Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai

Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai
65. Kesal


__ADS_3

"Bagaimana mungkin, kau seenaknya saja memanggilku Om? Padahal kita baru pertama kali bertemu!" kesal Bayu sambil mengejar Amanda yang terus berjalan tanpa memperdulikan Bayu yang protes saat ini.


"Eh tunggu! Kau betul-betul gadis yang tidak sopan!" Bayu akhirnya meninggalkan Amanda seorang diri di sana. Bayu kemudian menuju sekretarisnya yang menjemputnya.


"Ada apa Tuan? Kenapa wajah anda tampak tidak senang?" tanya sekretaris Bayu.


"Tadi di toilet, tidak sengaja aku bertabrakan dengan seorang gadis. Dengan lancangnya dia memanggilku, Om! Benar-benar sangat menyebalkan Apakah aku setua itu?" tanya Bayu dengan misuh misuh.


Sekretarisnya Bayu hanya bisa tertawa mendengarkan keluhan atasannya. " Kenapa kau tertawa? Apakah ada yang lucu?" sengit Bayu sambil menatap tajam sekretarisnya itu.


Bayu pun langsung masuk ke mobil yang dibawa oleh sekretarisnya. Tanpa melihat bahwa Cakra pun sedang menuju ke bandara dalam rangka menjemput kakek dan neneknya serta Kakak tirinya. Amanda.


"Nenek!" Cakra langsung berlari dan memeluk neneknya yang sedang menunggu mereka untuk menjemputnya.


"Cucu nenek sudah besar. Apa Kabarmu Sayang?" tanya Neneknya dengan senyum sumringah. Sementara itu, Amanda yang kini mendekati mereka, tampak cemberut. Hatinya masih tidak senang setelah berpapasan dengan Bayu tadi.


"Apa kabar Kak Amanda? Kenapa kau tampak tidak bahagia? Apakah ada masalah?" tanya Cakra keheranan.


"Tidak apa-apa, lupakan saja! Nggak penting!" ucapnya kesal.


"Ya sudah! Ayo kita langsung ke mobil saja. Kalian pasti sudah lapar kan? Mama sudah menyiapkan makanan enak untuk kalian!" ucap Cakra sambil memeluk neneknya.


"Cakra jalanlah yang benar. Nenekmu itu belum terlalu tua, untuk kau perlakukan seperti itu!" protes kakeknya Cakra melihat cucunya yang memeluk sang nenek dengan begitu posesif.


Neneknya Cakra hanya terkekeh mendengar kan protes suaminya."Tampaknya kakekmu cemburu, melihat nenekmu yang kamu peluk, Cakra!" ucap neneknya sambil terkekeh.


"Heran deh, kenapa sih? Di keluarga kita semuanya pada kayak gitu. Pada bucin tingkat akut sama pasangan mereka!" protes Cakra tapi tetap memeluk sang nenek, tidak peduli dengan kakeknya yang melotot ke arahnya. Amanda hanya menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan Cakra yang tidak berubah juga, tetap manja.

__ADS_1


"Cakra apakah, Kau juga manja seperti itu terhadap Kekasihmu?" tanya Amanda ketika mereka sudah ada di dalam mobil, dan bersiap untuk ke apartemennya Adrian.


"Nek kenapa kita nggak ke rumah utama saja? Bukankah apartemennya Adrian tidak akan bisa menampung kita semua?" tanya Amanda sambil sesekali memperhatikan ponselnya dan membalas beberapa email dari rekanan bisnis.


"Amanda! Taruhlah ponselmu. Berhenti untuk bekerja. Kini saatnya adalah untuk bersantai, family Time!" tegur neneknya, ketika melihat cucu perempuan satu-satunya itu masih sibuk membalas email yang masuk ke ponselnya.


"Amanda hanya membalas email penting saja nek, jangan khawatir!" ucap Amanda yang kemudian menaruh ponselnya di tas kecilnya. Amanda mulai fokus untuk mengobrol dengan Cakra dan juga kakek neneknya.


"Nanti kau perkenalkan kekasihmu ya, sama Kak Amanda!" ucap Amanda sambil menepuk bahu Cakra.


" Kak Amanda begitu seram wajahnya, jangan-jangan nanti kekasihku lari lagi gara-gara kakak!" ucap Cakra sambil cemberut. Amanda hanya terkekeh, mendengarkan ucapan Cakra tersebut.


"Amanda, nanti kamu menjadi pendamping pengantin ya? Apakah kau sudah mempunyai pasangan?" tanya kakeknya sambil menatap wajah cucunya.


"Wahh kakek seperti tidak tahu saja, kak Amanda ini kan, hanya tahu bekerja dan bekerja. Mana mungkin dia punya kekasih?" tanya Cakra sambil melirik ke arah kakaknya.


