Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai

Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai
45. Adrian Bertemu Dengan Yuke


__ADS_3

"Mah, ko Om Ilham belum datang juga, ya? Adrian ada meeting dadakan sebentar lagi. Tadi Om Bayu hubungi Adrin, gimana ini, Mah?" tanya Adrian senewen.


"Kamu pergi saja, gak apa-apa. Nanti biar Mamah sama Papah yang akan mendiskusikan hal ini dengan Om Ilham!" ucap Kesya sambil membelai pipi putranya.


"Tapi Adrian ingin mendengar sendiri dari Om Ilham, apa keputusan beliau untuk masalah ini, Mah! Waktu semakin mepet saja. Persiapan pernikahan juga sudah semakin mendesak. Kita ga bisa bersantai, Mah!" ucap Adrian.


"Kamu benar, anakku! Tapi kamu juga ga boleh melupakan tanggungjawab kamu di kantor. Sudah nanti Papah rekam semua pembicaraan kami, jadi kamu bisa mendengarkan semua percakapan kami!" ucap Andika.


"Baguslah, Pah! Kalau begitu. Adrian pergi dulu!" dengan terburu-buru, Adrian langsung menyambar kunci mobilnya. Ditempat parkir, tanpa sengaja, Adrian menabrak seorang wanita cantik yang berpakaian lumayan seksi.


"Maaf, Mba! Saya tidak sengaja!" ucap Adrian langsung pergi begitu saja. Adrian tidak menyadari bahwa ponselnya jatuh dari saku celananya. Wanita itu memungut ponsel Adrian, saat mau di panggil, Adrian sudah pergi jauh menggunakan mobilnya.


"Wah, seorang pria yang sangat tampan!" dalam satu detik, Yuke sudah jatuh hati dengan Adrian. Wah, apa yang akan dilakukan oleh Yuke, saat tahu pria yang berhasil mencuri perhatian dirinya pada pandangan pertama adalah calon suami dari sahabatnya sendiri? Yang sejak kemarin selalu dia nasehati untuk menerima perjodohan tersebut?


Yuke melihat wallpaper di ponsel Adrian. Matanya begitu terpesona melihat ketampanan seorang Adrian yang luar biasa, mata tajam dengan bibir merah merekah. Tampak bahwa Adrian bukanlah seorang perokok. Terlihat dari bibir merahnya yang sehat.


"Pria idamanku akhirnya datang juga ke dunia ini!" Yuke kegirangan luar biasa, sementara itu, Asyifa yang mendekati Yuke tampak terheran-heran dengan kelakuan sahabatnya yang jingkrak-jingkrak seperti orang kesetanan sungguh membuat penasaran.


"Ada apa dengan kamu?" tanya Asyifa, sontak Yuke terkejut dan langsung memasukan ponsel Adrian ke dalam tasnya. Ketika mereka akan meninggalkan gedung itu, tiba-tiba ada seseorang yang memanggil nama Asyifa.


"Sif, tuh ada empat orang yang sedang ngawasin elo! Salah satunya manggil-manggil nama Elo!" tunjuk Yuke ke arah sumber suara yang sejak tadi memanggil nama Asyifa. Syifa sontak terkejut, saat mendapatkan bahwa kedua orang tuanya dan kedua orang tuanya Adrian sedang menuju tempat dirinya berada.


"Ah, siap! Buat lari juga sudah gak mungkin!" Asyifa lalu menunggu kedatangan mereka, tidak enak kalau mau lari, karena Syifa paling takut dengan Abynya yang galak itu.


"Aby, Umy! Om dan Tante, apa kabar kalian?" tanya Asyifa dengan ketakutan. Dia mencium telapak tangan mereka satu persatu. Yuke juga melakukan hal yang sama.


"Kamu kemana saja? Ayo kita masuk! Kita lihat gedung yang akan kita gunakan untuk tempat resepsi pernikahan kamu dan Adrian!" ucap Umynya Asyifa.

__ADS_1


"Umy, Syifa ada kerjaan dengan teman Syifa ini! Kami permisi dulu!" Asyifa sudah bersiap untuk pergi, namun suara bariton sang Aby, membuat nyali Syifa menciut seketika. Sehinga Syifa tidak berani beranjak dari sana.


"Coba saja kalau kau berani pergi! Aby gak akan pernah memberikan ijin untuk kamu belajar fashion ke Perancis!" ancam Kiai Ilham dengan tatapan horornya.


"Aby, jangan gitu dong! Asyifa sudah masukan aplikasinya ke sana. Tinggal nunggu panggilan doang! Aby gak boleh berubah pikiran. Ok?" yah, untung masih ada hal yang bisa membuat gadis bengal itu takuti. Ilham benar-benar menggunakan hal itu dengan baik, untuk mengendalikan gadis bengal satu itu.


