
Yuke dan Rasya akhirnya pergi dari Dermaga tersebut. Menuju rumah kontrakan yang selama ini ditempati oleh Yuke. Sepanjang perjalanan mereka berbincang-bincang banyak hal.
" Apakah kau tinggal bersama kedua orang tuamu?" tanah Rasya, di sela-sela perjalanan mereka.
Yuke sejenak merasa bingung apa yang harus dia jawab. Apakah dia harus jujur ataukah bagaimana. Kalau jujur dia takut kakaknya tersebut akan marah dan tidak mau mengenal dia lagi.
"Aku, aku, hmmmmm," Yuke tampak bingung.
"Kenapa? Apakah ada masalah dengan pertanyaan saya? Kenapa kok kamu tampaknya berat sekali?" tanya Rasya.
"Tidak, tidak berat kok! Aku hanya hanya merasa ragu saja. Apakah akan memberitahukan masalah ini atau tidak!" ucap Yuke Tampak gugup.
" Memangnya kenapa? Bukankah itu hanya pertanyaan simpel saja?" tanya Rasya tampaknya keheranan dengan Yuke yang gugup hanya dengan pertanyaan semacam itu.
"Aku tidak tinggal bersama kedua orang tuaku. Sudah lama aku pindah. Aku lebih memilih untuk diri sendiri dan lepas dari pengaruh kedua orang tuaku!" ucap Yuke pada akhirnya. Rasya hanya manggut-manggut saja.
"Kamu hebat! Untuk ukuran seorang gadis, berani keluar dari zona nyaman. Berani keluar dari fasilitas orang tua, itu sungguh sangat hebat sekali! Saya salut sekali!" ucap Rasya dengan wajah berbinar-binar.
"Ah Pak Rasya bisa aja! Syifa malah lebih hebat lagi! Dia benar-benar pergi dari kedua orang tuanya dan sama sekali tidak minta uang sepeserpun sama mereka. Sementara aku, aku masih saja dicekokin setiap bulan sama orang tuaku. Walaupun nggak pernah aku Sentul sih. Tapi tetap saja, rasanya aku pergi dari mereka, kok, rasanya percuma!" ucap Yuke lemes.
Tidak disangka Rasya malah tertawa terbahak-bahak mendengarkan pengakuan Yuke yang tampak menderita karena mendapatkan kiriman dari orang tuanya setiap bulan. Yuke sampai terpesona dengan sang kakak.
"Apa ada yang lucu?" tanya Yuke bingung.
__ADS_1
"Tidak. Kamu hanya membuat aku kehabisan pikir saja. Apa kau tahu? Aku, hanya untuk mendapatkan sedikit perhatian dari Ayahku saja, rasanya seperti mimpi. Kok, kamu disayangi orang tua kamu, malah misuh-misuh seperti itu. Apa kau tahu? Apa yang saat ini tidak kau syukuri itu, hal itu adalah menjadi impian bagi beberapa orang di luar sana!" ucap Rasya tampak melamun.
"Iya Pak! Saya tahu kalau saya ini kufur nikmat. Saya juga tahu kalau saya ini tidak bersyukur dengan apa yang saya dapatkan selama ini. Kadang saya juga berpikir sih, kalau saya ini terlalu egois dan tidak pernah memikirkan perasaan orang lain!" ucap Yuke sambil menunduk.
'Ya Tuhan! Apa yang akan dikatakan oleh Pak Rasya yah? Kalau dia tahu gue dan nyokap gue yang sudah merampas semua cinta ayahnya. Kalau nyokap gue yang sudah memisahkan kedua orang tuanya. Duh sangat susah untuk bayangin. Gimana ini Ya Tuhan? Apakah gue mau jujur ataukah tetap seperti ini saja? Tapi jujur, gue nggak sanggup kalau menerima kebencian dari Pak Rasya. Sejujurnya, gue udah sayang kepada dia, sebagai kakak gue!' bathin Yuke sambil melamun.
"Yuke! Hei.. Kamu sedang melamun apa?" tanya Rasya.
"Oh, tidak, Pak! Saya hanya Sedang berpikir. Apakah saya sudah mengganggu waktu Pak Rasya. Ini sudah malam loh dan kita belum juga sampai menuju rumahku!" ucap Yuke dengan gugup karena khawatir kalau Rasya akan Curiga dengan apa yang sedang dia pikirkan.
" Justru karena ini sudah malam. Makanya saya harus mengantarkan kamu sampai rumahmu. Jangan sampai, nanti terjadi apa-apa dengan kamu, dan saya akan merasa bersalah kepada diri saya sendiri. Apa kau paham?" tanya Rasya sambil mengacak rambut Yuke. Sehingga membuat Yuke jadi salah tingkah dengan kelakuan manis sang kakak tiri. Yang dulu sempat membuat hatinya terpesona.
'Untung saja, aku cepat tahu kalau dia kakak tiriku. Kalau sampai aku benar-benar jatuh cinta padanya sebelum itu. Aku pasti akan kesusahan sendiri nantinya. Sungguh sangat sulit untuk menolak pesona seorang Kak Rasya!' bathin Yuke sambil memukul kepalanya.
