Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai

Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai
23. Keguguran


__ADS_3

Team yang di bentuk oleh Kiai Jamaluddin untuk mencari keberadaan Amira telah di bentuk lebih dari satu bulan, tapi belum menemukan hasil. Fathu sampai turun tangan sendiri. Setiap hari selalu menyempatkan datang ke rumah ayahnya Amira, berharap agar Amira datang, tapi sampai detik ini belum ada informasi yang berarti.


"Jadikan itu pelajaran, emosi itu ibarat api yang membakar kayu. Habis dan menjadi abu. Sebelum melakukan sesuatu lebih baik di pikirkan dengan baik. Wudhu dan sholat, minta petunjuk kepada Allah, sesungguhnya banyak rumah tangga yang hancur di sebabkan oleh emosi yang tidak terkendali. Fathu, kamu sebagai imam bagi istrimu, seharusnya mengayomi bukan mengadili. Baik buruknya seorang istri itu gambaran seorang suami. Kalau kau ingin seorang istri yang pintar, didiklah istrimu dengan ilmu dan kebijakan. Kalau kau ingin istrimu patuh, didiklah dia dengan keperdulian dan kepercayaan. Penuhi kebutuhan lahir bathinnya, jangan sekali-kali kau menyakiti istrimu dengan kata-kata yang kasar dan tidak beradab. Sesungguhnya perasaan wanita itu peka dan halus." Aby diam sejenak. Menatap Fathu yang saat ini sangat lesu tanpa gairah.


"Perempuan itu selalu mengembalikan apapun yang kau berikan dengan berlipat ganda. Ketika kau memberikan setetes mani, wanita memberimu Bayi, ketika kau memberikan bangunan, wanita memberimu rumah tangga. Ketika kau memberikan belanjaan, wanita memberikan makanan. Tapi ketika kau memberi dia sampah, maka bersiap-siaplah menerima 1 ton kotoran! Hargai dan sayangilah istrimu. Maka kamu akan mendapatkan surga dunia dan akhirat. Sesungguhnya, kebahagiaan sebuah rumah tangga itu terletak pada para wanita. Ketika seorang wanita bahagia, dia akan menyebarkan ke bahagia itu kepada seisi rumahnya. Ketika seorang wanita terluka hatinya, maka suramlah rumahmu. Sekarang apa yang kau rasakan, ketika hati istrimu terluka atas perbuatan ceroboh kamu?" Fathu hanya menunduk sedih.


"Umy harap, saat nanti Amira kembali, kamu harus meminta maaf kepadanya. Jangan ulangi lagi hal ini. Sebelum memutuskan sesuatu, pahami dan amati seutuhnya duduk perkaranya. Jadi tidak ada pihak yang merasa sakit hati!"


"Iya, Umy!" jawab Fathu lesu.


"Istirahatlah, kita berdoa saja, semoga Amira baik-baik saja. Oh ya, apa kamu tahu nomor telepon atau rekening Amira?" tanya Abynya. Fathu menggelengkan kepalanya.


"Kalian menikah sudah hampir satu bulan, masa kamu tidak tahu nomor telepon istri kamu?" tanya Umy terheran-heran.


"Fathu selama ini selalu bersama dengan Amira, tidak pernah membayangkan hal seperti ini akan terjadi. Maafkan Fathu, Aby, Umy!"


"Sudahlah, besok kamu datangi rumah ayahnya Amira, minta nomor telepon dan rekening Amira. Setelah kau dapatkan, kirimkan uang untuk kebutuhan Amira. Jangan sampai menantu Aby kekurangan di luar sana. Paham kamu?"

__ADS_1


"Ya, Aby! Kalau begitu, Fathu ke kamar dulu. Seharian di luar, rasanya lengket tubuh ini. Mau mandi lalu tidur. Minta ustadz Yusuf untuk menggantikan Fathu mengajar Aby, rasanya sudah tidak punya energi sama sekali."


"Biar Aby yang urus hal itu. Istirahatlah, biar besok pikiran kamu fresh lagi!" Fathu lalu berpamitan setelah mencium tangan Aby dan Umynya.


