Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai

Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai
9. Pesona Om Om


__ADS_3

Bayu memasang seat belt untuk Amira, sehingga wajah mereka sangat dekat. Amira bahkan dapat merasakan hembusan nafas Bayu, yang beraroma mint, segar menghembus di lehernya.


'Ya Allah, cobaan apa lagi ini? Kenapa Om Bayu sedekat ini denganku?' bathin Amira, kebat kebit.


"Ayo kita berangkat sekarang!" ucap Bayu.


'Pesona Om Om!' jerit Amira tak tertahan.


"Apa?" tanya Bayu, kaget dengan ucapan Amira yang terdengar lirih saja.


"Tidak, Om! Lupakan saja!" Amira memerah wajahnya, sangking malunya.


"Gimana kuliah kamu? Udah daftar di mana?" tanya Bayu dengan tetap fokus menyetir.


"Amira gak jadi kuliah, Om! Suami gak kasih ijin!" ucap Amira sedih, Bayu melirik sekilas.


"Kenapa suami kamu gak kasih ijin? Aneh sekali!" protes Bayu merasa kasihan dengan Amira.


"Katanya biar fokus bikin Baby aja, Om!" Amira menyembunyikan wajahnya karena malu.


"Hehehe, suami kamu mesum juga, ya? Hehehe!" auto Bayu tertawa terbahak-bahak.


"Ih, Om ngeselin! Malah menertawakan aku!" Amira memonyongkan bibirnya, misuh misuh karena ditertawakan oleh ayahnya Sulis.


"Hehehe, kamu lucu banget sih!" Bayu gemes banget dengan Amira yang misuh misuh.


"Om, ga boleh kaya gitu! Amira ini, jelek jelek gini udah punya suami loh!" rajut Amira kesal.


"Habisnya kamu lucu banget! Hehehe!" Bayu masih tertawa dengan ekspresi Amira yang masih misuh misuh karena ditertawakan olehnya.


"Om, turunin Amira di depan situ aja!" Amira nunjuk ke pertigaan jalan, jarak sekitar 50 meter dari pondok pesantren mertuanya.


"Kenapa? Ini masih jauh loh, dari pondok?" tanya Bayu keheranan.


"Maaf, ya Om! Suami Amira nanti marah kalau tahu Om anterin Amira!" jawab Amira sambil menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Ih, kamu lucu banget! Om jadi gemes!" sekali lagi Bayu mengelus pucuk kepala Amira.


"Om, jangan kayak gitu lagi dong. Amira ini bukan anak kecil, loh!" protes Amira sambil melepas seat belt. Tanpa mereka ketahui, Fathu yang kebetulan sedang membeli buah di pinggir jalan, melihat interaksi Amira dengan Bayu yang baginya terlihat mesra. Dengan emosi, Fathu mendekati Amira.


"Amira!" panggil Fathu dengan mata melotot. Amira auto melihat ke arah sumber suara. Amira kaget bukan main, udah kaya maling yang kepergok saja rasanya.


"Mas, kamu sedang apa di situ?" tanya Amira gugup. Amira ingat, kalau suaminya sudah melarang untuk berdekatan dengan ayahnya Sulis. Tapi sekarang dirinya malah di antarkan oleh Ayahnya Sulis. Amira sudah gemetaran.


"Tenanglah, Amira. Kita gak berbuat salah. Kenapa kamu begitu takut?" Bayu berusaha menenangkan Amira yang tampak gemetar.


"Kenapa kamu pergi gak ijin sama Mas?" tanya Fathu saat dirinya sudah dekat dengan Amira.


"Tadi Mas gak ada di rumah, jadi tadi Amira ijin sama Umy dan Aby." jawab Amira dengan takut.


"Kan, kamu bisa telpon Mas!" ucap Fathu sambil melihat istrinya dengan tajam.


"Amira gak punya nomornya Mas!" jawab Amira.


"Ya, Allah! Mas lupa gak kasih nomor Mas, maaf, ya sayang!" Ucap Fathu sambil mencium bibir istrinya sekilas. Amira auto melotot, kaget dengan kelakuan suaminya.


'Sungguh kekanak-kanakan suami Amira ini, dasar aneh!' bathin Bayu melihat kelakuan Fathu.


"Tidak apa-apa, kebetulan saja, arah rumahmu dan kantor saya searah, jadi saya antar sekian. Saya juga tidak merasa repot, Anda tidak usah sungkan!" ucap Bayu tersenyum lembut.