" Tidak Pak! Tidak! Saya baik-baik saja. Saya tidak sakit. Saya tadi hanya sudah memikirkan tentang Syifa!" ucap Yuke asal saja.
" Apa yang kau pikirkan tentang Syifa? Sehingga membuat kamu memukul-mukul kepalamu sendiri. Apakah itu hal yang berat?" tanya Rasya bingung.
" Pak di depan itu belok kanan ya!" ucap Yuke.
"Saya tahu! Dulu, saya pernah satu kali mengikutimu. Waktu kamu pulang malam-malam. Saya waktu itu, merasa khawatir terjadi apa-apa denganmu. Makanya saya mengikutimu. Kamu jangan salah paham oke!" ucap Rasya dengan segera. Sontak Yuke tertawa terbahak-bahak. Merasa lucu dengan ekspresi Rasya.
" Tidak apa-apa pak! Saya senang kok, Bapak mengikuti saya. Itu artinya kan Bapak peduli dengan saya. Walaupun saya hanya sekedar karyawan biasa di cafenya bapak!" ucap Yuke dengan senyum simpul. Sehingga membuat Rasya menjadi salah tingkah.
__ADS_1
"Kamu, kamu tidak berpikir kalau saya seorang penguntit kan? Betul! Waktu itu saya cuman satu kali mengikutimu. Itu benar-benar karena saya khawatir terjadi apa-apa dengan kamu. Tidak kurang dan tidak lebih!" ucap Rasya dengan mata tampak salah tingkah.
Yuke tertawa makin kencang. Melihat Rasya yang tampak salah tingkah. Sampai sakit rasanya perutnya Yuke. Akhirnya, Rasya pun ikut tertawa juga bersama dengan Yuke. Sampai akhirnya mereka kini sudah sampai di depan kontrakan Yuke.
"Ayo, Pak! Mampir dulu di kontrakan jelek saya. Saya bikinkan teh dulu, untuk penghangat. Dari tadi kan kita di luar berputar-putar nggak jelas kayak gitu. Saya takutnya nanti bapak masuk angin loh!" ucap Yuke.
"Apa tidak apa-apa, kalau saya masuk ke kontrakanmu? Ini sudah malam loh. Saya takutnya, nanti kita digerebek sama warga. Dikira kita mau ngapain lagi!" ucap Rasya bergidik. Yuke langsung menarik tangan Rasya masuk ke dalam kontrakannya. Rasya tampak akan protes, namun bukan Yuke namanya, kalau tidak bisa membuat Rasya akhirnya menyerah.
"Tenang Pak! Saya tidak akan memperkosa Bapak kok! Saya cuma mau bikinkan teh untuk bapak! Sebagai rasa Terima kasih saya. Karena bapak sudah mengantarkan saya!" ucap Yuke. Rasya hanya senyum saja, mendengar apa yang dikatakan oleh Yuke.
"Kamu nih ada-ada saja. Bukannya kamu yang harusnya takut diperkosa sama saya ya? Kau ini benar-benar lucu!" ucap Rasya sambil tertawa.
"Ih jangan salah ya, Pak! Zaman sekarang ini, banyak loh laki-laki yang diperkosa oleh perempuan. Bapak berarti sudah ketinggalan zaman Pak! Makanya, Pak gaul, Pak! Jangan cuman kerja, kerja, kerja dan kerja jadi bisa tahu deh berita-berita masa kini!" ucap Yuke.
Yuke kemudian masuk ke dapur dan membuatkan teh hangat untuk Rasya. Rasya tampak memperhatikan rumah kontrakan yang terbilang mungil itu. Hanya terdiri dari sebuah kamar, sebuah kamar mandi dan ruang tamu. Tetapi Yuke benar-benar sangat afik menata kontrakannya tersebut sehingga sangat rapi dan menarik.
"Kontrakanmu bagus! Walaupun kecil tetapi sangat rapi dan bersih. Kamu ternyata orangnya rafi juga. Padahal dari luar, sepertinya slengean dan seenaknya sendiri aja!" ucap Rasya dengan mantap. Yuke menaruh teh hangat di atas meja, lalu duduk di depan Rasya.
"Bapak itu sebetulnya mau memuji saya atau mau menghina saya sih? Pilih salah satu yang bener dong, Pak! Biar saya tahu, gimana. Apakah saya akan berterima kasih ataukah mau melemparkan bantal ini ke wajah Bapak!" sengit Yuke sambil mengangkat sebuah bantal di tangan.
"Ah kamu, cantik-cantik juga mudah sekali Emosi! Aku cuma bercanda kok. Ya udah. Ini tehnya juga udah aku minum ya. Aku sebaiknya pulang. Tidak baik kalau lama-lama aku ada di sini. Kamu jangan lupa istirahat ya? Biar besok bisa kerja dengan fresh!" ucap Rasya.
Rasya kemudian berpamitan kepada Yuke dan langsung menuju apartemennya. Yuke hanya bisa menatap kepergian Rasya tersebut dengan mata nyalang, Yuke duduk lemas di kursinya setelah kepergian Rasya.
__ADS_1