
Pukul 10 malam mereka sampai di depan kosan milik Kinan. Kecanggungan sempat mengampiri Kinan yang hendak masuk kedalam kosan miliknya.
"Terimakasih sudah mengantar saya pulang pak, kalau begitu saya pamit masuk kedalam." Dengan nada yang agak pelan, Kinan terlihat ragu-ragu saat mengatakanya pada Bian yang ikut menemaninya hingga depan gerbang kosan miliknya.
"Aku minta maaf ya sudah menyita waktumu hingga malam, tapi terimakasih sudah mau ikut bersamaku hari ini." Kata Bian menatap wajah Kinan di depanya.
Kinan tak menjawab, ia hanya mengangguk kecil merespon ucapan Bian dengan mengalihkan pandanganya pada Bian yang saat ini tengah berdiri di depanya. Sejenak suasana di antara keduanya menjadi hening dan cukup canggung satu sama lain. Dalam sorot lampu kosan yang tengah menyorot keduanya saat ini, ada kebingungan yang melanda mereka yang kini terjebak dalam suasana yang cukup akward.
Tak ada suara dan kalimat yang terucap di antara keduanya yang kini hanya diam berdiri dengan saling berhadapan satu sama lain, hingga sedikit menimbulkan perasaan tak nyaman dan kebingungan bagi mereka sendiri. Kinan mencoba melihat ke arah Bian yang kini ternyata tengah menatapnya lekat. Sorot mata yang kini tengah menatapnya itu bagai menusuk kedalam bola matanya. Ada jeda sejenak saat kedua mata mereka saling berhadapan satu sama lain.
"It-itu.. kalau begitu saya mau masuk kedalam dulu." Tergagap karena bertemu mata dengan Bian dan pada sorot mata Bian padanya, Kinan mencoba segera masuk kedalam kosan miliknya.
"Em.. masuklah, sudah malam juga." Jawab Bian yang memberikan izin pada Kinan untuk masuk kedalam kosan miliknya, meski raut wajahnya terlihat enggan untuk melepas Kinan pergi, karena ekspresinya yang memperlihatkan seolah ingin mengatakan sesuatu namun ia tahan dan lebih memilih membiarkan Kinan pergi dari hadapanya.
Dengan sedikit menunduk tanda berpamitan pada Bian, Kinan pun masuk kedalam kosan miliknya setelah mendengar jawaban dari Bian. Keduanya pun akhirnya berpisah, setelah menghabiskan waktu bersama selama seharian ini.
Dari pagi hingga menjelang tengah malam, perasaan keduanya seakan dibuat terus berfikir dan merasakan perasaan yang membingungkan. Baik bagi Bian, maupun bagi Kinan itu sendiri.
Semuanya serba baru dan pertama bagi Kinan, begitupun bagi Bian itu sendiri. Dari ciuman, perasaan yang terus mengganggu pikiranya, hingga hati yang terus membuatnya cemas adalah hal yang baru bagi dirinya sekarang.
__ADS_1
Bian tak berhenti memikirkan Kinan, hingga seringkali membuatnya cemas tanpa sadar, hingga melakukan hal yang diluar kendalinya. Seperti saat ia yang tiba-tiba mencium Kinan untuk memastikan perasaanya adalah hal yang benar-benar tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Saat melakukanya, dadanya tak berhenti berdebar dan terus menggelitik hatinya. Sesuatu hal yang sangat baru buat dirinya itu terus menghantui pikirannya, hingga makin membuatnya bingung.
"Perasaan apa itu sebenarnya?" Batinya pada hal yang baru ia rasakan itu. Sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, termasuk ketika ia bersama Adel sebelumnya.
Bian menjadi teringat akan Adel, saat bersama Adel ia tak pernah mengalami perasaan seperti ini, karenanya ia begitu penasaran akan Kinan hingga tak berhenti untuk memikirkanya. Ada debaran dalam dadanya, hingga sulit untuk mengontrol jalan pikiranya sendiri.
Meski sekarang ia sudah tahu akan jawaban dari rasa penasaranya, namun ia tetap tak berhenti untuk tenang, mengingat perasaanya yang belum terbalaskan, ditambah perasaan rindu yang terus menghantui pikiranya ketika tak melihat Kinan.