"Terima kasih sekali lagi, ayo sayang! Kita pulang!" ajal Fathu sambil membukakan pintu mobil untuk Amira. Amira yang keheranan melihat Fathu yang berprilaku aneh, hanya bisa menganggukkan kepala kepada Bayu.


"Amira permisi, Om! Terima kasih tumpangannya!"


Bayu menatap pasangan pengantin baru tersebut.


"Amira, apakah kalau waktu itu aku tidak pulang, kamu sekarang sudah menjadi istriku? Bukannya malah menjadi istrinya Fathu?" Bayu bermonolog dalam diam. Masih berdiri di samping mobilnya. Mobil Fathu sudah tidak terlihat. Sudah masuk areal pondok pesantren sepertinya.


Suara klakson yang menyadarkan Bayu dalam lamunan. Hingga akhirnya Bayu memutuskan untuk kembali ke kantor saja. Pekerjaan nya pasti jadi menumpuk, karena ditinggalkan lama sekali.


Ini adalah kali pertama seorang Bayu Iswara meninggalkan kantor begitu lama selain untuk urusan kantor. Sungguh langka kejadian hari ini. Bayu sendiri terheran dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


Setelah sampai ke kantor, Bayu duduk termenung di kursi kebesarannya. Pekerjaan yang menumpuk sama sekali tidak minat untuk di sentuh.


Sekretaris Bayu sampai heran sendiri melihat atasannya yang berprilaku aneh.


"Apakah bos ada?" tanya Ruri, asisten pribadinya.


"Ada, tapi sejak kembali dari rumah, saya lihat bos cuma melamun saja. Aneh banget!" Arimbi melaporkan kelakuan bosnya hari ini kepada Ruri sahabat sekaligus asisten Bayu.


"Biarkan saja, mungkin bos lagi banyak pikirannya. Gimana, berkas untuk Prawira Group sudah beres belum?" tanya Ruri lagi.


"Ada di ruangannya Bos, belum di tandatangani kayaknya. Kenapa Memang?" tanya Arimbi heran.


"Itu, perwakilan Prawira sudah datang, nungguin kita di ruang meeting. Ya udah, biar saya saja yang langsung menemui Bos kita!" Ruri mengetuk pintu berkali-kali, tetapi tidak ada respon. Dengan terpaksa, Ruri masuk tanpa izin.


"Maaf, Bos! Saya mau ambil berkas Prawira Group, mereka sudah menunggu pihak kita di ruang meeting!" ucap Ruri sambil berdiri di hadapan Bayu. Bayu yang melihat Ruri tiba-tiba di hadapannya, merasa terkejut.


"Maaf, apa tadi yang kamu sampaikan?" tanya Bayu salah tingkah.


"Prawira Group sudah menunggu kita di ruang meeting!" Ruri mengulangi informasi yang tadi dia sampaikan. Bayu tampaknya masih belum sepenuhnya kembali ke alam nyata.


"Apa ada masalah, Bos?" tanya Ruri heran. Soalnya gak biasanya kelakuan bosnya tersebut.


Yang Ruri tahu, Bosnya tidak pernah main-main kalau jam kantor. Selalu fokus dan serius bekerja. Tapi sejak tadi, di perhatikan selalu melamun saja.


"Tidak apa-apa, ayo kita temui perwakilan Prawira Group!" Bayu lalu bangkit setelah membawa berkas yang tadi sudah dia tandatangani.


Ruri mengikuti Bayu di belakang. Bahu bos nya tampak menunduk, tidak biasa nya bosnya begitu. Bos yang diketahui oleh Ruri, adalah bos yang selalu percaya diri, selalu menegakan bahu dengan penuh percaya diri.


'Apa yang sudah terjadi sama bos, hari ini? Kenapa wajah bos begitu mendung, ya? Apa ada hal yang tidak aku ketahui?' bathin Ruri agak heran. Biasanya dirinya adalah orang pertama yang mengetahui masalah Bayu.


"Bos, apa ada yang kau pikirkan?" tanya Ruri lagi.


"Tidak ada, aku baik-baik saja!" jawab Bayu sambil menyunggingkan senyuman kepada Ruri.


'Senyum palsu!' ujar Ruri dalam hatinya.

__ADS_1


'Apa si bos sedang jatuh cinta, ya? Ciri-ciri nya kaya orang sedang patah hati!' Ruri tidak bisa berhenti bermonolog dal hatinya.


__ADS_2