Fathu berendam di bathtub dengan air panas, pikirannya sangat kacau dan ruwet. Badannya terasa sangat lelah, setelah lebih dari dua Minggu selalu berada di luar, mencari Amira di tempat yang mungkin di datangi oleh Amira. Fathu bahkan sudah menemui Sulis dan Bayu, tapi mereka juga tidak tahu keberadaan Amira.


Sementara itu, di restoran tempat Amira bekerja, Amira sedang membereskan kursi dan meja sebelum restoran tutup.


"Amira, ayo makan dulu. Nanti di lanjutkan lagi!" panggil teman sekamar Amira.


"Tanggung, sedikit lagi. Kalian duluan saja." ucap Amira sambil meneruskan pekerjaannya.


Semua orang yang ada di restoran sudah ketakutan melihat insiden tersebut. Erik yang melihat perbuatan istrinya, langsung menarik tangan Sella untuk menjauh dari Amira.


Saat melihat keadaan Amira, Amira sudah pingsan, keluar darah dari selangkangannya. Semua orang panik, tidak kecuali dengan Sella. Pikirannya sudah kalang kabut. Sella saat ini sedang hamil 7 bulan. Dia sudah mengetahui apa yang terjadi kepada Amira.


"Cepat ambilkan mobil saya! Kita bawa Amira ke rumah sakit!" Erik dan beberapa anak buahnya membantu lalu mereka mengirimkan Amira ke arah sakit. Amira yang sedang pingsan, masih tidak tahu kalau dia telah kehilangan calon bayinya. Kasihan Amira!

__ADS_1


"Anak siapa yang ada dalam kandungan wanita itu! Apa jangan-jangan kalian sudah menikah, huh?" tuduh Sella membabi buta.


"Dasar perempuan gila! Kau harus pergi ke psikiater untuk mengobati penyakit kamu itu! Amira itu sudah punya suami. Bagaimana aku bisa menikah dengan dia?" ucap Erik dengan emosi. Tiba-tiba dokter yang menangani keluar,


"Siapa suami Nyonya Amira? Kami butuh persetujuan kuret, karena bayinya sudah mati dalam perut." Erik dan Sella sudah pucat wajahnya. Tidak mengira bahwa Amira tengah mengandung saat ini, dan karena kecerobohan sang istri, Amira harus kehilangan calon bayinya.


"Sebentar Dok, akan saya hubungi suaminya. Tunggu dokter!" Erik langsung pergi ke rumah ayahnya Amira, bertanya kepada orang yang mengontrak di sana, siapa tahu kenal dengan suami Amira.


"Tolong saya, Pak! Kabarin suami Amira, kalau saat ini AmIra sedang kritis. Membutuhkan suaminya untuk tindakan operasi. Tolong saya! Amira saat ini di rawat di rumah sakit xxxxxx !" Erik menyebut nama rumah sakit besar yang ada di kota ini.


"Sebentar, Pak! Saya hubungi mertuanya." lalu bapak itu mencari nomor Kiai Jamaluddin di kontaknya.


"Assalamualaikum, Pak Kiai, mohon maaf. Malam-malam mengganggu. Ini saya didatangi seorang pria, katanya saat ini istri Gus Fathu yang bernama Amira sedang di rawat di rumah sakit xxxxxx, di tunggu segera kedatangannya, karena dokter butuh persetujuan untuk tindakan operasi!" ucap beliau menyampaikan informasi.


"Baiklah, Pak Kiai. Assalamualaikum!" Erik langsung pamit kepada kedua orang tersebut. Kemudian kembali ke rumah sakit. Sella saat ini sedang di tanyai oleh polisi, karena pihak rumah sakit melaporkan hal tersebut.


Kejadian tadi siang telah membuat sebuah nyawa melayang, dan keadaan Amira saat ini sangat kritis. Pihak rumah sakit tidak bisa diam saja dengan kemalangan yang di alami oleh pasiennya.

__ADS_1


Erik juga di tanyai oleh polisi. Beberapa teman satu mess dengan Amira juga di tanyai oleh polisi. Sella telah menjadi tersangka utama. Erik hanya bisa menatap sang istri yang sudah siap di bawa oleh polisi ke penjara.


Saat itulah, keluarga Kiai Jamaluddin datang. Mereka tampak terkejut dengan kehadiran polisi di sana. Bingung, ada apa di sana?


__ADS_2