"Sepertinya aku sudah gila." Gerutu Bian yang saat ini telah berada dalam kamar hotelnya.
Dengan helaan nafas panjangnya dan kemeja yang masih ia pakai, ia terduduk lemas di atas ranjangnya dengan ekspresi wajah yang memperlihatkan tengah memikirkan berbagai hal, terutama soal pertemuanya dengan Kinan tadi.
Ia yang baru pulang dari jepang, tanpa berganti pakaian terlelebih dahulu maupun beristirahat sejenak, ia dengan segera mencari keberadaan Kinan setibanya dihotel. Mendatangi ke kosan miliknya, dan mengajaknya jalan bersama. Banyak hal yang mengejutkan dalam satu hari ini, tentang ia yang tiba-tiba saja mencium Kinan begitu saja, tanpa persetujuan dari Kinan sebelumnya, ia yang cemburu dengan Bayu yang dekat dengan Kinan dan ia yang kembali mengutarakan perasaanya hingga mengajak Kinan pacaran. Mengingat akan itu membuat Bian hanya bisa mengacak-acak rambutnya, lalu berbaring begitu saja di atas ranjang miliknya.
"Gila.." Tutupnya yang menyerah akan sikap memalukan yang ia rasakan hari ini.
...
Tak berbeda dengan Bian, Kinan juga mengalami perasaan yang sama-sama membingungkanya seperti yang Bian rasakan saat ini. Ini adalah hal yang baru pertama kali buat dirinya. Tentang ciuman pertama yang akhirnya ia lakukan di usianya sekarang, lalu soal sikap ketertarikan Bian yang terang-terangan pada dirinya, dan pada perasaannya sendiri yang sekarang terasa membingungkan. Semua yang ia alami hari ini adalah hal yang baru baginya, dan lagi, ini adalah hal yang sangat membebani perasaannya sendiri, terutama soal ungkapan perasaan Bian padanya.
__ADS_1
Hingga detik ini, Kinan masih bertanya-tanya pada apa yang terjadi pada dirinya yang terasa seperti mimpi ini. Setiap terbangun dari tidurnya ia berharap itu hanyalah sebuah mimpi, namun ketika ia tau itu bukanlah mimpi, membuat hatinya kembali merasa cemas dan tak tenang.
"Aku harus bagaimana sekarang?" Gumamnya merasa serba dilema dengan apa yang ia fikirkan.
Ia tak berhenti memikirkan kejadian demi kejadian yang ia alami seharian ini bersama Bian. Semua masih membekas dalam ingatanya dan begitu sulit untuk melupakannya dari ingatan, terlebih pada ciuman yang dilakukan Bian padanya saat diperpustakaan, juga pada ajakan pacaran darinya yang begitu mengejutkanya. Tak lupa pada permintaan Bian padanya, yang meminta dirinya untuk memanggilnya kakak jika hanya berdua, seperti yang ia lakukan saat di panti asuhan dulu.
"Bagaimana ini, aku bingung.." Kinan tak hentinya merasa dilema akan itu.
Ia ingin melupakanya dan menganggapnya lalu, namun semuanya terasa membingungkan bagi dirinya. Semua hal terasa baru dan pertama kali buatnya, hingga membuatnya begitu kesulitan untuk membuat sebuah keputusan.
......................
Ada gejolak di dalam dada, hingga menimbulkan getaran yang ada. Terasa menggelitik, berdebar hingga sukar untuk dijelaskan bagi keduanya.
Perasan asing, bingung, dilema, hingga sulit untuk tidur adalah hal yang mengacaukan perasaan dua hati yang kini tengah dilanda kegundahan yang sama.
Semua serba baru bagi keduanya, karena itu keduanya begitu sulit untuk mencari jawabanya. Hanya bisa menebak, meraba, dan menduganya, namun tak jua membuat keduanya merasa senang dan tenang. Terus mencari hingga akhirnya kegundahan itu pun akhirnya terjawab jua.
Cinta? Bukankah itu jawabannya?...
__ADS_1