"Ayo ikut kami, untuk melihat gedung tempat resepsi pernikahan kamu!" ulang Abynya lagi.


"Yuke, gimana? Elo mau ikut juga?" tanya Asyifa.


"Ya, boleh! Gue juga lagi ga ada kerjaan kok!" ucap Yuke.


Kemudian mereka berenam akhirnya pergi untuk melihat gedung pernikahan yang sudah di pesan oleh keluarga Adrian. Tampaknya belum ada pembicaraan mengenai masalah yang di sampaikan oleh Adrian dengan kedua orang tuanya Asyifa.


Ilham dan Qonita tampak santai saja, melihat putrinya yang sudah kepanasan ingin segera meninggalkan gedung tersebut. Yuke langsung lari. Ketika dia melihat ada dua orang paruh baya yang menuju ke arah mereka.


"Teman kamu kenapa?" tanya Asyifa keheranan.


"Oh, ada Mas Ilham dan Mas Andika ternyata!" sapa seorang wanita berpenampilan mewah dan menarik.


"Apa kabar, Laila?" tanya Kesya.


"Kabar baik, Alhamdulillah! Bagaimana kabar Mas Ilham?" tanya Laila tampak sumringah, bertemu dengan mantan suaminya yang pertama.


"Baik, apa kabar kamu?" tanya Ilham santai. Ya, Ilham sudah melupakan masa lalunya bersama Laila, berbeda dengan Laila, yang tampaknya masih belum bisa move on walaupun sudah berlalu puluhan tahun lamanya.


"Sayang, tadi Papah melihat ada Yuke disekitar sini, tapi pas Papa cari, dia ga ada! Kemana, ya?" tanya Firman tampak kebingungan.

__ADS_1


"Udah, gak usah di urus, anak bengal satu itu! Kerjanya cuma bikin kesal saja!" kesal Laila.


"Kami permisi, masih ada hal yang harus kami urus!" Andika lalu berpamitan kepada mantan istri Ilham. Tampak Qonita yang tidak suka, cara Laila menatap suaminya.


"Aby, tampaknya mantan istri kamu masih menaruh hati sama Aby!" ketus Qonita merasa cemburu.


"Yang penting Pak Kiai Ilham tidak menaruh hati, Bu Nyai, jangan terlalu di ambil hati!" Kesya menggenggam tangan Qonita. Qonita tersenyum.


"Mba Kesya juga bagian dari masa lalu, Aby. Tapi entah kenapa, saya tidak pernah merasa cemburu, tapi kalau Mba Laila, rasanya kesal saya! Melihat cara dia menatap suamiku. Seperti akan menelan hidup-hidup!" ucapnya.


"Umy ini ada-ada aja!" ucap Ilham tersipu.


'Wah, apakah kedua orang tadi adalah kedua orang tuanya Yuke? Pantas saja Yuke langsung lari terbirit-birit!' bathin Asyifa. Dia baru tahu. Kalau Yuke ternyata adalah anak dari mantan istri dari Abynya. 'Ah, dunia sungguh sempit sekali!' jerit hati Asyifa.


Hari itu Laila sengaja pergi ke swalayan untuk berbelanja kebutuhan bulanan dan juga beberapa kebutuhan untuk dirinya. Firman menemani Laila yang saat ini seperti sedang kalap berbelanja segala hal untuk kebutuhan dirinya. Siapa yang menyangka, mereka malah bertemu dengan orang-orang yang pernah hadir dalam masa lalu istrinya tersebut. Firman sudah kesal sebenarnya, melihat Laila yang tampaknya masih menyimpan rasa cinta kepada mantan suaminya tersebut.


"Apa Mama masih belum bisa melupakan mantan suami kamu?" tanya Firman tampak cemburu.


"Apa Papa sampai sekarang tidak pernah mengingat mantan istri Papah itu? Jangan di kira, Mama tidak tahu, kalau Papa masih suka bertemu dengan janda gatel itu!" sengit Laila tidak mau kalah. Firman sampai hilang kata-kata mendengar sindiran istrinya tersebut.


"Papa bertemu dengan Syafa hanya bicara masalah anak saja!" jawab Firman dengan gugup.


"Bicara masalah anak, sampai harus nginep di hotel segala?" sinis Laila sambil berlalu dari hadapan Firman.


"Mama tahu dari mana?" tanya Firman kaget.


"Mama itu tahu segalanya tentang Kalian! Janda gatel itu, yang mengirimkan foto mesra kalian berdua! Mau Mama kirim ke nomor Papah?" tantang Laila dengan menatap wajah Firman yang sudah pucat pasi.

__ADS_1


Firman kesulitan menelan salivanya sendiri. "Apa iya, Syafa mengirimkan foto kami di hotel?" tanya Firman ragu. Seakan tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


__ADS_2