
Nafas Adrian memburu menerima ciuman yang begitu bergelora dari Syifa yang tampaknya sudah mengerti tentang perasaannya terhadap sang suami.
"Ah, kenapa kau menggoda aku seperti ini? Aku saat ini ada di rumah sakit dan statusku adalah sebagai pasien!" ucap Adrian yang berbisik ditelinga Syifa masih terus saja memberikan kebahagiaan ke dalam hatinya dengan ciuman penuh cintanya.
"Tolong hentikan, sayang! Oh tidak! Kau jangan menyiksaku sampai seperti ini!" pinta Adrian kepada Syifa. Untuk menghentikan apa yang sedang dia lakukan saat ini.
"Aku juga tidak bisa menahan diriku untuk menunggumu keluar dari rumah sakit!" ucap Syifa berbisik di telinga suaminya.
"Ayolah hentikan sayang! Ini rumah sakit bagaimana kalau Cakra tiba-tiba masuk ke ruangan ini?" pinta Adrian sudah tidak mampu menahan gelora di dalam hatinya.
Syifa sudah membangkitkan sesuatu yang dari kemarin dia tahan. Nafas Adrian terus memburu dan jantungnya sudah marathon sejak tadi. Syifa masih melakukan apa yang dia sukai dari tubuh Adrian yang paripurna.
"Setidaknya aku kuncilah dulu ruangan ini. Agar aku tidak merasa malu kalau seseorang tiba-tiba masuk ke sini!" ucap Adrian di antara nafasnya yang memburu.
Syifa yang masih fokus hanya menatap wajah suaminya yang sangat eksotis dan membuat dirinya ingin mencumbu sang suami.
"Please sayang! Tolong hentikan apa yang kau lakukan itu. Aku tidak sanggup untuk menahan lagi!" ucap Adrian kemudian dia menarik tangan Syifa untuk masuk ke dalam pelukannya. Supaya Syifa menghentikan aktifitasnya yang membuat dirinya kalang kabut seketika.
Bagaimana mungkin dia akan menyerang istrinya kalau saat ini dia sedang terbaring di rumah sakit sebagai seorang pasien.
Sementara Syifa sejak tadi terus saja menggodanya dan berusaha membangkitkan gairah yang ada di dalam dirinya.
"Dasar istri nakal ya? Kerjamu selalu saja menggodaku. Padahal aku saat ini seorang pasien dan kau tidak mau melepaskanku juga, hmmmm?" ucap Adrian sambil mencubit hidung Syifa yang saat ini sedang tersenyum di dalam pelukannya.
"Menggoda suami sendiri kan tidak apa-apa, sayang! Karena pahalanya sangat besar loh! Kecuali kalau aku menggoda laki-laki lain yang haram untukku!" ucap syifa sambil menenggelamkan kepalanya dalam pelukan Adrian yang saat ini sedang menggunakan pakaian rumah sakit.
__ADS_1
Adrian mengalami kelelahan sehingga dia mengalami dehidrasi. Jadi dia harus dirawat satu hari satu malam di rumah sakit. Untuk mengembalikan kondisinya dalam keadaan Fit dan diperbolehkan pulang kembali ke apartemen miliknya.
Cakra yang tidak mau mengganggu pertemuan antara suami istri itu. Dia lalu memutuskan untuk pulang dan kembali ke apartemen miliknya sendiri.
Dalam perjalanannya menuju ke unitnya, Cakra bertemu dengan Sulis yang tampaknya sedang menunggu dirinya.
"Kau sedang apa di luar sayang? Kenapa tidak masuk saja, bukankah kau tahu password dari apartemenku?" tanya Cakra sambil mencium pipi sulis.
Cakra kemudian mengajak Sulis untuk masuk ke dalam unitnya. Tetapi Sulis menolak sehingga membuat Cakra merasa aneh dengan tingkah laku tunangannya itu.
"Kenapa bukankah kau sudah biasa masuk ke apartemenku?" Cakra kemudian dia mengajak Sulis untuk duduk di lobi gedung apartemen milik keluarganya itu.
"Aku mau berpamitan aku akan melanjutkan kuliahku ke Inggris!" ucap Sulis kepada Cakra tanpa basa-basi.
"Apa maksudmu? Bukankah pernikahan kita tinggal satu bulan lagi? Kalau kau pergi ke Inggris, lalu bagaimana dengan rencana pernikahan kita?" tanya Cakra dengan wajah penuh penasaran dan memegang kedua tangan Sulis.
"Kamu benar! Memang tidak mungkin bagi kita untuk melanjutkan rencana pernikahan kita dalam suasana berkabung saat ini!" ucap Cakra dengan sedih kemudian dia melirik Sulis yang masih menundukkan kepalanya.
