tak menyukai dirinya, membuat Kinan tak lagi terpaku akan sikapnya yang kadang suka menyakiti dirinya.


Ia sudah mencoba berdamai dengan sikapnya, karena itu ia memilih bersikap cuek, terlebih tak ada waktu bagi dirinya untuk memikirkan perilaku Shiva, karena pikiranya sekarang sudah terpenuhi akan Bian yang selalu menghantui dirinya.


Ia masih belum bisa melupakan kejadian kemarin saat pergi bersama Bian, juga pada ciuman pertamanya, karena itu ia selalu mencoba menenangkan hatinya yang sedari pagi tak bisa berhenti berdebar. Karena hal itulah ia menjadi sedikit kehilangan fokus hingga sering kali melamun sendiri. Meski mencoba tetap tenang dan bersikap profesional, nyatanya ia tak bisa berhenti memikirkan Bian, terlebih jawaban dirinya akan pernyataan dari Bian.


"Aku masih belum menemukan jawabannya." Gumamnya sedikit takut jika harus bertemu dengan Bian hari ini.


Sulit nyatanya bagi Kinan untuk mengatasi perasaan yang baru ia rasakan ini, terlebih ia harus berhadapan dengan sang atasan yang ternyata memiliki memori masa lalu bersamanya walau hanya sebentar. Tak hanya kata, sikap apa yang harus ia tujukan padanya juga begitu sulit untuk ia lakukan. Begitu tiba-tiba, terasa tak nyata, hingga sulit untuk di cerna artinya.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Terlebih jika bertemu dengan beliau?" Ucapnya sedikit bingung jika harus bertemu dengan Bian.


...


Orang yang sedang difikirkannya itu kini tengah berkutat pada pekerjaanya, ia begitu menggebu untuk segera menyelesaikan pekerjaanya yang menumpuk. Matanya terus fokus pada berkas-berkas yang menumpuk di atas meja kerjanya, meski sesekali ia menghela nafas untuk menghilangkan rasa suntuknya, ia tak berhenti untuk terus menyelesaikan tanggung jawabnya.


"Capek..." Keluh Bian, yang kemudian menghentikan sejenak pekerjaanya dengan bersender pada kursi yang ia duduki saat ini.


Ia menengadah menatap langit-langit atap yang tengah dia lihat, menghela nafas panjang dengan pikiran yang tertuju pada Kinan.


"Sampai kapan aku harus menunggu?" Gumamnya yang mengacu pada jawaban dari Kinan. "Kali ini, aku tidak mau gagal lagi." Sambungnya lagi dengan tatapan penuh harap.


"Duh, badanku pegel semua karena terlalu lama duduk." Berhenti melamun, Bian pun kini mencoba menggerakkan tubuhnya yang dirasa pegal.

__ADS_1


__ADS_2