"Biarin ye, daripada kak Amanda nggak punya pacar!" ucap Cakra sambil memeletkan lidahnya ke arah kakaknya.


Tanpa sengaja, Amanda kembali mengingat pertemuannya dengan Bayu ketika di toilet tadi. Pipinya memerah karena menahan rasa malu. Dan Cakra menangkap hal itu, dan tidak melepaskannya begitu saja.


"Hayo! Kak Amanda sedang memikirkan siapa? Pipinya sampai memerah begitu!" Cakra terus menggoda kakaknya tersebut. Hingga akhirnya Amanda pun memilih untuk memalingkan wajahnya ke jendela.


Ketika itulah, tanpa disengaja Amanda kembali berpapasan dengan Bayu yang ada di sampingnya. Kedua mata mereka bersirobok, sehingga akhirnya Amanda memalingkan wajahnya. Menghindari tatapan tajam Bayu terhadap dirinya.


"Ada apa kak Amanda?" tanya Cakra keheranan. Amanda hanya menggelengkan kepalanya. Nggak mau menjadi bahan ejekan Cakra lagi.


Mereka pun akhirnya sampai di apartemen milik Adrian. Dan di sana sudah ditunggu oleh Kesya dan Adrian. Andika memilih untuk pergi ke kantor, mempersiapkan hal-hal yang akan ditinggalkan ketika acara pernikahan Andrian. Sejak Andika dan Kesya berada di Indonesia, pekerjaan mereka dialihkan ke Indonesia. Mengontrol pekerjaan mereka melalui jarak jauh.

__ADS_1


"Bagaimana kabarnya mah? Apakah perjalanannya menenangkan?" tanya Kesya setelah mengucapkan salam. Langsung menyambut kedua orang tuanya Andika.


Tampak Amanda mencium Kesya dengan penuh Kerinduan. "Putri Mama, semakin cantik saja! Apakah kali ini kau membawa calon suamimu?" tanya Kesya sambil menatap Amanda, yang tersenyum kecut.


"Ayolah mah! Jangan mulai lagi. Amanda tidak pernah mempunyai kekasih. Siapa yang akan dibawa ke sini?" ucap Amanda dengan frustasi. Kesya hanya tersenyum Saja.


"Bagaimana kalau Papa sama Mama mau menjodohkan mu dengan rekanan bisnis papahmu? Siapa tahu ada seorang single yang bersedia menjadi suamimu!" ucap Kesya. Tapi Amanda memutar bola matanya dengan malas kemudian menjauh dari Kesya.


"Ayolah Mah! Tolong untuk berhenti membicarakan tentang jodoh Amanda jadi pusing!" ucap Amanda kemudian masuk ke kamarnya. Beristirahat.


Di dalam kamarnya, Amanda kembali mengingat pertemuannya bersama dengan Bayu. Tatapan pria itu, ketika di mobil tadi, sungguh menggelitik hatinya.


"Ah, Amanda! Apa yang kau pikirkan? Kenapa kau terus memikirkan Om om bodoh itu!" rutuk Amanda terhadap dirinya sendiri.


Karena terlalu lelah, setelah menjalani perjalanan yang begitu jauh. Amanda pun akhirnya terlelap. Dia tidak memperdulikan suasana hiruk pikuk di luar sana, yang sedang sibuk mengurus pernikahan Adrian dan Syifa.


Sementara itu, Adrian di kamarnya terus mondar-mandir seperti orang yang tidak ada kerjaan. Sekali-sekali Adrian terus bolak balik memperhatikan ponselnya.


"Syifa sedang ngapain, sih? Masa sampai jam segini, pesanku yang tadi pagi, masih belum dibaca juga?" tanya Adrian dengan frustasi.


"Kamu kenapa Adrian? Dari tadi kok mama perhatikan, tampaknya tidak tenang?" tanya Kesya yang sejak tadi terus memperhatikan putranya.


"Ini mah, sejak tadi pagi pesanku belum juga dibaca oleh Syifa. Dia lagi ngapain sih? Kenapa nggak ada waktu untuk baca pesanku bahkan teleponku tidak diangkat!" ucap Adrian frustasi. Wajahnya ditekuk.


Kesya terkekeh, melihat kelakuan putranya tersebut. "Syifa saat ini sedang siraman dan sibuk mempersiapkan pengajian di kediamannya. Mana ada waktu dia itu, untuk pegang-pegang ponsel seperti kamu Adrian!" ucap Kesya sambil tersenyum.


"Apakah seperti itu Mah?" tanya Adrian seperti tidak percaya dengan keterangan ibunya. Kesya hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan kelakuan putranya itu.

__ADS_1


__ADS_2