"Kalau kau mau aku untuk menunggumu, aku akan menunggumu. Tetapi kalau kau menginginkan kita untuk membatalkan pertunangan kita. Aku tidak akan keberatan!" ucapan Sulis membuat Cakra terkejut sekali Dia tidak menyangka kalau Sulis akan mengatakan hal semacam itu.
"Apakah kamu sudah tidak nyaman dengan hubungan kita?" tanya Cakra sambil melirik kepada Sulis yang kini bahkan telah berderai air mata kesedihan.
"Aku bukan tidak nyaman! Tapi aku hanya tidak yakin dengan hubungan kita berdua!" ucap Sulis tampak Dia berat sekali untuk mengatakan sesuatu dalam hatinya.
"Katakanlah semua yang kau inginkan aku akan berusaha untuk mengikutinya!" ucap Cakra sambil memegang tangan Sulis saat ini yang terasa sangat dingin.
__ADS_1
"Kalau kau ingin melanjutkan kuliahmu di inggris, kau lanjutkanlah, tidak apa-apa. Aku akan menunggu kepulanganmu!" ucap Cakra membuat janji fenomenal di dalam hidupnya.
"Apakah kau yakin kalau kau bisa setia dan menungguku?" tanya Sulis seakan tidak percaya dengan janji yang diucapkan oleh Cakra saat ini kepada dirinya.
"Selama ini dalam hubungan kita, kalau bukan aku yang mencarimu kita pasti tidak pernah bertemu. Jadi aku ragu, apakah kau memang benar-benar mencintaiku atau tidak!" akhirnya Sulis menyampaikan uneg-uneg dalam hatinya saat ini.
"Kau kan tahu kesibukanku selama ini. Aku harus bekerja di perusahaan ayahmu dan aku juga harus menghandle Abimana grup untuk membantu ka Adrian. Kau bisa bayangkan betapa banyak kesibukan yang telah kulalui setiap harinya!" ucap Cakra.
"Srmoga perpisahan ini akan menyadarkan kita. Apakah kita benar-benar saling mencintai atau tidak. Kalau tidak. Semoga kita masing-masing akan mendapatkan jodoh lain yang terbaik!" ucap Sulis, lalu dia pun bangkit dan meninggalkan Cakra begitu saja, yang saat ini masih bengong dengan perkataan Sulis.
"Semoga kau bisa bahagia dalam pencarian cintamu. Dan semoga aku di sini bisa setia menunggumu!" ucap Cakra sambil mengiringi kepergian Sulis malam itu.
Sejak malam itu Sulis dan Cakra tidak pernah bertemu lagi maupun berhubungan melalui telepon. Entah status hubungan mereka apa saat ini. Tapi yang jelas, masing-masing dari keduanya tidak memiliki hubungan yang lain dengan orang lain.
Sulis hanya sibuk menghabiskan waktunya dengan belajar dan belajar. Agar segera bisa kembali ke Indonesia. Dia sama sekali tidak memiliki waktu pribadi ataupun berhubungan dengan pria lain selama keberadaannya di Inggris.
Begitu juga dengan Cakra. Hari-harinya dilewati hanya dengan bekerja dan bekerja dan Bayu melihat semua kesibukan itu. Dia merasa sedih melihat hubungan kedua orang yang saling mencintai itu. Kini harus berpisah entah karena alasan apa.
"Berbuatlah sesuatu Andika. Apakah kita akan membiarkan putra dan putri kita memiliki hubungan dingin semacam itu?" ucap Bayu pada suatu siang, ketika dia memiliki kesempatan untuk makan siang bersama Andika.
"Anak muda zaman sekarang tuh, tidak bisa kita atur-atur seperti masa zaman kita dulu. Biarkan saja mereka berproses sendiri. Kita tidak usah ikut campur dengan urusan mereka!" ucap Andika masih menikmati makan siangnya saat ini.
Bayu hanya menarik nafasnya dengan dalam dia merasa frustasi melihat putrinya yang bahkan sekarang tambah kurus dan terlihat tidak peduli dengan penampilannya.
Bayu selalu mengurut dadanya. Ketika dia mendatangi putrinya di Amerika. Putrinya saat ini lebih mirip seperti mayat hidup daripada seorang manusia yang sedang belajar dengan giat demi kelulusan kuliahnya.
__ADS_1
"Saya hanya merasa prihatin dengan mereka berdua Apakah kau tidak merasakan seperti itu Andika?" tanya Bayu kemudian dia melirik kepada Andika yang kini menatap kepadanya.
"Percayalah padaku! Kalau memang mereka saling mencintai, pasti mereka suatu saat akan bersama. Biarkanlah perpisahan ini akan mendewasakan mereka berdua!" ucap Andika pelan sambil tersenyum kepada Bayu.